❝Bahwa tujuan awal dari setiap pertemuan adalah menuju sebuah perpisahan.❞
***
Jakarta, Februari 2020.
Pagi itu, entah mengapa matahari bersinar terang. Cahayanya sangat hangat, membuat orang-orang suka menghadapkan tubuhnya untuk mengenai cahaya itu. Dan, sedikit dari cahaya itu menembus masuk ke dalam satu ruangan.
Ruangan itu, hanya dipenuhi dengan suara langkah kaki yang bergerak ke sana kemari. Hari ini adalah hari pertamanya sekolah di jenjang Menengah Atas. Ya, hari pertama bertemu orang baru di sekolah baru. Ia harus semangat hari ini, walaupun ia harus meninggalkan teman-temannya yang ada di Bandung.
Tidak! Ini adalah keinginannya sendiri. Keinginan untuk pergi jauh dari ‘dia’ yang saat ini masih berada di Bandung. Tidak ada waktu untuk menyesal atau mengingat kembali masa lalu. Yang terjadi biarlah berlalu, ia hanya harus meneruskan hidupnya yang baru.
Gadis itu berhenti di depan cermin besar miliknya, menatap dirinya dari pantulan cermin. Semuanya telah menempel sempurna di tubuhnya. Memastikan tidak ada yang tertinggal gadis itu segera meraih tasnya dan keluar dari kamar.
Kakinya bergerak terburu-buru saat menuruni tangga. Ia tidak ingin telat di hari pertama sekolah. Dahinya berkerut bingung saat melihat meja makan hanya diisi oleh satu orang. Langkahnya pun melambat seiring menuju meja makan.
“Kemana yang lainnya, Kak? Kenapa cuma lo yang sarapan?” tanya gadis itu pada satu-satunya orang yang berada di meja makan.
Elzio Sander Zeit.
“Daddy dan Mommy mana?” Ia kembali bertanya karena pertanyaan sebelumnya tidak mendapatkan jawaban.
Menunggu Elzio memberikan jawaban, Alesha memindai sekelilingnya melalui matanya. Melihat rumah yang telah ia tinggali selama tiga tahun.
“Biasa, pergi lagi.” Kepala Alesha langsung tertuju ke arah Elzio yang makan dengan tenang.
“Kapan, kok gue nggak tahu?” cerocosnya.
“Kalau nggak salah jam tiga pagi tadi, soalnya gue setengah sadar pas dengar suara mesin mobil hidup,” jawab Elzio.
Alesha mendengus kesal. Lagi dan lagi, hal ini kembali terjadi. Orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga membuat Alesha merasa ditelantarkan. Tak bisakah keduanya menyisihkan waktu sebentar saja untuk bercengkrama bersama keluarga sendiri.
Apa itu kehangatan keluarga? Alesha bahkan tidak pernah merasakannya sejak tiga tahun ini. Ia rindu saat-saat dimana keluarganya selalu ada menemani dirinya. Selalu ada waktu untuk berkumpul. Semuanya sirna sejak usaha kedua orang tuanya memasuki pasar global.
Memang, ia tidak pernah kekurangan uang selama ini, hanya saja bukan uang yang satu-satunya Alesha butuhkan.
Sudahlah, berhenti bicara tentang keluarganya. Hal itu hanya akan menyakiti hatinya.
Alesha meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja. “Gue duluan.”
Elzio yang baru saja hendak menyuap sontak menoleh ke arah Alesha. “Nggak mau gue anterin?” tawarnya.
Alesha memberikan gelengan. “Gue bawa mobil sendiri.”
“Lo anak baru, emangnya boleh bawa mobil? Lagian lo belum dapat SIM.”
“Ntar gue buat, bye.”
Elzio kembali mengatupkan bibirnya saat melihat punggung Alesha yang menjauh. Tak lama terdengar suara mobil yang keluar dari garasi.
***
Alesha memarkirkan mobilnya dengan rapi di parkiran sekolah yang telah disediakan. Matanya menatap sekelilingnya, mengagumi betapa cerahnya langit hari ini. Matanya juga memindai bangunan mewah yang ada di hadapannya.
“Nggak jauh beda sama yang di Bandung,” gumamnya.
“Shit up, Alesha. Berhenti mikirin Bandung. This is Jakarta. Lupakan Bandung dan mulai hidup baru di sini.” Alesha merutuki dirinya sendiri yang masih saja memikirkan Bandung.
Alesha menarik napas panjang sebelum melangkah. “Okay, Lo bisa, Alesha. Semangat!”
Baru saja dia melangkah, bahunya tiba-tiba saja ditabrak dari belakang. Tidak terlalu kuat, namun cukup membuat Alesha hilang keseimbangan. Pria yang menabrak Alesha membalikkan tubuhnya, memindai bahwa Alesha tidak terluka akibat ulahnya. Keduanya saling berpandangan, tidak ada yang bersuara satu sama lain. Jika kalian berharap akan ada adegan romantis seperti novel roman maka kalian salah. Nyatanya Alesha hanya menatap pemuda itu sejenak dan kembali meneruskan langkahnya, meninggalkan pria itu yang menatap punggungnya.
Pergi tanpa mengucapkan maaf. Untuk apa minta maaf? Bukan Alesha yang salah. Bukan dia yang menabrak. Di sini ia adalah korbannya. Jadi, seharusnya pria itu yang meminta maaf.
Alesha melangkah angkuh, kepalanya sama sekali tidak pernah menunduk. Ia benar-benar bentuk nyata dari sebuah kesombongan.
***
Bel masuk sudah berbunyi dari setengah jam yang lalu, semua murid baru segera masuk ke aula yang dipandu oleh salah satu anggota OSIS. Dan disinilah Alesha sekarang, duduk dengan malas di kursi sambil mendengarkan ocehan tak jelas dari Anggota OSIS.
Setelah arahan singkat diberikan, semua murid baru dipersilakan masuk ke kelas masing-masing sambil menunggu arahan selanjutnya.
Alesha langsung merebahkan kepalanya di atas meja, menggunakan tas sebagai bantalnya. Ia memejamkan matanya saat merasakan kantuk menghampirinya.
Masa bodoh dengan arahan selanjutnya, dia hanya ingin tidur. Pikir Alesha.
Tidur Alesha yang tenang terganggu saat mendengar suara seseorang dari sebelahnya. Suara itu berhasil masuk ke dalam bawah sadar Alesha.
“Hei, bangun. Kita disuruh kumpul ke lapangan sekarang.”
Bulu mata lentik Alesha bergerak perlahan, ia membuka matanya dan menatap si pengganggu tidurnya.
“Ayo, kalau lo telat bisa dihukum, ini baru hari pertama.” Gadis itu kembali mengingatkan Alesha, tak lupa dengan senyuman manis di akhir kalimatnya.
Alesha bangkit dan mengikuti si gadis berambut coklat itu. Keduanya berjalan beriringan menuju lapangan. Sejujurnya, Alesha sangat malas datang ke lapangan, tapi, karena ini hari pertama dan ia adalah murid baru, ia tak mau menarik perhatian murid yang lainnya.
Selama mereka berjalan menuju lapangan, gadis yang berada di sebelah Alesha tak berhenti berceloteh. Gadis itu terus mengatakan bahwa ia sangat senang karena diterima masuk ke SMA Cakrawala. Gadis itu sendiri bukan berasal dari keluarga kaya. Ia bisa masuk ke sekolah ini dengan bantuan beasiswa. Ya … dia hanyalah gadis yang beruntung.
“Oh, iya dari tadi gue bercerita gue belum kenalin nama gue.” Gadis itu berhenti di depan Alesha, mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Alesha.
“Gue Flanella Andini, lo sendiri siapa?” tanyanya.
Alesha menatap tangan Flanella yang terulur padanya. Ia mengangkat tangannya dan membalas jabatan tangan itu sambil mengucapkan namanya. “Alesha.”
“Just Alesha? Nama lo pendek banget,” kekeh Flanella.
Alesha memutar bola matanya jengah. Gadis di sebelahnya ini sangat cerewet.
“Senang berkenalan dengan lo, Alesha.”
Alesha hanya menanggapinya dengan deheman singkat.
Di lapangan, Alesha benar-benar bosan. Ia sama sekali tidak mendengar apa saja yang dikatakan oleh anggota OSIS di depan sana. Organisasi itu benar-benar organisasi yang akan Alesha hindari selama ia bersekolah di sini.
Mata Alesha mengelilingi sekitarnya, semua orang fokus mendengarkan, atau hanya pura-pura mendengar? pikirnya. Tanpa diketahui siapapun, Alesha mengeluarkan permen karet yang ada di sakunya. Hal yang selalu ia lakukan saat sedang bosan. Beruntung Alesha berada di barisan paling belakang, jadi yang ia lakukan tidak tertangkap di mata OSIS. Juga tidak ada yang berdiri di belakang untuk menjaga.
Bruk!
Semua mata menoleh ke arah barisan paling belakang saat mendengar suara jatuh yang sangat keras.
“Wow, gue yakin kepalanya benjol,” gumam Alesha sambil menatap seorang gadis yang langsung ditangani oleh pihak kesehatan sekolah.
Saat ia menatap kembali ke depan, tak sengaja matanya bertemu dengan tatapan pria yang tadi menabraknya di parkiran. Pria itu … menatapnya dengan sangat aneh.