Cahaya lampu yang redup menerangi ruangan sempit itu, memberikan nuansa suram dan menegangkan. Wanita cantik itu tergolek lemah, matanya berkaca-kaca memohon belas kasihan. Tubuhnya yang terikat tangan dan kaki tak mampu bergerak sedikit pun untuk melawan. Dari kegelapan, seorang pemuda mendekat dengan langkah yang berat dan niat jahat terpancar dari matanya.
“Dengar, tolong, jika ada yang salah dariku, maafkan,” rintih wanita itu, suaranya parau terbata-bata. Air mata membasahi pipinya yang pucat, seolah-olah setiap kata yang terucap membawa beban kesakitan yang mendalam.
Pemuda itu, bagaimanapun, tampak tidak tersentuh oleh permohonannya. Dengan tangan yang kasar, dia mulai merobek pakaian wanita itu, serpihan kain jatuh ke lantai dingin ruangan itu. Wanita itu terisak, “Jangan, tolong… maafkan saya jika saya ada salah,” suaranya meninggi terdesak oleh ketakutan dan keputusasaan.
Namun, pemuda itu terus dengan tindakannya, mengabaikan teriakan dan isakan wanita itu. Setiap sentuhan penuh nafsu yang dilakukannya menyisakan rasa sakit dan perih yang mendalam pada wanita itu, seolah setiap gerakannya adalah penghinaan terhadap kemanusiaan dan martabatnya. Wanita itu menutup matanya, mencoba menghilangkan gambaran mengerikan yang kini menjadi kenyataan pahitnya.
Dalam ruangan yang remang-remang, suasana penuh dengan aura muram yang menyelimuti setiap sudut. Wanita itu duduk terpaku, air matanya mengalir tanpa henti di pipi yang pucat, meresapi setiap inci lantai yang dingin. Mahkota yang pernah memancarkan kilau kebanggaan kini tak lagi berada di tangannya, dicuri oleh pemuda yang kini tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi sinis yang terpahat di wajahnya.
Pemuda itu, dengan senyum yang sinis, meninggalkan ruangan tanpa menoleh, meninggalkan wanita itu dalam kehancuran dan kesedihan yang dalam. Di ruangan itu, hanya tinggal gema tawa kejam yang terus bergema, berpadu dengan isak tangis yang memilukan.
Kita di perlihatkan flashback sebelum semuanya ini terjadi.
Matahari sudah tinggi ketika Bayu akhirnya terbangun. Kepenatan dari ronda malam masih terasa di seluruh tubuhnya, membuatnya enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Dia mengusap mata, menghilangkan sisa-sisa kantuk yang masih melekat.
Rumahnya sederhana, berdindingkan bambu dan beratapkan daun rumbia. Di sudut ruangan, terlihat meja makan kayu tua dengan beberapa piring berisi nasi dan lauk pauk sederhana yang telah disiapkan oleh ibunya sebelum mereka berangkat ke sawah. Sebuah kesederhanaan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Bayu.
Dengan langkah gontai, Bayu menuju ke meja makan. Dia duduk, memandangi piring di hadapannya. Walaupun hidup dalam kekurangan, Bayu merasa beruntung karena masih bisa makan dua kali sehari, sebuah kemewahan yang tidak semua orang di desanya bisa nikmati. Dengan rasa syukur, dia mulai menyantap makanan tersebut, setiap suapan mengingatkannya pada kerja keras kedua orang tuanya yang selalu berusaha menyediakan yang terbaik dalam keterbatasan.
Dari kejauhan, terdengar suara gerobak yang melintas, membawa hasil bumi ke pasar desa. Bayu tahu, itu pasti kerja keras orang-orang seperti ayahnya, yang meski tubuh dan pakaian selalu kotor berlumpur, namun hati dan niatnya selalu bersih dalam mencari rezeki.
Setelah selesai makan, Bayu mengambil gayung dan menuju ke sumur untuk mandi. Air dingin yang menyentuh kulitnya seakan membawa kesegaran baru, mengusir kepenatan dan membangkitkan semangatnya untuk melanjutkan hari. Dengan hati yang lebih ringan, ia bersiap untuk membantu apa pun yang bisa ia lakukan, menghargai setiap tetes keringat yang jatuh demi kehidupan yang lebih baik.
Beberapa saat kemudian terdengar riuh warga yang berlarian menuju ke sebuah persawahan. ” Ada apa ini sebenarnya? Tanya bayu kepada beberapa warga yang masih berlari.
Bayu panik dan ikut berlari dengan napas tersengal-sengal, terdorong oleh kepanikan yang mendadak merebak di desanya. Suara riuh dan teriakan warga memecah kesunyian pagi, menggerakkan kaki-kakinya yang gemetar menuju ke kerumunan yang berkumpul di tengah desa. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya dilanda kecemasan yang tak terbendung.
Saat tiba di tengah kerumunan, matanya melebar tak percaya. Di hadapannya, tergeletak tubuh ayah dan ibunya yang sudah tidak bernyawa, dengan beberapa tusukan yang terlihat jelas menandai baju mereka yang sudah berlumuran darah. “Ayah, Ibu!” teriaknya, suaranya serak, dipenuhi oleh rasa sakit yang tak terperi. Air mata mulai membanjiri pipinya, kakinya lemas, hampir tak bisa menopang tubuhnya sendiri.
Dia berlutut di samping kedua orang tuanya, menggenggam tangan mereka yang dingin, mencoba merasakan hangatnya sekali lagi. “Siapa yang melakukannya?!” bentaknya dengan suara yang penuh dengan keputusasaan dan kemarahan. Tangisannya pecah, menggetarkan udara sekitar yang tiba-tiba terasa begitu hening.
Penduduk desa hanya bisa berdiri membisu, beberapa mengalihkan pandangan, yang lainnya menundukkan kepala, seolah-olah tanah di bawah mereka bisa memberi jawaban atas tragedi yang terjadi. Rasa tidak percaya dan kehilangan yang mendalam terpahat jelas di wajah Bayu, seorang anak yang seketika kehilangan segalanya, terdampar dalam kesedihan yang mencekam dan kemarahan yang membakar.
” Yang sabar ya bayu, kami tidak tahu apa yang terjadi kepada orang tuamu, kami menemukannya sudah dalam keadaan begini, ucap salah satu warga. Kesedihan bayu meratapi nasibnya, dia masih merasa ada yang janggal dengan kematian orang tuanya ini, beberapa warga berdatangan dan membantu pemakaman orang tua bayu.
Bayu tidak percaya jika hari ini adalah hari terakhir dia bersama dengan orang tuanya.
Kesedihan terlintas saat-saat kebersamaan dengan ayah dan ibunya.
” Apa salah orang tuaku sehingga ada orang yang tega membunuhnya, gumam bayu dengan air mata dan tidak kepercayaan.
Suasana pemakaman itu suram dan hening, seakan-akan seluruh alam turut berduka atas kepergian orang tua Bayu. Udara pagi yang dingin menyelimuti kuburan yang baru saja selesai digali, dimana beberapa warga setempat berkumpul, menggali tanah dengan cangkul yang berat dan wajah-wajah mereka tampak muram. Langit yang mendung menambah kesan pilu, sesekali angin berhembus lembut namun terasa menusuk tulang.
Di tengah kerumunan, Bayu berdiri termangu, mengenakan pakaian serba hitam yang terlihat lusuh dari banyaknya air mata yang telah jatuh. Matanya yang sembab memandang dengan tatapan kosong ke dalam lubang kubur yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir ayah dan ibunya. Tangisannya sesekali pecah, memecah keheningan, menggetarkan hati setiap orang yang hadir.
Orang-orang di sekitarnya mencoba memberikan dukungan, beberapa dengan menepuk bahu Bayu secara perlahan, yang lain dengan memberikan kata-kata penghiburan yang berusaha menembus rasa sakit yang terasa tak terperi. Namun, semua terasa hampa di telinga Bayu, pikirannya melayang ke kenangan-kenangan indah yang pernah ia bagi bersama orang tuanya, yang kini hanya bisa ia kenang dalam kesedihan yang mendalam.
Sore itu, rumah Bayu terasa begitu sepi dan suram. Tiap sudut rumah yang biasanya dipenuhi suara tawa dan kegembiraan kini hanya menyisakan hening yang menusuk. Cahaya sore yang biasanya menerobos masuk melalui jendela-jendela kini hanya memberikan sedikit pencerahan pada ruangan yang gelap. Di ruang tamu, foto-foto keluarga yang menghiasi dinding tampak memudar, seakan turut berduka. Bayu duduk termenung di sofa lama yang biasanya dipenuhi oleh kehangatan orang tuanya, kini hanya tinggal dia yang terduduk dengan kepala yang tertunduk dan mata yang berkaca-kaca.
Udara di dalam rumah terasa berat, penuh dengan aroma kesedihan yang mendalam. Suasana hati Bayu yang gelap tercampur dengan amarah yang terpendam, membuat setiap detik terasa begitu lama dan menyakitkan. Dia menggenggam erat foto terakhir yang diambil bersama orang tuanya, membiarkan air mata mengalir seiring dengan setiap kenangan yang berkelebat di benaknya. Di luar, angin berhembus pelan, seolah-olah alam pun turut merasakan kehilangan yang dia alami. Suara daun-daun yang bergesekan menjadi latar belakang yang muram untuk perasaan yang tercabik-cabik.
Di sisi lain terdapat seorang wanita yang sedang gundah gulana, dia merasa bersalah dengan kematian orang tua bayu.
” Saya akan mengalami hal yang sama jika saya menceritakan kepada bayu atas kematian orang tuanya, ucap wanita itu.
” Tapi itu sangat kejam, sebenarnya saya ingin menceritakan dan memberitahu bayu siapa dalang atas kematian orang tuanya, tapi saya takut dengan ancaman mereka, gumamnya.
Nantikan bab selanjutnya.