Suara langkah kaki Baskoro menggema di lorong kantor yang sudah mulai sepi. Karyawan-karyawan lain tampak sibuk berkemas, beberapa lainnya masih berbincang ringan sambil melirik ke arah jam, menunggu waktu pulang tiba.
Baskoro berjalan dengan langkah berat menuju ruang manajer, tempat panggilan yang baru saja diterimanya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada perasaan tak nyaman yang terus menghantui sejak pagi tadi, seolah ia bisa merasakan bahwa hari ini tidak akan berakhir dengan baik.
Sampai di depan pintu yang bertuliskan “Manajer HRD,” Baskoro berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Terlihat jelas jika tangan kanannya gemetar ketika mengetuk pintu.
“Masuk!” Terdengar suara dari dalam sana. Itu adalah suara Pak Hamdan, sang manajer HRD. Dalam situasi apapun, Suara Pak Hamdan akan selalu terdengar tegas dan juga dingin, seolah tak ada tempat bagi basa-basi.
Baskoro mendorong pintu perlahan dan masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu memang tak terlalu besar, namun terlihat rapi, dengan berkas-berkas yang tersusun di atas meja kayu yang besar. Pak Hamdan duduk di belakangnya, mengenakan kacamata dan menatap layar komputer dengan serius, seolah masih ada pekerjaan lain yang lebih penting daripada pertemuan ini.
“Saya, Pak,” ucap Baskoro lirih dengan wajah penuh ketegangan.
“Baskoro, duduklah,” kata Pak Hamdan tanpa sedikit pun mengangkat wajahnya.
Baskoro duduk di kursi yang menunggunya di depan meja kerja Pak Hamdan. Dengan mengambil napas dalam-dalam, ia mencoba untuk menenangkan diri. “Ada apa, Pak? Tadi saya dipanggil.”
Pak Hamdan akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar dan menatap Baskoro tajam setelah sedikit membenarkan posisi kaca matanya yang tadi tampak sedikit miring. “Kamu sudah berapa lama bekerja di sini?”
Baskoro sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tapi ia menjawab dengan tenang, “Lima tahun, Pak.”
Pak Hamdan mengangguk pelan, lalu membuka sebuah map berisi berkas yang terletak di mejanya.
“Lima tahun, ya… Sudah cukup lama juga. Dan dalam delapan tahun itu, kamu pasti tahu bahwa saat ini perusahaan sedang mengalami penurunan omset.”
Baskoro merasakan dada kirinya semakin sesak. Pembicaraan ini jelas tidak menuju ke arah yang baik. “Iya, saya tahu, Pak. Beberapa bulan terakhir memang terasa berat untuk perusahaan, dan juga bagi say–”
Pak Hamdan segera membuat ucapan Baskoro berhenti. Ia menutup map itu kembali dan menatap Baskoro tepat langsung pada manik matanya, dan kali ini tampak lebih dalam.
“Baskoro, perusahaan ini terpaksa melakukan pengurangan karyawan. Kita sudah tidak bisa lagi menutupi biaya operasional seperti dulu. Dan setelah menimbang banyak hal, kami memutuskan bahwa kami harus memberhentikan kamu.” Pak Hamdan berkata seolah tak memiliki sedikit pun empati.
Kata-kata itu terasa seperti pukulan keras yang langsung menghantam tepat ke ulu hatinya, membuat perutnya pun ikut bergejolak pada saat itu juga. Baskoro terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Otaknya masih berusaha mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya.
“Dipecat…?” Baskoro akhirnya berhasil membuka mulutnya, suaranya terdengar serak. “Tapi, Pak… Saya… Saya sudah melakukan yang terbaik. Apa kesalahan yang telah saya lakukan, Pak? Apa tidak ada cara lain?”
Pak Hamdan menarik napas panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi. “Ini bukan soal kinerjamu, Baskoro. Kami sangat menghargai kontribusimu selama ini. Tapi ini murni masalah keuangan. Perusahaan harus mengambil langkah ini untuk tetap bisa bertahan.”
“Bagaimana dengan kompensasi, Pak?” tanya Baskoro cepat, masih mencoba mencari titik terang di tengah kegelapan yang tiba-tiba datang menghampirinya.
“Kami akan memberikan pesangon sesuai aturan. Tapi saya tahu itu tidak akan cukup menutupi semuanya,” jawab Pak Hamdan jujur. “Saya juga tidak suka keputusan ini, Baskoro, tapi ini adalah satu-satunya cara yang bisa perusahaan ambil.”
Baskoro terdiam lagi. Dunia rasanya runtuh di hadapannya. Dalam hitungan detik, semua yang ia bangun selama lima tahun terakhir musnah begitu saja. Apa yang akan ia katakan kepada Imas, istrinya? Bagaimana mereka akan bertahan hidup tanpa penghasilan tetap?
“Tidak ada kesempatan lain, Pak? Tidak ada posisi lain yang bisa saya ambil? Saya siap melakukan pekerjaan apa saja,” pinta Baskoro dengan suara yang terdengar putus asa.
Pak Hamdan menggelengkan kepala pelan, matanya tampak sedikit bersimpati atas apa yang baru saja menimpa Baskoro. “Maaf, Baskoro. Kita sudah mencoba segalanya. Tapi situasi ini di luar kendali kita.”
Baskoro tak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya bisa mengangguk pelan, menerima kenyataan pahit yang baru saja disampaikan kepadanya. “Baik, Pak,” jawabnya lirih.
“Saya berharap yang terbaik untukmu, Baskoro,” kata Pak Hamdan dengan nada tulus. “Kamu seorang pekerja keras. Saya yakin kamu akan menemukan jalan lain.”
Baskoro berdiri dengan langkah gontai, tak tahu harus pergi ke mana setelah ini. Ia mengambil amplop yang diberikan Pak Hamdan—pesangon dan surat pemberhentiannya—dan berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi ke belakang.
Di luar, udara sore yang sejuk tampak tak mampu menenangkan batinnya yang kalut, hatinya pun hancur. Lima tahun sudah dia selalu bekerja keras, memberikan segalanya untuk perusahaan ini. Namun, pada akhirnya … ia dibuang begitu saja. Pandangannya terasa kabur, antara marah, kecewa, dan putus asa.
“Kenapa bisa begini?” gumam Baskoro dalam hati. Pertanyaan itu terus menghantui benaknya ketika ia berjalan keluar dari gedung kantor, menuju jalanan yang padat. Orang-orang berlalu lalang, melanjutkan hidup mereka, sementara dunia Baskoro seolah terhenti di satu titik.
Sesampainya di pinggir jalan, ia melihat bus kota yang biasa ia tumpangi untuk pulang sudah hampir penuh. Baskoro melangkah cepat, masuk ke dalam bus, dan duduk di kursi yang kosong. Ia menatap ke luar jendela tanpa ekspresi, melihat gedung-gedung dan kendaraan yang melintas. Semuanya terasa asing, seolah-olah ia berada di dunia yang berbeda dari orang lain.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Imas: “Mas, nanti beli beras, ya. Beras di rumah sudah habis.”
Baskoro hanya menatap pesan itu tanpa membalas. Dadanya kembali sesak. Bagaimana ia akan menjelaskan semuanya kepada istrinya? Bagaimana mereka akan bertahan dengan keadaan ini? Amplop di tangannya terasa begitu ringan, tapi beban yang dibawanya seolah menekan pundaknya tanpa ampun.
Bus mulai bergerak perlahan, meninggalkan gedung kantor tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya selama empat tahun terakhir. Setiap jengkal jalan yang dilalui bus terasa semakin menjauhkan dirinya dari masa depan yang pernah ia bayangkan. Hatinya kosong, dan pikirannya mulai dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.
Ketika bus berhenti di lampu merah, seorang pengamen masuk dan mulai menyanyikan lagu lama dengan suara parau. Lirik lagunya berbicara tentang perjuangan hidup, tentang harapan yang terkubur dalam kesulitan. Baskoro menunduk dengan sekuat tenaga menahan buliran air mata yang terus merangsek ingin keluar. Ia merasa lirik lagu itu begitu dekat dengan keadaannya saat ini.
Saat bus kembali melaju, pikiran Baskoro melayang jauh. Apa yang akan ia lakukan setelah ini? Bagaimana ia akan bangkit dari keterpurukan ini?
***