Malam Jumat Kliwon, menjadi saksi hidup dan matinya seseorang. Petir saling bersahutan menyambar, tidak turun hujan namun guntur tak kunjung menghentikan aksinya.
Bertempat di perbatasan antar desa yang terpisah dengan anak sungai,desa Ringin. Desa terpencil dengan segala ketertinggalannya, seorang wanita dengan perut membuncit berlari masuk ke dalam hutan.
“Tidak, aku tidak akan menyerah di tangan kang Yadi. Anak ini berhak hidup,”ucap Sumi, napasnya memburu seiring dengan langkah kakinya yang semakin cepat.
Suara guntur yang memekakkan gendang telinga dan gelapnya malam tak gentar membuat wanita berusia 23 tahun itu takut ataupun menyerah, pada takdir yang kini tengah memburu calon bayi di kandungannya.
“Sumi! Kamu tidak bisa lari dariku. Menyerah saja jika ingin hidup! Cukup anak haram itu yang harus mati karena dia tidak boleh tumbuh. Dia hanya akan menjadi aib untuk kita, Sumi!”
Yadi berteriak, suaranya bak mengalahkan petir yang menyambar. Lelaki juragan beras itu terus berlari mengejar Sumi sang kekasih gelap. Menyusulnya masuk ke dalam hutan.
Kilat saling menyambar menciptakan penerangan alami di dalam hutan. Sumi terus menerobos masuk lebih dalam ke hutan.
Napasnya terengah, derap langkah kakinya semakin berat, wanita itu terus memaksakan kakinya untuk terayun melangkah.
Tidak jarang rasa sakit juga menusuk tajam di perut bagian bawah wanita itu. Sumi mengelus dan memegangi perutnya.”Sayang, kamu harus kuat, sebentar lagi kita akan istirahat. Ibu cari tempat aman dulu.”
Sumi bersembunyi di balik semak belukar, ia duduk menyatukan tubuhnya dengan tanah, sudah tidak dipedulikan lagi tubuhnya yang basah kuyup oleh keringat dan tangisan di pelupuk mata yang sudah mengering.
Sumi tidak ingin termakan janji manis Yadi yang mengatakan akan memperlebar sawah dan memperbanyak dagangannya. Sumi tidak peduli. Ia menetralkan napasnya di balik semak belukar.
Wanita itu diam duduk memeluk perut, sampai derap langkah kaki seseorang datang berlari dan melewati semak-semak tempatnya berlindung. Akhirnya Sumi bisa bernapas lega.
“Nak, ayah kamu sudah pergi,”ujar Sumi berbisik, dia hendak bangkit berdiri, namun rasa sakit di perut Sumi semakin sering dan teramat sangat sakit.
“Ya ampun! perutku kenapa sakit sekali!”
Sumi kembali duduk dengan posisi berselonjor, wanita itu meringis kesakitan menahan rasa sakitnya yang semakin pekat.
“Aakkhh… apa kamu sudah mau keluar sayang?” tanyanya sambil mengelus perut. Sesaat Sumi berpikir dan menimbang. “Usia kandunganku baru 7 bulan, apa benar aku akan segera melahirkan?”
Detik terus berjalan, Sumi semakin tidak kuat menahan beban sakit di perut. Tidak menunggu lama, spontan Sumi mengejan.”Akkh..! benar kamu mau keluar, Nak?”
Sumi menarik napas, menarik celana di dalam daster panjang yang dia kenakan, memposisikan tubuhnya seperti wanita yang akan melahirkan, kontan wanita itu mengejan kembali. “Aaaakk!!”
Napas Sumi terengah-engah, keringat dingin bercucuran membasahi tubuh kecilnya. Degup jantungnya memburu dengan tubuhnya yang setengah sadar dan gemetar.
Sumi kembali mengerang lantaran jalan bayinya terasa dirobek secara paksa, sesuatu seperti masuk kedalam organ intimnya dan menarik bayinya keluar.
“Aaakkk!!” Sumi berteriak.
Matanya melotot, darah segar mengalir beriringan dengan kepala bayi manusia. Sumi berhasil melahirkan, namun anehnya darah tidak mau berhenti bersumber dari rahim wanita itu.
Darah Sumi terus mengalir bahkan wajah Sumi sampai memucat putih, seolah darah tersedot keluar oleh sesuatu yang Sumi tidak ketahui. Apa yang terjadi di antara rongga kedua kakinya, sesuatu seperti sengaja menguras darah Sumi.
Darah keluar seharusnya mengenang banyak di bawah kaki Sumi, tapi anehnya, darah itu menghilang, cairan kental serta gumpalan darah bercampur itu masuk ke dalam tanah, terserap bersih di tanah Sumi melahirkan.
Mata wanita itu membulat dengan mulut yang menganga, wajahnya terangkat ke atas. Sumi seperti sakaratul maut. Tubuh muda segarnya seketika berubah menjadi gelap berkeriput. Perlahan tubuh Sumi melebur dan bersatu dengan tanah.
Tangisan seorang bayi laki-laki menggema di dalam hutan, badai petir tanpa guntur menyambar dan berkedip bak sedang menghibur memenangkan sang bayi.
Sesosok makhluk aneh keluar dari dalam tanah tepat di mana Sumi di telan bumi. Rambutnya panjang, matanya merah, giginya bertaring keluar. Sosok itu mulai menyesuaikan wujudnya menjadi seorang Pria paruh baya.
Pria itu mengambil bayi Sumi. “Kamu, Subari. Anakku.”
17 tahun telah berlalu, selama itu pula Subari tumbuh dengan seorang pria yang bernama Pak Elot. Hidup berkecukupan meskipun Suba tinggal di dalam hutan.
“Pak, aku ingin handphone, teman-temanku di ujung sungai sana, mereka mempunyai benda itu.”
“Boleh, Bapak akan ambilkan.”
Subari tersenyum, ia melihat tubuh Bapaknya menghilang begitu saja dari pandangan mata. Itu hal biasa dan sering terjadi, tanpa adanya rasa takut sedikitpun di diri Suba.
Anak laki-laki itu juga tahu jika sang Bapak bukan dari bangsa manusia. Dia remaja yang lugas dan sangat cerdas dalam berpikir meskipun tanpa bangku sekolah.
Subari belajar lain, tidak jarang Pak Elot mengajari anaknya meskipun tidak banyak, hanya ilmu bela diri yang Bapak itu tanamkan, dan ilmu mata batinnya yang ditularkan.
Seiring berjalannya waktu, naluri manusia Subari berkembang. Ia ingin mengetahui dari mana ia berasal begitu pun dengan kedua orang tuanya.
”Pak, bapak punya foto ibu?”
“Tidak, kenapa kamu bertanya? Tidak suka tinggal dengan Bapak?” tanya Pak Elot membalas.
“Bukan begitu, aku hanya ingin melihat seperti apa wajah Ibu.”
“Dia wanita yang kuat dan cantik, dia melahirkanmu meski Bapak kandunganmu tidak menginginkanmu.”
Hari telah berlalu, berbekal cerita dari Pak Elot dan ilmu hitamnya. Subari pergi meninggalkan hutan. Laki-laki itu ingin tahu dan seperti apa sosok Riyadi, manusia yang tega ingin membunuh darah dagingnya sendiri.
Di sepanjang perjalanan, tangan Subari mengepal kuat saat mengingat cerita dari sang Bapak tentang penghianatan dan penipuan sang Bapak biologis.
Di depan rumah berlantai tiga, di sanalah Subari berdiri.
“Jadi, kamu tinggal di sini?”gumamnya, rasa keingintahuannya kini berubah menjadi benci yang tumbuh mengakar saat ia melihat Riyadi bersama seseorang.
”Dia anaknya. Kalian terlihat bahagia. Iya, itu pasti anaknya. Hay, kita saudara,” ucap Suja menyungingkan satu sudut bibirnya.
Saat Riyadi hendak keluar dari rumah menggunakan mobil, Suba sengaja mendekati mobilnya, ia pura-pura lewat lalu menabrakkan diri.
Brakk!
“Bodoh! Cari mati, Hah? mata kamu di mana?” hardik Riyadi. Membentak dari kaca mobilnya yang diturunkan. Memindai lelaki berparas tampan dengan baju lusuh itu, lantas dia pergi begitu saja.
“Maaf, Pak.”Subari menunduk, lalu mengangkat wajahnya, menyorot tajam memindai wajah Riyadi. ”Kamu yang pantas untuk mati,”batinnya.
Memang dasar didikkannya bukan dari bangsa manusia, Subari berhati sempit dengan akal yang luas, hatinya terlalu lembut untuk menerima sang Bapak yang dulu tidak menginginkannya untuk hidup. Merasa yang dialami ibunya tidak adil. kematian sang Ibu harus ia balaskan.
Di Sore hari, Suba menaiki motor sport hasil baku hantamnya melawan remaja begundal, begitupun dengan penampilan sempurna yang ia dapatkan. Di senja itu, Suba mendekati seorang gadis.
“Hay, baru pulang sekolah?”
Di depan gerbang sekolah gadis yang di sapa Suja pun celingukan cenderung bingung. Ailin memberanikan diri untuk bertanya. “Kamu siapa, kamu mengenalku?”
Suba tersenyum. “Tidak, tapi aku mengenal Ayahmu. Aku Suba.”
“Oh, anak teman Papa,” balas Ailin mengangguk.
“Iya, mau ikut?”
Ailin menatap wajah Suba sejenak, terlihat tampan sempurna dengan perasaan wajah yang familiar, terbius oleh wajah tampan Suba, Ailin akhirnya menaiki motor Suba.
“Siapa nama kamu?” tanya Suba.
“Aku Ailin,”jawabnya setelah menaiki motor.
“Oo, Ailin. Ayo kita jalan.”
Setelah berkendara selama 15 menit, mereka sampai di rumah Ailin.
“Mau masuk?” tawar Ailin.
“Emm, lain kali saja ya. Aku masih ada urusan,” jawab Suba menolak halus.
“Oh, oke. Terimakasih.”
Mereka saling pandang dan tersenyum, seperti sedang meninggalkan jejak untuk perasaan mereka masing-masing. Rutinitas mengantar Ailin pulang sudah menjadi kebiasaan Suba selama seminggu.
Suba memahami kehidupan keluarga Riyadi melewati anaknya, Ailin.
Suba duduk di sofa di dalam ruang tamu Ailin. Meminum segelas jus dingin buatan bibi pembantu sebelum Suba menggarap mengikatnya.
Suba menyebarkan pandangannya, menyusuri setiap sudut di dalam ruangan, lalu ia tersenyum miring.
“Kamu lihat Yadi, apa yang akan aku lakukan pada anakmu,”ujarnya, tangannya bergerak mengambil bungkusan hitam dari saku Hoodie dan menaburkan sesuatu pada minuman Ailin.
Tak berselang lama, Ailin menuruni anak tangga, sudah berpakaian rumahan tersenyum cantik pada Suba, menduduki sofa dan meminum jus jeruk miliknya.
“Aku lama, ya?” tanya Ailin.
Suba menggeleng. “Enggak, rumah kok sepi, Ibu kamu kemana? Ayahmu belum pulang kerja?”
“Iya, Papa belum pulang, kalau Ibu tidak tinggal di rumah ini,” jawab Ailin santai, seperti sudah terbiasa dengan keadaan carut marutnya dalam rumah itu.
“Papa pasti sebentar lagi pulang, tapi jangan kaget, ya. Papaku keras orangnya.”
Suba mengangguk mengerti, semakin yakin dengan ketidak ada gunanya manusia itu untuk hidup.
“Nggak lah, santai saja. Aku kan sudah bilang kalau mengenal Papamu. Tapi kalau ibumu aku belum pernah melihatnya.”
“Ooh iya, he he.” Ailin tertawa lirih, lalu dia bertanya. “Pertama kali bertemu Papa di mana?”
Suba bungkam tidak menyahut, lelaki itu menatap Ailin tajam dengan sorot matanya yang dingin, menghitung mundur dalam hati dan tepat di hitungan terakhirnya, Ailin pingsan tidak sadarkan diri.
“Ah ha ha, kenapa menyenangkan sekali permainan ini,” kata Suba penuh kegirangan.
“Aku semakin tidak sabar ingin melihat ekspresi Ayahnya jika gadis ini aku tiduri. Pedulikah dia? Atau dia juga tidak memperdulikan gadis ini, sama seperti aku?”
Suba beranjak dari duduknya, mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk kedalam kamar yang tidak jauh dari ruangan itu.
Mulai menanggalkan semua kain yang menempel pada tubuh gadis yang sudah tidak sadarkan diri itu dengan beringas, namun fokusnya terpecah saat suara gaduh terdengar dari luar kamar. Suba menarik selimut untuk Ailin.
Di halam rumah, Riyadi berteriak. Lelaki itu blingsatan mendapati satpamnya tidak berada di tempat.
“Tarno! Edi! Di mana kalian?! Minah!”
Lelaki itu mudah sekali terbakar emosi jika para pegawainya tidak bekerja dengan benar. Riyadi masuk kedalam rumah, dia semakin terdengar gaduh dan berang di sana.
“Kemana sih orang-orang ini, gerbang tidak dijaga, pintu dibiarkan terbuka, kalau ada perampok bagaimana!” rutuk Riyadi kesal.
Dari ambang pintu kamar tamu, Suba bersedekap, menatap Riyadi dingin yang posesif dengan harta miliknya.
“Hay!” sapa Suba dan langsung membuat Riyadi menoleh kaget.
“Siapa kamu?” tanya Yadi.
“Aku? Siapa ya?” Suba pura-pura berpikir sebentar. “Seharusnya Bapak mengenalku jika Bapak dekat dan memperhatikan anakmu.”
Suba berjalan mendekat, mengikis jarak diantara keduanya. Menatap lelaki beruban itu dengan tatapan dendam.
Begitupun dengan Yadi, lelaki itu berada dalam keadaan siaga bercampur amarah sekarang. “Kamu teman Ailin? Edi!” teriak Yadi memanggil pelayannya.
“Ssstt! Mereka tidak akan dengar, para pelayanmu sudah aku ikat dan mereka pingsan, jadi tenanglah,” kata Suba tersenyum penuh arti. Dia duduk di sofa dengan santai.
Yadi terkejut membelalak mata, merasa benar-benar tidak aman dan khawatir dengan situasinya saat ini. Terlebih dia tidak melihat Ailin meski dia sudah berteriak membuat suasana gaduh.
“Beraninya kamu bocah!!” Yadi menunjuk Suba, dadanya bergemuruh hebat saat mengatakan itu. “Dimana Ailin?”
Suba diam tidak menjawab, malah ekspresi wajahnya menunjukkan jika ia sedang mengejek dan meremehkan Yadi.
Yadi berpaling dari wajah Suba, berjalan cepat menuju kamar di mana Suba tadi keluar dari kamar tamu. Lelaki itu kembali kaget mendapati sang anak tidak sadarkan diri di atas ranjang, terlebih hanya memakai selimut.
“Kamu!” teriak Yadi kembali dari ambang pintu. “Kamu apakan Ailin?” Yadi berjalan mendekat pada Suba.
“Ternyata kamu peduli dengan anakmu, Pak. Beruntung sekali dia.”
“B*jingan kamu! masih kecil sudah berani bertindak kriminal. Tentu saja aku peduli dengan anakku.”
Yadi mengambil kursi kayu dari sudut ruangan, melemparkannya pada remaja kurang ajar tepat mengenai kepala.
Prragg!
Suara benturan keras terdengar patah dan hancur. Suba terlihat tidak apa-apa meski kursi kayu menghantam keras di kepala. Dahinya hanya tergores sedikit dan Suba masih berlakon tenang.
Suba menyentuh lukanya. “Pak, tidak ingatkah kamu dengan ‘ku? Aku pikir wajahku cukup familiar di matamu.”
Yadi menelan ludahnya dengan susah, emosinya yang membuncah kini bercampur dengan kegundahan di hatinya.
“Apa maksud kamu?!” tanya Yadi berteriak.
“Coba Bapak ingat, aku ini mirip dengan siapa, seharusnya bapak ingat karena aku pun melihat pantulanku di wajah Bapak.”
Yadi terkejut mendengar perkataan itu, sesaat lelaki tua itu memperhatikan wajah Suba yang mengarah pada kekasih gelapnya belasan tahun lalu, Sumi.
“Ka-kamu anak Sumi?” tanya Yadi, suaranya bergetar.
“Ya. Dan bukannya aku anakmu?”
Yadi menggeleng, wajahnya terlihat pias tidak percaya.
“Kenapa tidak, kamu pikir aku sudah mati? Aku ingin mengambil separuh dari milik Ibuku atau mungkin semuanya karena kamu sudah membuat ibu menderita dan meninggal.”
Suba menatap tajam seperti akan membunuh, Yadi sampai ketakutan menyeimbangi sorot mata Suba. Tubuh Suba seperti mengeluarkan kepulan asap hitam yang membumbung dan mendekat pada Yadi. Jantung Yadi berdegup kencang tidak beraturan, dadanya juga terasa sesak seperti tidak beroksigen, seketika, Yadi ambruk dengan kepala yang lebih dulu mendarat di lantai.
Detik itu juga, darah segar merembes keluar dari kepala belakang Yadi, Suba menarik satu sudut bibirnya tidak peduli.
“Sialan, kamu malah mati semudah ini,”kata Suba, hatinya sedikit kesal.
Remaja itu kembali berkata, ia sadar jika seseorang sudah memperhatikannya dari celah pintu kamar tamu.
“Aku tidak akan bertanggung jawab karena aku tidak menyentuhnya ataupun menyentuhmu,” ucapnya, Suba beranjak dari sofa dan melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
TAMAT