Menawar Takdir

Bab 1

Bab 1

 

“Hukum saja!”

“Bakar putri pengkhianat!”

“Habisi putri pengkhianat!”

 

Suara kejam itu saling bersahutan, menghakimi sosok gadis yang telah siap menerima hukuman di atas altar. Matanya menatap ayah dan kakaknya yang hanya memandangnya dengan datar. Pandangannya kemudian beralih pada sosok gagah di sebelah ayahnya, yang juga menatapnya datar, tanpa menunjukkan kesedihan ataupun keinginan untuk melindunginya yang sebentar lagi akan kehilangan nyawa.

 

“Huhuhu, Tuan Putri! Jangan penggal Tuan Putri!” Mata indah gadis itu beralih pada sosok gadis mungil dan wanita tua yang tengah menangis dan berusaha meminta belas kasih dari semua orang agar melepaskannya dari hukuman mati ini.

 

Ia menatap sayu kedua pelayan setianya. Ia hanya bisa menitikkan air mata di saat semua orang mengharapkan kematiannya, namun kedua pelayan itu rela mendapat tendangan dan pukulan demi agar dirinya tidak dihukum mati.

 

“Maaf,” lirihnya, kemudian kedua mata indah itu tertutup disertai goresan di lehernya.

 

Suara gemuruh petir disertai hujan lebat membasahi seluruh tanah, suara lolongan serigala terdengar pilu menyertai kepergian gadis cantik yang tak lain adalah Mey Yan.

 

Sayup-sayup terdengar suara memanggilnya, samar seperti hembusan angin yang menyusup melalui celah-celah jendela. Perlahan, kelopak matanya mulai terbuka, cahaya lembut memenuhi pandangannya yang kabur.

 

Di atasnya, langit-langit ruangan yang tinggi dihiasi ukiran rumit yang tampak mewah dan elegan. Ia tahu tempat ini—ruangan ini tidak asing. Namun, ada sesuatu yang berbeda, seolah-olah ia telah lama meninggalkannya dan kini kembali dengan perasaan yang tidak sepenuhnya nyata.

 

Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuhnya dari ranjang besar yang dihiasi tirai sutra merah tua. Jubah putih panjang yang dikenakannya menyentuh lantai dingin, dan rambut hitamnya yang terurai jatuh melewati bahu, terasa berat dan acak.

 

Pandangannya mengelilingi ruangan: meja kecil dari kayu mahoni di dekat jendela, sebuah guci besar dengan lukisan bunga peoni, dan pintu yang sedikit terbuka menampakkan taman kecil di luar. Ruangan ini begitu akrab, tetapi kenangan tentangnya seperti dilapisi kabut tebal yang sulit ditembus.

 

“Duchess Mey Yan, Anda sudah bangun.” Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas.

 

Seorang pelayan muda dengan wajah manis muncul dari balik tirai, mengenakan pakaian biru langit yang kontras dengan kain merah yang menggantung di sekitarnya. Ia membawa nampan berisi semangkuk bubur panas yang masih mengepul dan secangkir teh ginseng. “Saya telah menyiapkan sarapan. Apakah Anda ingin menyantapnya sekarang?”

 

Mey Yan menatap gadis itu dengan bingung sejenak. Matanya berusaha menangkap detail wajah pelayan itu, namun pikirannya masih samar, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari mimpi panjang. “Di mana aku?” Ia akhirnya bertanya, suaranya serak. “Apakah ini surga?”

 

Gadis itu mengernyit bingung, kemudian menunduk hormat. “Duchess, apa yang terjadi? Apakah Duchess merasa ada yang sakit?” tanya gadis itu penuh kebingungan.

 

“Ah, maaf. Sepertinya aku sedikit kelelahan. Taruh saja sarapannya di sana, kau boleh keluar sekarang,” suruhnya dengan lembut. Pelayan itu sampai terperangah mendengar nada lembut yang keluar dari bibir sang nyonya, suara lembut yang biasanya hanya akan keluar jika berbicara dengan sang Duke.

 

“Maaf, Nyonya. Apakah budak ini melakukan kesalahan? Budak rendah ini siap menerima hukuman.”

 

Mey Yan panik saat gadis pelayan itu sujud dan membenturkan kepalanya ke lantai. Ia segera membantu pelayan muda itu untuk bangun dan berdiri di depannya. “Apakah aku terlihat menyeramkan?” tanya Mey Yan yang dibalas gelengan cepat oleh gadis pelayan itu.

 

“Nyonya, apakah Lili boleh memanggil tabib?” tanya gadis pelayan dengan nada takut kepada sang nyonya.

 

“Kau sakit? Tentu saja boleh jika kau sakit,” ujar Mey Yan cepat. Ia tidak mau gadis pelayan ini celaka karena dirinya. Ia sangat ingat jelas, gadis pelayan ini bahkan rela untuk menerima hukuman demi meringankan hukumannya, tetapi ternyata pengorbanannya tidak mendapatkan apa-apa. Ia juga harus ikut mati bersama sang nyonya.

 

“Aku bersalah padamu. Pergilah, obati luka di dahimu. Kembali ke sini jika aku memanggilmu,” perintahnya tegas, namun ada kelembutan yang tersirat dalam nadanya. Sang pelayan mengangguk patuh, meskipun ekspresi wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran. Tanpa membantah, ia berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah pelan.

 

Begitu keheningan menguasai ruangan, Mey Yan kembali menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Ia menarik napas dalam-dalam, berharap udara yang ia hirup dapat menghalau bayang-bayang kelam yang menghantui benaknya. Kenangan itu—hari kematiannya—datang begitu jelas, bagai mimpi buruk yang terus berulang dan menolak pudar. Rasa ngilu yang masih terasa di lehernya seakan menjadi pengingat abadi akan akhir yang tidak seharusnya ia alami.

 

Ia mengulurkan tangan, menyentuh tengkuknya yang dingin. Sekilas, ia dapat merasakan lagi tekanan menyakitkan itu, seolah-olah tali yang menjerat lehernya masih ada, menariknya kembali ke saat-saat terakhir yang penuh dengan kepedihan dan ketidakberdayaan. Namun kini, ia tidak lagi terjerat oleh takdir yang sama. Ia telah kembali—entah bagaimana caranya—dengan sebuah kesempatan kedua untuk mengubah nasibnya dan mencari kebenaran yang tersembunyi di balik penderitaan itu.

 

“Aku tidak akan menyerah,” bisiknya pada dirinya sendiri, seperti janji yang diikrarkan dengan segenap jiwa. “Aku akan mengungkap siapa yang telah menghancurkan hidupku, dan kali ini, aku tidak akan menjadi korban.”

 

Mey Yan bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekati jendela. Ia mendorong tirai dengan lembut, membiarkan sinar matahari pagi menerobos masuk dan menerangi wajahnya yang pucat. Taman di luar tampak damai, bunga-bunga bermekaran, dan angin berhembus pelan, membawa harum krisan yang menenangkan. Namun, kedamaian itu terasa palsu baginya, seperti topeng indah yang menutupi luka yang dalam.

 

Tatapannya terhenti pada permukaan kolam kecil yang memantulkan bayangan langit biru dan pepohonan. Di sana, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Tampak seperti dulu, tetapi ada sesuatu yang berbeda pada sorot matanya—lebih tajam, penuh tekad, dan sedikit keruh oleh rasa sakit yang belum sirna. Seperti bayangan yang bukan sepenuhnya miliknya, wajah itu berbicara tentang hal-hal yang belum selesai dan dendam yang belum terbalaskan.

 

Pikirannya kembali melayang ke hari-hari terakhir sebelum kematiannya. Ia adalah putri dari keluarga bangsawan yang dihormati—atau lebih tepatnya, putri dari raja negeri ini—memiliki segala kemewahan yang diidamkan banyak orang. Namun, di balik tembok istana yang megah, ia hidup dalam intrik yang penuh tipu daya. Saudara-saudaranya, rekan-rekan keluarganya, bahkan beberapa pelayan istana, semuanya memiliki wajah yang tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Ia selalu tahu ada sesuatu yang salah, tetapi tidak pernah menyangka bahwa pengkhianatan itu akan datang begitu dekat, begitu cepat, hin

gga ia tidak memiliki waktu untuk menyadari kebenaran.

Lates Chapters

Mey yan

  Bagi Mey Yan, sebuah kehadiran yang menyelamatkannya dari kesendirian.   Suatu sore, Jinhai membawakan Mey Yan sebuah buku dengan sampul yang tampak tua. “Ini…

Bab 5

  BAB 5   Setelah selesai, Mey Yan melipat surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya dalam saku. Ia merasa sedikit lebih lega setelah menulis semua…

Bab 4

  BAB 4   "Baiklah," kata Lian akhirnya, suaranya tetap tegas. "Tapi jika ada yang mencurigakan, aku akan langsung menarikmu pergi."   Pria itu mengangguk,…

Bab 3

Bab 3   Mey Yan mengangguk, berusaha menyembunyikan kecemasannya. “Ya, aku mendengar banyak tentang dia. Sepertinya dia memiliki banyak penggemar.”   Adik perempuan Duke Zhao…

Bab 2

Bab 2     Saat itu, ia hanya ingat keributan yang terjadi di istana. Banyak hal yang tidak masuk akal—bisikan-bisikan rahasia yang menyebar di balik…
error: Content is protected !!