Membawa Dua Anak Kiai

Bab 1. Terancam Dijual

“Oh jadi ini ini yang dimaksud Pak Broto, penampilan kayak ustadzah tapi jual diri untuk melunasi hutang? Pas pinjam duitnya halal, masa ngembaliinnya pakai uang haram?”

 

“Ditawarin kerjaan nggak mau, eh malah buka baju.”

 

Selentingan itu terdengar tak hanya dari satu dua warga kampung, tapi sepanjang ia berjalan telinganya mendengar ucapan yang menyakitkan itu. Ia diam saja, bukan takut untuk membalas, tapi Ia sayang tenaga dan mulutnya. Daripada ia harus membalas ucapan mereka, ia lebih memilih menggunakan mulutnya untuk istighfar. 

 

Semua akan berlalu seiring berjalannya waktu, setelah melewati mulut-mulut pendosa yang kejam. 

 

“Tadi saya lihat ada bayi loh di mobil kamu! Jangan bilang selama ini ternyata kamu hamil duluan, ya?” sahut warga lain, saat melihat Humaira lewat di depan rumahnya. 

 

“Oh, jadi gamis lebar yang dia pakai tuh sengaja buat nutupin perut buncitnya. Aduh-aduh, kalo saya sih malu ya pakaian ustazah dijadiin alibi gitu,” timpal tetangga yang lain. 

 

Fitnah dan hujatan tak henti-hentinya menghujam kepolosan seorang gadis berhijab lebar yang baru saja keluar dari mobil yang ia sewa. 

 

Sebagian selentingan para tetangganya itu memang benar adanya. Ya, benar. Memang ada bayi kembar laki-laki di mobilnya. Tapi itu bukan bayi yang gadis itu lahirkan. Melainkan bayi yang harus ia jaga dan sembunyikan mulai sekarang. 

 

Humaira, gadis miskin yang berusaha melunasi hutang orang tuanya, tetapi terancam dijadikan porstitusi sehingga dia terpaksa menerima tawaran menyembunyikan bayi kembar bibinya dengan imbalan uang.

 

Semua kisah bermula dari semalam. 

 

 

***

 

“Humey, buka pintunya! Jangan sembunyi kau, manusia miskin. Aku tahu kau di dalam. Buka pintu atau ku bakar rumah reotmu ini!” 

 

Anak buah Pak Subroto tak henti-hentinya menggedor pintu yang sudah lapuk dan sedikit rusak. Mereka seakan tak punya niatan untuk mempergunakan sopan santun dan attitude mereka pada sesama manusia. Kegaduhan yang mereka buat di siang bolong membuat beberapa warga turut keluar rumah. Seakan tidak peduli dengan keberadaan para warga yang menyaksikan sikap brutalnya, Pak Subroto dan dua anak buahnya menambah volume gedoran dan suara. 

 

Keadaan di dalam rumah berbanding terbalik dengan di luar. Seseorang yang berada di salah satu kamar itu tengah ketakutan seraya tangan yang terus bergerak mencari barang yang barangkali bisa menjadikan jaminan. Meskipun ia mengetahui bahwa tak ada benda berharga yang bisa ia suguhkan pada rentenir di luar sana, ia masih percaya keajaiban Tuhan. Ia berharap bahwa ada sesuatu yang selama ini terselip dan terlupakan olehnya. 

 

“Baiklah, akan ku hadapi mereka. Semakin lama mereka semakin berisik.” Humaira mengambil sebuah map lusuh dari lemari kamarnya. Mengenakan kembali kerudungnya yang masih basah akan keringat. Ia baru saja kembali dari bekerja. 

 

Meski ia ragu rumah reotnya ini bisa ia jadikan jaminan sementara. Tapi ia tidak punya pilihan lain. 

 

Humaira dengan gerakan secepat kilat ia berbalik badan dan berjalan menuju ke pintu utama. 

 

“Wah, wah akhirnya kau muncul juga gadis kecil! Benar-benar tidak tahu diri kau, ya!” 

 

Itulah kalimat yang terdengar di telinga Humaira sebelum ia membuka pintu utama. Matanya bertabrakan dengan Pak Subroto dan kedua antek-anteknya. Beberapa tetangga yang masih bertahan di teras rumah masing-masing pun masuk ke dalam penglihatannya. 

 

“Saya minta maaf Pak Broto. Untuk saat ini saya belum bisa membayar hutangnya. Beri saya waktu tiga hari untuk setidaknya membayar setengah dari hutang mendiang bapak saya. In shaa Allah paling lama tiga hari.”

 

Mendengar penuturan dari Humaira bukannya tenang, Pak Subroto dan kedua pria berbadan besar itu seketika tertawa. Mereka seolah mengejek janji yang terlontar dari mulut gadis berkerudung lebar itu. 

 

“Apa kau pikir utang bapakmu itu sejuta dua juta? Apakah kau juga berpikir bahwa ini pertama kali kau menunggak saat waktunya membayar hutang? Apakah kau berpikir anak buahku ini tidak cukup untuk mengobrak-abrik rumahmu ini? Sengaja aku datang langsung ke sini untuk memberikan pelajaran kepadamu. Jangan menjadi pengecut. Berani berhutang, tidak mampu membayar.”

 

“Maaf Pak, saya janji akan menyicil dalam tiga hari. Saya mohon!” pinta Humaira dengan wajah memelas. 

 

Pak Subroto bergeming. Memindai dari atas hingga bawah Humaira dengan tangannya yang berkacak di pinggang. Air mukanya tak semurka tadi, nampaknya amarahnya sedikit mereda mendengar janji yang diberikan Humaira. Apakah benar begitu? Ah tentu saja tidak. 

 

“Kalau kau ingin hutang orang tuamu lunas, kau bisa loh melakukannya.” Pak Subroto tiba-tiba memajukan tubuhnya, “Tubuhmu bagus, kau cantik, kulitmu mulus. Gunakan dan manfaatkan itu dengan bijak. Bekerja saja di rumah prostitusi. Kau bisa melunasi hutang orang tuamu dengan cepat, bagaimana? “

 

“Tolong jaga sopan santun Anda , Pak Broto!” 

 

Humaira yang tadi sejenak mematung syok mendengar bisikan dari Pak Broto dengan cepat mendorong tubuh rentenir itu dari tubuhnya. Ia sedikit terkesiap saat mendengar perkataan tidak sopan itu. 

 

“Hahaha, kau sangat berani seperti biasa. Ayolah, jangan tersinggung. Sekarang bukan waktunya memikirkan harga diri. Cepat atau lambat kau pun akan melakukan pekerjaan yang kau anggap hina itu.” Pak Broto tergelak sambil memegangi perutnya yang buncit. 

 

Humaira masih diam dengan tatapan yang sama. Detik ini Humaira memberanikan diri untuk memberikan tatapan tajamnya pada Pak Subroto karena dinilai bersikap kurang ajar padanya.

 

“Tanpa mengurangi rasa hormat saya Pak, saya minta untuk tidak menghina saya, dalam urusan hutang piutang ini. Urusan Pak Broto dengan saya hanya menyangkut hutang. Jangan menimbulkan rumor, atau menyuruh saya melakukan hal yang rendah seperti itu,” kata Humaira dengan tenang, namun tegas. 

 

“Kalau begitu, masuk dan ambil uangmu! Kalau tidak ada, kau yang aku bawa.” 

 

“Bapak bisa ambil ini sebagai jaminan!” Humaira menyerahkan sertifikat rumah, harta satunya yang saat ini masih tersisa. Terpaksa beliau gadaikan untuk keselamatan dirinya. 

 

“Apa kau pikir aku mau menerima sertifikat rumah yang sudah pantas aku jadikan kandang ini? Untuk hewan peliharaanku saja ini terlalu buruk. Apa kau bermaksud menghinaku, dasar miskin!” 

 

Dengan sisa keberanian yang ada, Humaira maju dan mengambil paksa sertifikat rumah yang ada di genggaman Pak Broto. 

 

“Jika memang rumah saya tidak setara dengan hutang orang tua saya, kembalikan saja. Tidak perlu menghina serendah itu. Semua manusia di muka bumi ini sama. Jika esok hari saat matahari setinggi tiang saya belum datang untuk membayar, silakan datang dan bawa saya.”

 

Pak Broto menyeringai senang, esok pagi ia bisa mencicipi apa yang berada dibalik kerudung lebar gadis muda dihadapannya. Ia memberi isyarat pada kedua anak buahnya untuk mundur. 

 

“Jangan habiskan waktumu untuk hal yang tidak berguna. Lebih baik segera siapkan diri untuk ku jemput esok pagi, ahahaha,” sahut Pak Broto dengan kepercayaan diri yang tinggi. Beliau yakin, Humaira tak akan mendapatkan apa-apa hingga esok hari. 

 

Selepas kepergian Pak Subroto dan kedua antek-anteknya, suasana kembali hening. Para tetangga yang tadinya secara terang-terangan menonton pun sudah membubarkan diri. Tinggalah Humaira seorang diri. Seusai menutup pintu. Perlahan tubuhnya luruh di atas tanah berlapis tikar. Air matanya jatuh begitu saja. 

 

Ia tidak punya ide sama sekali akan melakukan apa. Awalnya ia berencana meminjam sedikit uang di bank untuk menutup bunga. Tapi sekarang ia membutuhkan jumlah uang yang lebih besar untuk menutup seluruh hutang tersebut. Humaira menghela nafas panjang. 

 

“Ya Tuhan, berikan hamba petunjuk. Sungguh saya tidak mau melakukan pekerjaan hina di tempat prostitusi!”

 

“Saya mohon dengan segala daya dan upaya hamba selama ini. Wahai Tuhan Ku. Berikan hamba petunjuk,” rintih Humaira pelan. 

 

Samar-samar Humaira merasakan ponsel bututnya bergetar. Begitu selesai melakukan sujudnya, ia mengeluarkan benda tersebut dari saku jaketnya. 

 

Ada sebuah pesan masuk. “Bibi Aisha?” gumam Humaira penasaran. Selama ini ia tidak pernah bertukar kabar dengan Bibinya itu. 

 

[Humey, datanglah padaku hari ini. Aku bisa menyelesaikan semua masalahmu saat ini juga.] 

 

“Apa maksudnya ini?”

Lates Chapters

Bab 6. Dasar Pria Tidak Sopan

Bab 6. Dasar Pria Tidak Sopan   BRUK!   Tidak disangka oleh siapa pun. Humaira. Ia ada di sana, di sepersekian detik terakhir. Mendorong tubuh…

Bab 5. Kejahatan Yang Mengintai

Tak ingin berlama-lama di kampung yang memberi kenangan buruk ini, Humaira segera kembali ke rumahnya untuk mengemas barang yang ia rasa berharga untuk terakhir kali.…

Bab 4. Menggoreng Tukang Julid

  Tidak mau ambil pusing dengan segala overthinking-nya semalam. Humaira segera bergegas bersiap untuk pergi.    Ia akan kembali ke rumah sakit untuk berpamitan dan…

Bab 3. Marga As-Sharif

Kedua bola mata Humaira rasanya hampir keluar dari tempatnya. Gadis lusuh itu menggosok kedua telinganya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.    "Apa-apaan respon mu…

Bab 2. Tawaran Bibi Aisha

Begitu mendengar kabar bahwa bibinya mungkin bisa membantu persoalan hutangnya yang pelik, Humaira tanpa pikir panjang mengemasi barangnya. Ia membawa pakaian dan beberapa benda usang,…
error: Content is protected !!