Kemarin ayah mengantar Merylin ke rumah Pastor Charles yang tidak jauh dari gereja. Dan hari ini mereka berangkat ke kota. Pastor Charles dan Arvella akan berada di kota selama tiga hari.
Senyum Merylin seperti tidak ada habisnya. Dia sangat gembira. Dari gereja ke kota perjalanan kira-kira satu jam lebih sedikit. Merylin jarang sekali ke kota, jadi rasanya menggebu ingin cepat sampai. Melihat banyak kereta kuda di sana. Toko-toko dengan berbagai barang yang dia tak pernah lihat dijual di sana. Apalagi dengan ada acara spesial kerajaan. Ini luar biasa!
Menjelang makan siang, mereka sampai di kota. Suasana ramai sekali. Banyak sekali pengunjung yang datang. Sebagian besar terlihat orang-orang berada dan kalangan berkelas bertebaran di kota. Dari penampilannya Merylin bisa tahu, mereka tamu undangan kerajaan atau peserta acara perburuan itu. Suasana sangat ramai, sibuk, dan meriah.
Selama di kota, Charles dan istri tinggal di rumah salah satu jemaat yang punya usaha di kota. Mereka menyambut gembira kedatangan Charles, Arvella, dan Merylin. Makan siang sudah disiapkan. Setelah makan bersama, mereka naik ke lantai dua, ke kamar tempat mereka istirahat.
Merylin tidur di kamar yang lebih kecil, di sebelah kamar untuk Charles dan Arvella. Tapi kamarnya nyaman. Ada balkon di sana. Merylin menaruh tasnya lalu melihat kota dari balkon. Ah, terlihat lebih indah. Balai kota yang berdiri megah terlihat jelas. Rumah ini dekat dengan balai kota, berjarak tidak sampai 100 meter kira-kira.
Acara pembukaan akan diadakan di halaman balai kota. Persiapan terlihat dilakukan di sana sini. Besok pagi, acara mulai digelar. Merylin tersenyum sendiri. Dia bisa membayangkan serunya acara besok.
Merylin masuk lagi ke kamar dan merebahkan dirinya, dengan kaki menggantung di sisi ranjang. Dia pejamkan matanya. Wajah tampan, hidung mancung, mata coklat terang, rambut coklat gelap, sedikit ikal. Senyumnya bagus di bibir tipisnya. Dagunya lancip dengan rahang yang kuat.
“Ah … wajah yang sempurna. Pangeran Clarence …” bisik Merylin. Merylin masih terpejam.
**
“Siapa namamu?” Suara itu, lembut. Seperti terdengar di telinga Merylin.
“Aku, Merylin.” ucap Merylin sambil tersenyum.
“Nama yang cantik.” Senyum mengembang, makin tampan.
Pria tampan itu tersenyum, melompat ke atas kuda putih, lalu membawa kudanya berjalan meninggalkan Merylin.
**
“Hmmm … mungkinkah aku bisa bertemu sedekat itu?” mimpi Merylin muncul kembali diingatannya.
Merylin membuka matanya. Harapannya melambung tinggi. Balai kota sangat dekat. Pangeran Clarence juga sangat dekat. Bisakah dia bertemu?
******
Merylin berdiri di balkon rumah. Menatap ke arah balai kota. Charles dan Arvella hadir di sana. Merylin tidak bisa ikut ini acara resmi, karena hanya undangan yang bisa hadir, dan masuk ke area acara. Meski begitu penduduk berjubel di depan pagar balai kota. Ada cukup banyak pasukan yang berdiri mengamankan keadaan.
Karena itu Merylin memilih melihat dari balkon saja. Rasanya tidak bisa menembus kerumunan orang yang begitu banyak untuk bisa masuk dan mendekat pada Pangeran Clarence.
Acara yang paling ditunggu Merylin adalah atraksi berkuda dari kedua pangeran. Mereka akan muncul bersama nanti.
Benar saja. Tidak lama kemudian, dari sebelah gedung balai kota muncul dua ekor kuda yang gagah, coklat gelap dan putih. Masing-masing ditunggangi pria dengan pakaian maha indah, pakaian kebesaran kerajaan, lengkap dengan mahkota di atas kepala mereka.
Jantung Merylin makin berdebar. Gagah sekali keduanya. Kedua pangeran itu menunjukkan keahliannya menunggang kuda. Sungguh menarik dan memukau. Merylin sebisa mungkin melihat jelas wajah mereka.Tapi tidak bisa juga, karena jarak agak jauh. Yang pasti, yang seorang berambut pirang, yang seorang rambutnya berwarna lebih gelap.
Selesai beratraksi di atas kuda, mereka turun dari kudanya, menghadap Raja Patrick. Pemandu acara memperkenalkan mereka. Pangeran Henry yang berambut pirang, yang tadi menunggang kuda hitam. Sedang Pangeran Clarence yang berambut gelap dan menunggang kuda putih.
“Jadi benar, kamu suka kuda putih?” bisik Merylin.
Kemudian acara dilanjutkan dengan pertunjukan drama, cerita rakyat tentang seorang putri dan pangeran. Cerita ini sangat dikenal oleh rakyat negri tapi tetap saja menarik melihat kisah itu dalam bentuk pertunjukan drama. Sayangnya, Merylin tidak tertarik kali ini. Dia sangat hafal cerita itu. Dia lebih memikirkan Pangeran Clarence sekarang.
Setelah melihat kenyataan, dia berambut gelap dan menunggang kuda putih, dia penasaran seperti apa wajahnya dari dekat. Ingin sekali dia keluar, pergi ke balai kota dan mencari cara mendekati pangeran itu. Tapi melihat kerumunan yang begitu banyak, dia jadi kecil hati.
Dia terus menatap Pangeran Clarence yang duduk di sebelah ayahnya. Sesekali dia berbicara dengan ayahnya lalu melihat lagi ke pertunjukan yang masih terus berlangsung.
“Ya Tuhan, bagaimana caranya, ya? Dia di depan mataku, tapi aku tidak bisa mendekatinya,” batin Merylin.
Rasanya seperti ada makanan lezat di depan mata tapi tangan terlalu pendek untuk mengambilnya. Atau seperti tinggal melangkah satu kali saja sampai di depan rumah, tapi tiba-tiba kaki ini kaku dan tak bisa diangkat.
Merylin terus menatap pangeran dari kejauhan hingga acara selesai dan dia meninggalkan tempat itu bersama rombongan kerajaan. Setidaknya dia puas melihatnya hari ini jika tidak ada kesempatan lagi.
*****
Pagi ini cerah sekali. Merylin membantu Arvella dan tuan rumah membantu memasak untuk sarapan mereka. Senyum cerah menghiasi bibir mungilnya. Sekalipun kemarin hanya melihat pangeran dari jauh, hati Merylin tetap saja senang. Dan ada pasar malam mulai nanti malam. Merylin akan datang ke sana. Ini membuat Merylin makin gembira.
“Kami akan datang dia acara perjamuan makan malam di balai kota nanti malam,” kata Arvella. “Kamu tidak apa sendiri di rumah, Merl? Gwen dan James masih buka tokonya sampai malam.”
“Ya, kamu berani kan di rumah? Atau mau ikut di toko?” Gwen memandang Merylin.
Mereka hampir selesai menyiapkan makan. Charles sudah masuk ke ruang makan. Charles menatap Merylin yang penuh tanya. Dia tentu berharap bisa ke balai kota. Pangeran Clarence ada di sana.
“Arvella, kurasa kamu perlu bantuan Merylin untuk membawa kado buat Ratu Felicia. Kita ajak Merylin bersama kita saja,” kata Charles. Dia paham betul arti tatapan Merylin pada Arvella.
Mendengar kata-kata Charles wajah Merylin makin tegang tapi hatinya penuh harap.
“Ya … baiklah … Merylin ikut, ya?” Arvella tersenyum ke arah Merylin. “Kita akan bawa putri cantik kita ini.”
Wajah tegang Merylin perlahan berubah, berseri dan bersemu merah. Benarkah malam ini dia akan bertemu dengan Clarence? Memikirkan dan membayangkan acara nanti malam membuat Merylin makin berdebar tak karuan.
Usai makan pagi, Merylin kembali ke kamar. Dia membuka tasnya. Dia memilih pakaian terbaiknya. Ah, yang terbaik menurutnya pun tak pantas dipakai ke acara itu. Merylin terduduk di ranjang, memegangi gaun krem miliknya, yang malah terlihat buluk.
“Sekarang, ada kesempatan bertemu, justru aku tidak yakin aku pantas ada di sana,” ucap Merylin lirih.
Krrieettt! Pintu kamar dibuka.
“Merylin!” Arvella masuk ke kamar dengan senyumnya yang menarik. “Kurasa kamu perlu gaun untuk ke acara nanti malam.”
Arvella melihat Merylin sedang memegangi gaunnya. Dia tersenyum menatap gadis mungil itu.
“Coba sini.” Arvella meminta Merylin mendekat padanya. Di tangan Arvella ada dua gaun cantik.
Merylin senang sekali ternyata Arvella memikirkan juga kalau dia tidak ada pakaian yang sesuai buat hadir di acara besar itu.
“Beruntung kamu, tubuh Gwen tidak jauh beda denganmu waktu dia belum menikah. Beberapa tahun menikah berat badannya naik lumayan. Jadi dia tak bisa pakai gaun-gaunnya lagi,” lanjut Arvella. Dia meletakkan kedua gaun di ranjang. “Aku bicara padanya dan dia masih simpan gaun-gaunnya yang cantik itu. Lihat ini …”
Satu gaun warna hijau tua, manis dan kalem. Satu lagi warna biru gelap. Di sisi lengan dan leher ada hiasan pita warna putih, menambah manis. Arvella meminta Merylin mencobanya.
“Hmmm, keduanya cocok buat kamu. Tapi yang hijau sedikit terlalu panjang. Kamu pakai yang biru saja kurasa,” putus Arvella.
“Lihat di cermin. Kamu cantik sekali. Rambutmu terlihat lebih merah jadinya.” Arvella menghadapkan Merylin di cermin besar di kamar itu. Ya, bagus sekali gaun itu dipakai Merylin.
“Ibu, terima kasih banyak. Saya senang sekali ibu mengijinkan saya ikut nanti malam,” kata Merylin. Senyum terkembang manis di bibirnya.
“Iya, Sayang …” Arvella menyentuh dagu Merylin. Ada sedikit belahan di dagu itu, membuat wajahnya lebih unik.
Rasanya tak sabar menunggu sore. Waktu seperti berjalan lambat sekali hari ini.
“Matahari … cepatlah bergeser …,” ujar hati Merylin.