Bab 1: Sketsa yang Belum Usai
Jakarta malam itu terasa aneh. Langit penuh awan gelap, angin datang, kadang pelan, kadang kencang. Bau tanah basah ikut terbawa, bikin suasana makin berat. Rasanya, sebentar lagi hujan deras bakal jatuh di rooftop gedung tua ini.
Seorang pria berdiri diam. Wajahnya datar, kayak sudah nggak ada sisa emosi. Nafasnya pelan-pelan saja, sesekali terdengar. Dia lagi perang sama dirinya sendiri, berusaha menenangkan isi dadanya yang ribut.
Namanya Damian. Di dunia seni, dia bukan nama kecil. Orang kenal dia sebagai pelukis jenius. Lukisannya selalu laku di galeri-galeri besar. Banyak yang kagum sama caranya main kuas, sampai-sampai orang kasih julukan “tangan emas.” Tangan yang bisa bikin cat murah jadi karya bernilai jutaan.
Tapi malam ini, di atas atap tua, Damian cuma pria yang kehilangan segalanya.
“Aku harus ngapain sekarang? Benar-benar nggak ada jalan buat menebus semua ini? Atau memang aku cuma ditakdirkan diam di tengah kehancuran?” Pertanyaan itu seolah tertiup angin malam, melayang di sekeliling Damian.
Dia menggenggam kuas kering. Sudah dua jam dia cuma duduk, melamun di depan kanvas kosong. Tempat pelariannya. Matanya nggak berkedip, pikirannya entah terbang ke mana.
Tap! Tap!
Ada suara langkah kaki kecil di atas beton retak. Sunyi itu akhirnya pecah.
Brug!
Lintang menjatuhkan diri begitu saja, duduk di samping Damian tanpa tanya dulu. “Di sini lagi, Damian?” Katanya, sambil menoleh, matanya menelusuri wajah Damian yang selalu saja keras.
Damian malas menengok. “Tanpa aku jawab pun, kamu pasti tahu alasannya, kan?” Suaranya dingin. Tangannya makin erat menggenggam kuas.
“Aku tahu, kok. Tapi aku pengen dengar langsung dari kamu.” Lintang menarik napas, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. “Kamu mau terus kayak gini? Sampai kapan, sih?”
Lintang menatap Damian, matanya lembut. “Aku tahu, kamu selama ini cuma pakai topeng biar kelihatan kuat di depan orang. Tapi, Damian, kamu juga manusia, tahu. Udah, nggak usah mikirin omongan orang. Jadi aja dirimu sendiri.”
Damian akhirnya menoleh, matanya menusuk. Tatapan itu dingin dan tajam, cukup bikin Lintang diam sesaat.
“Kamu ke sini cuma buat buang-buang waktu, Lintang. Mending pergi. Jangan sok bijak, deh.”
Lintang nyengir tipis. “Aku ke sini bukan buat ceramah, kok. Aku cuma nggak tahan lihat kamu ngendon di tempat kayak gini tiap malam. Kalau kamu kangen dia, ya temuin aja. Bicara langsung,” katanya, nada suaranya tetap datar.
Damian menarik napas panjang, lalu tiba-tiba melempar kuas ke lantai. Suaranya keras, pecah di ruangan kosong itu. Rasanya kayak seluruh isi hatinya ikut tumpah.
“Kamu nggak ngerti apa-apa. Jangan ikut campur. Pergi sana. Cewek baik-baik kayak kamu nggak pantas ada di sini malam-malam sama orang kayak aku.”
Lintang diam sebentar, lalu menggeleng pelan. Rambut panjangnya ikut bergerak. Tatapannya tajam ke Damian. “Aku di sini karena aku mau. Jangan coba-coba suruh aku pergi. Kalau nggak suka, aku bisa diam. Tapi aku nggak akan pergi.”
Damian nggak jawab langsung, cuma berdiri perlahan. Dia melirik Lintang dari sudut matanya. Lintang ini memang keras kepala, apalagi soal belajar. Anak orang kaya, selalu tampil mewah, selalu bikin teman-temannya iri.
Dan entah kenapa, dia selalu tahu cara bikin Damian meledak emosi.
Pikiran Damian terpaksa balik lagi ke masa lalu yang sama sekali nggak pengen dia ingat.
Flashback On
Damian mengepalkan tinjunya, matanya terpaku ke ruangan putih polos itu lewat jendela kecil di pintu. Dadanya rasanya seperti ditusuk-tusuk sakitnya nyata.
Tangannya menekan dada yang sesak, dan bibirnya terus menggumamkan permintaan maaf. Air matanya jatuh, satu per satu, tapi tetap saja, ruangan itu nggak menawarkan secuil pun ketenangan.
Bunyi monitor detak jantung di dalam sana malah terasa seperti tembok tebal yang makin menjauhkan dia dari wanita yang dia cintai.
Sedih benar rasanya melihat tubuh itu terbaring selemah itu.
Kreet!
Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya keluar, wajahnya awalnya sedih, tapi berubah jadi marah seketika saat menatap Damian.
“Kau ke sini mau apa?” Suaranya berat, jelas-jelas mengancam. Matanya merah, mukanya letih banget.
“Om, aku cuma mau di sini buat dia. Tolong, biarkan aku jagain sampai dia sadar, aku—”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Damian. Dia terpaku, kaget, tapi dia nggak melawan sedikit pun.
Di depannya, ibu kekasihnya berdiri. Wanita itu menunjuk wajah Damian, matanya penuh amarah.
“Kau masih berani datang ke sini?! Dasar nggak tahu malu! Pergi sekarang juga!”
Damian memegang pipinya yang panas. Dia terima saja, walau hatinya berontak. Dalam benaknya, dia tahu dia memang pantas dapat balasan seperti ini atau setidaknya, itulah yang dia pikirkan.
“Tante, aku minta maaf. Aku benar-benar nggak pernah nyangka semua ini bakal terjadi sama dia. Ini bukan sepenuhnya salahku, aku—”
“Bukan salahmu?” Suaranya makin tinggi. “Kalau bukan salahmu, salah siapa? Tanpa kau, dia nggak akan tergeletak di rumah sakit seperti ini! Kau itu cuma numpang hidup, pelukis miskin, nggak punya masa depan! Harusnya kau sadar diri, Damian! Jangan pernah mimpi bisa bareng anakku!” Terus saja dia memaki, kalimatnya makin tajam.
Damian nyaris berlutut. “Ini memang salahku, Tante. Tapi kasih aku kesempatan buat memperbaiki semuanya. Aku udah janji akan selalu berusaha bikin dia bahagia. Kumohon, izinkan aku—”
“Nggak! Aku nggak bakal biarkan kau sentuh anakku lagi! Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki yang cuma bisa melukis? Lihat dirimu, Damian! Pergi sekarang juga!”
Cacian itu nggak berhenti, sampai akhirnya Damian menyerah. Dia membalikkan badan, bahunya turun, pergi meninggalkan mereka. “Jangan pernah datang lagi, atau kau akan menyesal!” teriak wanita itu, sementara suaminya hanya bisa mencoba menenangkan.
Damian nggak menoleh ke belakang, tapi dia berhenti sebentar di gerbang rumah sakit. Dia mengepalkan tangannya, menatap ke jendela lantai dua.
“Aku minta maaf. Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu kayak gini. Aku harus pergi karena mereka benci aku.” Napasnya berat. “Semoga kamu cepat sadar dan bisa nemuin aku lagi…”
Dua minggu berlalu.
Di ruang perawatan yang dingin, perempuan mungil itu akhirnya membuka matanya perlahan. Keluarganya langsung bersorak pelan, lega dan bahagia. “Nak, kamu sudah sadar! Ibu senang sekali, nak, akhirnya kamu bangun juga,” ucap ibunya, suaranya lembut—jauh berbeda dari nada tajamnya saat bicara soal Damian.
“Bu… aku boleh tanya sesuatu?” Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
“Tentu, sayang, apa saja.”
“Di mana Damian? Kenapa dia nggak datang? Aku pengin ketemu dia,” matanya menatap bingung ke arah ibunya.
Mendadak, ruangan itu jadi sunyi. Semua orang saling lirik, tak ada yang bicara.
Ibunya akhirnya tersenyum tipis, senyum yang terasa dingin. “Damian? Dia sama sekali nggak pernah datang, Nak. Lupakan saja dia.”
Gadis itu membisu. Air mata pelan-pelan jatuh di pipinya yang pucat. “Ibu serius? Damian nggak pernah datang?”
“Serius, sayang. Lupakan dia. Dia itu laki-laki nggak bertanggung jawab. Nggak penting, jangan pikirin lagi. Dia langsung pergi begitu tahu kamu kecelakaan. Betul, kan, Yah?” tanya ibunya, suaranya tajam.
Ayahnya mengangguk sambil pura-pura tegas. “Betul. Ibumu benar. Damian itu bukan orang baik. Kamu mending fokus sama sekolah dan masa depanmu.”
Hati gadis itu langsung sesak. Matanya terpejam erat. “Aku mau sendiri, Bu. Tolong… keluar dulu.”
Begitu orang tuanya pergi, dia menangis sekeras-kerasnya. Tangisannya menggema di ruang yang terasa makin dingin. “Damian, aku nggak ngerti… Kenapa kamu tega sama aku? Apa salahku?”
Dengan tangan gemetar, dia meraih ponselnya di samping ranjang. Hatinya sudah hancur. Ia cari nama Damian, lalu tanpa ragu blokir nomornya. “Aku nggak mau kenal kamu lagi, Damian. Kamu bikin aku kecewa banget…”
Di tempat lain, Damian memandangi ponselnya, bingung dan gelisah.
Pesan-pesannya nggak pernah terkirim. Teleponnya selalu dialihkan.
“Ada apa ini? Kenapa aku nggak bisa hubungi Ayu sama sekali?”
Damian sempat nekat ke rumah sakit lagi, tapi petugas cuma bilang Ayu sudah dipindahkan ke rumah sakit lain. Nggak ada penjelasan apa-apa.
Dunia Damian rasanya runtuh. Dia kehilangan jejak Ayu, dan alasan kenapa dia diblokir itu jadi misteri yang terus menghantuinya tiap malam, di atap apartemennya.
Flashback Selesai
Bersambung…
#20harimencarimaaf
#Day1
#eventliterasi
#novelgoodcompetition