Lumen Cahaya dari Dunia Bawah Tanah

Bab 1: Gempa

Langit sore itu berwarna kelabu, seperti menahan tangis yang belum tumpah. Arka berdiri di pinggir tebing kecil di belakang rumah neneknya, menatap hutan pinus yang memanjang ke barat. Suara desir angin menyapu pucuk-pucuk pohon, membawa aroma tanah basah dan bisikan kenangan yang samar.

”Arka! Jangan jauh-jauh!” suara neneknya, Bu Ranti, terdengar dari kejauhan.

Arka mengangguk pelan meski neneknya tak mungkin melihat. Ia tak menjawab. Langkahnya justru semakin dalam masuk ke jalur tanah setapak yang menuju hutan. Sesuatu memanggilnya ke dalam — bukan suara, tapi perasaan yang dalam dan tak bisa dijelaskan.

Ia selalu merasa aneh ketika menginjakkan kaki di desa itu. Seolah tanahnya mengingat sesuatu darinya yang ia sendiri lupakan. Ada mimpi yang selalu datang saat malam tiba, mimpi tentang cahaya yang retak, terowongan berkilau, dan suara-suara asing yang memanggil namanya dari bawah bumi.

Hari itu, gempa datang tanpa peringatan.

Tanah bergetar pelan, lalu menggila dalam hitungan detik. Pohon-pohon bergoyang liar, burung-burung beterbangan ke segala arah. Arka jatuh tersungkur, tangannya menyentuh tanah yang mulai merekah. Dari celah batu yang terbuka, cahaya putih kebiruan menyembur, menyilaukan.

“Apa ini…” bisik Arka, tubuhnya terguncang oleh ketakutan dan rasa kagum yang bersatu.

Retakan tanah makin lebar. Dalam satu tarikan napas, tanah di bawah kaki Arka ambruk, menelannya bulat-bulat ke dalam kegelapan. Ia tak sempat berteriak. Udara seakan hilang, digantikan oleh arus energi yang aneh — tidak panas, tidak dingin, tapi penuh getar yang menusuk kulit.

Ia jatuh. Lama.

Saat akhirnya ia menghantam sesuatu yang lembut, matanya sudah tak bisa membedakan mana atas dan bawah. Ia terbaring dalam kegelapan, tubuhnya nyaris tak bisa digerakkan. Tapi yang mengejutkan adalah… keheningan.

Tak ada suara. Bahkan napasnya sendiri nyaris tak terdengar. Saat perlahan-lahan penglihatannya menyesuaikan diri, ia sadar bahwa ia tidak berada dalam kegelapan total.

Di sekelilingnya, batu-batu kristal kecil menyala redup — biru, ungu, dan perak — menempel di dinding gua seperti bintang yang bertebaran. Langit-langit gua menjulang tinggi, dipenuhi stalaktit yang berkilau. Kabut tipis melayang-layang, menyelimuti udara dengan misteri.

”Di mana aku…?” Arka berbisik.

Ia mencoba berdiri. Tubuhnya sakit, tapi tidak parah. Anehnya, ia tidak merasa takut seperti seharusnya. Ada sesuatu yang menenangkannya — mungkin cahaya itu, mungkin suara samar seperti nyanyian dari kejauhan.

Ia mulai berjalan, menyusuri jalur sempit yang membelah gua. Setiap langkahnya menghasilkan gema, seolah tempat itu hidup dan mendengarkan.

Setelah beberapa menit, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Sebuah gerbang batu raksasa berdiri di ujung lorong. Tingginya dua kali lipat pohon pinus, ukirannya rumit dan bercahaya samar. Di tengah gerbang, ada simbol aneh yang tampak seperti lingkaran dengan tiga garis menyilang — dan entah kenapa, simbol itu terasa… familiar.

Saat Arka menyentuhnya, simbol itu bersinar terang. Gerbang membuka perlahan dengan suara mendalam seperti raungan bumi. Di baliknya… dunia lain terbentang.

Sebuah lembah bawah tanah yang luas, diterangi cahaya dari kubah kristal di atasnya. Bangunan-bangunan aneh menjulang — perpaduan antara alam dan teknologi yang tidak dikenal Arka. Sungai-sungai cahaya mengalir di sela bebatuan, dan makhluk-makhluk asing berjalan di kejauhan.

”Selamat datang, Pewaris Cahaya.”

Suara itu datang dari belakangnya. Arka berbalik, terkejut.

Seorang wanita tinggi, berpakaian dari helaian sinar dan kain gelap, berdiri dengan senyum samar. Matanya bersinar seperti batu bulan, dan kulitnya memantulkan cahaya lembut dari sekeliling.

”Siapa kamu?” tanya Arka waspada.

”Aku penjaga gerbang,” jawabnya tenang. “Namaku Lysra. Dan kedatanganmu telah ditunggu sejak seribu tahun lalu.”

Arka tertawa kecut. “Kamu pasti salah orang.”

”Tak mungkin salah. Cahaya itu ada dalam darahmu. Lumen mengenal pemiliknya.”

”Lumen?” ulang Arka bingung.

Lysra hanya tersenyum. “Segera kau akan mengerti. Tapi untuk saat ini… kau harus ikut denganku. Dunia ini sedang runtuh. Dan hanya kau yang bisa menghentikannya.”

Arka ingin menyangkal, ingin lari, ingin bangun dari mimpi gila ini. Tapi bagian terdalam dari dirinya tahu… ini nyata. Terlalu nyata.

Dan mungkin, inilah alasan kenapa ia selalu merasa tidak sepenuhnya milik dunia atas.

Lates Chapters

Bab epilog : Cahaya yang abadi

  Sunyi. Itulah kesan pertama yang dirasakan Arka ketika akhirnya semua getaran berhenti. Setelah Ledakan Dua Dunia, dunia bawah perlahan membangun dirinya kembali. Bukan dalam…

Bab 29.Fajar di dunia baru

Kabut bercahaya masih menutupi langit dunia bawah tanah, sisa-sisa dari Ledakan Dua Dunia. Batu-batu kristal yang runtuh perlahan membeku di udara, melayang seperti bintang-bintang kecil,…

Bab 28. Ledakan Dua Dunia

Langit bawah tanah yang semula dipenuhi cahaya redup mendadak berubah menjadi lautan kilatan cahaya dan gelap pekat yang saling bertabrakan. Pilar Cahaya yang berhasil dibangkitkan…

Bab 27. Pewaris bayangan

  Lorong  itu mendadak menjadi arena pertempuran. Udara bergetar oleh aura kegelapan yang begitu pekat hingga cahaya dari kristal dinding pun meredup. Sosok berjubah hitam…

Bab 26. Dilema Cahaya

  Lorong itu kembali sunyi. Hanya detak jantung Arka yang terdengar di telinganya, begitu keras seakan mencoba menenggelamkan semua suara lain. Ia masih berdiri di…

Bab 25.Anak tanpa nama

  Langkah-langkah Arka dan Liora bergema di lorong sempit yang menjauh dari Ruang Gaung. Cahaya kristal di dinding makin redup, seakan tahu mereka baru saja…

Bab 24.Kunci yang hilang

  Asap hitam dari Gerbang Tanpa Nama masih membubung pelan, meski untuk sementara tak lagi memuntahkan pasukan bayangan. Arka berdiri dengan napas terengah, tubuhnya bergetar…

Bab 23: Pertempuran di ambang gerbang

  Suara gemuruh dari Gerbang Tanpa Nama kian memekakkan telinga. Bayangan-bayangan pekat merembes keluar, berubah menjadi bentuk-bentuk tak jelas: tangan, wajah, dan arus gelap yang…

Bab 22: Gerbang yang terbuka

  Suara retakan bergema di seluruh ruang kubah. Cahaya dari Pilar Ketujuh bergetar tak stabil, dan dari kegelapan di sekeliling mereka, perlahan terbentuk sebuah gerbang…

Bab 21. Inti Pilar Ketujuh

  Tubuh Arka dan Liora terlempar ke dalam pusaran cahaya dan bayangan yang berputar liar. Tak ada arah, tak ada lantai, tak ada langit. Hanya…

Bab 20. Bayangan dalam darah

  Arka duduk di tepi lorong batu yang retak, tubuhnya masih gemetar setelah pertemuan dengan Bayangan Purba. Setiap hembusan napas terasa berat, seolah udara di…

Bab 19. Keseimbangan Yang Retak

Pusaran perak itu berputar begitu cepat hingga seolah menelan seluruh dunia batin. Cahaya dan bayangan menyatu, tidak lagi saling menghancurkan, melainkan menciptakan harmoni yang asing…

Bab 18. Perjanjian Kegelapan

Langit merah kelam di medan batin itu bergemuruh, seolah ribuan suara berbisik dalam bahasa yang tak dimengerti. Arka berdiri goyah, tubuhnya masih bergetar karena cahaya…

Bab. 17 Kebangkitan Sang Bayangan

Baik, aku akan langsung. Lagkah - langkah Arka menggema di lorong batu yang dingin dan panjang. Api kecil di obor yang ia genggam bergetar, seakan…

Bab 16. Serangan Ditengah Cahaya

Cahaya itu datang tiba-tiba, memecah kegelapan yang selama ini membungkus dunia bawah tanah. Seolah langit yang tak pernah mereka lihat akhirnya terbuka, melepaskan kilau keemasan…

Bab 15.Penjaga Tanpa Wajah

  Langit gua memendar warna kehijauan ketika Arka, Kael, dan Surn melangkah memasuki wilayah baru — zona sunyi yang bahkan gema langkah mereka terasa ditelan…

Bab 14. Gerbang Pilar ketiga

Langkah Arka menggema saat mereka menyusuri lorong sempit yang menurun, dindingnya dipenuhi akar bercahaya yang tampak seperti nadi raksasa. Udara lembap dan dingin menyentuh kulit…

Bab 13: Tangan Dari Kegelapan

Kabut di sekitar  Danau Bisikan itu membeku. Waktu seolah berhenti, ditelan ketegangan saat sosok berjubah itu berdiri di atas permukaan air tak tenggelam, tak tergores…

Bab 12. Danau Bisikan

Langit Dunia Bawah tampak lebih suram dari biasanya. Arka menatap kabut kelabu yang menggantung di atas danau yang sunyi, permukaannya sejernih kaca — terlalu tenang,…

Bab 11. Lorong Tidak Bernama

Lorong itu bukan sekadar gelap, lorong itu tak bernama, tak berbentuk, dan seakan tak mengenal arah. Begitu Arka dan rombongannya melewatinya, mereka tak lagi bisa kembali.…
error: Content is protected !!