Udara pagi di pegunungan terasa lebih dingin dari yang Arsa bayangkan. Embun masih menempel di ujung daun, sementara kabut tipis menggantung rendah, seperti tirai yang belum sepenuhnya tersibak. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara segar yang jarang ia rasakan di kota.
Ini seharusnya menjadi liburan yang sederhana.
Bukan pelarian. Bukan pencarian. Hanya… jeda.
Namun, sejak langkah pertamanya menyentuh jalur tanah yang sunyi itu, ada sesuatu yang terasa berbeda.
“Perasaanmu saja,” gumamnya pelan, mencoba menenangkan diri.
Arsa menyesuaikan ranselnya, lalu melanjutkan langkah menyusuri jalur setapak yang membelah hutan pinus. Sinar matahari mulai menembus sela-sela daun, menciptakan bayangan panjang yang bergerak seiring angin. Burung-burung berkicau, namun anehnya… suara mereka terdengar terlalu jauh. Terlalu samar.
Seolah-olah dunia di sekitarnya sedang menahan napas.
Ia berhenti sejenak.
Sunyi.
Tidak ada langkah kaki lain. Tidak ada suara manusia. Bahkan angin pun terasa seperti berbisik, bukan berhembus.
Arsa menggelengkan kepala, mencoba menepis perasaan ganjil itu. Ia sudah merencanakan perjalanan ini sejak lama—liburan ke pegunungan untuk menenangkan pikiran, menjauh dari segala tekanan, dari semua hal yang membuatnya merasa… sesak.
Dan ia tidak akan membiarkan rasa aneh menghancurkan itu.
Langkahnya kembali mantap.
Namun semakin jauh ia berjalan, semakin hutan itu terasa berubah.
Pohon-pohon menjadi lebih tinggi. Lebih rapat. Cahaya semakin sulit menembus. Jalur setapak yang tadi jelas, perlahan mulai samar, seperti sengaja menghilang.
“Ini bukan jalur utama…” bisiknya.
Ia berhenti, menoleh ke belakang.
Kosong.
Tidak ada tanda-tanda jalan yang tadi ia lalui.
Dada Arsa mulai berdegup lebih cepat.
“Tenang. Aku hanya perlu kembali…”
Ia berbalik, mencoba mengingat arah. Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu di antara pepohonan.
Cahaya.
Bukan cahaya matahari.
Cahaya itu redup, berpendar kebiruan, berdenyut perlahan seperti jantung yang hidup. Terletak beberapa meter di depannya, setengah tersembunyi oleh akar-akar pohon besar yang mencuat dari tanah.
Arsa menelan ludah.
“Apa itu…?”
Rasa takut menyelinap, namun bersamaan dengan itu, rasa penasaran yang lebih kuat menariknya maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dekat, cahaya itu semakin jelas. Tanah di sekitarnya tampak retak, seperti pernah terbelah oleh sesuatu yang kuat. Dari celah itu, cahaya misterius memancar, memantul pada permukaan akar dan batu.
Arsa berlutut perlahan.
Jantungnya berdebar kencang.
Ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang… memanggilnya.
“Jangan,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini ide buruk.”
Namun tangannya bergerak sendiri.
Perlahan, ia mengulurkan jari, mendekati cahaya itu.
Sesaat sebelum menyentuhnya, angin tiba-tiba berhenti.
Benar-benar berhenti.
Dunia membeku.
Dan saat ujung jarinya menyentuh cahaya—
Retakan itu terbuka.
Tanah di bawahnya runtuh tanpa peringatan.
Arsa bahkan tidak sempat berteriak.
Tubuhnya terperosok ke dalam kegelapan.
—
Jatuh.
Jatuh.
Dan terus jatuh.
Tidak ada tanah. Tidak ada udara. Hanya kehampaan yang menelannya tanpa ampun.
Arsa mencoba berteriak, tapi suaranya hilang, seolah terserap oleh kegelapan itu sendiri.
“A-aku… jatuh?”
Tangannya meraba udara, mencoba mencari sesuatu untuk berpegangan. Tidak ada.
Namun anehnya… ia tidak merasakan sakit. Tidak ada benturan. Hanya sensasi melayang, seperti berada di antara mimpi dan kenyataan.
Cahaya mulai muncul di bawahnya.
Awalnya kecil.
Lalu membesar.
Semakin dekat.
Semakin terang.
“Tidak… tidak…!”
Dan dalam sekejap—
Brak!
Tubuhnya menghantam sesuatu yang keras.
Napasnya terhempas keluar.
Sakit.
Kali ini, benar-benar sakit.
Arsa meringis, mencoba mengatur napasnya yang kacau. Tubuhnya terasa berat, seolah baru saja dilempar dari ketinggian yang tak terbayangkan.
Beberapa detik berlalu sebelum ia berani membuka mata.
Yang pertama ia lihat… bukan langit.
Melainkan batu.
Langit-langit batu yang tinggi, gelap, dan berkilauan samar seperti mengandung kristal. Cahaya kebiruan yang sama seperti sebelumnya kini menerangi sekelilingnya, memantul dari dinding gua raksasa.
Arsa perlahan duduk.
“Aku… di mana…?”
Suaranya menggema, memantul di ruang luas itu.
Ia menoleh ke sekeliling.
Dan napasnya tertahan.
Ini bukan sekadar gua.
Ini… dunia lain.
Hamparan luas terbentang di depannya. Formasi batu menjulang seperti menara alami. Sungai kecil berkilau mengalir di kejauhan, memancarkan cahaya samar. Di langit-langit yang jauh di atas, kristal-kristal besar menggantung, bersinar seperti bintang dalam kegelapan.
Tidak ada matahari.
Tidak ada langit.
Namun tempat ini… hidup.
“Apa ini…?” bisiknya.
Kakinya gemetar saat ia berdiri.
Instingnya berteriak untuk lari.
Namun ke mana?
Ia bahkan tidak tahu di mana ia berada.
Arsa melangkah mundur.
Lalu satu suara memecah kesunyian.
“Dia di sini.”
Tubuhnya membeku.
Suara itu bukan miliknya.
Bukan suara manusia yang ia kenal.
Pelan-pelan, ia menoleh.
Dan di sanalah mereka.
Sekelompok sosok berdiri di kejauhan.
Berbaju gelap, dengan senjata di tangan. Mata mereka tajam, mengawasinya seperti mangsa yang baru saja jatuh ke perangkap.
Jantung Arsa berdegup keras.
“Aku… hanya tersesat—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, dua orang dari mereka sudah bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Dalam sekejap, mereka sudah berada di depannya.
Salah satu dari mereka meraih lengannya dengan kasar.
“Apa—lepaskan aku!”
Arsa berusaha melawan, namun cengkeraman itu terlalu kuat.
“Kau bukan dari sini,” suara pria itu dingin. “Bagaimana kau masuk?”
“Aku tidak tahu!” Arsa membalas, napasnya memburu. “Aku jatuh—”
“Jatuh?” pria lain menyeringai tipis. “Dari mana? Langit?”
Mereka saling bertukar pandang.
Lalu ekspresi mereka berubah.
Bukan lagi heran.
Melainkan… waspada.
“Bawa dia,” perintah salah satu dari mereka.
“Tunggu! Aku tidak melakukan apa-apa!”
Namun tidak ada yang mendengarkan.
Tangannya diikat.
Kakinya dipaksa melangkah.
Arsa menoleh ke belakang, ke tempat ia jatuh tadi.
Celah itu… sudah hilang.
Seolah-olah tidak pernah ada.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di tempat itu, rasa takut benar-benar merayap dalam dirinya.
Bukan takut biasa.
Melainkan ketakutan yang dingin.
Dalam.
Mengunci napasnya.
“Aku… tidak bisa kembali…?”
Langkahnya tersandung saat mereka menyeretnya pergi.
Cahaya kristal memudar di belakangnya, digantikan oleh lorong-lorong gelap yang terasa semakin menekan.
Dan jauh di dalam sana—
Sesuatu sedang menunggunya.
Seseorang.
Yang akan mengubah hidupnya… selamanya.
—
Lorong itu berakhir pada sebuah gerbang besar.
Terbuat dari logam hitam, dengan ukiran yang rumit dan asing. Dua penjaga berdiri di depannya, membuka jalan saat rombongan itu mendekat.
Arsa didorong masuk.
Dan saat ia melangkah melewati gerbang itu—
Ia tahu.
Ini bukan sekadar tempat asing.
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Lebih berbahaya.
Dan lebih gelap… dari yang pernah ia bayangkan.
Di dalam ruangan itu, bayangan bergerak.
Dan di ujungnya—
Sebuah tahta.
Seseorang duduk di sana.
Tak terlihat jelas.
Namun kehadirannya…
Menekan.
Menguasai.
Mematikan.
Arsa menelan ludah.
Jantungnya berdetak tak karuan.
Dan tanpa ia sadari—
Takdirnya… telah berubah.