ADA KISAH DI BALIK LEGENDA BINTANG JATUH

ADA KISAH DI BALIK LEGENDA BINTANG JATUH

“Ya Tuhan!”

“Kenapa engkau tidak adil padaku? Mengapa engkau membuatku jelek, sehingga aku dijauhi oleh semua orang?”

“Mengapa engkau membuatku bodoh, Ya Tuhan, sehingga keluargaku menderita?”

Seorang gadis tujuh belas tahun, sedang menjerit sejadi-jadinya di tepi sungai. Dia berteriak sekencang mungkin, seolah ingin dunia tahu kesedihan yang sedang ia rasakan.

“Mengapa engkau tidak adil padaku, Ya Tuhan?”

Kedua kakinya kehilangan tenaga, sehingga tidak lagi mampu menopang tubuh mungilnya. Dia duduk tersungkur di tepi danau, di atas bebatuan kecil. Menatap sebrang sungai penuh kesedihan.

Teriakannya tidak lagi terdengar. Namun, kini berganti tangisan. Dia melepas kacamata minusnya. Membuang benda itu ke sembarang tempat. Kemudian terisak-isak. Menangis sejadi-jadinya, seperti keluhannya tadi.

Sementara itu, seorang pemuda yang kebetulan lewat sana pun, merasa terpanggil tepat saat gadis itu meraung-raung, menyalahkan takdir yang seolah tak adil kepadanya.

Pemuda itu memungut kacamata minus yang salah satu bagiannya patah karena terbentur batu tadi.

Dia mengangkat kacamata itu, kemudian berkata. “Menangislah, hingga membuatmu tenang! Setelah itu, lupakanlah masalahmu dan jadikanlah, kekuranganmu sebagai kekuatan!”

Pemuda itu berseru lantang, sontak membuat gadis tersebut memutar tubuhnya, lalu mendongak.

“Lihatlah ke langit! Ada bintang jatuh di sana!” tunjuk pemuda itu lurus.

“Mana? Di mana bintangnya?”

Alih-alih melihat ke langit, gadis itu malah meraba-raba sekitarnya, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.

Dia mengira, yang disebut ‘Bintang Jatuh’ itu, benar-benar bintang yang berserakan di tanah.

Pemuda itu menghela napas panjang dan geleng-geleng kepala. Menurutnya, gadis di hadapannya cukup lucu. Lucu karena kepolosannya.

“Bintangnya ada di langit, bukan di sini!” Pemuda itu duduk berjongkok, dengan sabar ia mengarahkan gadis itu untuk melihat ke langit malam yang luas di sana.

Gadis itu mengarahkan pandangannya ke depan. Namun, ia merasa remang-remang. Objek di depannya tidak terlihat jelas, sehingga ia kelewatan momen bintang jatuh ini.

“Aku pun teringat sebuah legenda, yang terdengar seperti ini … ”

‘Apabila kau melihat sebuah bintang jatuh, maka pejamkanlah matamu. Setelah itu, ucapkanlah keinginanmu, maka percayalah. Keinginanmu akan terwujud.’

Pemuda itu berkata santai. Posisinya duduk bersila di samping gadis tersebut. Jaraknya hanya beberapa meter saja, sehingga gadis itu dapat mendengar ucapan pemuda itu dengan sangat jelas. Akan tetapi, ia tidak bisa melihat dengan jelas lawan bicaranya itu. Pandangannya kabur karena ia tidak mengenakan kacamatanya.

Pemuda itu mendekap kedua kakinya dengan tangan. Fokusnya mengarah pada langit malam dan bintang-bintang yang bersinar jauh di sana.

“Kau harus tahu, meskipun yang kuucapkan tadi adalah sebuah legenda. Akan tetapi, bukan berarti kau harus percaya … Apa kau ingin mengetahui alasannya?”

Dia menoleh dan gadis itu langsung mengangguk. “Iya. Aku ingin tahu alasannya. Tolong katakanlah,” pintarnya memohon.

Pemuda itu mengerjapkan matanya pelan. Kini ia kembali memandangi langit, lalu berkata, “alasannya karena kenyataan itu, lebih indah dari sebuah legenda dan kenyataan akan melebihi legenda itu sendiri.”

Gadis itu tampak merenung. Mencoba menelaah, mengartikan setiap perkataan pemuda tersebut.

“Heum, boleh aku bertanya?” kata gadis itu ragu-ragu.

Setelah diam beberapa saat, akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara.

“Tanyakanlah. Aku akan menjawab semampuku,” jawab pemuda itu santai, seolah tak memiliki beban di kedua bahunya.

“Sebenarnya aku tidak bisa mengartikan ucpaanmu tadi,” aku gadis itu sedikit malu.

Pemuda itu menyeringai kecil. Sedikitnya ia sudah menebak bahwasanya, lawan bicaranya itu tidak mampu mengartikan maksud dari perkataannya beberapa saat lalu.

“Menurutku … Jika kau hanya mempercayai dan meyakini bahwa legenda itu benar, tanpa kau melakukan usaha, maka keyakinanmu itu akan salah.”

“Maksudmu? Aku semakin tidak mengerti.”

“Apabila keinginanmu hanya ingin kau wujudkan dengan menunggu keajaiban, maka menurutku itu salah. Sebab keajaiban itu, akan membuatmu menunggu entah kapan datangnya? Jadi, apabila kau ingin mewujudkan sesuatu, maka wujudkanlah dengan bekerja keras. Bilamana kau beruntung, maka keajaiban itu akan membantumu mewujudkan semua keinginanmu kelak.”

Pemuda itu beringsut, lalu mengikis jarak, sehingga kini ia dan gadis itu hanya berjarak beberapa jengkal saja.

“Jangan jadikan kekurangan sebagai keterbatasan. Jadikanlah ketidakmampuan itu, sebagai kelebihanmu.”

“Kamu perlu sengaja membiarkan orang berpikir keliru atas apa yang kamu usahakan. Kamu perlu diam, meskipun sebenarnya bukan karena takut atau tidak bisa melawan, melainkan itu hasil dari pengendalian dirimu.”

“Kamu ingat bukan, bagaimana kamu dibicarakan? Kamu juga perlu memahami dengan baik bagaimana kamu diperlakukan tidak sesuai bentuk kewajaran. Namun kamu tahu, bukan?  Tidak banyak orang tahu bahwa lebih sulit tidak membalas daripada membalas, lebih sulit menjadi tidak goyah dan tangguh daripada terpancing amarah.”

Pemuda itu berbicara dengan lugas dan tegas. Setiap kalimatnya memiliki makna tersendiri.

“Ini kacamatamu.” Dia menyodorkan benda yang memiliki dua lensa itu, kepada sang pemilik.

Gadis itu mendongak. Diraihnya benda tersebut.

“Salah satu bagian kacamata itu panah karena terbentur batu tadi,” beber pemuda itu.

Gadis tersebut termangu. Entah jin mana yang telah merasuki tubuhnya, sehingga ia begitu marah dan menjadikan kacamata itu sebagai pelampiasan?

“Jadilah diri sendiri, bukan orang lain. Hari ini kamu perlu lebih dingin dan kalem dari kemarin, yang mungkin terlalu tergesa-gesa atas semua hal yang kamu hadapi. Tekan semua emosi dan lebih memilih menghargai diri sendiri.”

Pemuda itu kembali berkata. Namun, kalimat tersebut menjadi penutup dari pertemuan ini.

Dia mengayunkan kakinya, meninggalkan gadis itu seorang diri di sana.

“Hei, tunggu! Siapa namamu?!” teriaknya meminta. Namun, pemuda itu tidak menoleh dan tak mengatakan apa-apa lagi.

***
TUJUH TAHUN KEMUDIAN.

Remaja mungil yang dulu menangis sesegukan di pinggir sungai, kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa, mandiri dan sukses.

Setelah pertemuan Annata dengan pemuda misterius di malam itu, kehidupannya berangsur membaik.

Annata merenungkan perkataan pemuda itu sepanjang waktu. Sampai tidak terasa sudah tujuh tahun berlalu.

Selama itu juga, Annata berusaha keras untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih baik lagi. Annata menjadikan malam itu, sebagai tangisan keputusasaannya untuk yang terakhir kali.

Annta kini menjadi seorang penulis novel terkenal di kota ini. Karya yang Annata tulis, mampu menyentuh hati khalayak banyak.

Kesuksesan yang Annata raih sekarang, tidak luput dari kerikil-kerikil kecil di setiap langkahnya.

Bukan hanya kerikil kecil saja. Akan tetapi, tikungan, tanjakan dan turunan terjal pun, menjadi batu penghalang bagi Annata untuk mencapai puncak kesuksesannya.

Gadis yang kini berusia dua puluh empat tahun itu, menjadikan menulis sebagai cara untuk menghilangkan kesedihannya. Memang butuh waktu yang tidak sebentar, untuk bisa bangkit dan berada di titik ini. Namun, semua proses itu dijalani Annata dengan tekun dan semangat.

Annata yang dahulunya pemalu, insecure karena memiliki wajah jelek, kulit hitam dan cara berpikirnya lama, kini telah mengubah kekurangannya itu, sebagai kelebihannya.

Dulu teman, orang-orang sekelilingnya, bahkan keluarganya sendiri menghina serta mengucilkannya. Akan tetapi, sekarang mereka balik memuji dan mengaguminya.

“Benar kata orang. Kita akan disegani ketika kita berada di puncak kesuksesan dan kita akan dianggap sampah, ketika kita tidak memiliki apa-apa.”

Annata menghela napas panjang. Dipandanginya kembali langit malam tak berbintang itu.

Setiap malam, Annata akan menyempatkan diri untuk datang ke sungai ini, dengan harapan ia akan bertemu kembali dengan pemuda itu. Sudah tujuh tahun berlalu dan penantiannya itu seolah sia-sia. Kenyataannya, pemuda itu tidak pernah datang lagi ke tempat ini.

“Lihat itu! Ada bintang yang jatuh!” seru seseorang dengan lantang.

“Mana? Di mana bintangnya?” Annta lantas mencarinya ke bawah. Persis seperti yang ia lakukan tujuh tahun lalu.

“Bintangnya ada di langit, bukan di bawah kakimu!” seru orang itu kembali.

Tepat di kalimat kedua ini, Annata langsung menyadari sesuatu. Dia mengangkat kepalanya dan berbalik badan. Bukan mengarahkan pandangannya ke langit, melainkan ke sosok pemuda yang berdiri tepat di belakangnya.

“Sepertinya, bintang yang jatuh di malam itu, membawa keberuntungan yang sangat besar bagi dirimu,” ucap pemuda itu, disertai seringai kecil.

“Jika sekarang, kehidupanmu berada di satu posisi dan tidak dapat keluar dari posisi tersebut, maka jawabannya adalah bertahan …” balas Annata cukup serius.

“Seluruh bintang-bintang di alam semesta ini, memiliki sinarnya masing-masing. Sama halnya dengan manusia yang memiliki takdirnya masing-masing,” tutupnya demikian.

Pandangan keduanya pun saling bertemu dalam satu garis lurus.

“Kata-katamu bagus. Aku menyukainya.” Pemuda itu mengikis jarak yang hanya beberapa meter saja.

“Seandainya kau ingin melihat bintang itu bersinar, maka cuacanya harusnya bagus karena dengan begitu, kau mampu melihat bintang itu bersinar …”

Pemuda yang belum diketahui namanya itu, menyambung perkataan Annata sebelumnya.

“Kendati bintang itu tertutup awan. Bukan berarti sinarnya redup. Bintang itu akan tetap di posisinya dan bersinar terang.” Kini giliran Annata yang bertukar kalimat.

“Sama halnya dengan manusia. Biarpun dia terlihat payah dan terkesan tidak berguna. Sungguhnya ia adalah bintang yang paling bersinar. Hanya tinggal menunggu waktu … Waktu yang tepat untuk awan itu menghilang dan membiarkan bintang tersebut kembali bersinar,” tutup Annata dan tersenyum lebar.

Pemuda itu ikut tersenyum juga.

“Namaku Arkana. Salam kenal, wahai penulis terkenal.”

Setelah tujuh tahun berlalu, akhirnya Annata dapat mengetahui siapa pemuda yang telah berhasil mengubah pola pikirnya dulu.

Arkana tersenyum lembut. Dia mengulurkan tangan kanannya. Senyuman Annata tidak kalah sumringahnya. Dia menjabat tangan Arkana dan menjadikan momen ini, sebagai awal dari kisah cinta keduanya.

TAMAT!!!!

error: Content is protected !!