Arwah Gentayangan

Bab 1

Arwah Gentayangan

Written by: Leni Marlina

 

“Mas Andra mana sih?”

 

Anita berdecak kesal karena tak menemukan Andra di kamarnya, dia meraih ponsel untuk melihat jam. Ternyata sudah pukul setengah tiga pagi.

 

Anita menyingkap selimut hendak turun dari kasur. Detik itu juga ia mencium aroma busuk yang sangat menyengat dan baru menyadari kalau sepertinya ada sesuatu yang sedang mengamatinya dari samping. 

 

Benar saja, di meja rias samar-samar ia melihat sesosok bayangan hitam sedang duduk di sana. Separuh logikanya mengatakan itu hanyalah ilusi cahaya saja, karena jarak meja rias dengan kasurnya terpaut cukup jauh. Hanya saja bulu kuduk Anita yang meremang seakan memberi alarm bahwa yang dia lihat itu bukan sekedar ilusi. 

 

Anita bangkit dari kasur dengan ketakutan dan berlari menuju saklar lampu. Begitu kamarnya terang benderang sosok hitam itu langsung menghilang. 

 

‘Apa itu tadi?’ batin Anita. Tangannya gemetar ketakutan, pasalnya dia yakin sekali melihat bayangan hitam duduk di meja rias. 

 

Dengan panik, Anita berusaha untuk menghubungi ponsel Andra, akan tetapi tak satupun panggilannya diangkat. Anita menggigit bibir bawahnya kebingungan, dia tidak ingin tidur di sini tapi untuk pergi keluar dia juga merasa takut. 

 

Akhirnya setelah menarik napas berulang kali, Anita memberanikan diri untuk pergi keluar. 

 

Baru saja ia menarik daun pintu sedikit, sesosok wanita tiba-tiba melintas dengan menggunakan pakaiannya persis seperti wanita yang kemarin mengintipnya. Wanita itu kemudian masuk kamar yang pintunya terbuka sedikit di ujung lorong dengan cara menembus dinding.

 

Tanpa basa-basi Anita langsung menutup pintu kamarnya, mengurungkan niat untuk keluar. Kali ini otaknya tidak bisa menyangkal kalau sosok wanita itu hanya ilusi semata. Jelas-jelas dia melihat wanita itu melintas cepat dengan mata kepala sendiri dalam kondisi lorong kamar dengan lampu menyala.

 

Sosok itu jelas bukan manusia. Tidak ada manusia yang berjalan secepat itu. 

 

Anita kembali ke kasur dan menarik selimut sampai menutupi kepala. Kaki dan tangannya gemetar ketakutan. Keringat dingin membasahi badannya. Dia tidak berani hanya untuk menyisir situasi di kamarnya sendiri. Sosok bayangan hitam itu bisa saja kembali duduk di meja rias dan memandangnya. 

 

Anita tidak ingin melihat sosok itu lagi.

 

Akhirnya malam itu Anita hanya rebahan di bawah selimut dengan ketakutan. Ia mencoba untuk tidur dan melupakan apa yang ia lihat tadi, akan tetapi ketakutannya menguasai dirinya. Anita mencoba untuk menghubungi ponsel Andra. Sayang sekali hanya kekecewaan yang didapatkan oleh Anita. 

 

Cahaya matahari samar-samar menembus tirai jendela dan menerangi kamarnya, Anita kemudian memberanikan diri untuk membuka selimutnya. Tak ada siapapun di dalam kamar. 

 

Sosok bayangan hitam itu tak terlihat duduk di meja rias. Situasi kamarnya pun tak terlihat seram sama sekali. 

 

Anita menghela napas lega. Dalam hatinya dia kesal karena Andra tak bisa dihubungi semalaman. Dengan wajah ditekuk, Anita membuka pintu kamar hendak mencari Andra. Tepat ketika dia keluar, pintu kamar yang berada di ujung lorong pun terbuka.

 

Ica keluar dari sana dengan wajah mengantuk khas bangun tidur. Wanita itu melenggang melewatinya begitu saja dan pergi menuju ke area depan. Sama sekali tak ada gelagat menghormati dirinya sebagai istri dari sang pemilik rumah. 

 

Ica? Lalu siapa sosok wanita itu? Anita yakin sekali kalau sosok wanita itu bukanlah Ica. Siluet wanita yang melintas cepat semalam terlihat sangat berbeda dengan asisten rumah tangga menyebalkan itu. Lagi pula Ica tidak mungkin bisa menembus dinding.

 

Atau dia salah lihat? Mungkin saja karena Anita sudah ketakutan melihat bayangan hitam di kamarnya dan salah mengira kalau sosok wanita itu adalah hantu? Bisa saja wanita itu memang Ica, bukan? Hanya saja sebuah pertanyaan mengisi pikirannya, untuk apa sosok itu mengganggunya? Apa karena dia penghuni baru di sini? Atau … jangan-jangan ini ulah Ica untuk membuatnya tidak nyaman?

 

Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Anita tentang penampakan yang dia lihat semalam. Ingin bertanya langsung pada sang suami, ia merasa enggan.  Anita pun mengurungkan niatnya ketika melihat wajah Andra yang tampak kelelahan keluar dari kamar yang berada di samping kamarnya.

 

“Mas, kamu dari mana sih? Kok semalam nggak tidur di kamar?” Anita menghampiri Andra dengan wajah muram.

 

“Maaf, Sayang. Aku lupa kalau sekarang sudah punya istri. Jadi setelah memperbaiki keran, aku langsung tidur di kamarku sendiri,” jawab Andra tanpa rasa bersalah sedikitpun.

 

Anita memukul lengan Andra  saking kesalnya. Bisa-bisanya suaminya itu lupa kalau sekarang mereka sudah menikah. 

 

“Maafin aku ya. Nanti aku nggak akan lupa lagi deh,” bujuk Andra. 

 

Anita pun memaklumi hal itu. Mungkin karena mereka baru menikah, jadi Andra belum terbiasa dengan hubungan baru yang mereka jalani.

 

Pagi itu, Anita berinisiatif membuatkan sarapan untuk Andra. Saat dia mengecek kulkas, bahan-bahan masakan seperti sayur sudah menipis. Jadi, Anita memutuskan untuk pergi berbelanja saja sekalian jalan-jalan melihat lingkungan sekitar. Seingatnya, ada penjual sayur yang terletak di ujung gang tersebut. 

 

“Loh, kamu mau ke mana, Sayang?” tanya Andra ketika melihat Anita hendak pergi membuka pagar.

 

“Mau belanja di warung yang ada di ujung gang sini mas. Bahan-bahan perlengkapan untuk memasak sudah hampir habis, aku pergi dulu ya mas.“

 

Anita langsung melangkahkan kakinya meninggalkan suaminya. 

 

“Tidak usah—” ucapan Andra terhenti saat istrinya telah pergi meninggalkannya. 

 

“Masa bodo ah. Orang lagi ngomong, malah main nyelonong pergi begitu saja. Kenapa dia tidak bisa menghargai aku? Secara kan, aku ini suaminya. Lagian kenapa sih dia repot-repot? Kan ada Asisten rumah tangga? Apa gunanya Asisten rumah tangga jika dia yang ngerjain semua pekerjaan rumah,” monolog Andra menggerutu. 

 

Andra pun hendak menuju ke belakang. Saat ia melewati kamar yang ditempati oleh Asisten rumah tangganya, sekelebat bayangan hitam masuk ke dalam kamar tersebut. 

 

Mulut Andra pun melongo karena bayangan tersebut menembus pintu kamar tersebut. 

 

Lututnya pun gemetar, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Dengan tangan gemetar dan keringat dingin membasahi telapak tangannya, ia pun pelan-pelan membuka handle pintu kamar tersebut. 

 

“Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?” sebuah suara menghentikan niat Andra untuk membuka pintu kamar tersebut. 

 

Ia pun membalikkan badannya dan melihat jika ada Asisten rumah tangganya berdiri di belakangnya. 

 

Ia pun bernapas lega. 

 

“Huft! Aku kira siapa, kamu ngagetin aja,” sahut Andra tanpa menjawab pertanyaan si empunya. 

 

“Lagian, kenapa Tuan malah mau buka kamar saya? Ada apa Tuan?” tanya Ica.

“Sttt! Kamu jangan berisik, nanti Nyonya dengar,” jawab Andra tanpa memperdulikan pertanyaan Ica. 

 

Ica pun berinisiatif untuk mendekat ke arah Andra. 

 

“Tuan ini jangan berlaga pikun begitu. Nyonya kan sedang di luar Tuan. Memangnya ada apa sih Tuan? Kenapa Tuan mau membuka kamar saya?” tanya Ica. 

 

Andra pun menepuk jidatnya saat ingat jika istrinya sedang keluar rumah. 

 

“Ya sudah kalau begitu, kamu tolong bereskan kamar saya Ca,” ucap Andra. 

“Baik Tuan,” sahut Ica sembari memutar badannya menuju kamar Anita. 

 

Saat Andra melihat jika Ica akan masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah kamar yang ia tempati semalam, akhirnya ia pun menghentikan langkah Ica. 

 

Tentu saja Ica menjadi kaget saat tangannya dicekal oleh Andra. Ia pun menoleh ke belakang. 

 

“Ada apa Tuan?” tanya Ica heran. 

“Kamu mau kemana?” sahut Andra balik bertanya. 

“Mau membersihkan kamar Tuan dan Nyonya. Memangnya saya salah kamar Tuan?” 

 

“Ya jelas dong. Kamar yang kumaksud adalah kamar ini.” Andra menunjuk kamar yang ada di sebelah kamar yang akan dimasuki oleh Ica. 

 

Ica pun membekap mulutnya. Ia merasa malu karena sudah salah kamar. Untung saja ia belum masuk ke kamar yang ia maksud. 

 

“Bukankah ini kamar Tuan dan Nyonya?” tunjuk Ica pada kamar yang akan ia masuki tadi. 

 

Andra memijat pelipisnya. 

“Ya sih, tapi aku semalam tidak tidur di kamar itu. Aku tidur di kamar ini.” Tunjuk Andra pada kamarnya. 

 

Tanpa basa-basi lagi, akhirnya Ica pun membereskan kamar yang ditunjuk oleh Andra. 

 

Tak berselang lama, akhirnya Anita pulang dari warung membawa belanjaan. Ia pun langsung menuju kulkas yang ada di dapur dan ia pun menyimpan semua bahan-bahan yang ia beli tadi di dalam kulkas. 

 

Andra hanya melihat dari kejauhan apa yang dilakukan oleh Anita. Kendatipun Andra mencintai Anita, tapi ia merasa heran karena secara mendadak perasaan cinta yang ia miliki untuk Anita lenyap begitu saja. 

 

Itulah sebabnya Andra tidak tidur dalam kamar yang sama dengan Anita. Bukan karena ia lupa kalau sekarang ia sudah menikah. Hanya saja itu hanyalah alasan. Tidak mungkin Andra bilang yang sejujurnya pada Anita. 

 

Bisa-bisa nanti Anita akan marah besar pada dirinya. Andra pun memutar otaknya agar bisa terbebas dari ikatan pernikahan yang tak bermakna lagi. 

 

Andra pun menjentikkan jarinya kala mendapat sebuah ide untuk menyingkirkan Anita dari hidupnya. 

 

Pukul 14.00 Wib …

Anita memasuki kamarnya. Ia pun merebahkan badannya di atas pembaringan. Dalam hitungan menit, Anita pun tertidur. 

 

Andra yang mengawasi gerak-gerik istrinya pun masuk ke dalam kamar saat ia sudah yakin jika istrinya tertidur lelap. 

 

Berkali-kali Andra mengibaskan tangannya di depan wajah Anita. Andra pun yakin jika Anita sudah tertidur pulas. 

 

Andra pun menjalankan aksinya. Ia memakai jubah hitam yang telah ia sediakan. Kemudian dengan perlahan-lahan ia pun mengangkat bantal yang ada di sebelah Anita. 

 

Saat ia akan melakukan aksinya, ia melihat sekelebat bayangan hitam tiba-tiba melintas dalam kamar tersebut. 

 

Andra pun menjadi kaget. Ia pun urung untuk melakukan aksinya. Keringat dingin langsung mengucur di tubuhnya. 

 

Dengan cepat, ia pun membuka jubahnya. Ia takut jika nanti sewaktu-waktu istrinya terbangun. 

 

‘Siapa itu tadi? Ke-kenapa arwahnya gentayangan?’ monolog Andra lirih. 

 

Waah, ada arwah gentayangan nih, arwah siapakah itu? Kenapa arwah itu menghantui Andra dan Anita? Ada misteri apakah dengan arwah gentayangan tersebut? Yuk, ikuti cerita selengkapnya di chapter selanjutnya.

 

error: Content is protected !!