Dinding-dinding ruang guru sekolah ini ternyata punya telinga yang jauh lebih tajam daripada pendengaran siswa mana pun saat jam pelajaran terakhir. Mereka tidak butuh pengeras suara untuk menyebarkan kabar cukup dengan lirikan mata yang tajam, desas-desus yang dilempar pelan, dan senyum simpul yang tertahan di balik cangkir teh, maka sebuah cerita akan terbang lebih cepat daripada angin muson yang membawa badai.
Ruangan ini, yang seharusnya menjadi tempat paling tenang untuk meramu ilmu, mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan. Baru saja kemarin peristiwa “Pisang Ijo” itu meledak di kantin sebuah interupsi manis yang awalnya kukira hanya milikku dan Mesa’ tapi pagi ini, atmosfer di meja kerjaku sudah berubah total. Rasanya seperti ada kabut tipis gosip yang menutupi setiap sudut meja, membuat udara yang kuhirup terasa lebih berat dari biasanya.
Aroma kopi dari meja sebelah terasa bercampur dengan aroma gosip yang mulai mendidih di atas kompor kecurigaan. Aku mencoba membenamkan diri dalam tumpukan tugas siswa kelas XII, menggenggam pulpen merah seolah-olah benda plastik itu adalah senjata terakhir untuk mempertahankan sisa-sisa kewibawaanku yang mulai tergerus.
Mataku menatap tajam ke arah kertas-kertas ujian, namun pikiranku justru melayang pada deretan kalimat yang tidak tertulis. Aku sadar, semua mata sedang mengarah padaku, menunggu retakan pertama pada dinding yang sudah kupahat dengan sangat hati-hati selama bertahun-tahun.
”Tumben, Bu Arfiana. Biasanya jam segini sudah ada maki di perpustakaan, mencari inspirasi di antara rak buku, kenapa masih betah di meja? Sedang menunggu inspirasi atau menunggu… seseorang?” Suara Bu Ratna memecah keheningan yang kupaksakan. Nada bicaranya terdengar seperti simfoni yang salah nada di telingaku.
Aku mendongak tipis, mencoba menyusun otot wajahku agar tetap terlihat formal dan profesional.
”Banyak draf cerpen siswa yang harus selesai hari ini, Bu. Sudah mepetmi deadline-nya,” jawabku sesingkat mungkin.
”Oh, draf cerpen atau sedang menunggu ‘draf’ kiriman makanan lagi dari luar?”
Bu Ratna mendekat, menyeret kursi kayu yang berderit memilukan di sampingku. Di belakangnya, seolah sudah dikomando, Bu Ana dan Pak Iqbal mulai menghentikan aktivitas mereka dan ikut menoleh. Radar gosip mereka sedang bekerja di frekuensi tertinggi.
”Iye, Bu Arfi. Itu laki-laki yang kemarin, gagah sekali kulihat. Penampilannya sangat… menonjol untuk ukuran tamu sekolah kita. Orang Bulukumba juga?” Pak Iqbal menimpali sambil tertawa kecil, tawa yang terdengar hambar namun penuh selidik.
”Baru kali ini kulihat Bu Arfi yang biasanya sangat disiplin bicara soal tata bahasa, tiba-tiba jadi perhatian sama urusan perut di kantin saat jam istirahat belum selesai.”
Wajahku terasa panas seketika. Reaksi biologis ini adalah pengkhianat terbesar bagi martabatku. “Beliau teman lama, Pak. Kebetulan sedang lewat dan mampir sebentar,” jawabku pendek, berusaha memotong alur pembicaraan mereka sebelum menjadi lebih liar.
”Teman lama atau ‘teman tapi lama-lama jadi’?” Bu Khadijah menyela dengan nada bicara yang khas, tangannya sibuk membetulkan letak kacamatanya. “Soalnya, Bu Arfi, cara dia melihat Ibu itu bukan cara melihat teman lama biasa. Ada ‘titik dua’ di matanya, seperti ada banyak penjelasan yang ingin dia tumpahkan, tapi terhalang oleh pagar sekolah.”
”Betul itu!” Bu Ratna menimpali cepat, matanya berbinar. “Dan gayanya… agak sedikit berbeda ya dengan lingkungan kita di sini. Sangat maskulin, tapi ada kesan ‘bebas’ yang kuat. Dia kerja di mana, Bu? Jangan-jangan dia itu yang namanya Mesa’ yang sering disebut anak-anak kalau lagi cerita soal Pantai Bara?”
Aku tertegun. Jantungku berdegup kencang, menabuh genderang di balik rongga dadaku. Bagaimana mereka bisa tahu nama itu? “Kenapa sampai bawa-bawa Pantai Bara, Bu? Itu hanya perjalanan liburan biasa bersama Ibu Wati,” kataku berusaha membela diri.
”Ah, jangan pura-pura tidak tahu, Bu Guru kesayangan siswa,” Bu Ratna kini bersandar di mejaku, mempersempit jarak privasiku. “Anak-anak kelas XI kemarin bisik-bisik di belakang. Katanya, mereka lihat Ibu Guru idolanya jalan sama laki-laki yang punya gaya ‘petualang’ di pasir putih. Kami pikir itu cuma imajinasi liar siswa yang kebanyakan baca novel remaja, eh, ternyata kemarin orangnya muncul secara fisik bawa pisang ijo. Satu sekolah heboh, Bu
Suasana di ruang guru yang tadinya riuh mendadak terasa senyap, menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran citraku dan menyisakan suara desis halus dari ventilasi AC sentral di langit-langit yang seolah mengembuskan hawa dingin penuh penghakiman. “Tapi Bu Arfi,” suara Bu Ratna merendah, kali ini nadanya berubah menjadi lebih serius, penuh dengan petuah yang dibalut kecemasan palsu.
”Hati-hati maki’. Kita ini guru, sosok yang digugu dan ditiru. Apalagi Ibu kan anak pertama, tiang utama keluarga di kampung. Orang tuata’ pasti titip pesan supaya jaga diri baik-baik di perantauan ini. Jangan sampai karena orang luar yang kita tidak tahu asal-usulnya, nama baik yang kita bangun bertahun-tahun dengan penuh keringat jadi rusak hanya dalam satu hari.”
Kata-kata itu menghantamku tepat di ulu hati, lebih menyakitkan daripada teguran kepala sekolah. Menjadi anak pertama bagiku adalah sebuah kontrak seumur hidup yang tidak punya klausul untuk mengalah. Aku harus menjadi tiang yang tak boleh retak, kamus yang harus selalu punya jawaban, dan naskah yang tidak boleh mengandung kesalahan ketik. Di mata mereka, aku bukan hanya Arfiana, tapi representasi dari kehormatan sebuah keluarga.
”Saya tahu batasannya, Bu. Saya sangat tahu di mana saya berdiri,” balasku, kali ini dengan nada yang jauh lebih dingin dan tajam. “Mesa’ itu orang baik. Dia punya prinsip, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal nama baik saya maupun sekolah.”
”Iye, iye… kami cuma mengingatkan karena kami sayang ki’. Soalnya laki-laki kalau terlalu ‘manis’ di awal, biasanya ada maksud tersembunyi. Apalagi kalau gayanya serampangan seperti dia, kelihatan sekali bukan tipe orang yang suka diatur oleh aturan baku seperti kita di sini,” Bu Khadijah menambahkan sambil merapikan jilbabnya dengan gaya yang angkuh.
Aku meletakkan pulpen merahku dengan suara tak… !!! yang keras di atas meja, membuat beberapa lembar kertas beterbangan. “Terima kasih atas perhatiannya yang sangat luar biasa, Ibu-Ibu dan Bapak sekalian. Tapi saya rasa, naskah hidup saya sudah cukup rapi. Saya tidak butuh terlalu banyak editor dari luar untuk menentukan di mana saya harus meletakkan tanda titik dalam hidup saya sendiri.”
Keheningan sesaat menyergap, sangat pekat hingga suara napas pun terasa keras. Bu Ratna dan yang lain saling lempar lirik, sebuah komunikasi tanpa kata yang penuh dengan penghakiman. Perlahan, mereka kembali ke meja masing-masing dengan gumaman yang tidak jelas, meninggalkan aku yang masih menggigil oleh emosi yang tertahan. Aku kembali menunduk, menatap draf cerpen siswa, namun huruf-huruf di sana mulai menari-nari secara kacau, berubah menjadi labirin hitam yang tidak punya jalan keluar.
Hembusan angin dari AC sentral di atas kepalaku terasa menusuk tulang suara desis statisnya yang monoton terasa seperti tawa sinis yang merendahkan usahaku untuk tetap terlihat berwibawa. Di ruangan yang luas ini, aku mendadak merasa telanjang. Aku merasa rahasia yang selama ini kusimpan rapat di balik dinding yang kupahat sendiri kini telah retak, dan semua orang bebas mengintip ke dalamnya. Ego anak pertamaku terluka, harga diriku sebagai pengajar bahasa yang tertata kini dipertanyakan hanya karena seporsi makanan manis.
Di antara titik dan koma kehidupan yang sedang kutulis dengan penuh kehati-hatian, Mesa’ datang tanpa izin, membawa spasi yang terlalu lebar dan tak terduga. Sebuah spasi yang mengacak-acak ritme hidupku yang biasanya stabil. Dan di balik meja kayu ini, aku mulai merasa takut. Aku takut spasi itu akan membuat seluruh naskah hidupku berantakan, mengubah epilog indah yang kurencanakan bersama keluarga di kampung menjadi sebuah tragedi yang berawal dari sekadar rasa manis di meja kantin.
Aku berdiri dengan gerakan yang kaku, menyampirkan tas di bahu seolah-olah beban di dalamnya kini bertambah berkilo-kilo. Aku mengabaikan sisa-sisa bisikan yang masih menggantung di udara. Aku harus segera pulang, mengurung diri dalam sunyi, sebelum tanda tanya besar yang kini bersarang di kepalaku benar-benar menelan seluruh tanda titik yang selama ini kupertahankan mati-matian. Hari ini aku sadar, dalam tata bahasa kehidupan, sebuah koma yang salah letak bisa mengubah seluruh arti sebuah kalimat dan Mesa’, adalah tanda koma paling berbahaya yang pernah kutemui.
Bersambung…
#20harimencarimaaf
#day8
#novelgoodcompetition