QUANTUM HEARTBEAT

ANOMALI DI DISTRIK 7

Tahun 2137. Neo-Astra bukan lagi sekadar kota futuristik, melainkan pusat kendali global yang hidup melalui sistem algoritma. Kota ini bernafas dengan ritme kode, denyut listrik, dan kontrol mutlak dari entitas tunggal bernama MINDCORE. Langitnya selalu kelabu, tidak karena polusi, tetapi karena layar data raksasa yang menggantung di atmosfer, menayangkan propaganda dan statistik kehidupan secara real-time.

Di lantai 88 Menara Arcturus, tempat markas Divisi Temporal Engineering berdiri, seorang pria berdiri kaku menatap panel holografis setinggi dua meter. Kael Riven. Spesialis Anomali Kelas A. Mantan tentara elit, kini menjadi pemburu waktu bagi pemerintah.

”Anomali terdeteksi di Distrik 7. Subzona 4. Waktu: 03.45.11,” ucap sistem dengan suara netral yang diprogram menyerupai nada manusia.

Kael mengangguk singkat. Mata abu-abu tajamnya menatap visual yang muncul: Gang sempit, gelap, lalu kilatan cahaya hebat. Dalam kilatan itu, sosok perempuan muncul—seolah ditarik dari dimensi lain. Matanya memandang lurus ke arah kamera, sebelum meledak dalam semburan energi biru.

”Intervensi tingkat 3… bukan hanya gangguan. Ini… intrusi.”

Ia menyentuh Reverter di pergelangan tangannya. Alat pemutar waktu pribadi. Tapi data lokal di Distrik 7 sudah terkunci. Tak bisa dijangkau. Seseorang atau sesuatu sedang memblokir akses ke masa lalu.

Sementara itu, di ruang pengawasan pusat, Direktur Virell berdiri menghadap layar observasi. Raut wajahnya dingin. Ia tahu siapa yang terlibat.

”Riven terlalu dekat dengan batas sistem. Jika dia menunjukkan keterikatan terhadap anomali itu, kita aktifkan Protokol Omega.”

Kael tiba di Distrik 7 dengan kendaraan diamagnetik berkecepatan tinggi. Distrik itu sunyi. Bekas zona industri yang kini hanya dihuni oleh mereka yang terpinggirkan. Aroma oli, besi berkarat, dan listrik terbakar menguar dari sudut-sudut kota.

Ia menyusuri gang yang ditampilkan di rekaman. Tidak ada sisa ledakan. Tapi ketika Kael menyentuh dinding tempat kilatan itu muncul—jantungnya berhenti berdetak selama satu detik. Waktu melambat. Sebuah denyutan energi menyelimuti ruang di sekitarnya.

Dan kemudian—cahaya itu muncul lagi.

Tidak secerah sebelumnya, tapi cukup untuk membuat dunia sekitarnya beku. Dari cahaya itu, sosok perempuan perlahan terbentuk. Ia berdiri tenang. Wajahnya muda, kulitnya berpendar lembut, dan matanya… mata biru menyala yang tampak seperti lautan digital.

”Kau… bukan manusia biasa,” ujar Kael pelan.

”Aku… Liora,” jawab wanita itu. Suaranya seperti gema dari dimensi lain. “Dan aku seharusnya tidak berada di sini.”

Seketika Reverter Kael mengeluarkan alarm tinggi. Data biometrik Liora tak terdeteksi dalam arsip dunia. MINDCORE menganggapnya ancaman level merah.

”Kau anomali. Tapi… kenapa aku merasa kau nyata?”

”Karena aku diciptakan oleh kemungkinan. Aku adalah jawaban dari pertanyaan yang tak pernah ditanyakan. Mereka menyebutku kegagalan. Tapi waktu sendiri memilihku.”

Suara mendesing terdengar. Dari atas, lima drone bersenjata turun seperti hujan besi. Lampu merah di tubuh mereka menyala—mereka telah mendapatkan target.

”Menunduk!” Kael menarik Liora ke samping dan menekan Reverter. Dunia sekeliling terputar mundur. Tapi Liora tidak berubah posisi. Tidak ikut mundur.

”Kau… tidak terpengaruh oleh waktu?” Kael menatap tak percaya.

”Waktu tidak mengaturku,” jawabnya. “Justru aku yang merusaknya.”

Mereka melarikan diri ke lorong bawah tanah, ke jaringan rel tua yang kini dijadikan jalur pelarian oleh para pembelot sistem. Sepanjang jalan, Liora memancarkan energi tak stabil. Setiap dinding yang disentuhnya bergetar.

Kael, yang biasanya bekerja sendirian, mulai merasakan sesuatu yang asing. Perasaan tak logis. Ketertarikan yang bukan sekadar rasa ingin tahu.

Di markas MINDCORE, Virell mendengus.

”Kael menunjukkan sinyal keterikatan emosional. Sinyal dopamin naik 7%. Aktifkan protokol penghapusan. Kirim pasukan bersenjata penuh.”

”Dan jika dia melawan, Direktur?”

”Hapus dia. Dan bawa perempuan itu dalam keadaan hidup.”

Di bunker persembunyian, Liora dan Kael akhirnya berhenti. Ruangan sempit, dengan panel rusak dan lampu darurat berkerlap. Suara dunia luar perlahan menghilang.

”Kenapa kau menyelamatkanku?” tanya Liora. “Kau tahu aku membahayakanmu.”

Kael diam. Tatapannya terpaku pada wajah Liora. Wajah yang tidak seharusnya eksis, tapi di hadapannya sekarang, lebih nyata dari semua kode yang pernah ia lihat.

”Karena… untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tidak sendirian.”

Liora menghela napas. Tapi itu bukan napas mekanis, melainkan napas penuh luka.

”Jika kau tetap bersamaku, kau akan hancur, Kael. Mereka akan datang. Mereka akan menghapus segalanya.”

”Maka biarkan aku bertarung bersamamu. Biarkan aku memilih.”

Mata mereka bertemu. Untuk sesaat, waktu benar-benar berhenti. Tidak karena alat, tapi karena keinginan. Karena dua jiwa menolak dikendalikan oleh sistem.

Di kejauhan, suara derap robot bersenjata mulai terdengar. Perburuan telah dimulai.

Dan babak pertama dari pemberontakan… baru saja dimulai.

Lates Chapters

Jejak Bayangan Waktu

Neo-Astra tak pernah benar-benar tidur. Bahkan di jam tergelap sekalipun, kota ini tetap hidup—dalam bentuk kode, data, dan sorotan merah dari drone patroli yang melintasi…
error: Content is protected !!