Angin berhembus menusuk tulang di saat rombongan sebuah klub yang mengadakan camping dengan menikmati alam bebas di salah satu gunung di jawa timur. Gunung yang cukup terkenal dengan kemistisannya. Terdapat banyak arca yang berada di jalan setapak, tepat di jalur pendakian. Bahkan tidak jarang terlihat beberapa bunga-bunga bekas sesajen yang tengah mengering. Sebagian dari mereka bahkan ada yang sengaja menendang bekas sesajen yang tergeletak di samping arca.
“Reta, jangan ditendang seperti itu!” Ilham yang menyaksikan sendiri sikap Reta segera menegurnya.
“Kenapa sih, lagian itu cuma bekas dan harus dibuang!” Sahut Reta yang mengabaikan nasehat Ilham. Lagi-lagi Reta menendang daun pisang bekas sesaji di sepanjang jalan. Ilham hanya menggeleng pelan dengan sikap Reta yang suka bersikap semaunya.
“Wih, ada pisang tuh! Kebetulan aku ingin pisang itu!” kedua mata Reta tergiur oleh satu sisir pisang yang diletakkan di depan patung lengkap dengan daun pisang yang diatasnya terdapat aneka bunga sesaji dan dupa yang masih menyala.
“Reta, jangan!” Novi sesegera mungkin menjauhkan Reta dari sesaji yang akan menjadi sasarannya berbuat jahil.
“Apaan, sih!” Reta hendak meraih pisang yang berada tepat di depan sebuah patung yang lebih besar.
Krak brug
Sebuah dahan yang cukup besar terjatuh tepat di depan Reta sebelum kakinya melangkah mendekati pisang tersebut. Dahan yang terjatuh cukup besar, Reta beruntung tidak terluka karena jatuhnya dahan di depannya.
“Sial! Padahal pisangnya menggoda banget! Di pasar nggak ada yang sebagus itu!” Gumam Reta yang keinginannya tengah gagal.
“Reta, kamu harus berhati-hati dalam berucap ataupun bersikap. Di gunung tidak boleh berperilaku tidak sopan!” Sehalus mungkin Novi menegur dan menasehati Reta yang notabene baru pertama kali ikut pendakian.
“Ih, apaan sih, Nov! Jangan kolot begitu, mana ada hal seperti itu. Di gunung ya isinya buat bersenang-senang!” Reta tidak mengindahkan ucapan Novi yang sudah sangat mengkhawatirkannya.
Wush
Angin tiba-tiba berhembus begitu saja dan cuaca berubah mendung, tidak secerah seperti tadi.
“Kenapa anginnya begini,” gumam Novi saat merasakan hawa aneh menusuk tengkuknya sehingga terpaksa menaikkan resleting jaket sampai sebatas leher.
“Iya, anginnya agak aneh. Tapi menurutku bodo amat!” Reta kembali berjalan mendahului teman-temannya.
“Kenapa, Nov?” Ilham melihat Novi yang sepertinya sedang gelisah. Ilham menghampiri Novi untuk memastikan jika Novi tidak apa-apa.
“Tidak apa-apa, Ham. Hanya dingin saja,” Novi mencoba tidak ingin membuat rombongannya mengalami kendala perjalanan karenanya. Namun semakin berjalan lebih jauh, hawa kemistisannya mulai sangat terasa. Angin berhembus namun bercampur hawa yang tidak biasa.
Novi tidak tahu dengan apa yang terjadi saat ini. Ini bukan pertama kalinya Novi mengikuti kegiatan seperti ini. Sebelumnya, Novi sudah beberapa kali mengikuti kegiatan di alam bebas bersama klub pencinta alam yang selama ini diikutinya.
Kejadian aneh ini baru saja Novi alami ketika melewati jalur pendakian biasanya. Sejak perjalanan menuju lokasi atau kota tersebut sudah merasa sangat janggal. Di dalam bis antar kota, dirinya merasa ada yang mengawasi kelompoknya sampai pos perijinan. Novi mencari keberadaan seseorang yang mengawasinya namun sama sekali tidak ditemukannya.
Wush
Angin kembali berhembus kencang sehingga beberapa daun terlihat berguguran disertai ranting-ranting kecil yang tengah mengering.
“Aduh,” Reta mengaduh dan berjongkok dengan kaki kanan dipangku, sepertinya mengalami masalah di kakinya.
“Ada apa, Reta?” Heru menghampiri Reta yang meringis kesakitan, mengeluh karena rasa nyeri teramat sangat di kakinya.
“Kakiku sepertinya terkilir,” Rintih Reta dengan tangan tetap memegangi bagian pergelangan kaki. Heru mengambil minyak urut yang dipersiapkan untuk berjaga-jaga jika mengalami hal seperti ini. Heru memijat kaki sambil mengoleskan minyak urut di kaki Reta. Anggota yang lain istirahat seraya menunggu Reta bisa segera lebih baik.
Novi mulai mengingat ada yang aneh selama pendakian dimulai, mulai dari angin yang berhembus tiba-tiba ditambah lagi kabut turun disertai hawa mistis menyambut mereka selama perjalanan. Padahal perjalanan belum sampai seperempat perjalanan, apalagi di Alas tengah yang konon terkenal dengan keangkerannya dan belum lagi tempat yang lain dipercaya lokasi para makhluk halus berkumpul.
Rombongan yang terdiri dari enam orang terdiri dari tiga perempuan dan tiga laki-laki memulai perjalanan di pagi hari. Sebelumnya mereka bertiga singgah di sebuah villa untuk persiapan dan istirahat sebelum memulai pendakian.
Dari perijinan sampai pos tiga, biasanya ditempuh paling lama dua jam, kini hampir siang belum sampai. Perjalanan terasa sangat lambat, dan tak hentinya angin berhembus menambah bulu kuduk merinding.
“Kita istirahat sampai Reta bisa jalan lagi!” Leoni mengkoordinasi temannya untuk beristirahat sejenak. Robi membuka ransel besarnya dan mengeluarkan beberapa camilan untuk menambah stamina.
Sejauh ini yang pernah menikmati alam bebas hanya Novi dan Heru. Untuk Leoni, Reta, Robi dan Ilham baru pertama kali ini, sehingga tidak lama, mereka sering beristirahat.