Vila Impian (Sudah Cetak)

Bab 1. Api di villa

 

“Sudah sampai, Pak,” kata sopir taksi kepada Eddy yang saat ini sedang duduk melorot dan terkantuk-kantuk di kursi belakang.

Taksi ini ditumpangi Eddy sejak dia keluar dari bandara, karena dia merasa terlalu lelah dan malas untuk naik angkutan umum menuju vila warisan orangtuanya.

“Benarkah?” tanya Eddy sambil berusaha kembali menegakan tubuhnya.

“Iya, Pak, ini sesuai dengan alamat yang bapak kasih tadi,” kata sopir taksi itu yakin.

“Baik, ini uangnya,” kata Eddy sambil membayar sopir taksi sesuai perjanjian ketika mereka di bandara.

“Terima kasih, Pak,” kata sopir taksi itu senang, karena mendapat bayaran yang lebih besar dari biasanya.

“Sama-sama,” kata Eddy sambil keluar dari taksi dengan membawa kopernya.

Eddy memandang vila itu dengan perasaan aneh dan campur aduk. Dia lalu membuka kunci pintu gerbang yang mulai berkarat itu dengan sedikit tenaga ekstra.

Klik.

Eddy menghela nafas lega ketika gembok pintu gerbang itu sudah terbuka. Dengan tergesa dia memasuki vila karena hari sudah beranjak malam.

Cetak!

Eddy memencet saklar lampu vila perlahan tanpa terburu-buru. Dia memperhatikan sekeliling vila yang kini sudah terang benderang. 

Semua masih terlihat sama seperti bayangan rumah yang diingatnya ketika masih kecil, hanya saja sekarang ada sarang laba-laba di beberapa sudut namun, itu tidak mengurangi kehangatan yang mengalir di dalam hatinya 

Berbagai ingatan masa kecil yang tertinggal di vila itu mulai melintas seperti putaran film di dalam benaknya.

Kriieet!

Terdengar suara pintu yang sudah lama tidak terlumasi dengan baik ketika dia membuka pintu kamar yang dia ingat sebagai kamarnya di masa lalu.

Dia mengamati ruang kamar itu dengan perasaan tak menentu, ada banyak perubahan di kamarnya yang jauh sekali dari bayangannya selama ini.

Kamar itu rupanya telah diubah dan disesuaikan untuk orang dewasa. 

‘Apakah mereka mengubahnya setelah mereka menemukan panti asuhan tempat Aku dibesarkan?’ tanya Eddy dalam hati.

Bruk!

Eddy menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk yang kelihatannya masih baru dan belum pernah ditiduri itu.

“Tidak buruk!” gumam Eddy ketika tubuhnya merasakan kenyamanan dari kasur yang ditidurinya tersebut.

Tadinya Eddy berencana untuk menginap di rumah penginapan terdekat, karena khawatir vila itu tidak layak huni setelah sekian lama tidak ditinggali. 

Namun, setelah memperhatikan, semuanya baik-baik saja untuk ditinggali dan hanya butuh sedikit waktu untuk membersihkannya. 

Akhirnya Eddy pun memutuskan untuk bermalam di vila.

Eddy sibuk membersihkan vila sambil memeriksa semua ruangan di dalam vila. 

Sebelumnya dia pernah datang beberapa kali ke vila warisan orangtuanya ini bersama Guntur tapi dia masuk hanya sampai di ruang tamu saja, bahkan untuk tidur pun dia lebih memilih di ruang tamu. 

Entah mengapa Eddy merasa canggung sendiri ketika berada di vila milik orangtuanya yang juga merupakan rumah tempat tinggalnya sebelum tersesat dan terpisah dari kedua orangtuanya.

Sekarang Eddy mencoba untuk membiasakan diri tidur di kamarnya di vila karena Eddy yakin renovasi vila itu pasti akan memakan waktu yang tidak sebentar. 

Jadi, dari pada menyewa tempat tinggal sementara, tidur di dalam kamarnya di vila jauh lebih menghemat biaya dan waktu.

Setelah semuanya bersih, Eddy merasa sangat lelah sekali.

Dia membaringkan tubuhnya di kasur dengan harapan bisa secepatnya tertidur lelap.

Namun, sampai tengah malam dia tidak juga bisa tidur dengan nyenyak.

“Akh!” 

Eddy mengacak acak rambutnya sendiri dengan perasaan kesal, dipikirnya jika capek dia akan dapat tertidur pulas namun, yang terjadi malah sebaliknya. 

Walau tubuhnya merasa lelah, Eddy merasa matanya segar dan sama sekali tidak mengantuk.

Eddy akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sambil menunggu datangnya rasa kantuk. Dia keluar dari kamarnya dan mulai menyusuri kamar orangtua dan adiknya. 

Eddy menarik nafas untuk menenangkan jantung dan pikirannya, entah mengapa dia seperti masih merasakan kehadiran kedua orangtuanya di vila. 

Bahkan Shasha yang dulu masih bayi pun ada dalam bayangannya menjelma menjadi seorang gadis cantik seperti yang terpajang di foto dinding kamar adiknya tersebut.

Tanpa disadari oleh Eddy, dia sudah berada di luar vila dan sedang menyusuri taman. 

Walaupun malam hari, Eddy dapat melihat rumput yang mulai tumbuh tinggi mengitari tanaman bunga mawar yang diingatnya sebagai bunga kesukaan mendiang ibunya.

Tiba-tiba Eddy menghentikan langkahnya dan mengerutkan alis. 

Dia melihat ada pendaran sinar yang kuat  berwarna kuning keemasan dari si jago merah. 

Sinar itu menyeruak di antara pepohonan dan di antara celah dedaunan.

‘Apakah itu kebakaran? tapi siapa yang sengaja menyalakan api di dalam vila kosong ini?’ pikir Eddy merasa aneh.

Eddy memutuskan untuk mendekat ke arah cahaya api dengan penuh rasa ingin tahu.

Dia khawatir api tersebut menjadi tak terkendali jika dibiarkan menyala di antara semak belukar.

Bukankah itu yang sering diberitakan di televisi sebagai biang keladi alasan penyebab terjadinya kebakaran lahan yang  biasa terjadi selama ini?

Srek! 

Eddy menyibak semak-semak yang menjadi penghalang di depannya. 

Dia membelalakkan mata dan menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah pondok kecil di balik semak belukar.

Di luar pondok Eddy melihat tumpukan sampah yang menggunung sedang dibakar. 

‘Aneh, siapa yang tinggal di pondok kecil ini?’ tanya Eddy dalam hati. 

Dia lalu mendekati pondok tersebut dengan hati-hati dan waspada.

Jelas Eddy merasa harus waspada karena bagaimanapun tidak ada yang tahu siapa yang telah sembarangan memasuki kawasan vila warisan orangtuanya tanpa izin, bisa saja itu penjahat yang sedang melarikan diri dari tahanan.

‘Aku ingat, dalam denah vila memang ada sebuah pondokan kecil tempat tinggal sopir pribadi papah, tapi sopir itu juga sudah meninggal saat terjadinya kecelakaan beruntun, lalu … siapa orang yang menghuni pondok itu sekarang?’ pikir Eddy dengan perasaan was-was.

Satu hal yang saat ini ada dalam pikiran Eddy, orang yang menghuni pondok itu sekarang kalau bukan penjahat pasti seorang tuna wisma yang tidak punya tempat tinggal tetap.

‘Mungkin karena melihat vila ini kosong, dia berpikir bisa tinggal dengan seenaknya tanpa izin,’ cibir Eddy sinis.

Dengan hati-hati dia melangkahkan kaki mendekati pintu pondok yang saat ini seharusnya sepi dan gelap karena sudah lama di tinggalkan oleh pemiliknya.

Eddy melihat cahaya keemasan berpendar sangat lemah dan berkedip beberapa kali dari sela pintu pondok.

‘Sepertinya itu adalah cahaya lilin,’ tebak Eddy dalam hati sambil berdiri di depan pintu pondok dan menatapnya rumit.

‘Tidak salah lagi, di dalam pondok ini pasti ada orangnya,’ pikir Eddy dengan sikap waspada.

Dia merasa dilema apakah harus memanggil pihak yang berwajib atau menangani si penyusup gelap di pondok kecil itu sendiri.

‘Apakah Aku dobrak saja pintunya sekarang? Tapi bagaimana kalau

ternyata yang ada di dalam pondok ini adalah komplotan penjahat yang sedang melarikan diri dari tahanan?’ pikir Eddy cemas

 

Lates Chapters

Bab 30. Belum Saatnya

  Eddy terkekeh melihat rona merah di wajah kekasihnya ketika digoda. Dia memeluk Milla erat dan meletakan wajahnya di bahu gadis itu.  Entah mengapa dia…

Bab 29. Mengajarkan Banyak Hal

  Eddy langsung membayangkan apa yang selama ini sering diimpikannya tentang Milla. Dia sering bermimpi kalau gadis di hadapannya ini sudah menjadi istrinya dan mereka…

Bab 28. Bukan Sekedar Mimpi

  Milla hanya menunduk menimbang-nimbang apakah dia harus berbicara jujur kepada Eddy atau tidak?  Kalau dia memilih jujur artinya secara tidak langsung dia mengungkapkan kepada…

Bab 27. Kecanggungan Milla

  Mendadak keduanya merasakan suhu ruangan menjadi panas hingga keduanya merasa salah tingkah satu sama lain.  Eddy menguatkan hatinya untuk terus menatap Milla sementara gadis…

Bab 26. Percikan Api

  "Oh, maaf," kata Eddy dengan cepat menggeser tubuhnya Di dalam hati dia merasa deg-degan dan takut kalau-kalau gadis di hadapannya ini akan marah dan…

Bab 25. Jauh Lebih Bagus

  Mereka saling pandang dan membisu, ada percikan cinta di sana, yang membuat keduanya sama-sama salah tingkah dan malu .... Milla merasa canggung ketika menyadari…

Bab 24. Mengaku Atau Mengakhiri

  Eddy makan dengan lahap hingga kenyang. Dia benar-benar merasa kelaparan setelah sibuk memasang wallpaper.  Dia melihat sekeliling dapur sambil berpikir wallpaper apa yang cocok…

Bab 23. Dipengaruhi Rasa Kesepian

  Sudah sebulan ini Milla sibuk menyelesaikan bagian luar vila mencangkup perbaikan taman dan penataan halaman. Tidak jarang dia harus kepanasan dan terbakar matahari saat…

Bab 22. Hanya Bayangan

  Eddy terus memperhatikan kegiatan gadis yang menarik hatinya itu dari baik jendela dan baru berhenti ketika Milla dan para tukang istirahat. Dia melihat bagaimana…

Bab 21. Merasa Seperti Pencuri

  Eddy akhirnya sadar dia jelas telah jatuh hati kepada Milla. Bagaimanapun dia menolaknya, tetap saja perasaan itu menghantuinya dan tidak dapat ditolak. Pemuda itu…

Bab 20. Menyangkal Perasaan

  Milla merasa heran dengan sikap Eddy yang tidak jelas itu. Dia jadi merasa gelisah sendiri. Di dalam hati dia bertanya-tanya apakah dia telah jatuh…

Bab 19. Sadar Diri

  "Kita mungkin bisa melihat-lihat vila yang ada di sekitar sini dan menjadikannya sebagai referensi tanaman apa yang biasanya ditanam oleh pemilik villa lain," saran…

Bab 18. Ceroboh Dan Sembrono

  "Apakah Kamu sadar dengan apa yang Kamu katakan barusan?" tanya Milla tidak habis pikir. Tadinya Milla berpikir orang tampan seperti Eddy pasti memiliki selera…

Bab 17. Diplester

  "Apakah Aku terlihat bercanda? Bagaimana kalau Kamu datang ke pondok ku dan melihat sendiri bagaimana tanaman rumput itu menghiasinya," kata Milla sambil terus menatap…

Bab 16. Rumput Liar

  Ini adalah pengalaman baru baginya. Selama ini Eddy sama sekali tidak pernah merasakan perasaan seperti yang dialaminya sekarang. 'Apakah perasaan ini yang dinamakan jatuh…

Bab 15. Campur Aduk

  "Harum sekali, beruntung Aku sebelum pulang ke sini sempat membeli sekotak teh kesukaanku di Jakarta, kalau tidak akan sangat sulit sekali untuk mendapatkannya di…

Bab 14. Wajah Hitam

  Milla memasuki kamar Shasha yang semasa hidupnya sangat dekat dengan Milla hingga seperti anak kembar dan kemana-mana selalu bersama. Hanya pada saat Milla kuliah…

Bab 13. Hanya Ingin Memastikan

  Milla ingat sekali bagaimana perasaannya ketika mengetahui pacarnya itu berdusta.  Dia merasa seakan langitnya runtuh sebab, semuanya terjadi di saat Milla sedang berduka karena…

Bab 12. Menjaga Kepolosan

  "Aku memiliki usaha yang bergerak di bidang jasa online," jawab Eddy sambil menopang dagunya dengan punggung tangan dan tersenyum menatap Milla yang sedang menghabiskan…

Bab 11. Makan Bersama

  "Apakah Kamu tetap akan pulang?" tanya Eddy mengerutkan kening khawatir. Milla terdiam. Dia benar-benar bingung sekarang. Di satu sisi dia takut untuk pulang kembali…
error: Content is protected !!