Marjin selalu tahu kapan ia harus tersenyum.
Senyumnya sederhana dan santun, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat orang lain merasa nyaman. Senyum itu seperti sesuatu yang telah lama ia pelajari, hingga menjadi kebiasaan yang melekat tanpa perlu dipikirkan lagi. Ia menggunakannya hampir setiap waktu—ketika menyapa orang, ketika mendengarkan cerita, bahkan ketika ia ingin menghindari pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin ia jawab.
Bagi Marjin, senyum itu seperti pakaian rapi yang dikenakan setiap hari. Ia selalu tampak terawat, tidak pernah tertinggal, bahkan ketika ia sendiri kadang lupa bagaimana sebenarnya cara mengenakannya dengan jujur.
Di kantor, Marjin dikenal sebagai pria yang mudah diajak bicara. Ia adalah pendengar yang baik. Ia tidak banyak mengeluh dan hampir selalu bersedia membantu siapa pun yang membutuhkan. Rekan-rekannya sering datang kepadanya, entah untuk sekadar bertukar cerita atau meminta bantuan menyelesaikan pekerjaan yang terasa terlalu berat.
Jika ada tugas tambahan, Marjin hanya akan mengangguk pelan.
Jika ada masalah kecil yang muncul di tengah pekerjaan, ia akan berkata dengan nada yang tenang, “Tidak apa-apa.”
Kalimat itu keluar begitu saja, seolah memang tidak ada sesuatu yang perlu dipermasalahkan dalam hidupnya.
Kata “iya” seakan selalu lebih mudah keluar dari mulutnya dibandingkan kata “tidak”. Seolah-olah mengatakan “iya” adalah cara paling sederhana untuk menjaga keadaan tetap berjalan dengan baik.
Padahal sebenarnya tidak selalu demikian.
Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan. Ada perasaan yang kadang ingin ia ungkapkan. Namun Marjin telah terlalu lama belajar menyimpannya di dalam hati.
Ia terbiasa duduk di sudut ruangan kantor saat waktu istirahat tiba. Di tangannya biasanya ada secangkir kopi hitam yang perlahan menjadi dingin. Dari tempat itu, ia bisa melihat orang-orang berlalu-lalang, mendengar percakapan mereka yang saling bersahutan.
Sering kali ia mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing—tentang pasangan, tentang rencana masa depan, tentang pekerjaan yang membuat lelah, atau tentang impian yang belum sempat tercapai.
Marjin hanya mengangguk.
Sesekali ia memberi tanggapan singkat atau tersenyum kecil. Tidak banyak yang bertanya balik kepadanya. Jika pun ada yang bertanya bagaimana kabarnya, jawaban yang diberikan Marjin selalu sama.
“Baik-baik saja.”
Dua kata itu terdengar ringan.
Namun bagi Marjin, dua kata itu adalah benteng. Sekaligus penjara.
Ia sendiri tidak pernah benar-benar ingat kapan pertama kali belajar menyembunyikan perasaannya. Mungkin sejak masa kecilnya, ketika ia mulai menyadari bahwa menjadi anak yang penurut membuat suasana rumah terasa lebih tenang.
Ia masih ingat bagaimana ibunya sering terlihat lelah setelah seharian bekerja. Wajah itu menyimpan banyak keletihan yang tidak pernah benar-benar diucapkan. Sejak saat itu, Marjin kecil mulai memahami sesuatu yang sederhana: menambah beban dengan keluhan adalah hal yang sebaiknya dihindari.
Maka ia belajar diam.
Ia belajar menahan diri.
Ia belajar menjadi anak yang tidak banyak menuntut.
Seiring waktu, kebiasaan itu tumbuh bersamanya. Ia menjadi seseorang yang terbiasa menenangkan keadaan, bukan memperkeruhnya. Ia menjadi seseorang yang lebih memilih mengalah daripada memperpanjang perdebatan.
Dalam pikirannya, menjadi orang baik adalah cara paling sederhana untuk bertahan.
Dan ia berhasil melakukannya.
Setidaknya, dari luar.
Pernikahannya adalah salah satu contoh yang sering dianggap orang sebagai keberhasilan itu.
Ketika kabar pernikahannya tersebar, banyak orang berkata bahwa Marjin adalah lelaki yang beruntung. Istrinya cantik, berasal dari keluarga yang baik, dan—seperti yang sering diucapkan oleh kerabat mereka—“pantas” untuknya.
Tidak ada yang salah, kata mereka.
Tidak ada yang perlu dipertanyakan.
Marjin hanya mengangguk ketika mendengar itu semua.
Namun jauh di dalam hatinya, ada sebuah pertanyaan kecil yang kadang muncul tanpa diundang.
Apakah pantas selalu berarti tepat?
Pertanyaan itu jarang ia biarkan tinggal lama. Ia segera menepisnya, seolah-olah itu hanyalah pikiran yang tidak penting.
Pada awal pernikahan, Marjin benar-benar percaya bahwa ia bisa menyesuaikan diri. Bukankah selama ini ia selalu bisa melakukannya? Mengalah sudah menjadi sesuatu yang akrab baginya.
Ia percaya bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu. Ia yakin pengertian akan datang jika ia cukup sabar menjalaninya.
Namun hari demi hari berjalan dengan ritme yang perlahan terasa melelahkan.
Istrinya bukan perempuan yang buruk. Marjin menyadari hal itu dengan jelas. Ia hanya memiliki cara yang berbeda dalam melihat dan menjalani kehidupan. Ia adalah perempuan yang tegas, kadang keras dalam menyampaikan pendapat, dan sering kali mudah tersinggung.
Ada banyak harapan yang tidak pernah benar-benar diucapkan, tetapi terasa seperti tuntutan yang harus dipenuhi.
Kesalahan kecil bisa berubah menjadi masalah besar. Perbedaan pendapat sering kali berakhir dalam keheningan yang panjang.
Dalam situasi seperti itu, Marjin hampir selalu memilih diam.
Bukan karena ia tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Ia hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya tanpa terdengar seperti sedang menyalahkan.
Ia takut kata-katanya melukai.
Ia takut kejujuran justru membuat segalanya semakin rumit.
Maka ia memilih menyimpan semuanya di dalam dirinya sendiri.
Perasaan-perasaan itu ia susun rapi, seperti barang lama yang dimasukkan ke dalam lemari dan dibiarkan berdebu tanpa pernah benar-benar dibereskan.
Di hadapan istrinya, Marjin tetap menjadi lelaki yang sama seperti yang dikenal orang lain: tenang, sabar, dan tidak banyak tuntutan.
Ia mengangguk ketika diminta melakukan sesuatu.
Ia mengalah ketika perbedaan mulai muncul.
Sesekali ia tersenyum, senyum yang sama seperti yang ia gunakan di kantor.
Istrinya jarang menatapnya lama, dan Marjin pun jarang menuntut untuk dipahami.
Malam hari sering menjadi waktu yang paling jujur sekaligus paling sunyi bagi Marjin.
Ketika rumah sudah tenang dan lampu kamar redup, ia biasanya berbaring sambil menatap langit-langit. Di saat seperti itu, pikirannya menjadi lebih ramai daripada biasanya.
Ada hari-hari ketika dadanya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang ingin keluar tetapi tidak menemukan jalan.
Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Kadang ia berharap napas itu cukup untuk menenangkan semuanya.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada teriakan.
Hanya rasa lelah yang tidak memiliki nama.
Sesekali Marjin bertanya kepada dirinya sendiri: apakah ini yang disebut dewasa?
Apakah menjadi dewasa berarti menelan segala rasa tidak nyaman demi menjaga keadaan tetap utuh?
Ia tidak menemukan jawabannya.
Yang ia temukan hanyalah keheningan yang semakin lama terasa akrab.
Di luar rumah, orang-orang tetap melihatnya sebagai lelaki yang baik. Lelaki yang sabar. Lelaki yang dapat diandalkan.
Julukan-julukan itu terdengar seperti pujian, tetapi di dalam hati Marjin, semuanya terasa seperti beban yang semakin berat.
Semakin sering ia disebut sebagai orang baik, semakin sulit baginya untuk mengakui bahwa ia tidak selalu baik-baik saja.
Ia pernah mencoba berbicara—setidaknya sekali.
Saat itu kata-kata yang keluar terasa canggung dan tersendat. Ia berbicara dengan hati-hati, seperti seseorang yang berjalan di atas lantai yang retak.
Namun respons yang ia terima membuatnya kembali mundur.
Sejak saat itu, Marjin belajar satu hal lagi: diam sering kali terasa lebih aman.
Senyumnya pun kembali ia kenakan seperti biasa.
Hari-hari berlalu dengan pola yang hampir sama. Marjin bangun pagi, bekerja, pulang ke rumah, makan malam bersama istrinya, lalu kembali menjadi dirinya sendiri di dalam keheningan.
Tidak ada yang benar-benar salah.
Namun tidak ada pula yang benar-benar terasa benar.
Perlahan ia mulai menyadari sesuatu: menjadi “baik-baik saja” ternyata membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Setiap hari ia harus menekan satu perasaan, mengabaikan satu keinginan, dan menunda satu kejujuran.
Ia lelah.
Namun ia tidak tahu kepada siapa ia boleh mengakuinya.
Suatu sore, ketika hujan turun pelan dan jalanan terlihat lebih lengang dari biasanya, Marjin duduk sendirian di dalam mobilnya.
Mesin mobil masih menyala, tetapi ia belum benar-benar siap pulang.
Tangannya menggenggam setir tanpa tujuan.
Di kaca depan, tetesan hujan membentuk garis-garis tipis yang perlahan turun dan menghilang.
Untuk sesaat, Marjin tidak tersenyum.
Wajahnya kosong.
Matanya terlihat lelah.
Dan di antara detik-detik yang terasa begitu sunyi itu, sebuah pertanyaan muncul dengan jujur di dalam pikirannya—pertanyaan yang selama ini selalu ia hindari.
Jika aku berhenti terlihat baik-baik saja, apakah masih ada tempat untukku?
Tidak ada jawaban yang datang.
Hanya perasaan hangat di dada yang perlahan berubah menjadi sesak.
Marjin menutup mata sejenak, menarik napas panjang, lalu membukanya kembali.
Senyum kecil yang terlatih kembali muncul di wajahnya.
Ia menyalakan mobilnya dan mulai melaju pulang.
Di balik wajah yang selalu tampak biasa-biasa saja itu, Marjin menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.
Sesuatu yang suatu hari nanti mungkin akan memaksanya berhenti berpura-pura, dan belajar menghadapi dirinya sendiri tanpa senyum yang dipaksakan.
Bab itu belum benar-benar dimulai.
Namun retaknya sudah ada
#20harimencarimaaf
#Day 1
#novelgood competition
@novelgood_official