Pedihnya Luka Yang Kau Berikan

BAB 1 TOLONG LEPAS

“Jangan lompat, kumohon!” teriaknya, tak memberikan cela untuk Damar terlepas dari dekapannya.

“Siapa kamu?! Lepas! Lepaskan aku! Biarkan aku mati! Biarkan aku matii!!” Damar berontak dalam pelukan erat wanita yang mengenakan blazer dan cardigan itu. Sementara si wanita menggelengkan kepalanya dengan kuat bertanda isyarat membantah perintah Damar.

“Siapa aku, itu gak penting. Tapi sebagai manusia, aku merasa tidak tega membiarkan kamu mati sia-sia di jurang itu.” Bersuara lembut membuat siapa pun yang mendengar dapat merasakan ketulusan wanita itu.

Kendaraan yang lewat sudah terhitung jari. Apalagi daerah itu curam berliku, berhiasakan tebing dan jurang serta penerangan jalan sangat minim.

“Apa pedulimu Hah?! Aku saja sudah menyerah dengan hidupku sendiri,” bentak Damar kemudian diakhiri dengan suara lirih diujung kalimatnya.

“Seperti kataku, aku tidak tega melihat manusia mati konyol, apalagi kamu mati di depan mataku.” Kalimat yang terdengar tajam namun bernada candaan. Dia yakin bahwa lelaki yang dipelukannya ini pasti sedang memasang raut putus asa, jelas sekali dari nada suaranya.

“Lepas! Aku tidak butuh belas kasihanmu!” Wajah Damar berubah semakin masam mendengar ucapan itu.

“Aku tidak akan melepaskanmu!” Pelukan yang semakin erat dan terlihat wanita itu masih bersikeras pada keputusannya.

“Lepaaass!!” Damar menjerit sekali berharap wanita itu mau melepasakannya. Namun jeritan demi jeritan yang terus- menerus sampai akhirnya kelelahan sendiri lantas menangis. Perempuan itu mendekap kepala Damar penuh iba.

“Namaku Luna. Aku bukan pendeta atau pun biksu. Hanya wanita suka pergi clubbing, minum alkohol dan melakukan hal maksiat lainnya. Tapi aku tahu bahwa bunuh diri itu sangat dibenci oleh Tuhan kita. Bukan menyelesaikan masalah, tapi malah sebaliknya. menurut legenda konon, Katanya rohnya nggak akan terima oleh langit dan bumi. Jadi hantu penasaran.” Nada yang diselingi candaan saat memperkenalkan dirinya untuk me cairkan suasana sembari memberi nasihat. Namun hal itu malah terdengar seperti lelucon ditelinga Damar.

Raut wajah Damar nampak acuh tak acuh. “Lepaskan aku, kumohon …!” serak pelan suaranya.

“Aku tidak akan melepasmu sebelum kamu berjanji untuk berubah pikiran.” Luna menengaskan setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya.

“Ya. Aku tidak akan bunuh diri malam ini. Tapi tidak tau kalau besok malam.” Damar menyahut lelah, sembari tersenyum getir.

Luna menangkap ucapan Damar sontak tersentak tak percaya. “Jika bagitu, mari kita seperti ini saja, sampai besok malam aku akan terus memelukmu di sini.” Mungkin itu terdengar gurauan bagi Damar. Akan tetapi, Luna sebenarnya tidak main-main dengan perkataannya.

“Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu!” Damar tengadah menatap tajam wajah Luna yang ternyata terlihat seperti seorang wanita blasteran Sunda.

Tanpa Luna sadari jari jemari miliknya menyapu lembut tepi wajah Damar yang halus. “Biar kita sama-sama gila.” Dia lantas tersenyum tipis.

Damar tertegun sejenak merasa kelembutan yang diberikan Luna padanya seolah perasaan sama ketika bersama mendiang calon istrinya. Kemudian ia tertunduk dan menangis lagi di dalam dekapan Luna.

Sejak malam itu, Damar dan Luna menjadi dekat, apalagi setelah Damar dipindahkan tugaskan dari Tarout ke Madano untuk mengisi jabatan CEO di PT Setosa. Hingga akhirnya di satu hari, keduanya sepakat mengikat cinta dan janji saling setia. Bahkan Damar telah melamar Luna. Pernikahan mereka digelar dua bulan kemudian sejak pertemuan itu.

***

Jumat siang selepas sholat Jumat. Seorang pria berusia dua puluh empat tahun duduk di singgasana-nya. Di lantai tertinggi PT Setosa, ruang kerjanya berada, dari luar jendela terlihat pemandangan kota Minahasa yang padat dan mulai didominasi gedung-gedung pencakar langit. Pria itu mengenakan vest dengan kemeja polos dilengkapi dengan dasi. Di atas mejanya yang terbuat dari kayu jati tertera sebuah papan nama kecil bertuliskan Damar Malik.

Arnol, sekrestarisnya, menyodorkan sebuah map hijau yang berisi surat persetujuan dari Damar yang baru dibuat untuk menjadi sponsor dalam sebuah projek baru yang akan digelar megah di Hotel Minahasa Manado.

Damar membubuhkan tanda tangan dengan cepat. “Hari ini jadwal saya apa saja?” tanya Damar seraya menyodorkan map itu pada Arnol.

Arnol membuka Note dalam tabletnya. “Nanti sore jam tiga, ada meeting dengan salah satu CEO yang merupakan calon investor dari PT Indara.”

“Oke. Untuk jadwal minggu depan, ingat kamu atur ulang semuanya!”

Arnol manggut-manggut paham. Kemudian pamit keluar dari ruang pimpinan. Damar kembali sibuk berkutat dengan puluhan berkas yang harus dievaluasi. Jarum jam pun seakan-akan bergerak dengan cepat sehingga tak terasa sudah menunjukan jam pulang.

*****

Minggu selanjutnya. Siang menjelang dhuzur, di sebuah kafe romantis dengan langit-langit kayu tinggi dan desain semi-terbuka mereka masuki. Bila Damar berceloteh dengan kekonyolan rekannya ketika masih bertugas di Tarout, maka Luna berceloteh tentang persahabatan di masa kecilnya.

“Dia kerja di mana selain jadi pemain band kafe?” tanya Damar. Kemudian ia meneguk nutello chocolate yang tinggal separuh, sedangkan Luna memakan snack.

“Cuma jadi OB gitu.”

“Ohh… Gajinya lumayan, lah,” kata Damar, sambil menggerakan gelas yang ada digenggamannya.

“Aku sudah menawari dia untuk ikut kerja di bangkelku dan mau kukasih gaji lima juta, tapi dia nggak mau. Alasannya nggak bisa servis gituan. Tapi suatu saat nanti, aku harus bisa membuat dia gabung denganku. Asyik orangnya, Ulet kerjanya.” Luna menyedot taro milk tea-nya

Damar hanya diam, tak berkomentar. Ia mengangguk. Lalu menanggapi calon istirnya. “Ya, setiap orang punya pilihan masing-masing.”

“Iya aku juga tau. Tapi… yaudalah.”

Damar tertawa melihat mimik lucu Luna.

“Besok aku ke Jakarta. Ada peresmian proyek baru.”

“Lama nggak?”

“Nggak. Kamis malam juga udah di Manado. Mau titip oleh-oleh nggak?”

“Mau dong, Apa saja deh! Asal jangan kamu bawa oleh-oleh perempuan baru sepulang dari sana.” Luna sedikit mencibir.

“Nggak, lah. Ngawur kamu.”

Luna melirik jenaka. “Bisa jadi.”

Damar tersenyum geli seraya mengusap kepala Luna lembut dengan sayang. “Tunggu disini, ya sayang. Aku ke toilet bentar,” ucap Damar yang membuat alis Luna langsung terangkat sebagai isyarat mengiyangkan.

Setelah itu, Damar meninggalkan Luna yang menunggu di meja nomor tujuh. Wanita itu mengeluarkan handphone dan headset yang tersambung dari tas selempangnya. Dia memasang headset di sebelah kanan telinganya. Beberapa menit kemudian ia mendengar lagu First Love yang mengalun. Matanya pun memejam menikmati lagu tersebut.

Disisi lain, setelah keluar dari toilet. Damar mampir ke kasir untuk memesan es krim favorit Luna. Sementara itu disisi lainnya terlihat seorang wanita yang bernama Nikita yang tengah asyik bermain sosial media, hingga tanpa sadar….

BRUUUKKK!!

Nikita menabrak tubuh seorang pria hingga menumpahkan minuman Ice matcha boba latte, tepat mengenai kemeja polos pria itu.

Bersambung….

Lates Chapters

BAB 30 KEBENARAN PILU

Empat hari kemudian, ketika adzan Isya berkumandang, Damar duduk di ruang tamu bersama Pak Adam, Ibu Mila, dan Luna. Sebelumnya, Damar telah menghubungi Ibu Mila…

BAB 29 SEBUAH PENGAKUAN

Dokter itu mengangguk dengan penuh pengertian. "Ya, Pak. Calon istri Anda sedang mengandung. Saya ucapkan selamat kepada Anda," ujar dokter dengan riang, tanpa menyadari bahwa…

BAB 28 KENANGAN TERKUBUR

Di apartemen pinggir kota yang tenang, suasana hening terpecah saat pintu terbuka, dan Arnol muncul setelah seharian bekerja. Fira, dengan segelas coklat panas di tangan,…

BAB 27 ORANG MASA LALU

Damar memperhatikan dengan seksama rekan bisnis Dian yang berada di penjuru ruangan keluarga, lalu ia berbisik kepada ibunya, "Ibu, kok aku tidak tahu ada acara…

BAB 26 NAFSU MANTAN (21+)

Rey menatap Nikita dengan penuh perhatian, jemarinya dengan lembut meremas tangan gadis itu. "Jadi, dia teman kecilmu dulu ya?" tanyanya dengan nada lembut, meski di…

BAB 25 BASAH DI TOILET (21+)

"Tentu saja, Pak Damar," balas Rey dengan penuh penghargaan, memberikan jabatan tangan yang penuh kehangatan kepada Damar. "Dengan senang hati," Damar membalas dengan senyuman yang…

BAB 24 NOMOR TAK DIKENAL

Setelah ponsel mati dengan tiba-tiba, Damar merasakan kehampaan menyelimuti ruangan. Ia menatap layar ponselnya dengan perasaan takjub dan bingung. "Siapa lelaki itu?" gumamnya dalam hati, sambil…

BAB 23 RINDU TUBUHMU (21+)

Dua hari kemudian, sekitar sepuluh pagi. Luna masih berada di Bandung meskipun kemarin dia sudah bertemu dengan Kline, calon investor. Alasan Luna masih tinggal adalah karena…

BAB 21 SIBUK LAGI (21+)

"Makasih ya, yang, udah nemenin aku malam ini. Aku bener-bener mencintaimu," bisik Gian sambil menarik kepala Luna agar rebahan di atas pundaknya. Dengan penuh kasih,…

BAB 20 KEGAGALAN TERULANG (21+)

Luna dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol panggilan. Namun, suara deringan ponsel terdengar dari dekatnya. Ia terkejut saat melihat ponsel Gian tergeletak di atas…

BAB 19 TERJEPIT

Luna dan pria itu saling terkejut saat melihat satu sama lain, dan si pria tak lain adalah Gian sang kekasih, dan Jojo, yang juga terkejut…

BAB 18 HADIAH MALAPETAKA

Damar mempersilahkan teman Miss Alena duduk. Sementara Arnol menuangkan teh untuknya. Sera memilih duduk di depan Damar. Sementara Damar membuang wajah ke jendela, mengamati lampu-lampu…

BAB 17 SURPRISE AYANG

Dua hari kemudian, di dalam kamar Damar— Pria itu melemparkan tubuhnya ke kasur yang empuk. Setelah hampir tiga hari kurang tidur karena pekerjaan yang menumpuk,…

BAB 16 PERTAHANAN RUNTUH

“Kau ikut denganku!” bentak Gian tajam seraya berdiri kemudian menarik tangan Luna.  Suara Gian yang setajam pisau memecah keheningan di bistro kecil itu, memancing perhatian…

BAB 15 MENIKAH?

Luna duduk di kamarnya, menggenggam ponselnya dengan gelisah. Tanpa ragu, Luna menghubungi nomor Gian. "Yang, aku mau ketemu sama kamu," ujar Luna dengan suara lembut.…

BAB 14 FAKTA SEBENARNYA

“Open your eyes,” bisik Luna tepat di telinga Damar, membuat hatinya berdebar. Damar membuka mata dengan perlahan. Di hadapannya tergantung sebuah dasi elegan dengan variasi…

BAB 13 TANPA KABAR

Sore itu, Damar dan Luna sibuk mencoba beberapa gaun yang akan dikenakan untuk prewedding esok hari. Mereka bergaya di depan kaca besar di kamar Damar…

BAB 12 DI NIKMATI

Hari Senin yang sibuk membuat Damar semakin kesal. Ia duduk di meja kerjanya, memikirkan urusan pernikahan mereka yang masih belum selesai. Damar merasa frustrasi karena…

BAB 11 MERINDUKAN SENTUHANMU

Malam Minggu berikutnya, Damar duduk sendirian di sebuah kafe. Ia merasa agak kesepian karena Luna tidak bisa menemani seperti biasanya. Damar mengeluarkan ponselnya dan mengirim…

BAB 10 GAGAL FOKUS

Ingatan itu berputar layak kaset rusak dipikiran Luna sontak tertawa parau. Untuk kesekian kali selokinya diisi minuman lagi. Nikita geleng-geleng kepala. Sebelum Luna mabuk parah,…
error: Content is protected !!