Rumah panggung itu berdiri di tengah kampung seperti seorang kakek tua yang tetap bertahan meski digoyang angin dan langkah kaki puluhan penghuninya. Kayunya telah memudar, tangganya berdecit setiap diinjak, dan kolongnya dipenuhi bayangan gelap yang menjadi tempat bermain anak-anak atau bersembunyi para kucing liar. Namun bagi mereka yang tinggal di dalamnya, rumah itu lebih dari sekadar kontrakan—ia adalah panggung bagi cerita kehidupan yang tak pernah sepi.
Di lantai atas tinggal Bu Raras, perempuan berusia empat puluhan dengan tubuh berisi dan rambut ikal panjang yang hampir selalu terurai. Rambut itu seperti memiliki kehidupan sendiri: mengembang saat lembap, melingkar saat dia bangun tidur, kadang menutupi sebagian wajah ketika angin sore menyapa jendela. Namun, siapa pun yang mengenalnya akan berkata bahwa hal paling mencolok dari dirinya bukanlah bentuk tubuhnya atau rambutnya—melainkan kesabarannya.
Bu Raras hidup bersama tiga mahasiswa rantau. Ada Gilang, anak teknik yang pendiam; Sasa, mahasiswi pendidikan yang rajin; dan Rafi, mahasiswa ekonomi yang sering begadang membuat laporan. Mereka menyewa kamar-kamar kecil di lantai atas, sementara Bu Raras menempati ruang paling ujung yang jendelanya menghadap pohon mangga.
Pagi itu, seperti biasa, suara ayam kampung dan aroma gorengan dari warung depan sudah memenuhi udara. Bu Raras menyiapkan teh hangat besar di teko kaca, sebuah ritual yang ia lakukan setiap pagi untuk para mahasiswa. Ia percaya, minuman hangat adalah cara paling sederhana membuat orang merasa diperhatikan.
“Bu, terima kasih tehnya,” ujar Sasa yang paling pagi bangun.
“Sama-sama. Hari ini kuliah pagi semua, kan? Sarapan roti dulu biar nggak lemas,” jawab Bu Raras sambil tersenyum.
Sasa mengangguk, lalu memandangi lantai yang bergetar pelan.
“Loh, mulai ribut lagi,” gumamnya.
Dari bawah terdengar suara langkah kaki berlari, lalu dentuman seperti sesuatu jatuh. Bu Raras menghela napas panjang. Begitulah setiap pagi—ibarat alarm alami yang tak pernah telat.
Namun meski begitu, ia hanya tersenyum tipis. “Namanya juga rumah panggung, Nak. Sedikit ribut itu sudah sepaket.”
Ia tidak tahu, pagi itu adalah awal dari serangkaian hari yang lebih rumit dari biasanya.
—