Ethan melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan langkah hati-hati. Hatinya berdebar-debar, penuh dengan keinginan dan kecemasan. Sudah lama dia menanti momen ini, pertemuan dengan wanita yang bernama Amethyst.
Kamar itu dipenuhi dengan aroma bunga segar yang diselipkan Sonya ke setiap sudut ruangan. Cahaya lembut dari lampu meja menghiasi ruangan, menciptakan suasana romantis nan syahdu. Ethan memandang sekeliling dengan tatapan penuh kekaguman, menyerap setiap detail keindahan yang Sonya ciptakan.
Sonya, yang sudah menanti di tengah kamar, tersenyum manis ketika Ethan memasuki ruangan. Dia berjalan pelan mendekatinya, langkahnya lembut seperti seorang peri yang menyentuh tanah. Wajahnya berbinar dengan pulasan natural yang selalu menjadi andalannya.
Tanpa sepatah kata pun, Ethan menggapai tangan Sonya dan menariknya dengan lembut untuk mendekat. Mereka berdua saling tatap seakan mencari tahu setiap sisi masing-masing, memancarkan hasrat yang tersembunyi. Hati mereka berdetak seirama, serupa alunan musik yang indah.
“Tidak sia-sia aku membayar sangat mahal untuk ini,” gumam Ethan sambil terus memandangi wajah bidadari yang tengah berdiri dengan anggunnya.
Ethan merasakan tarikan yang tak terbendung. Tanpa bisa menahan diri lagi, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Sonya. Sentuhan lembut itu seperti menyentuh awan, penuh dengan kelembutan dan kehangatan. Mereka menyatu dalam sebuah ciuman yang penuh dengan keinginan dan hasrat yang mendalam.
Saat bibir mereka terpisah, Ethan menatap wanita misterius yang kecantikannya seperti batu Amethyst itu dengan mata yang penuh dengan kerinduan. Sonya tersenyum, dan kehangatan itu terpancar dari matanya. Mereka saling menggenggam tangan, tak ingin melepaskan satu sama lain.
Tanpa membuang waktu lagi, Ethan dengan aura mendominasinya menuntun sang wanita kembali ke peraduan. Memulai sebuah ritual panas yang menjadi tujuan. Namun, kali ini berbeda, setidaknya itu yang dirasakan Ethan. Amethyst memancarkan tatapan kerinduan.
“Lebih dalam, Ethan,” desah Sonya saat dia ingin merasakan kenikmatan yang juga menjadi candunya pada Ethan. Lelaki itu sanggup membuatnya terbang sejauh khayalan dengan permainan cintanya yang memabukkan.
Ethan merespons desahan Sonya dengan mengintensifkan gerakan-gerakan sensualnya. Dia mencium leher Sonya dengan gairah, membuatnya merasa seperti terbang di atas awan. Mereka terus bergerak bersama-sama, mengejar kenikmatan yang sama-sama mereka inginkan.
Tubuh Sonya seakan bercerita di setiap sentuhan dan gerakan dari Ethan dengan penuh gairah. Dia menikmati setiap momen itu dan merasa seperti waktu berhenti untuk mereka berdua. Dia merasa aman dan nyaman di pelukan Ethan, seperti dia adalah satu-satunya tempat yang membuatnya merasa seperti rumah.
“Rumah … bisakah aku menyebutmu sebuah rumah?” batin Sonya.
Ethan merasakan kebahagiaan yang meluap-luap saat dia merasakan Sonya merespons setiap gerakan dan sentuhan yang dia berikan. Dia merasa seperti mereka memiliki ikatan yang tak terpisahkan, seperti takdir yang telah menuntun mereka ke arah satu sama lain.
Setelah beberapa waktu yang panjang, gerakan mereka semakin cepat dan kasar, mencapai puncak klimaks yang sangat dinanti-nanti. Mereka terkulai lelah satu sama lain, dengan nafas yang terengah-engah dan tubuh yang berkeringat.
Ethan menatap Sonya dengan penuh kasih sayang, merasa beruntung memiliki wanita yang begitu cantik dan menawan. Sonya juga menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta, membuat hati Ethan meleleh.
“Siapa namamu?”
Sonya menatap Ethan dalam diam. Jari-jari mereka yang saling tertaut itu membuat satu tanda tersendiri bagi Sonya. Apakah boleh? Sekali saja dia jujur? hanya namanya saja?
Ethan mengeratkan pelukannya. “Kamu begitu istimewa bagiku,” ujar Ethan dengan suara yang lembut. “Jika kau tidak mau memberitahukan namamu, tidak masalah bagiku!”
Sonya tersenyum, merasakan kebahagiaan yang meluap-luap di dalam hatinya. Dia tahu bahwa dia juga merasakan hal yang sama untuk Ethan. Mereka saling memeluk satu sama lain, merasakan kehangatan yang memenuhi tubuh mereka.
“Namamu … benar Ethan?” tanya Sonya dengan lembut dan pelan, nyaris tak terdengar. Rasanya baru kali ini dia merasakan debaran yang cukup mengganggu di hatinya.
Pertanyaan tentang, bolehkah? motif? tujuan? alasan? penipu? dan lainnya membuat Sonya perlahan mengenyahkan pikiran lain tentang Ethan. Dia tidak mau membiarkan fantasinya lari ke tempat yang tidak seharusnya. Dia sangat tahu Cinta membuatnya lemah. Sangat lemah.
“Ya. Aku Ethan. Aku dokter spesialis otak. Aku tinggal di kawasan Selatan. Umurku 32 tahun. Aku pintar tapi nakal. Jika aku tak nakal aku tak ada di ranjang ini. Tapi, aku hanya bercinta dengan satu wanita yaitu kamu.” Ethan merasa perlu sekali mengulang jawaban ini. Total sudah sepuluh kali Sonya bertanya selama tiga bulan ke belakang.
Sonya mendengarkan semua ucapan Ethan yang dikatakan dalam satu kali napas. Membuat bulu mata lentik itu mengerjap sempurna dalam kebingungan. Lelaki satu ini unik di matanya. Lugas sekali dalam bertutur kata. Sampai dia terhenyak dalam satu waktu yang sama, lalu tertawa sesudahnya. Dia tahu Ethan mengejeknya karena pertanyaan itu terlalu sering dia lontarkan.
“Jadi kau nakal karena?” Entah kenapa Sonya malah bertanya tentang kenakalan Ethan. Seperti ada satu alasan atau pembuktian yang sama. Membandingkan hidup pemakai jasanya dengan dirinya tidak pernah sama sekali terbersit dalam pikiran Sonya. Tidak ada waktu untuk menyelami hidup orang lain di tengah kesusahan hidupnya sendiri.
Cukup lama Ethan menjawab pertanyaan Sonya. Perlahan semua ingatan tentang tekanan dalam hidupnya yang ditengarai oleh orang tuanya sendiri bermunculan di bayangan Ethan. Lalu muncul sosok Angela. “Karena perjodohan.”
Bagai palu keras menghantam di sudut hati Sonya. Seharusnya dia tidak memiliki perasaan seperti ini, tapi dia sendiri tidak tahu kenapa pernyataan Ethan malah membuat satu luka dalam yang tak berdarah. Membuatnya sesak seketika karena sekali lagi kenyataan hidup menyadarkannya.
“Aku tidak menginginkannya karena aku mau kamu.”
Sonya bangkit dari dada Ethan dan mengambil selimut putih itu untuk menggulung tubuh telanjangnya lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. “Ada apa, Sayang? Apa aku salah bicara?”
Tanpa memperlihatkan wajah terluka, Sonya terus berjalan. Namun, sekali lagi dia harus profesional, dia tidak boleh melibatkan perasaan di pekerjaan seperti ini. Dia sadar dan sekarang teramat sangat sadar. “Tidak. Kau tidak salah bicara. Aku hanya ingin mandi.”
Ethan hanya diam dan tak menjawab lagi. Wajah Sonya yang tadi sempat dilihatnya sangat sejuk dan teduh sudah berubah lagi menjadi sosok wanita lain. “Maaf, jika salah bicara.”
“Tidak. Aku hanya-” Sonya tidak jadi melanjutkan omongannya karena dia merasa percuma. Ethan menyukainya? Tentunya itu juga hanya rayuan gombal yang sering dia dengar dari semua pelanggannya yang lain.
Tidak lama kemudian terdengar suara ponsel, dan Sonya tahu itu suara ponsel Ethan. Dia berhenti sebentar di depan pintu kamar mandi untuk mendengar siapa yang telah menghubungi lelaki tampan itu.
“Dokter. Anda dibutuhkan di UGD segera. Ada korban kecelakaan tunggal, mengalami fraksi di kepala akibat benturan kepala.” Kata seseorang dari sambungan telepon. Ethan sengaja mengeraskan suaranya agar Sonya tahu, dia tidak pernah menyembunyikan apa pun.
“Aku akan kesana dalam waktu 10 menit.”
“Terima kasih dokter.”
“Aku akan menghubungimu saat aku sudah di ojek online,” sambung Ethan lagi sambil beranjak dari tempat tidur mereka.
Sonya seakan tersadar, bahwa Ethan sedang terburu. Dia langsung berbalik arah ke hadapan lelaki keturunan asing itu untuk memakaikan kemeja dan celananya. Tidak ada lagi rasa sungkan bagi Sonya untuk melakukan itu. Dengan mengikat erat selimut di badannya, Sonya membantu Ethan.
“Aku akan menghubungimu lagi.”