MENINGGAL DI USIA 17 TAHUN

7

MENINGGAL DI USIA 17 TAHUN 

BAB  I  

TIGA BERSAUDARA YANG MENCARI DUKUN SENGKOK 

 

  Di Sebuah desa yang penduduknya cukup ramai ada 3 orang perempuan bersaudara yang merupakan anak dari orang terkaya di desa tersebut. tetapi, ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena penyakit yang dideritanya, anak pertama bernama Rani, anak kedua bernama Rena, dan anak ketiga bernama Rini. Ketiga bersaudara tersebut semuanya sudah berkeluarga selang beberapa tahun mereka masih keliatan mudah dan sangat cantik, tetapi tak satupun dari mereka yang memiliki anak.

 

“Sepertinya kita harus mencari dukun untuk berobat, agar kita juga bisa mempunyai anak” ucap Rani dengan semangat.

 

“Iya aku setuju, karena aku yakin pasti ada dukun yang bisa kita jadikan tempat untuk berobat”, tanggapan Rena dengan penuh percaya diri.

 

“Rini yang sebagai anak bungsu hanya mengangguk dan penuruti kemauan kedua kakaknya…. Iya, sy juga setuju tetapi sebaiknya kita tanyakan dulu kepada bapak” lanjut Rini yang agak gugup.

 

  Ketiga bersaudara itupun hendak menanyakan niat mereka ke bapaknya.

 

“Jika kalian bersungguh sungguh ingin mencari dukun, sy setuju setuju aj, tetapi apakah tidak terlalu beresiko karena kalian semua perempuan, dan pasti suami kalian tidak bisa ikut karena mereka memiliki kesibukan sendiri dirumah” ucapan bapak dengan perasaan kwatir.

 

“Tidak apa2 pak” kata Rani…

“kan ada pembantu dirumah ini, kami paling butuh tiga orang untuk membawakan bekal di perjalanan.

 

“Tetapi tiga orang pembantu tersebut perempuan saja” lanjut Rani.

 

“Iya menurut sy ada baiknya klu pembantu yang diikut sertakan itu perempuan” lanjut Rini dgn perasaan legah.

 

“Ahh Rini pasti kamu tidak enak kan dengan suamimu” kata Rena sambil tertawa…

 

“Tidak, sy cuman berpendapat saja” jawab Rini sambil tersipu malu…

 

“Sudah… Sudah… Tidak usah berdebat” kata bapak sambil tersenyum.

“Sy perna mendengar berita ada dukun di bagian timur namanya dukun Sengkok, tetapi sudah lama sy  perna mendenger berita tersebut, dan perjalanan nya juga dari sini sangat jauh” lanjut bapak.

 

“Oke bagaimana klu kita berangkat besok, bekal bekal kita siapkan dari sekarang saja” kata Rena dengan penuh semangat.

 

“Iya kita berangkat besok saja lebih cepat lebih baik” tegas Rani dan Rini kemudian saling bertatapan.

 

“Menurut bapak terserah kalian aja karena masalah bekal paling beberapa saat untuk mempersiapkannya” tanggapan bapak.

 

 Perbekalan penuh disiapkan dihari itu juga, ketiga bersaudara itupun masing masing kerumahnya untuk mendiskusikan hal tersebut kepada suaminya, semua rencana pun sudah disetujui dan tinggal menunggu hari esok untuk melakukan perjalanan.

 

 

                                                        BAB II

                                    RINI YANG TERLALU PESIMIS 

 

 Hari sudah pagi, mereka kembali berkumpul dirumah bapaknya untuk melakukan perjalanan.

 

“Pak kami akan melakukan perjalanan Mohon do’a nya supaya kami bisa menemukan dukun yang kami cari” kata Rani dengan wajah sedih.

 

“Tapi Bagaimana klu kita Tidak kembali atau dimakan hewan buas diluar sana” tanya Rini dengan penuh kegegelisahan.

 

“Ihh Rini kenapa pesimis begitu, klu takut ya jangan ikut” ucap Rena dengan wajah kesal.

 

“Iya maaf sy cuman berpendapat saja, tetapi sy akan tetap ikut” jawab Rini dengan perasaan bersalah.

 

“Sudah jangan berdebat, kalian akan menemukan dukun itu jika kalian bersungguh sungguh mencari nya” kata bapak sambil tersenyum.

“Kalian bawa saja kendi emas ini untuk kalian berikan ke dukun itu  jika kalian bisa bertemu dengannya, kendi ini hanya dijadikan sebagai hiasan rumah saja, tetapi dukun yang kalian temui tidak menginginkan harta dia hanya melihat keikhlasan hati kalian”. Lanjut bapak.

 

“Baik pak kami akan segera berangkat semoga tuhan melindungi kami diperjalanan” kata Rani sambil melihat Rena dan Rini.

 

Merekapun melakukan perjalan besarta dengan 3 orang pembantu yang telah disiapkan. 

 

Saat mereka ditengah perjalanan..

 

“Bagaimana klu kita tidak menemukan dukun itu dan kita kehabisan bekal” tanya Rini dengan penuh rasa takut.

 

“Ahhh, Rini klu takut mendingan balik kerumah saja, klu kita percaya bahwa dukun yang kita cari memang ada, kita pasti bisa menemukannya”. Tegur Rena agak marah2.

 

“Sudah kita jalan terus aja nanti klu kita menemukan desa atau perkampungan lalu kita mempertanyakan nya” ucap Rani untuk menenangkan kedua adiknya.

 

  Setelah melakukan perjalanan yang panjang ahirnya mereka melihat perkampungan dari kejauhan yang tidak terlalu ramai.

 

“Lihat disana keliahatan ada perkampungan, ayo cepat kesana”  kata Rani dengan penuh semangat.

 

“Iya ayo segara kesana” lanjut Rena.

 

“Ahirnya sudah sampai, ayo kita tanyakan kepada bapak2 yang lagi duduk disana” kata Rini sambil berjalan.

 

“Pak kami dari desa sebelah ingin bertanya apakah bapak perna mendengar atau mengetahui keberadaan dukun terkenal yang namanya dukun Sengkok” tanya Rani.

 

“Oh maaf sekali nak sy tidak tahu, ini aja kalian sebut baru sy tau kalau ada dukun terkenal yang namanya dukun Sengkok” jawab bapak sambil senyum2.

 

“Oh Yasudah pak, makasih ya pak” jawab Rani.

 

“Tapi kira kira klu kami lanjut perjalanan kesana masih ada pedesaan disana pak” tanya Rena.

 

“Iya, masih ada, disitu juga penduduknya agak ramai, tapi masih terlalu jauh dari sini” jawab bapak2 itu.

 

” Oh yaudah pak kami lanjut jalan ya pak” jawab Rena. 

Yaudah ayo lanjut jalan.

 

“Apakah kita akan lanjut jalan, kita udah melakukan perjalanan sejauh ini orang yang tadi aja gak kenal siapa dukun itu” kata Rini sambil melihat Rani dan Rena.

 

“Rini, klu kamu tidak mau ikut ya sudah balik saja lagian ini juga perkampungannya tidak terlalu ramai sudah pasti informasi2 yang ada jarang tersebar ke daerah sini, lagian bapak juga bilang dukun Sengkok itu ada, masak kamu lebih percaya bapak bapak itu dari pada bapak kita dirumah” tegas Rena memarahi Rini.

 

“Sudah Rini, jangan bilang seperti itu kita harus tetap optimis jangan karena ketidak percayaanmu  sampai membuat sy dengan Rena jadi ikutan mengeluh lagian kata bapak bapak itu juga masih ada pedesaan disana” bujuk Rani ke Rini.

 

“Iya sudah maaf, kayaknya sy terlalu pesimis” jawab Rini sambil menundukkan kepala.

Yaudah ayok kita lanjut jalan

 

 

 

BAB III

    RINI AHIRNYA OPTIMIS KEMBALI

 

 Setelah melakukan perjalanan jauh mereka kemudian menemukan desa yang dimaksud bapak bapak tersebut. Kemudian mereka melihat ada seseorang bapak bapak lagi menebang pohon dekat pedesaan tersebut.

 

” Permisi pak, sy izin bertanya apakah bapak tau tentang dukun yang terkenal bernama dukun Sengkok atau bapak tau keberadaan nya” tanya Rani.

 

“Oh iya, dia memang ada, yang sy tahu setiap orang yang datang kesana perobatannya selalu berhasil, tempat tinggalnya masih sangat jauh dari sini dua desa lagi dari sini kalian bisa bertanya di desa tersebut” jawab bapak.

 

“Oh iyapak makasih banyak ya pak” balas Rani.

 

“Tukan Rini sy bilang juga apa dukunnya itu beneran ada, makanya jangan tidak percaya begitu” tegur Rena ke Rini.

 

“Hehe iya maaf sepertinya tadi sy terlalu pesimis” jawab Rini dengan perasaan bersalah.

 

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, Rini yang awalnya masih agak tidak percaya kini dia juga semangat untuk mencari dukun tersebut.

Desa pertama mereka tidak bertanya tentang dukun tersebut, mereka melanjutkan perjalanan langsung ke desa kedua, setelah melakukan perjalanan jauh ahirnya mereka sampai di desa kedua.

 

“Wah rumah didesa ini agak ramai tapi kenapa seperti tidak ada orang, apa penduduknya lagi berkebun semua,” tanya Rena dengan penuh penasaran.

 

“Disana ada rumah lebih baik kita pergi kesana untuk menanyakannya” kata Rani.

Permisi apa ada orang dirumah.

 

“Iyah silahkan masuk”  jawab kakek2 yang ada di rumah tersebut.

 

“Maaf kek, kami ingin bertanya apakah kakek tau tentang dukun terkenal yang bernama dukun Sengkok atau kakek tau keberadaan nya” tanya Rani.

 

“Oh dukun Sengkok ya, emang kalian ada perlu apa kesana” tanya kakek dengan ekspresi panik.

 

“Iya kek, ini tiga orang adalah pembantu kami membawakan bekal, sedangkan sy dan kedua adikku ini sebenarnya sudah menikah agak lama, tetapi kami masih belum mempunyai anak, jadi maksud kami ingin pergi berobat kesana siapa tau dia bisa menyembuhkan kami” jawab Rani.

 

“Oh iya, pasti kalian bisa disembuhkan jika kalian benar2 percaya kepadanya” lanjut Kakek.

 

“Tapi kira kira kakek tau dimana tempatnya” tanya Rena.

 

“Rumahnya ada dibalik gunung yang satu itu, kami juga sering berobat kesana, tetapi semua pembantunya dukun Sengkok sangat ganas, dia pemakan daging mentah termasuk daging manusia, hanya dukun Sengkok sendiri yang termasuk manusia normal” jawab kakek dengan ekspresi menakutkan.

 

“Tetapi apakah kami akan dimakan pembantu dukun Sengkok kek, apalagi kami semua perempuan, kami pasti tidak bisa melawan” tanya Rini dengan perasaan takut.

 

“Biasanya tidak, tetapi sebaiknya kalian bertiga saja yang kesana biar pembantu kalian disini menunggu, karena jika orang yang tidak berkepentingan ikut, maka mereka akan dimakan para pembantu Dukun Sengkok, dan biasanya sebelum kita sampai dukun Sengkok sudah mengetahui kedatangan kita” jawab kakek.

 

“Oh jadi kami tidak akan dimakan oleh pembantu dukun Sengkok ya kek karena kami berkepentingan kesana” tanya Rini.

 

“Iya, kalian tidak akan dimakan, kecuali ada perintah dari dukun Sengkok, tapi dukun Sengkok tidak akan memberi perintah jika kalian tidak melakukan hal yang dukun Sengkok tidak suka” jawab kakek.

 

“Oh yasudah kakek kami minta tolong nitip pembantu kami disini dulu, karena kami ingin segera Melanjutkan perjalanan” kata Rani sambil salaman dengan kakek itu.

 

“Iyah nak, silahkan semoga kalian beruntung” jawab kakek.

 

“Yasudah kakek, kami melanjutkan perjalanan dulu, terimakasih banyak” kata Rena mewakili ketiga saudaranya.

 

 

BAB IV

          MEREKA BERHASIL MENEMUKAN  DUKUN SENGKOK 

 

 setelah mereka lama melakukan perjalanan ahirnya mereka melihat rumah dukun Sengkok dari kejauhan.

 

“Itu rumahnya, sepertinya para pembantunya lagi menumbuk padi karena suaranya terdengar sampai kesini”kata Rena.

 

“Iya semoga saja mereka tidak melihat kita sampai depan pintu” jawab Rini.

 

“Tenang, yang penting kan kita tidak melakukan hal yang dukun Sengkok tidak suka”bujuk Rani.

 

Tak lama kemudian mereka sampai diteras depan rumah dukun Sengkok, para pembantu dukun Sengkok langsung mengelilingi mereka.

 

“Rani saya takut”kata Rini dengan perasaan ingin menangis.

 

“Tenang Rini, jangan takut yang penting kita tidak melawan” kata Rani membujuk Rini.

 

“Hei siapa kalian?, ada perlu apa kalian kesini” tanya sala satu pembantu dukun Sengkok.

 

“Maaf kami datang kesini untuk berobat bukan untuk mengganggu” jawab Rini dengan ketakutan.

 

“Ayolah, Saya kebetulan lapar ayo kita makan saja” teriakan para pembantu itu.

 

“Woi, dasar pembantu pemakan manusia, jangan mengganggu tamuku suruh dia masuk” teriakan dukun Sengkok dari dalam rumah.

 

Seketika mereka mempersilahkan ketiga Bersaudara itu untuk masuk.

 

“Mohon maaf pak dukun sudah mengganggu, kami datang kesini ingin berobat” kata Rani.

 

“Oh iya tidak apa apa, sy sudah lama menunggu kalian, beberapa hari yang lalu sy bermimpi akan ada tiga orang perempuan yang datang berobat, dan ternyata kalian”. Jawab dukun Sengkok sambil tersenyum.

Apa ada yang bisa saya bantu?

 

“Jadi begini, perkenalan nama sy Rani dan ini adik sy Rena dan Rini, kami sudah lama berkeluarga tetapi sampai sekarang kami belum mempunyai anak” jawab Rani.

 

“Oh iya sy mengerti, nama sy Sengkok, panggil saja pak seng, semua pembantuku memanggil sy dengan nama itu. Jadi, sebelum pengobatan kalian harus makan dulu” jelas dukun Sengkok.

 

“Oh baik pak seng” jawab ketiga bersaudara tersebut.

 

“Woi yang diluar bawah satu kerbau ke teras rumah lalu masak secepatnya, tamuku mau makan, ingat dagingnya tidak ada yang boleh makan kecuali klu sy suruh” jelas dukun Sengkok kepada para pembantunya.

 

“Baik pak seng segera dilaksanakan”jawab para pembantu itu.

 

“Hhhh sy harus memberitahu mereka agar daging nya tidak dimakan karena kalau tidak diberi tahu, mereka akan memakan sebagian dagingnya” lanjut dukun Sengkok sambil tertawa terbahak bahak.

 

“Hehe Oh iya pak seng” jawab Rani dengan perasaan deg degkan.

 

Beberapa saat kemudian, semua daging kerbau itu telah disiapkan lalu lalu diasatukan di wakul yang besar.

 

“Ayo makan sampai kalian kenyang dan kita akan melanjutkan pengobatan” kata dukun Sengkok itu.

 

“Baik pak seng” jawab ketiga bersaudara.

 

Setelah beberapa saat, mereka suda selesai makan.. Rani memakan 3 potong daging dan 3 genggam nasi, Rena memakan 2 potong daging dan 2 genggam nasih, dan Rini hanya memakan 1 iris hati Dan 1 genggam nasi.

 

“Kami sudah selesai makan pak seng” kata Rani.

 

“Wah kenapa kalian hanya memakan sedikit, apa kalian merasa takut?”.

 

“Tidak pak seng kami memang sudah kenyang” jawab Rena dengan ekspresi senyum.

 

“Oh yasudah sy akan masuk di kamar kecil itu, kalian bergantian masuk untuk menghadap” jelas dukun.

 

“Oke pak seng”kata Ranj dengan perasaan takut.

 

“Rani paling Tua berarti kamu dulu” kata Rena membujuk Rani.

 

“Iya sy saja yang duluan”.jawab Rani.

 

“Silahkan duduk, berapa daging yang tadi kamu makan?”. Tanya dukun Sengkok.

 

“Saya makan tiga iris pak seng” jawab Rani dengan perasaan takut.

 

“Oh iya, kamu akan mendapatkan 3 anak,

Kamu boleh keluar, panggil keluargamu tapi jangan beritahu saudaramu sampai kamu keluar dari daerah kawasan ini” jelas dukun Sengkok.

 

“Baik pak seng, sy mohon keluar”jawab Rani.

 

“Bagaiman Rani apakah dia tidak melakukan apa apa” tanya Rini dengan penuh khawatir.

 

“Tidak, dia cuma bertanya” jawab Rani.

 

“Klu boleh tau dia nanya apa Rani” tanya Rini lagi.

 

“Sudah Rini jangan banyak tanya kan Rani sudah bilang pak sengnya cuman bertanya, kamu yang duluan atau sy” tegur Rena ke Rini.

 

“Kamu aja yang duluan Rena” jawab Rini.

 

“Silahkan duduk, berapa daging yang tadi kamu makan”. Tanya dukun Sengkok.

 

“Sy cuman makan dua iris pak seng” jawab Rena.

 

“Oh iya, kamu akan mendapatkan 2 anak,

Kamu boleh keluar, panggil keluargamu tapi jangan beritahu saudaramu sampai kamu keluar dari daerah kawasan ini” jelas dukun Sengkok dengan kalimat yang sama.

 

“Baik pak seng, terimakasih, sy mohon keluar” jawab Rena.

 

“Rini ayo masuk, sy sudah selesai” kata Rena.

 

“Oh iya” jawab Rini dengan perasaan takut.

“Permisi pak seng sy izin masuk”.

 

“Silahkan duduk, berapa daging yang tadi kamu makan”. Tanya dukun Sengkok.

 

“Sy tidak makan daging pak seng, sy hanya makan satu iris hati” Jawab Rini dengan perasaan takut.

 

“Oh iya, kamu akan mendapatkan 1 anak, tapi anak itu akan beda dari manusia lain, dan setelah berumur 17 tahun dia akan meninggal, tapi jangan beritahu saudaramu sampai kamu keluar dari daerah kawasan ini” jelas dukun Sengkok dengan ekspresi menakutkan.

 

“Jadi kita punya anak sesuai apa yang kita makan tadi pak seng” tanya Rini dengan perasaan sedih.

 

“Iya dan kebetulan kamu hanya memakan 1 iris hati saja” jawab dukun Sengkok. 

 

“Tolong pak seng bisakah kita ulangi pengobatan nya, karena apa gunanya sy memiliki anak jika hanya sampai 17 tahun” bujuk Rini sambil menangis.

 

“Maaf tidak bisa, karena pengobatan dilakukan hanya sekali saja” jawab dukun Sengkok.

 

“Atau begini saja pak seng apakah bisa dibatalkan saja” tanya Rini.

 

“Semuanya sudah terlanjur, tidak ada yang bisa diperbaiki ini sudah takdir” jelas dukun Sengkok.

 

“Yasudah terimakasih pak seng, sy izin keluar”jawab Rini sambil menghapus air matanya.

 

 

BAB V

       RINI DIHANTUI RASA TAKUT

 

Rini keluar dari kamar kecil itu sambil mgelap air matanya menggunakan bajunya.

 

“Rini kenapa kamu menangis apa pak seng melakukan hal hal aneh” tanya Rini.

 

“Tidak aku hanya terharu karena akhirnya akan memiliki anak” jawab Rini sambil tersenyum.

 

“Iya sy juga terharu tapi tidak sampai menangis juga dirumahnya pak seng lah Rini” kata Rena sambil tertawa.

 

 Dukun Sengkok pun datang dan duduk kembali ditempatnya semula.

 

“Pak ini ada kendi emas, sebagai tanda ucapan terimakasih, mungkin tidak sepadan dengan pengobatan pak seng tetapi hanya itu yang kami punya”. Jelas Rani dengan perasaan tidak enak.

 

“Oh, tidak apa apa saya juga hanya sekedar membantu” jawab dukun Sengkok.

 

“Baik pak seng kami sebaiknya pulang dulu desa kami sangat jauh dari sini” kata Rani mewakili kedua saudaranya.

 

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan untuk balik kerumahnya, Rani dan Rena Sangat senang tetapi berbeda dengan Rini yang dihantui rasa takut.

 

“Apa yang harus aku katakan ke suamiku ketika sudah sampai dirumah”kata Rini berbicara dalam hati.

 

“Eh Rini kamu akan punya anak berapa” tanya Rena. 

 

“Kata dukun Sengkok sy akan memiliki 1 anak” jawab Rini.

 

“Klu sy katanya 2, semoga aja cewek cowok ya hehe” lanjut Rena 

 

“Hehe iya katanya anak yang kita miliki menurut berapa daging yang kita makan” lanjut Rini.

 

“Oh iya kan dia Bertanya berapa iris daging yang kamu makan, klu tau gitu dagingnya sy makan sepuluh biar sy punya sepuluh anak” kata Rena sambil ketawa.

 

“Ah Rena ada ada saja, bersyukur aja lah daripada tidak ada” jawab Rani 

 

Rini masih terdiam merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.

Merekapun melanjutkan perjalanan kembali kerumahnya sekalian berpamitan dengan kakek  tempat menginap pembantu nya..

 

“Kakek terimakasih banyak ya kek, kami akan segera kembali kerumah karena bapak kami disana sudah menunggu” kata Rani mewakili saudaranya.

 

“Iya nak, hati hati semoga sampai dengan selamat” jawab kakek.

 

“Yaudah kakek kami mohon pamit” lanjut Rani.

 

Setelah terlalu lama melakukan perjalanan jauh, ahirnya mereka sampai dirumah dan kembali berkumpul dirumah bapaknya.

 

“Pak permisi kami sudah pulang” ujar Rini.

 

“Wah sudah sangat lama kalian pergi, bagaimana dengan dukun Sengkok, apa kalian menemukannya” jawab Bapak.

 

“Iya pah, kami menemukannya dan kami juga sudah berobat, sy akan punya anak tiga, Rena dua, dan Rini hanya satu” jawab Rani.

 

“Oh yasudah sebelum kalian kembali kerumah kalian  masing masing, kita sykuran dulu dirumah” kata bapak dengan penuh semangat.

 

Rini masih menyembunyikan akan hal tersebut dengan orang tuanya, setelah selesai acara mereka semua kembali ke rumah masing masing termasuk Rini.

 

“Suamiku saya minta maaf”kata Rini sambil menangis.

 

“Kenapa Rini apa yang terjadi”tanya Suami Rini sambil memeluknya.

 

“Sebenarnya kata dukun Sengkok kita akan memiliki satu anak tapi jika sudah berumur 17 tahun dia akan meninggal, karena aku hanya memakan satu iris hati” jawab rini.

 

Suami Rini terdiam sejenak lalu menangis.

 

“Ya tuhan…. sy tidak menangisi akan mempunyai anak yang hanya sementara, tapi aku sangat kasihan sama kamu Rini, sudah berhari hari melakukan perjalanan tapi tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan” kata suami Rini sambil menangis.

 

“Yang bisa kita lakukan hanya pasrah, biar tuhan yang atur semuanya” jawab Rini yang masih menangis terseduh seduh.

 

  Setelah beberapa tahun Rini sudah mempunyai anak yang diberi nama Riel, Riel sudah berumur 8 tahun, Riel tumbuh menjadi anak yang gagah, nurut orangtua, pintar, dan seringkali banyak membuat hal hal yang belum bisa dilakukan anak seumurannya, Rini dan suaminya pun sangat menyayangi Riel.

 

“Apakah kita harus memberih tau apa yang sebenarnya terjadi pada Riel” tanya Rini kepada suaminya.

 

“Kita akan memberi tahunya tetapi tidak sekarang Riel masih terlalu mudah” jawab suami Rini.

 

“Yasudah nanti saja” lanjut Rini.

 

 

  BAB VI

RINI HARUS MENCERITAKAN  SEMUANYA KEPADA RIEL

 

Riel kini sudah tumbuh besar dia berumur 13 tahun, Riel juga sudah sering  kerja di sawah dan berladang bersama bapaknya, semakin hari pikirannya semakin dewasa.

 

“Ibuk kenapa saat ibuk melihat Riel wajah ibuk sangat bahagia” tanya Riel dengan bingung.

 

“Kenapa nak?, ya namanya juga orang tua pasti bahagia klu melihat anaknya” jawab Rini dengan perasaan takut.

 

“Tapi saya melihatnya beda ibuk seperti ada yang disembunyikan dari Riel” lanjut Riel.

 

“Sudah Riel, jangan bertanya seperti itu, tidak mungkin orang tua menyembunyikan sesuatu kepada anaknya” jawab suami Rini menenangkan Riel.

 

“Iya, semoga aja begitu, aku Sangat sayang sama ibuk dan bapak” kata Riel sambil tersenyum.

Oh iyah buk klu Riel udah besar Riel ingin menikah dan tinggal bersama ibuk sama bapak untuk menjaga kalian sampai tua.

 

“Ah Riel masih kecil pikirannya udah seperti itu” jawab Rini yang dalam hatinya menangis.

 

“Hhhhh iya dong ibuk, nanti klu bapak dan ibuk sudah tua Riel yang akan mengerjakan semua pekerjaan ibuk dan bapak, sama istri Riel” jawab riel dengan penuh semangat.

 

“Iya nak, terserah kamu saja” kata Rini yang tidak terasa mengeluarkan air matanya.

 

“Ibuk kenapa menangis” tanya Riel.

 

“Tidak nak, ibuk cuma terharu mendengar mendengar Riel begitu sayang sama ibuk dan bapak” jawab Rini sambil memeluk Riel.

 

Selang beberapa tahun Riel kini berumur 16 tahun, ketakutan dihati Rini semakin besar, semakin hari Riel makin menyadari bahwa ada yang disembunyikan dari ibu dan bapaknya.

Disaat makan malam mereka berkumpul kembali.

 

“Ibuk dan bapak, tolong…. sy sudah dewasa kenapa saya merasa bahwa ada yang bapak dan ibuk sembunyikan dari Riel” bujuk Riel kepada bapak dan ibunya.

 

“Tidak ada yang disembunyikan sama kamu Riel,  tidak mungkin kan orang tua menyembunyikan sesuatu kepada anaknya” jawab Rini meyakinkan Riel.

 

“Bibirku mungkin bisa bilang iya ibuk, tapi hatiku tidak akan bisa percaya” jelas Riel.

 

“Sudahlah Rini ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi kepada Riel, lagian Riel juga sudah dewasa, pasti tau apa yang harus dia lakukan”kata Suami Rini.

 

Rini langsung menangis tidak bisa menahan air matanya.

 

“Nak, ibuk minta maaf, sebenarnya dulu ibu dan bapakmu bertahun tahun menikah tapi masih belum juga mempunyai anak. Jadi, ibuk pergi melakukan pengobatan ke dukun, tetapi kata dukun itu ibuk akan mendapatkan 1 anak dan ketika anak itu sudah berusia 17 tahun dia akan meninggal, dan itu adalah kamu anakku Riel” jawab Rini sambil memeluk Riel.

 

Riel langsung terdiam dan merenung lalu berkata.

 

“Kenapa buk?, kenapa kalian tidak membunuhku saja ketika masih bayi atau membuangku, sy tidak ingin ahirnya jadi begini, merasakan bahagia bersama ibuk dan bapak dalam waktu yang tidak lama” tanya Riel sambil menangis.

 

“Maaf nak, kami selama ini menyembunyikan semuanya, tapi percayalah aku dan ibumu sangat menyayangimu Riel” kata suami Rini.

 

“Jadi apa yang harus sy lakukan ibuk, pak?” Tanya Riel.

 

“Tidak ada nak, tidak ada yang perlu dilakukan kita hanya pasrah kepada tuhan, biar tuhan yang mengatur semuanya” jawab ibuk dan bapak Riel.

 

 Mendengar jawaban ibu dan bapak, Riel sangat terpukul dan tertekan akan kehidupan kedepannya, dihari itu juga Riel selalu termenung dan jarang bicara.

 

“Riel jangan pikirkan semuanya, tuhan itu ada, percaya lah tuhan pasti tau yang terbaik” tegur Rini menenangkan Riel.

 

“Iya buk” jawab Riel sambil tersenyum.

 

“Apa mungkin sebaiknya aku pergi dari rumah” kata Riel dalam hati.

 

 

BAB VII

      RIEL MEMILIH PERGI DARI RUMAH

 

setelah Riel sudah lama merenungkan niatnya, ahirnya Riel mendiskusikan hal tersebut kepada Kedua orangtuanya.

 

“Pak, buk, sepertinya Riel akan pergi dari rumah” kata Riel sambil memandang kedua orangtuanya.

 

“Kenapa nak?, jangan bodoh Riel, apa gunanya kamu pergi dari rumah” tanya bapak Riel dengan kaget.

 

“Iya nak, bapakmu benar, Jangan melakukan hal yang tidak berguna, tidak ada gunanya kamu pergi dari rumah” jelas Rini memarahi Riel.

 

“Kan ibuk sendiri yang mengatakan bahwa masalah ini tidak bisa Riel terlalu pikirkan, dan Riel menyadari itu klu Riel terlalu memikirkannya maka kemungkinan besar Riel akan mengalami  gangguan jiwa, dan cara terbaik untuk tidak memikirkan nya adalah dengan pergi dari rumah” tegas Riel ke ibunya.

 

“Tapi apa kamu tega meninggalkan ibuk dan bapakmu Riel” tanya ibuk.

 

“Tega atau tidak tega Riel harus tega ibuk, karena sama saja klu Riel tinggal dirumah yang satu tahun lagi meninggalkan kalian” jelas Riel sambil menangis.

 

“Tapi Riel, tidak begini caranya” tegur bapak Riel.

 

“Riel memilih mati ditengah jalan daripada Riel harus mati didepan bapak sama ibuk, rasanya akan terlalu sakit untuk membayangkan nya, jadi  tolong bapak, ibuk mengerti lah perasaan Riel”tegas Riel.

 

“Yasudah nak, terserah kamu saja tapi ingat jika tuhan berkehendak lain tolong kembalilah kerumah” kata ibuk Riel sambil menangis tersedu sedu.

 

“Iya buk, tapi masalah bekal tidak usah terlalu banyak, aku hanya butu satu pedang sebagai senjata untuk perjalananku, karena Riel akan berangkat hari ini juga” jelas Riel.

 

“Apakah kamu tidak akan lapar Riel jika Kamu membawa bekal hanya sedikit”tanya bapak Riel.

 

“Tidak bapak, klu Riel kehabisan bekal dijalan Riel akan mencari makanan di hutan” jelas Riel.

 

“Ya ampun Riel”kata ibuk Riel sambil menangis.

 

“Yasudah, bawa juga batu emas ini nak siapa tau kamu membutuhkannya” tawar dari bapak Riel sambil tersenyum.

 

“Oh iya pak, akan sy bawah”

 

Setelah kejadian itu ibu dan bapak Riel sangat terpukul, hari itu juga Riel melakukan perjalanan yang hanya membawa Bekal sedikit dan pedang untuk dijadikan senjata. Riel memilih pergi kebarat untuk memulai perjalanannya.

 

“Ibuk maafkan Riel, maafkan sy ibuk aku pergi dari rumah karena Riel merasa ini yang terbaik”jelas Riel dengan penuh rasa bersalah..

 

“Iya nak, semoga kamu dulindungi tuhan” jawab ibuk Riel bersamaan dengan bapaknya.

 

“Terimakasih ibuk pak, Riel pamit dulu”

 

Riel Melanjutkan perjalanannya, setelah Riel melakukan perjalanan yang sangat jauh Riel melihat masyarakat yang sedang menggantung mayat seorang laki laki.

 

“Om kenapa mayat itu digantung, kenapa tidak dikuburkan saja kan dia juga manusia”tanya Riel.

 

“Oh masyarakat sengaja menggantungnya agar dia merasa tersiksa karena dia banyak utang sama pak desa yang belum diganti” jawab sala satu orang tersebut.

 

“Klu boleh tau utang nya ada berapa pak”

 

“Utangnya kira kira 10 ekor kerbau”

 

“Oh klu sy tukar mayatnya dengan batu emas ini om, kira kira bisa tidak?”

 

“Wah, batu emasnya bagus, sy tanyakan dulu pada  pak desa ya nak”

 

“Pak desanya setuju nak, silahkan ambil mayatnya lalu kuburin sendiri”

 

“Yasudah om sy izin ambil mayatnya ya om mau saya kuburin” 

 

“Yasudah nak silahkan ambil lalu kuburin sendiri”

 

“Iya pak tapi tolong bantu turunin”

 

“Iya nak”

 

Tak lama kemudian Riel mengubur mayat itu dengan perasaan legah, Lalu Riel Melanjutkan perjalanan. 

Ketika perjalanannya sudah agak lama Riel melihat seseorang dari kejauhan sedang berdiri di tengah jalan, terlihat orang itu menggunakan gaun hitam, serta pake payung hitam.

 

“Siapa itu postur tubuhnya mirip dengan mayat yang saya kubur didesa tadi” tanya Riel dalam hati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

error: Content is protected !!