Jika aku bisa pergi jauh darimu, aku rela bersembunyi di sebuah menara yang tinggi, dan kamu tak akan mungkin menggapaiku
*
*
Sayup-sayup terdengar suara deburan ombak menghantam bibir pantai, disusul cicit burung camar yang bersahutan.
Elaine membuka mata. Suara deburan ombak menderu kembali terdengar. Juga kicauan burung di kejauhan. Elaine segera duduk. Matanya melebar seketika. Dia mengusap wajah, mengucek-ucek kedua mata, lalu memandang sekeliling ruangan itu.
“Ini kok ….” Elaine perhatikan dia tidak berada di kamarnya. “Aku di mana?”
Ciit … ciitt … Suara burung kembali terdengar. Deburan ombak tak ada hentinya berdebum.
Elaine menepuk-nepuk pipinya mencoba meyakinkan diri sendiri, dia sudah bangun. Aneh, kenapa dia bukan berada di kamarnya? Dia ada di mana?
Dengan perasaan bingung, Elaine turun dari ranjang. Lantai terasa sangat dingin, saat kakinya menapak. Tanpa alas kaki, Elaine melangkah sambil terus mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kamar tempat dia berdiri, rasanya berbeda dengan kamar tidur biasa. Kamar itu tidak memiliki pojok dalam ruangan.
Penataan barang-barang yang ada di dalamnya memang mirip dengan kamar Elaine. Tempat tidur di tengah. Sisi kiri dan kanan meja kecil. Menempel di dinding kiri, lemari yang cukup besar. Sebelah kanan ada meja rias lengkap dengan kursi. Tapi semua barang di kamar ini berbeda dengan barang yang ada di kamarnya.
“Ini di mana, sih? Kenapa aku di sini?” Elaine masih mencoba mengumpulkan kesadaran.
Semalam dia tidur di kamarnya, seperti biasa. Sebelum tidur, dia menemui kakaknya yang sedang melukis. Tidak ada sesuatu yang aneh. Kenapa dia bangun ada di kamar lain? Apa seseorang memindahkannya? Rasanya tidak mungkin!
Masih dengan rasa heran, pandangan Elaine tidak terlepas pada jendela kayu yang sedikit bergerak. Dengan cepat dia berjalan mendekat, lalu membukanya. Seketika udara menerpa wajahnya. Angin dingin dengan bebas menerobos masuk ke dalam kamar. Dingin menyapa kulitnya, membuat dia memicingkan mata dan mengerjap-erjap.
Detak jantung Elaine segera melaju cepat! Di depan matanya, di luar ruangan itu, hamparan laut terbentang. Luas! Deburan ombak makin kuat terdengar. Langit biru terang dengan awak berarak menghiasinya sangat menakjubkan. Dan … tanah terlihat begitu jauh di bawah. Pohon-pohonan hijau tampak kecil.
“Ya Tuhan, apa ini? Aku di mana?” Detak jantung yang cepat Elaine tak kunjung mereda. Segera dia berbalik, memandang lagi seluruh ruangan tempat dia berdiri. Ini bukan kamarnya! Kamarnya tidak berada di dekat laut!
Elaine mendekap dadanya, semakin bingung dengan semua itu. Dia menoleh ke sisi kiri. Pintu ruangan ada di sana. Perlahan Elaine mendekat dan membukanya. Elaine makin tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Di depan pintu itu, ada tangga melingkar turun ke bawah.
“Apa? Aku di ….” Elaine terkesiap. Menara!
Menara? Elaine ingat lukisan Jordy, kakaknya. Jordy melukis sebuah menara yang tinggi. Di seberangnya ada seorang pria berdiri di sisi kuda putihnya, memandang ke arah menara itu.
“Jordy!! Kamu di mana?!” Dengan ketakutan Elaine memanggil kakaknya. Debaran di dada Elaine makin kuat, seolah tak beraturan lagi. Suaranya menyebut nama Jordy menggema ke seluruh ruangan, hingga ke dasar menara.
Tidak ada jawaban. Ombak dan kicauan camar kembali bersahutan, tak peduli teriakan Elaine yang kebingungan.
Elaine mulai gemetar. Dia ada di mana? Kenapa dia bisa berada di menara, tak jauh dari laut lepas? Apa yang terjadi sebenarnya?
Kembali ingatan Elaine melaju pada kejadian semalam, sebelum dia tidur. Elaine ingat dengan jelas Jordy menggodanya saat mengomentari lukisan yang indah yang Jordy buat.
Jordy memandang Elaine sambil tersenyum. “Kamu ingat dongeng Rapunzel? Nah, ini, Pangeran Yonan sedang menunggu Putri Elaine keluar dari menara.” Jordy sengaja mengganggu Elaine yang sedang galau.
“Ih, jangan mulai! Aku ini bingung, bukan bikin tenang, ya?” sahut Elaine dengan bibir manyun. Beberapa hari Elaine merasa kacau karena sahabat Jordy menyatakan cinta padanya.
“Haaa haaaa .…” Jordy tertawa. “Kenapa? Yonan itu baik. Aku senang kalau sahabatku jadi adik iparku, haa haaa .…”
“Gangguin terus! Kalau kamu tahu, aku pingin lenyap dari muka bumi. Ga tahu aku, gimana kasih jawaban sama Mas Yonan, Kak!” kesal Elaine. Dia memukul lengan Jordy karena sebal.
“Aauhh!! Sembunyi aja di menara, hee hee ….” Jordy masih saja mengganggu adiknya.
“Tahu! Mending tidur.” Dengan gusar Elaine keluar kamar Jordy, bergegas menuju kamarnya sendiri, dan naik ke ranjang. Dia memilih segera tidur agar tidak ingat apa-apa, tidak lagi memikirkan resah hatinya karena penyataan cinta yang tidak dia harapkan.
Elaine kembali mendekap dadanya. Ingat percakapannya dengan Jordy membuatnya makin tak karuan. “Ya Tuhan … menara … aku di menara ….”
Jangan-jangan … Jordy yang melakukan semua ini. Dia tahu Elaine sedang galau, lalu Jordy sengaja membuat kejutan buatnya. Seolah gambaran lukisan itu nyata. Elaine bersembunyi di menara agar tidak perlu memberi jawaban cinta pada Yonan.
Elaine melongok ke bawah. Dasar menara tidak terlalu jelas, karena gelap. Atap menara yang terbuat dari kaca memberikan cahaya hingga Elaine bisa melihat tangga yang turun melingkar itu.
“Jordy!!” Makin keras Elaine memanggil. Makin panjang gema dari suaranya sendiri. “Kamu di mana? Jangan bikin aku kesal!”
Jordy paling suka usil pada adiknya. Selalu saja ada cara dia membuat Elaine marah dan ngambek. Sekalipun mereka berdua sudah masuk usia dewasa, Jordy tak bosan membuat Elaine gusar karena tingkahnya.
“Jordy! Tidak lucu kamu main-main seperti ini!” Kembali teriakan Elaine menggema di seluruh menara.
“Ayah! Ibu!! Kalian di sini, kan?” Sekeras-kerasnya Elaine memanggil. Tetap tidak ada sahutan. Hanya suaranya yang kembali masuk ke pendengaran.
Elaine makin ketakutan. Dia harus keluar. Mungkin mereka di luar dan tidak mendengar suaranya. Dia memberanikan diri turun. Perlahan dia menapaki anak tangga satu demi satu. Dia benar-benar ada di sebuah menara.
“Kenapa aku di sini? Bagaimana bisa? Di mana orang-orang?” ujarnya dengan rasa cemas yang makin menekan.
Elaine terus melangkah ke bawah, udara dingin semakin menerpa. Setiap jemarinya menyentuh dinding, rasa dingin merayap di kulitnya.
“Sangat dingin,” ucap Elaine pelan. Dia mendekap kedua bahunya, merapatkan gaun tidur berwarna putih yang dia kenakan agar mengurangi rasa dingin. Tubuhnya sudah mulai menggigil.
Elaine sampai juga di bawah. Dia mendongakkan kepala ke atas. Tangga melingkar itu sudah dia lalui. Entah berapa puluh jumlahnya. Tidak salah, dia memang ada di sebuah menara, dan baru saja dia menjejakkan kakinya menuruni anak tangga menara itu.
“Bagaimana bisa aku di sini? Ini di mana?” Kembali dengan gelisah dan bingung Elaine bicara sendiri.
Dia memandang lurus ke depan. Sebuah pintu besar terpampang di sana. Tangan Elaine terulur, meraih gagang pintu. Agak berat, Elaine mengeluarkan tenaga mendorong pintu itu. Terbuka!