Perjodohan di Atas Janji

Bab 1

Pagi ini aku sedang menatap cermin besar yang ada di lemari kamarku. Wajahku telah selesai dipoles berbagai macam riasan. Rambutku yang panjang sebahu pun sudah digelung rapi. Dress warna putih sudah membalut tubuhku. Warna putihnya yang bersih nan suci, sama seperti ikrar yang akan segera kudengar.

 

Hari ini seharusnya menjadi hari bahagiaku. Namun, ingin rasanya aku menangis, berlari, dan pergi dari sini, dari rumahku sendiri. Hingga aku kembali teringat dengan senyuman ayahku. Senyuman yang selalu menyelamatkanku.

 

Aku pun berjalan mendekati jendela kamarku. Kedua mataku menatap lurus ke arah langit di atasku. Langit yang cerah. Cerah sekali hingga membuatku iri. Terlalu cerah bahkan awan pun tak terlihat. Ingin rasanya aku juga ikut terbang ke sana. Menghilang saja.

 

“Mbak, sudah siap?” panggilan itu membuyarkan lamunanku. Seorang wanita yang lebih tua dariku tersenyum menatap ke arahku. Aku pun paham dan langsung menganggukkan kepalaku.

 

“Ya. Sudah, Mbak,” jawabku sembari mengulas sebuah senyuman.

 

“Mari, Mbak. Para tamu sudah menunggu!” ajak wanita itu.

 

Wanita itu lalu menuntunku menuju ruang tamu. Di sana sudah ada beberapa orang yang merupakan kerabat dari ayah dan mendiang ibuku. Mereka semua tersenyum haru menatapku. Tak lupa kerabat dari calon suamiku. Nampak ayahku duduk bersama calon mertuaku, Pak Rangga. Mereka juga ikut tersenyum. Tapi aku tak peduli. Aku hanya peduli pada senyuman bahagia ayahku. Nampaknya beliau benar-benar menantikan hari ini.

 

Mataku kini tertuju pada bagian tengah ruang tamu. Di sana sudah ada seorang pria yang duduk manis menghadap penghulu. Jas dan kemeja putih ia kenakan. Ia pun menatapku. Kulihat ia hanya tersenyum tipis. Aku pun langsung duduk di sampingnya. Dengan menjaga jarak tentunya karena aku belum mengenalnya.

 

“Baiklah. Kita mulai acara ijab qabulnya,” ucap sang penghulu. Ia langsung mengajukan tangan kanannya. Laki-laki yang duduk di sampingku pun langsung menyambut tangan itu.

 

“Bismillahirahmanirrahim. Saudara Ajisaka Rahardi bin Rangga Cipto, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Gendhis Manikwati binti Wibowo Wicaksono dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan emas seberat sepuluh gram, tunai,” tutur sang penghulu.

 

“Saya terima nikah dan kawinnya Gendhis Manikwati binti Wibowo Wicaksono dengan maskawin yang disebut di atas, tunai,” balas laki-laki itu dengan lancar. 

 

“Bagaimana para saksi? Apakah sah?” tanya sang penghulu sembari menatap ke sekeliling.

 

“SAH!” Semua orang yang hadir menjawab secara bersamaan.

 

Acara ijab qabul pun selesai. Sang penghulu mendoakan kami berdua. Kini kami sudah resmi menjadi suami istri. Tinta hitam pun ikut tertuang di atas buku nikah kami. Kemudian sebuah cincin ia pasangkan di jari manisku dan aku ikut memasangkan pasangan cincinku ke jari manisnya. Aku pun mencium punggung tangan laki-laki yang kini menjadi suami sahku. Ia pun membalas mencium keningku tanpa ragu. Kini usai sudah acara inti di hari itu. Kami langsung melaksanakan syukuran dengan kerabat dekat kami. Tak ada resepsi. Aku sendirilah yang memintanya. Aku tak ingin merepotkan semuanya.

 

Sore itu pun aku berpamitan dengan ayahku. Mas Saka, begitu aku memanggilnya, ia mengajakku untuk tinggal di rumah barunya. Sebenarnya aku tak ingin berpisah dengan ayahku. Aku begitu menyayanginya. Nampak jelas di wajahnya bahwa ayah juga ingin menangisi kepergianku. Aku pun tak sanggup menahan air mataku.

 

“Baik-baik ya sama suamimu. Dengarkan nasihatnya. Jangan pernah mengeluhkan apa pun. Ayah tahu kamu gadis yang kuat,” tutur ayahku sembari memeluk dan mengusap kepalaku.

 

“Iya, Ayah. Tapi aku gak mau ninggalin Ayah ….” rengekku.

 

“Ayah gak papa. Di sini sudah ada Pak Lik sama Bu Likmu. Kamu jangan khawatir sama Ayah. Sekarang kan kamu sudah menjadi istri Ajisaka,” balas ayah mencoba menenangkanku.

 

“Iya, Gendhis. Kita bisa ke sini kapan saja,” ucap Mas Saka yang tengah berdiri di belakangku. Ia tersenyum lembut padaku.

 

“Benar. Kalian bisa ke sini kapan saja. Sudah ya, Nduk. Kamu harus segera istirahat. Sana! Kasihan suamimu sudah menunggumu,” tutur ayah melepaskanku. Aku pun menurut dan menghapus air mataku.

 

“Baik, Ayah,” ucapku sembari mengangguk pelan.

 

“Ayo! Kami pamit dulu ya, Ayah. Assalamu’alaikum,” ucap Mas Saka sembari menggandeng tanganku.

 

“Wa’alaikumussalam,” jawab ayahku.

 

Kami pun berpisah. Mobil yang aku tumpangi bersama suamiku telah meninggalkan halaman rumahku. Kini kami hanya terdiam. Suasana begitu canggung. Bagaimana tidak? Aku sama sekali belum mengenal suamiku. Membuka pembicaraan pun aku tak tahu harus memulai dari mana. Aku pun belum mengerti bagaimana sikap dan sifat Mas Ajisaka. Tetapi dilihat dari perlakuannya pada ayahku, nampaknya ia merupakan orang yang baik. Oke, aku pasti bisa hidup bersamanya.

 

“Ayo turun! Kita sudah sampai,” ucapnya bersamaan dengan menghentikan mobil yang kami tumpangi. Sekarang aku berada di tempat asing yang akan menjadi rumahku.

 

‘Rumah yang cukup besar,’ batinku. Ya. Rumah itu cukup besar. Luasnya sekitar delapan kali sepuluh meter. Rumah yang memiliki dua lantai dan halaman kecil di depannya. Cukup besar untuk ditinggali oleh dua orang.

 

Mas Ajisaka pun mengajakku masuk ke dalam rumah. Ia membawakan barang-barangku. Aku pun ikut membantunya. Barang-barang yang kubawa hanyalah baju dan buku-buku kesayanganku. Setelah selesai memasukkan semua barang, kami pun duduk di ruang tamu. Mas Ajisaka membuatkan secangkir teh hangat untukku.

 

Kami hanya berdua di rumah itu. Aku merasa canggung berhadapan dengannya. Kini pikiranku tertuju pada hal yang akan terjadi selanjutnya. Aku teringat bahwa malam ini merupakan malam pertama bagiku dan suamiku. Jantungku pun langsung menggebu seru. Padahal aku sendiri tak mencintai suamiku. Meski aku sadar bahwa Mas Ajisaka memiliki wajah yang tampan, bahkan terlihat begitu muda di usianya yang sudah hampir kepala tiga. Wajah baby facenya akan membuat siapa pun terpesona. Sikapnya yang berwibawa beserta tubuhnya yang tinggi sekitar seratus delapan puluh senti memberikan nilai tambah pada dirinya. Sungguh aku belum pernah bertemu laki-laki seperti Mas Ajisaka.

 

“Gendhis,” panggilnya membuyarkan lamunanku. Mengembalikanku pada kenyataan. Kenyataan bahwa dia memanglah suamiku.

 

“Ya?” tanyaku sembari menatapnya.

 

“Kamu pasti canggung ya?” tanya Mas Saka juga menatapku. Aku hanya mengangguk.

 

“Pastinya. Yah. Baiklah. Sepertinya malam ini gak bisa ya?” tanyanya lagi. Namun dengan gaya yang berbeda. Ekspresi yang ditunjukkan pun berbeda. Yang kulihat barusan seperti ekspresi anak kecil yang sedang kecewa karena tak mendapatkan manisan. Bibir laki-laki itu mengerucut.

 

“Eh? Maaf,” ucapku tak enak hati. Tapi jujur saja aku belum siap. Aku masih takut.

 

“Ya sudahlah. Gak papa. Kamarnya ada di lantai dua, yang di ujung,” ucapnya sembari menunjuk ke lantai atas. Menunjuk pintu yang tertutup di lantai dua. 

 

“Ba-baik,” jawabku.

 

“Ya sudah. Bawa sekalian baju-bajumu!” ucapnya lagi. Bukan. Tapi terdengar seperti memerintah. Aku sedikit tersentak mendengarnya. Namun ternyata Mas Saka juga ikut membawakan barangku.

 

“Ini kamarmu,” ucapnya lagi sembari membukakan pintu dan meletakkan barangku di dekat tembok.

 

Kamar itu lumayan besar. Lebih besar dari kamarku yang sebelumnya. Kulihat sudah ada lemari baju dan rak buku. Tempat tidurnya pun berukuran sedang. Cukup untuk ditempati dua orang. Melihat keadaan yang seperti itu malah membuatku merinding. Aku benar-benar belum siap. Bagaimana pun juga Mas Saka merupakan orang lain bagiku.

 

“Tidurlah! Aku juga mau tidur,” ucap Mas Saka mengagetkanku.

 

“Ba-baik.” Aku menjadi gugup. Lalu aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar itu. Tanpa aba-aba, pintu langsung tertutup dan membuatku semakin gugup. Sedikit aku memejamkan mataku. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat ….

 

“Eh?” gumamku.

 

Aku pun menoleh dan ternyata Mas Saka tak berada di belakangku. Di mana dia? Aku pun kembali membuka pintu kamarku dan benar saja Mas Saka ada di sana. Aku melihat ia hendak membuka ruangan di sebelah kamarku. Dia menoleh menatapku.

 

“Kenapa?” tanya laki-laki itu.

 

“Mas Saka … mau ke mana?” tanyaku.

 

“Mau tidur,” jawabnya.

 

“Tidur?” tanyaku lagi.

 

“Ya. Aku ngantuk.”

 

“Ta-tapi ….”

 

“Kenapa? Di sini kamarku,” ucap Mas Saka. Ia pun seperti teringat sesuatu dan langsung menyeringai menatapku.

 

“Oh. Apa jangan-jangan kamu sudah siap? Kamu mau tidur denganku?” tanya laki-laki itu lagi. Sepertinya ia sedang mengerjaiku. Aku pun spontan menggelengkan kepalaku dengan cepat. Mas Saka terkekeh.

 

“Tenang saja. Meski kita sudah menikah, aku tahu kamu belum mengenalku. Jadi kita tidur di kamar terpisah,” jelasnya. Aku merasa lega mendengarnya. Aku tertolong karena ternyata Mas Ajisaka benar-benar orang yang baik.

 

“Ya sudah sana tidur atau aku yang akan berubah pikiran,” ucapnya lagi.

 

“Tidak!” seruku sembari menutup kembali pintu kamarku.

***

Lates Chapters

Bab 12

Wibowo tengah duduk di teras rumahnya. Menikmati secangkir kopi panas dan sepiring gorengan sembari bercengkrama dengan adik iparnya. Melihat sebuah taksi berhenti di depan rumah,…

Bab 11

Setelah kejadian di malam itu, Ajisaka kembali menjadi pendiam. Bahkan lebih diam dari sebelumnya. Laki-laki itu bahkan lebih memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar. Tampaknya…

Bab 10

Mereka telah sampai di depan rumah. Ajisaka segara menghentikan mobilnya. Sebelum ia bersuara, Gendhis sudah berjalan cepat memasuki rumahnya. Ajisaka yang juga ikut kesal dengan…

Bab 9

"Aku beneran gak ngerti deh," sungut Gendhis saat ia duduk berdua dengan Intan.   "Gak ngerti gimana?" tanya Intan penasaran. Gendhis hanya menggelengkan kepalanya.  …

Bab 8

Senin pagi. Gendhis kembali dengan rutinitasnya. Kembali kuliah di kampus dan berjumpa dengan ketiga sahabatnya. Ia masih kesal dengan sikap Ajisaka. Laki-laki itu pun menjadi…

Bab 7

Gendhis meletakkan foto itu ke dalam laci meja kerja Ajisaka. Ia tak mau melihatnya lagi. Hatinya terasa perih mengetahui suaminya memiliki perasaan pada wanita lain.…

Bab 6

Sekarang sudah genap enam bulan Gendhis kuliah. Ia semakin akrab dengan ketiga sahabatnya. Gendhis juga tahu bahwa Intan dan Mei telah menjadi penggemar berat Ajisaka,…

Bab 5

Kini gadis itu hendak kembali ke kampusnya. Hari ini merupakan hari pertama perkuliahan. Sang suami sudah siap dengan seragam kerjanya. Gendhis pun memakai dress berwarna…

Bab 4

Tiga hari telah berlalu. Hari ini merupakan hari terahir ospek universitas. Gendhis pun masih memakai seragam yang sama. Pagi itu Gendhis menyiapkan sarapan dengan rasa…

Bab 3

“Gendhis. Aku boleh masuk?” tanya Ajisaka dari pintu kamar istrinya yang terbuka. Gadis itu tengah menonton drama favoritnya. Lalu ia menoleh menatap sang suami yang…

Bab 2

Malam pertama telah berlalu begitu saja. Gendhis kini terbangun dari tidurnya. Ia pun berjalan keluar kamar barunya untuk pergi ke kamar mandi yang ada di…
error: Content is protected !!