Judul: Tersesat di dunia lain.
Napen: Leni Marlina
‘Dimana aku?’ monolog Deri sembari mengamati tempat ia tadi terbaring.
Seingatnya, ia tadi sedang tidur di dalam kamarnya, akan tetapi saat ini ia berada di tempat yang sama sekali tidak dikenalnya sama sekali.
Tak jauh dari tempatnya, ia melihat wanita-wanita cantik tengah berkumpul. Deri berusaha mengenali mereka satu per satu, akan tetapi dia tidak berhasil mengenali mereka.
Salah seorang dari wanita itu pun berpaling ke tempat dimana Deri berada. Ia mengulas senyuman manis pada Deri.
‘Buset, senyumannya manis banget… Apalagi wajahnya. Ia sangat cantik sekali dan ia memiliki aroma tubuh yang sangat harum. Sayang sekali, aku tidak mengenali siapa dia,’ monolog Deri.
“Kamu sudah siuman sayang?” tanya perempuan tersebut.
“Sayang? Kenapa kamu memanggilku sayang? Memangnya kamu siapa? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Apa hubungan kita?” sahut Deri balik bertanya.
Perempuan yang ada di hadapan Deri bukannya menjawab, tapi duduk di dekat Deri.
“Kenapa kamu kelihatan bingung begitu sayang? Apakah kamu tidak lagi mengenalku?” tanya perempuan cantik tersebut.
Deri pun kembali mengamati perempuan cantik yang ada di hadapannya. Kemudian ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak bisa mengingatmu, boleh bantu ingatkan?”
“Sayang, aku adalah gadis yang kau temui di hutan X waktu itu. Kamu pasti ingat kan?”
“Ka… kamu? Kamu Wulansari?”
“Tuh kan, kamu ingat siapa aku.”
“Terus saat ini aku ada dimana? Aku tidak mengenali tempat ini sama sekali. Mereka siapa?” Tunjuk Deri pada wanita-wanita cantik yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Kamu saat ini ada di alamku sayang.”
“Alammu? Memangnya kamu bukan manusia? Kenapa kamu berbicara seolah-olah kita berbeda alam?”
“Bukankah kamu sudah mengetahui sejak pertemuan pertama kita jika kita beda alam?”
“Kapan? Kenapa aku tidak bisa ingat lagi? Apa yang telah kamu lakukan padaku? Kenapa aku tidak bisa mengingat dengan sempurna apa yang telah terjadi di masa laluku?”
“Ups… aku lupa jika ingatanmu tidak akan berfungsi dengan baik jika berada di alamku.”
“Maksudmu apa?”
“Sudahlah, jangan diingat lagi. Sekarang marilah kita tata masa depan kita sayang.”
“Tu… tunggu. Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Kamu adalah milikku sayang. Jadi jangan pernah seakan melupakan semua yang telah terjadi pada kita,” tutur Wulansari panjang lebar.
Deri memijat-mijat pelipisnya dan berusaha untuk mengingat semuanya, akan tetapi ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi dengan dirinya dan Wulansari.
Wulansari meninggalkan Deri dengan kebingungan tanpa penjelasan. Di amati sekeliling tempat itu dengan seksama, akan tetapi Deri tidak juga menemukan apapun yang bisa ia jadikan petunjuk.
‘Aku yakin sekali jika disini pasti ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Aku harus bisa menemukan hal tersebut,’ monolog Deri.
Ia pun bangun dari tempatnya tadi terbaring. Setelah ia menyusuri semuanya, Deri tidak juga menemukan satupun petunjuk yang berarti.
Ia hanya melihat ruangan tersebut sangatlah indah dengan barang-barang antik sebagai hiasan kamar tersebut.
‘Huft!’
Deri menghembuskan nafasnya yang kasar. Ia merasa kesal sekali karena ia tidak juga menemukan apapun di tempat itu yang akan bisa dijadikan sebagai petunjuk.
Sementara itu, Deri kembali melihat ke luar ruangan itu. Ia bisa melihat dengan jelas jika Wulansari tertawa lepas bersama wanita-wanita lain di ujung sana.
Deri berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Pada akhirnya, ia bisa menerima apa adanya jika saat ini ia tersesat di dunia lain.
☆☆☆☆☆
“Apakah kamu sudah siap sayang?” tanya Wulansari pada Deri.
Tentu saja Deri menjadi kaget saat di datangi oleh Wulansari. Perlahan tapi pasti, perasaan cinta itu mulai tumbuh dihatinya.
Perlakuan manis dan perhatian yang diberikan oleh Wulansari mampu mencairkan perasaannya.
Deri pun menoleh ke arah Wulansari dan mengulas sebuah senyuman manis yang dihadiahkan untuk Wulansari.
“Kenapa kamu melontarkan pertanyaan seperti itu padaku?” sahut Deri balik bertanya.
“Kenapa? Apakah tidak boleh jika aku melontarkan pertanyaan itu? Aku takutnya nanti kamu tidak mau menerima semua ini.”
“Aku kan sudah bilang padamu jika aku sudah bisa menerima semua ini. Mungkin ini takdirku. Aku tak mungkin menentang takdir.”
“Apakah kamu serius dengan ucapanmu itu?”
“Bukankah kamu telah lama mengenalku? Kenapa kau seolah meragukanku?”
“Aku bukannya meragukanmu, akan tetapi aku belum siap saja jika kau menolakku karena didunia ini banyak gadis cantik yang melebihiku,” ucap Wulansari sambil menunduk.
Deri pun mendongakkan wajah Wulansari. Ia bisa melihat dengan jelas jika air mata menggenang di pelupuk matanya.
Ia pun memegang pundak Wulansari dan berusaha untuk meyakinkan Wulansari jika Deri hanya mencintai dirinya kendati banyak gadis-gadis lain yang tak kalah cantik dari Wulansari.
“Walaupun gadis lain banyak yang cantik-cantik tapi aku hanya mencintai dirimu sayang. Pandanglah mataku, maka kamu pasti akan tau kesungguhan kata-kataku.”
Wulansari memberanikan dirinya untuk melihat ke arah mata Deri. Ia memang menemukan kejujuran dimata Deri.
Ia pun menghapus air mata yang sempat jatuh dipipinya dan mengulas sebuah senyuman manis untuk Deri.
“Jadi kesimpulannya kamu sudah siap menikah denganku?”
Deri hanya menganggukkan kepalanya.
Wulansari dengan spontan menghambur ke dalam pelukan Deri.
“Eits… untuk saat ini kita belum muhrim sayang.”
Wulansari pun menarik tubuhnya dari Deri. Pipinya bersemu merah karena ia melihat Deri mengulum senyum.
“Ma… maaf.”
Wulansari pun membalikkan badannya dan berlarian meninggalkan Deri seorang diri.
Sementara itu, Wulansari berlarian menuju kamarnya. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan gadis-gadis lainnya.
Mereka merasa sangat heran melihat Wulansari berlarian seperti itu, apalagi mereka melihat senyuman yang mekar di wajah Wulansari.
Mereka pun memegang lengan Wulansari, sehingga langkah Wulansari pun terhenti. Ia menoleh ke arah teman-temannya.
“Ada apa dengan kalian? Kenapa tanganku dipegang?” tanya Wulansari kebingungan.
“Seharusnya kamilah yang bertanya begitu padamu Wulan, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu senyam-senyum begitu?” tanya salah seorang gadis itu.
“Kalian mau tau aja. Rahasia dong,” ucap Wulansari sembari tersenyum.
“Ya udah deh jika kamu tidak mau memberitahu kami. Ngomong-ngomong bagaimana dengan anak manusia itu? Apakah kamu sudah berhasil meyakinkan dirinya jika kamulah takdirnya?”
“Aku tidak melakukan apapun padanya karena aku tulus mencintai dirinya. Dulu disaat kami beda alam, aku selalu mengamati tingkah lakunya,” ucap Wulan.
“Tingkah lakunya yang membuat diriku jatuh cinta padanya, apalagi kami sering menghabiskan waktu bersama saat di hutan X.”
“Walaupun kamu sering menghabiskan waktu bersama dengannya di hutan X, tapi pastinya dia tidak akan bisa mengingat dengan jelas apa yang telah terjadi pada kalian karena ingatannya tidak akan berfungsi dengan baik di dunia kita.”
“Benar banget. Pada awalnya dia memang tidak mengenaliku lagi, akan tetapi aku terus berusaha untuk mengingatkan dirinya, sampai pada akhirnya dia mengenalku lagi disaat aku menyebut hutan X.”
“Dahsyat sekali kekuatan cintamu, lalu kapankah kalian melangsungkan pernikahan? Bukankah kamu ingin menikahi dirinya?”
“Aku pasti akan menikah dengan dirinya, akan tetapi aku tidak ingin dia merasa terpaksa.”
“Terus apa yang membuat kamu tersenyum seperti itu? Tampaknya kamu sangat bahagia sekali, boleh dong kami tahu apa alasannya.”
“Kan sudah aku bilang tadi jika ra-ha-sia. Kalian ini kepo deh.” ucap Wulansari sambil meninggalkan teman-temannya yang sedang bingung.
Teman-teman Wulansari hanya bisa melongo menyaksikan semua itu. Mereka tidak bisa memaksa Wulansari untuk mengatakan apa alasan di balik senyuman dia itu.
Setelah punggung Wulansari hilang dari pandangan mata mereka, teman-teman Wulansari pun membalikkan badan dan melanjutkan langkah mereka.
Saat melewati kamar Deri, mereka mendengar jika Deri mengatakan sesuatu. Pada awalnya mereka tidak berniat untuk menguping perkataan Deri, akan tetapi pada akhirnya mereka memutuskan untuk menguping perkataan Deri.
Saat mereka mengetahui jika Deri akan membuka pintu kamarnya, mereka pun melanjutkan langkah mereka menuju ruangan Ratu mereka.
Di sepanjang perjalanan, pikiran mereka berkecamuk. Pada akhirnya mereka mengetahui apa alasan dibalik senyum kebahagiaan yang terlukis di wajah Wulansari.
Sementara itu, Wulansari bersenandung ria membayangkan jika sebentar lagi ia akan menikah dengan laki-laki idamannya.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Wulansari pun di ketok dari luar sehingga Wulansari bangun dari meja riasnya.
Semenjak mendapatkan jawaban dari Deri tadi, Wulansari tidak bosan-bosannya memandang dirinya di cermin meja riasnya.
Kret!
Pintu kamarnya pun berderit saat Wulansari membuka pintu kamarnya.
Deg!
Wulansari merasa kaget saat mendapati Deri berdiri di depan kamarnya. Ia pun buru-buru untuk menutup kembali pintu kamarnya.
Sementara itu Deri berusaha menahan pintu kamar tersebut agar tidak tertutup. Namun sayang sekali tenaga Deri kalah dari tenaga Wulan.
Hal itu tentu saja membuat Deri garuk-garuk kepala. Ia tidak menyangka sama sekali jika tenaganya bisa dikalahkan oleh Wulansari.
Ia pun melupakan niatnya datang ke kamar Wulansari berganti dengan tanda tanya di kepalanya.
Ia tidak habis pikir kenapa tenaga Wulansari begitu besar. Akhirnya, Deri pun membalikkan badannya dan melangkahkan kaki tanpa mengucapkan sepatah kata pada Wulansari.
Deri berusaha untuk mencari informasi apa-apa saja yang belum ia ketahui tentang Wulansari.
Pada akhirnya, Deri mengetahui semuanya tentang Wulansari. Saat pertama kali tahu akan jati diri Wulansari, Deri nampak kaget.
Namun, perlahan tapi pasti Deri akhirnya bisa menerima jika Wulansari memiliki ilmu sihir.
Bukan rahasia umum lagi jika gadis-gadis sebangsa Wulansari memiliki ilmu sihir karena ternyata Wulansari dan teman-temannya yang lain adalah makhluk keturunan setengah Dewa.
Deri harus bisa menerima kenyataan jika takdirnya harus menjadi suami dari gadis keturunan setengah Dewa tersebut.
Sementara itu, Wulansari dan teman-temannya pun mempersiapkan pernikahan Deri dan Wulansari.
Sudah menjadi tradisi di bangsa mereka jika ada di antara mereka yang akan menikah dengan manusia, maka pihak keluarga harus bisa mengambil Gendang yang ada di sebuah masjid.
Disaat malam telah larut di dunia manusia, keluarga Wulansari pun mengambil Gendang tersebut guna persiapan pernikahan Wulansari dan Deri.
☆☆☆☆☆
Sementara itu, orang tua Deri merasa kebingungan karena putra mereka tidak pulang-pulang juga.
Saat itu putranya pamit akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Sudah beberapa hari berlalu, akan tetapi Deri tidak kunjung pulang.
Berhari-hari bahkan berminggu-minggu mereka menunggu kedatangan Deri, tapi yang ditunggu tidak kunjung pulang juga. Mereka menjadi cemas menunggu kepulangan Deri apalagi mereka mendengar rumor jika akhir-akhir ini sering terjadi penculikan pemuda oleh makhluk halus.
Pada akhirnya, orang tua Deri tidak punya pilihan lain selain mengikhlaskan Deri.
☆☆☆☆☆
Di dunia lain, Deri sudah siap untuk melangsungkan pernikahannya dengan Wulansari.
Walaupun bukan manusia seutuhnya, akan tetapi Deri berusaha untuk menerima Wulansari dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ia miliki.
Wulansari dan Deri saling mencintai satu sama lain. Rumah tangga mereka sangat harmonis sehingga pada akhirnya Deri hidup bahagia di Dunia Bunian bersama istri dan anak-anaknya.
—○○○— end