Bercinta Di Lumpur Hitam

BAB 1

Di sebuah nigh club di dalam sebuah ruangan, seorang gadis cantik dengan pakaian minim samapai-sampai menampakkan belahan dadanya yang kenyal padat dan berisi. Dia tengah menghadap pada seorang wanita dengan tampilan yang glamour.

 

“Apa kau sudah siap melaksanakan tugasmu sebagai wanita penghibur, Mona?” tanya mucikari yang biasa dipanggil mami di tempat itu.

 

“Aku siap, Mam.” Biarpun ada sedikit keraguan dihatinya, Mona berusaha menjawab pertanyaan itu dengan tenang.

 

“Baiklah, sekarang kau boleh keluar. Nanti akan ada orang yang mengantarmu untuk melayani pelangan pertamamu. Kuharap kau tidak mengecewakanku, Mona.”

 

 

Dengan berat hati Mona melangkah keluar dari ruangan mucikari itu. Sebenarnya dia tidak menyukai apa yang akan dilakukannya. Namun, demi membiayai sekolah adiknya, dia terpaksa melakukan pekerjaan kotor itu. Ibunya sudah lama meninggal, kini Mona hidup hanya berdua dengan adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, sedangkan ayahnya, tidak ada yang tahu keberadaannya. Hanya satu hal yang Mona ketahui tentang ayahnya.  Ayahnya lah yang membuat ibunya meninggal tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu, Mona putus sekolah dan memilih menjadi tukang cuci keliling. Seiring berjalannya waktu, rupanya biaya kehidupannya semakin bertambah. Itulah mengapa gadis cantik itu memutuskan untuk menjadi seorang gadis penghibur dibantu oleh Hengki temanya.

 

 

Setelah keluar dari ruangan mucikari itu, Mona duduk di salah satu kounter ditemani oleh Hengki. Hengki sendiri adalah seorang pria penghibur yang banyak melayani tante-tante yang kehausan akan birahi dan seks yang tidak mereka dapatkan dari suami mereka.

 

“Apa yang tengah kau pikirkan, Mona?” tanya Hengki ketika melihat Mona hanya tersenyum.

 

“Tidak ada, aku hanya gugup saja, Heng,” jawab Mona sambil memutar-mutar pipet yang ada di dalam gelas berisi minuman.

 

“Ini hari pertamamu. Apa itu yang membuatmu seperti ini?”

 

“Tidak.”

 

“Lantas?”

 

 

Belum juga Hengki mendapat jawaban, seorang pria dengan setelan serba hitam menghampiri Mona lalu berbisik ke telinga gadis itu sambil menuding ke arah dua lelaki tampan yang baru saja memasuki night club itu.

 

 

Mona mengangguk pelan seakan mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia bangkit dari duduknya lalu membenahi pakaiannya yang minim. Gadis itu melangkah ke arah lelaki tampan yang ditunjuk oleh pria bersetalan serba hitam tadi. Lenggak-lenggok pinggul Mona begitu indah, meskipun masih nampak tepos lantaran belum ada yang menjamahnya.

 

“Selamat malam, Tuan,” sapa Mona terhadap dua lelaki yang duduk di salah satu kursi yang ada di dalam night club tersebut.

 

“Malam. Silahkan duduk,” ucap Samuel. Mona kemudian memperkenalkan namanya kepada Samuel. Namun, ada satu hal yang membuat Mona bingung. Lelaki yang bersama Samuel tidak sekalipun menatapnya, dia hanya sibuk memutar-mutar gelas wiski yang ada di meja. “Kenalkan, ini kawanku Dermawan,” kata Samuel kemudian.

 

 

Barulah Dermawan mengangkat kepalanya, dia menatap Mona. Saat itu segala apa yang ada di hatinya yang terpendam selama ini tiba-tiba saja lenyap. Untuk sesaat lelaki itu tertegun akan kecantikan gadis yang masih terbilang begitu belia itu, bahkan gadis yang ada di depannya saat ini lebih cantik dari pada mendiang istrinya.

 

Beberapa jam yang lalu, setelah empat bulan sejak kematian istrinya, Dermawan hanya melakukan aktivitis seperti biasa. Anita memang telah tiada, tetapi namanya masih hidup di dalam hati Dermawan. Beberapa wanita kelas atas mencoba mendekati dan merayunya. Namun, tidak satu pun di antara mereka yang berhasil menaklukan hatinya. Wajahanya yang begitu tampan dengan sorot mata yang tajam seperti elang. Badannya yang indah dengan otot-otot yang terpahat rapi seperti seorang atletis. Garis rahang yang tegas, hidungnya mancung, serta bebarapa bulu-bulu halus berputar di sekitar wajahnya menambah ketampanan Dermawan. Itu semua yang membuat perempuan-perempuan menggilainya, seorang duda tampan, kaya, dan berkharisma.

 

 

“Mas Der,” sapa Ningrum ketika melihat Dermawan tengah termenung duduk di teras rumah. Dia terkejut.

 

“Ah, Ningrum! Kau mengagetkanku saja,” sahut Dermawan menghela napas.

 

“Sudahlah, Mas. Mbak Anita sudah pergi. Ikhlaskan saja.” Ningrum mencoba memberi semangat kepada Dermawan. Sebagai adik perempuan Dermawan, Ningrum senantiasa menyokong semua apa yang dilakukan lelaki itu.

 

 

Ningrum adalah adik Dermawan yang masih duduk di bangku sekolah menengah tingkat akhir, dan sebebtar lagi akan meneruskan di perguruan tinggi. Kecantikanya yang alami banyak membuat para lelaki berlomba untuk mendapatkan cintanya. Namun, Ningrum selalu menolak mereka dengan alasan kalau dirinya hanya ingin fokus terhadap pendidikannya.

 

“Ah, lantas … bagaimana dengan ujian akhirmu?” tanya Dermawan ketika Ningrum duduk di kursi.

 

“Semuanya berjalan baik, Mas.”

 

“Syukurlah! Nanti aku akan mencarikanmu universitas terbaik di kota Metropolitan ini.”

 

“Terima kasih, Mas!”

 

“Apa kau sudah punya kekasih, Ning?” Pertanyaan Dermawan yang tiba-tiba itu membuat Ningrum sedikit malu, gadis itu tersipu. Entah kenapa dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. “Ningrum, kenapa kau diam?” tanya lelaki itu lagi.

 

 

Belum sempat Ningrum menjawab, seorang lelaki tampan menghampiri keduanya. Dia Samuel, sahabat Dermawan. Saat itu wajah Ningrum semakin memerah. Terlebih, Samuel langsung mengelus rambutnya setelah menyapanya. Hal itu memang seringkali Samuel lakukan terhadap Ningrum sebab dia telah menganggap gadis itu sebagai adiknya sendiri. 

 

 

Ningrum menjadi kikuk lantaran tidak dapat menahan rasa malunya. Dia bangkit dari duduknya lalu berlari masuk ke dalam rumah.

 

“Hei!! Mau ke mana kau, Ningrum?” Samuel meneriaki gadis itu, nada terikannya seperti menggoda. “Aii … belum juga apa-apa sudah lari,” kata Samuel. Lelaki itu duduk di bekas tempat duduk Ningrum tadi.

 

“Mau apa kau ke mari?” tanya Dermawan sedikit kesal sebab kedatangan Samuel, membuat Ningrum langsung berlari masuk ke dalam rumah. Padahal dia masih belum mendapatkan jawaban dari Ningrum. Samuel akhirnya tertawa. “Berhentilah tertawa,” kata Dermawan lagi. Lelaki itu merogoh sakunya dan mengeluarkan rokok, lalu menyelutnya. “Jadi, apa maksud kedatanganmu?”

 

“Ah! Aku hampir lupa. Nanti malam kan malam minggu. Apa kau punya rencana?” tanya Samuel.

 

“Tidak, kenapa?”

 

“Sudah lama kita tidak heng out. Sejak kau menikah kau sudah melupakanku, dan sekarang bukan kah istrimu juga sudah tiada? Jadi, ayolah. Sebagaimana pun, Anita juga tidak akan kembali.”

 

 

Dermawan merasa apa yang dikatakan Samuel memang benar. Biar bagaimanapun, Anita tidak akan kembali, meski namanya tetap terukir indah di relung hati yang paling dalam. Tanpa ragu Dermawan mengindahkan ajakan Samuel.

 

 

Setelah sepakat untuk heng out, Samuel pamit pulang. Dia tersenyum ketika dia melihat Ningrum mengintip di balik jendela. 

 

 

Begitu melihat kalau dirinya ketahuan oleh Samuel, Ningrum langsung menutup jendela dan besandar. Wajahnya nampak merona. Sebenarnya alasan seringkali dia menolak pemuda-pemuda yang datang untuk menjadikannya kekasih adalah Samuel. Gadis itu menyukai Samuel sudah lama, hanya saja dia tidak mengutarakan perasaannya. Selain terpaut umur yang begitu jauh, nampaknya Samuel juga hanya menganggapnya seperti adik kandungnya saja, meskipun Samuel selalu menggoda gadis itu dengan candaan-candaan konyol. Seperti bertanya maukah Ningrum untuk menjadi bakal istrinya.

 

 

******

 

 

Lates Chapters

BAB 6

Setelah Dermawan melepaskan ciumannya, dia berpindah kebagian yang begitu indah di pandang. Dua buah benda kenyal, padat, dan berisi, yang ujungnya masih ranum. Di sana…

BAB 5

"Hengki!" Mona terkejut kala yang berdiri di depanya bukanlah Dermawan. Melainkan Hengki. "Dari mana kau tahu alamat rumah ini?" tanya Mona kemudian.   "Dari Mami,"…

BAB 4

Di dalam ruangan yang diselimuti hawa dingin dari pendingin ruangan, kesibukan melanda di siang yang hangat. Langkah cepat dan telepon berdering, kantor dan tugas menantang.…

BAB 3

Sinar itu tidak pernah pudar di hujung timur di singgasana kekar. Sang bayu pun terhirup begitu segar turut mengiringi. Ranumnya celoteh burung saling bersahutan, riangnya…

BAB 2

"Dermawan." Dermawan mengulurkan tangan lalu Mona meraihnya dengan senyum yang cantik sekali.   "Jadi, Tuan. Apakah malam ini saya harus melayani Anda berdua?" tanya Mona.…
error: Content is protected !!