Menikahi Bekas Suami Sahabatku

Bab 1 Suami Bekas

“Eh … eh, Bu-Ibu, liat tuh, suaminya Mbak Maya lagi nyapu teras. Saya kok Ndak habis pikir, ya, Mbak Maya kan cuantik, pinter, dari keluarga mapan, orang tuanya juga terpandang di sini, tapi kok mau-maunya lho nikah sama suami orang, eh, maksudnya bekas suami sahabatnya.”

 

“Hush! Bu Joko hati-hati kalau ngomong, nggak enak kalau sampai didengar Mbak Maya. Dia kan baik orangnya, nggak pernah nyenggol orang lain.”

 

Itulah gunjingan-gunjingan yang selalu kudengar hampir tiap pagi ketika membeli sayuran di tukang sayur keliling yang biasa “mangkal” di dekat rumah kami.

 

Namaku Maya Anindita, wanita yang bersuamikan bekas suami sahabatku, Tantri. Dan karena kata “bekas” itulah satu per satu masalah mulai menghampiriku.

 

“Mas, kamu nggak kerja? Udah jam 8, lho ini.” Ujarku menghampiri Mas Dendi yang masih asyik memegang gagang sapu membersihkan teras rumah kecil kami.

 

“Nantilah, Sayang. Baru jam 8, belum jam 10.” Kekehnya melanjutkan kembali kegiatannya.

 

Entah apa yang Tantri pikirkan sampai-sampai ia meminta cerai pada laki-laki sebaik Mas Dendi. pernikahan mereka hanya bertahan selama setahun kurang 7 bulan, padahal pesta yang diadakan sewaktu mereka nikah sangat mewah.

 

“Yasudah, aku mandi dulu, ya, Mas. Udah telat, nih.”

 

“Ya, mandilah, Sayang. Nanti bisa kena SP lagi kalo kamu telat,” ucap Mas Dendi dibarengi senyum hangat.

 

Aku tak mengira jika pada akhirnya kami berjodoh, padahal awalnya aku dan Mas Dendi hanya sebatas teman ngobrol biasa, walau kadang ia juga suka curhat tentang hubungannya dengan Tantri kala itu. Tapi aku sama sekali tak pernah ada pikiran jika pria yang selama ini curhat padaku akan menjadi teman hidupku. Namun, meski demikian aku masih bertanya-tanya kenapa Tantri memilihku untuk menikah dengan mantan suaminya? Apakah karena mereka tak bahagia atau belum dikaruniai anak atau ….

 

“Sayang … Sayang … kamu belum selesai juga?”

 

Ketukan pintu dari Mas Dendi mengagetkanku. Aku bahkan belum menuangkan shampo yang ujungnya telah kugunting.

 

“I-iya, Mas. sebentar.” Buru-buru aku mandi agar tak memperlambat laju Mas Dendi karena kami beda kantor. Kantor Mas Dendi lumayan cukup jauh dari rumah kami, dan kantor tempatku mencari nafkah cukup dekat.

 

“Maaf, ya, Mas lama.” Ucapku keluar dengan rambut yang masih basah karena terburu-buru.

 

Mas Dendi kulihat tertawa geli saat melihatku keluar kamar mandi. Aku memiringkan kepala bingung apa yang sedang ditertawakan suamiku.

 

“Kenapa, Mas? Ada yang lucu?” tanyaku kulihat diriku sendiri.

 

“Ini ….” Tangan Mas Dendi menjamah rambutku, ternyata  masih ada sisa shampo yang belum terbilas dengan bersih.

 

“Astagaaaa!! Bagaimana bisa?” Aku malu setengah mati. Wajahku merah padam dan langsung bergegas ke kamar untuk ganti baju.

 

Di kamar, degup jantungku sangat kencang sampai aku tak bisa mengatur ritmenya. Entah sudah kali ke berapa Mas Dendi membuat jantungku hampir copot. Meski kami telah menikah, tapi pernikahan kami masih seumur jagung, baru dua tahun rumah tangga ini berjalan. Tapi aku mengenal Mas Dendi sudah hampir lima tahun sejak masih menjalin hubungan dengan Tantri.

 

“Ya Tuhan, jika Mas Dendi selalu bersikap seperti itu, lama-lama jantungku copot.” Ujarku menuju lemari pakaian yang ada di ujung kamarku. Pekerjaanku sebagai staf m

Marketing di salah satu majalah wanita memang memberikan keuntungan padaku, setidaknya aku bisa belajar menjadi perempuan pada umumnya, karena sejak kecil aku sangat tomboy, bahkan untuk pakai rok saja, aku harus bertengkar dengan ibuku.

 

“Sayang, kamu udah selesai ganti bajunya?”

 

“Sudah, Mas.”

 

Aku gegas membuka pintu kamar kami dan bergantian memakainya. Terdengar aneh, ya? Pasangan suami-istri yang menikah secara sah, tapi enggan berganti pakaian bersama? Ini memang keinginanku, karena aku belum terbiasa, dari teman menjadi pasangan, aku masih benar-benar belum percaya.

 

“Mas mau sarapan apa?” tanyaku sebelum meninggalkan kamar.

 

“Tolong beliin ketoprak aja, Sayang.”

 

Aku mengangguk. Tak perlu buang waktu karena waktu terus berjalan, buru-buru kumelangkah meninggalkan rumah mungil dan nyaman, kulihat masih ada tukang sayuran langgananku di sana. Seperti biasa, selalu setia ditemani ibu-ibu komplek perumahan tempat tinggal aku dan suami.

 

“Mau ke mana Mbak  Maya, kok buru-buru amat?” salah seorang tetanggaku menyapaku.

 

“Mau ke depan, Bu. Beli ketoprak buat suami saya,” timpalku tersenyum.

 

Entah siapa yang memulai atau ada apa dengan para ibu-ibu komplek tempat tinggalku, salah satu dari mereka ada yang latah dan mengatakan suamiku adalah suami bekas.

 

Mendengar latahan salah seorang ibu-ibu yang ada di tukang sayuran tersebut, aku hanya bisa tersenyum pasi dan cepat-cepat pergi.

 

“Memang apa salahnya, sih dengan mantan suami orang? Kayak mereka semua yang ngomong suci aja!” Aku sangat kesal sampai nggak sadar Mas Dendi memperhatikanku.

 

“Kenapa, sih, Sayang, kok ngedumel gitu? Masih pagi, lho ini.”

 

“Mas Dendi?” aku sedikit terkejut ternyata suamiku sedang duduk di kursi reot ruang tamu kami.

 

“Sini … sini, cerita sama Mas.” Tepuk Mas Dendi pada kursi kosong di sebelahnya.

 

Kuturuti ucapan suamiku, meski masih kesal dan geram dengan omongan ibu-ibu lambe turah tadi, aku berusaha untuk tak bicara dengan nada tinggi dengan Mas Dendi.

 

“Kenapa … kenapa, coba cerita.” Ujar Mas Dendi mengelus lembut punggung tanganku.

 

“Aku kesel banget, Mas sama tuh mulut ibu-ibu komplek sini! Mereka tuh punya mulut nggak dijaga apa, seenaknya main ngomong nggak dipikir!” kesalku tanpa sadar nada bicaraku meninggi.

 

“Emang mereka ngomong apa?”

 

Aku langsung diam. Antara ingin memberitahu atau tidak, karena bagaimanapun juga aku harus menjaga perasaan suamiku.

 

“Itu ….” Kuggigit bibir bawahku. “Mas, udah jam setengah 9, kamu nggak berangkat? Udah siang banget, lho ini. Aku juga harus berangkat.” Kilahku dengan cepat berdiri untuk menghindar dari pertanyaan Mas Dendi.

 

“Maya …” panggilnya dengan lembut.

 

Aku tak tega membalik badanku dan pada akhirnya berdiri memunggungi suamiku. Kutahan air mataku supaya Mas Dendi tak tahu apa yang orang-orang ucapkan tentangnya, kami, dan pernikahan ini.

 

“Bukan apa-apa, Mas. Mereka cuma iri karena kita keluarga kecil yang bahagia meski hidup sederhana,” ucapku.

 

Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajah Mas Dendi karena tak berani menatap wajahnya.

 

“Nggak sopan, lho memunggungi orang yang lagi bicara sama kamu, apalagi suamimu yang sedang bicara,” ujarnya dengan nada lembut dan pelan.

 

Mau tak mau akhirnya aku berbalik badan dan pecahlah tangisku di hadapan Mas Dendi.

 

“Sayang! Kamu kenapa? Kok nangis?” Mas Dendi langsung panik dan memelukku.

 

“Mereka jahat, Mas! Mereka semua keterlaluan! Apa salah jika aku menikahi suami sahabatku sendiri? Toh, kalian sudah pisah, kan? Tapi kenapa mereka sering mencibir kamu!!” aku menangis sekencang-kencangnya, tak peduli dengan make-up yang mulai luntur di wajahku.

 

“Jadi karena ucapan mereka kamu begini?”

 

Aku mengangguk. “Mas juga kenapa diam aja, sih? Kenapa kamu nggak kasih tahu mereka siapa Mas sebenarnya, biar mereka melek, Mas!” ujarku kesal.

 

Mas Dendi yang biasanya selalu punya alasan untuk tak mengungkap identitasnya kini diam. Aku pun sedikit mendongak untuk melihat ekspresi wajah suamiku. Begitu terkejutnya aku saat melihat mata kemerahan dan rahang pipi yang mengeras.

 

‘Apakah Mas Dendi sedang marah atau ia akan mengatakan yang sebenarnya pada orang-orang?’ batinku.

 

“Mas, apa kamu mau jujur ke orang-orang yang sudah menghina kamu?”

Lates Chapters

Bab 15 Kenangan Lama antara Mantan Suami dan Istri

“Ayo dimakan, kok cuma diliatin aja, sih. May, kamu mau yang mana? Kuambilkan, ya?” Tantri bersiap menyendokkan nasi untukku. Tapi kutolak halus karena aku tak…

Bab 14 Gelagat Aneh Suamiku

Keesokan paginya, aku bangun lebih dulu. Wanti-wanti jika Mas Dendi pergi seperti kemarin. Kutengok sebelah kiriku, suamiku masih terlelap di alam mimpinya, meski sudah masuk…

Bab 13 Undangan Makan Malam

“T-tidak mungkin!”    Aku membulatkan kedua mata. Bukan suamiku yang keluar dari dalam mobilnya. Tapi seorang laki-laki muda nan tampan seperti Adnan.   “Siapa dia,…

Bab 12 Cemburu dengan Mantan Istri

Otak dan tanganku benar-benar tak bisa diajak kerjasama hari ini! Pekerjaanku kacau! Beberapa kali kesalahan yang harusnya tak kubuat malah banyak kulakukan. Berapa kali mataku…

Bab 11 Materi Itu Penting, Mas!

Mood-ku seketika langsung down saat bertemu dengan adikku, Gita di restoran tadi. Adnan pun selama di perjalanan menuju kantor tak banyak bicara, dan aku sangat…

Bab 10 Jangan Bandingkan Aku!

Aku sangat terkejut saat melihat Tantri keluar dari mobil mewah itu. Apakah dia yang memiliki restoran ini? Kulihat Adnan semangat sekali mengambil foto-foto Tantri. Aku…

Bab 9 Berita Menggemparkan

Beberapa minggu ini otak dan fisikku memang terkuras habis karena harus bolak-balik ke rumah sakit dan juga melayani berbagai permintaan ibuku, tapi semua rasa itu…

Bab 8 Uang Kaget, Mas?

Mataku membulat lebar saat tahu apa isi amplop coklat yang diberikan kedua laki-laki tadi. Apa aku sedang bermimpi atau ini sebuah delusi?   Aku kembali…

Bab 7 Aku Tak Terima Hinaan Keluargaku

Beberapa hari sudah Bapak berada di rumah sakit. Dan selama itu pula ibuku selalu menghubungiku atau mengirim pesan supaya dibelikan makanan, minuman, dibawakan baju, serta…

Bab 6 Hinaan Keluarga untuk Suamiku

Aku memberanikan melihat wajah Mas Dendi atas ucapanku soal dana cadangan kami. Jujur, aku takut kalau-kalau Mas Dendi marah karena uang itu kupakai tanpa sepengetahuan…

Bab 5 Mulai Curiga

Kuputuskan untuk kembali ke rumah lebih awal. Salah satu keuntungan lain yang kudapat dari bekerja sebagai orang lapangan adalah bisa pulang kapan saja, tentunya setelah…

Bab 4 Kena Omelan

Hari ini aku mengayun langkahku ke kantor lebih awal dari biasanya. Mas Dendi pun berangkat lebih awal karena harus kembali ke Bogor urusan izin pertambangan.…

Bab 3 Bertemu Mantan Istri

“Tantri?” ucapku dan Mas Dendi bersamaan. Kami saling tukar pandang, Tantri, sahabat sekaligus mantan istri Mas Dendi tiba-tiba saja hadir di depan kami.   “Hei,…

Bab 2 Cibiran Tetangga

“Aku berangkat dulu, Sayang. Udah nggak usah kamu pikirkan ucapan para ibu-ibu. Kan mereka memang seperti itu dari sananya.”   'Kamu ngomong enak, Mas. Tapi…
error: Content is protected !!