- Ikhlas yang paling dalam adalah merelakan semua yang terjadi dalam hidup ini.
*****
“RUN, ambilin minum gue” perintah Vella dengan tatapan tajam ke arah Aruni.
Aruni mengangguk, ia berjalan ke arah Ibu Kantin dan langsung mengambilkan minum Vella.
“Lama banget sih, lo gak tau ya kalau di tungguin dari tadi” ucap Vella sambil teriak yang membuat seluruh penjuru Kantin itu menatap ke arah Aruni.
Hal itu tentu saja membuat Aruni merasa sangat malu sekali. Aruni tidak punya kuasa untuk melawan Vella. Bahkan ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri dari perlakuan buruk Vella.
“Dengar kan! Mereka semua gak mungkin ada yang akan membelamu. Jadi, kamu jangan macam-macam sama aku” tegas Vella.
Aruni tidak punya teman dekat di sekolah ini, kalau pun ada pasti orang itu tidak akan terang-terangan mengaku bahwa ia teman Aruni karena takut di benci oleh Vella.
“Sayang, ayo kita pergi. Aku sudah tidak nafsu makan di tempat ini apalagi setelah melihat wajah dia” ajak Vella pada Dion kekasihnya.
“Oke” sahutnya sembari menatap Aruni penuh ejekan.
Vella dan Dion pun langsung berlalu dari hadapan Aruni. Dan gadis itu pun masih duduk di bawah sembari menatap minuman yang tadi ia ambil dan sama sekali tidak di sentuh oleh Vella.
“Hay kamu” ucap ibu Kantin.
“Saya Bu?” tanya Aruni.
“Memangnya kamu pikir siapa lagi,” balasnya ketus.
“Ada apa Bu?” tanya Aruni.
“Kamu yang bayar minuman itu beserta makanannya karena Vella dan Dion tadi belum bayar” ujarnya.
“Lho kok jadi saya yang bayar Bu, saya kan tidak pesan makanan itu. Dan minuman ini kan saya ambil karena perintah dari vella, saya sama sekali tidak memesannya” sahut Aruni.
“Pokokknya saya tidak mau tahu, bayar atau saya akan bilang sama wali kelas kamu” tegas Bu Kantin.
Aruni tentu saja takut dengan ancaman Ibu Kantin. Kalau masalah ini bisa sampai di meja guru maka ia akan dapat masalah besar dan orang tuanya akan di panggil.
Aruni tidak ingin jika sampai membuat kegaduhan di Sekolah yang akan membuat ibunya marah. Ia sering diam saja Ibunya suka marah-marah apalagi kalau sampai ia membuat masalah pasti akan di marahi habis-habisan.
“Jangan Bu, saya akan membayarnya! Berapa totalnya?” tanya Aruni.
“150 ribu” balas Bu Kantin masih dengan nada ketus.
Aruni terkejut mendengar harga makanan yang harus ia bayar.
Seratus lima puluh ribu itu adalah hasil kerjanya selama 3 hari, dan sekarang harus ia gunakan untuk membayar makanan yang bahkan ia tidak memesannya sama sekali.
Aruni merogoh sakunya, mengeluarkan 2 lembar uang seratusan dan lima puluhan.
Itu adalah uang untuk membayar buku karena ibunya sudah tidak mau membayarkannya lagi. Setiap habis pulang sekolah Aruni langsung bekerja paruh waktu untuk menghidupi dirinya dan juga transportnya selama ia sekolah.
“Ini Bu” ucap Aruni seraya menyerahkan uang yang ia punya pada Bu Kantin. Hanya yang itu yang Aruni punya, setelah ini ia pun bingung akan mencari gantinya kemana untuk membayar buku.
Setelah urusan dengan Ibu Kantin beres, Aruni kembali ke kelas. Tak ada yang menatap Aruni dengan tatapan menyenangkan. Semua teman-temannya menatapnya seolah mengejek karena dirinya miskin.
Rata-rata anak yang bersekolah di situ memang anak orang kaya sedangkan Aruni beruntung bisa masuk ke Sekolah ini karena beasiswa yang sudah mati-matian ia dapatkan sejak kelas 2 SMP.
Akhirnya waktu tidak menyenangkan di Sekolah pun usai sudah. Aruni segera berganti baju lalu bergegas menuju ke Cafe tempat ia bekerja paruh waktu.
“Run, udah makan?” tanya Angga.
Dia adalah teman kerja Aruni. Selain itu dia yang paling peduli dengan Aruni.
“Udah kok, aku langsung kerja aja ya” balas Aruni.
“Run, sampai kapan sih kamu akan terus menghindar dariku seperti ini?” tanya Angga.
Kebetulan Cafe sedang tidak rame, jadi karyawan bisa bersantai sejenak.
“Ngga, please! Gak usah bahas itu lagi ya. Aku capek Ngga! Aku mau fokus kerja” ujar Aruni.
“Kalau capek kenapa gak istirahat, kenapa memilih untuk bekerja” sahut Angga.
“Dengar baik-baik ya Ngga, aku sangat berterimakasih sekali karena kamu sudah mau peduli sama aku. Tapi sekali lagi aku mohon sama kamu, tolong hentikan semua ini” pinta Aruni.
Angga tidak mendebat lagi, sebagai laki-laki yang punya harga diri tentu saja ia tidak akan memohon lagi.
Aruni fokus dengan pekerjaannya meski di dalam benaknya ia merasa sangat gelisah sekali.
Sampai jam pulang pun Angga tak menyapa Aruni lagi. Jujur hatinya merasa sangat sakit sekali tapi semua ini demi kebaikan mereka bersama.
Aruni membereskan semua piring kotor, setelah bersih ia mengelap semua meja dapur.
“Run, tadi katanya kamu cari saya?” tanya Pak Halim.
Dia adalah manager di cafe itu.
“Iya Pak betul, saya mau pinjam seratus lima puluh dulu kira-kira boleh gak ya?” tanya Aruni hati-hati.
Ia sebenarnya tidak punya nyali yang cukup untuk menanyakan itu, tapi karena ia merasa sangat butuh uang itu maka ia memberanikan diri bertanya pada Pak Halim.
“Kamu lagi butuh uang Run, jangan sungkan. Ini dua ratus ribu kamu pakai aja dulu,” ucap Pak Halim.
“Terimakasih bayak Pak, saya pasti akan selalu ingat dengan semua kebaikan Bapak. Saya tidak akan melupakannya Pak” ucap Aruni.
“Sudah jangan terlalu memuji begitu lebih baik kamu pulang sekarang sudah malam ini” saran Pak Halim.
Dengan mata yang berbinar Aruni keluar dari ruangan Pak Halim.
Ia bergegas menuju ke Halte untuk menunggu bus yang hanya tersisa satu-satunya yang akan melintas melewati gang rumahnya.
Tiba-tiba saja saat Aruni hendak menyebrang mulutnya di bekap dari belakang dan matanya di tutup.
Aruni mencoba untuk mengigit tangan seseorang yang Aruni yakini adalah seorang pria dengan sekuat tenaga tapi sama sekali tidak membuahkan hasil.
Aruni di seret paksa masuk ke dalam sebuah mobil. Begitu Aruni sudah ada di dalam mobil, penutup matanya langsung di buka.
“Siapa kalian” ujar Aruni lantang.
Ia tidak boleh menunjukkan rasa takutnya meski sekarang ia merasa takut setengah mati.
“Siapa pun aku itu bukan urusan kamu,” sahut salah satu pria berbadan kekar sembari melotot ke arah Aruni.
Ia sangat ketakutan, bahkan air matanya pun menetes begitu saja tanpa aba-aba.
“Ka … kalian mau bawa aku kemana?” tanya Aruni dengan suara terbata.
“DIAM”
Aruni diam, wajahnya menunduk dan ia pun terisak sambil memegang ujung seragam cafenya dengan tangan yang bergetar.
Aruni tidak tau apa salahnya, mengapa tiba-tiba ada orang jahat yang menculiknya.
“Tuan, gadis itu sudah berhasil saya tangkap!”