Istri Kontrak Lima Milyar

Bab 1. Utang Om Haryadi

Seorang wanita paruh baya dengan tangan gemetar dan raut muka yang sedang menahan emosinya, sedang mengangkat tangan ke atas dan dengan cepat mendarat pada pipi pria yang sedang berlutut di hadapannya. Pria itu meringis memegang pipinya yang terasa panas terbakar. Dengan air matanya, dia berusaha untuk menyesali perbuatannya.

“Apa kamu tidak tahu, jika kakakmu membangun hotel itu dari nol hingga bisa berjalan sampai saat ini?” tanya Helena, wanita paruh baya yang berusia lima puluh tahun itu dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. 

Tangannya gemetar jantungnya berdegup dengan kencang melihat adik iparnya berlutut hanya bisa menunduk. Sekali lagi, tangannya melayang mengenai pipi pria itu. Seakan-akan tidak puas hanya sekali tamparan.

“Sekarang, kamu hancurkan semuanya dalam semalam hanya dengan berjudi! Mau taruh dimana mukaku jika aku mati dan bertemu dengan kakakmu!” teriak Helena meluapkan emosinya. 

“Bun … sudah Bun! Ingat, Bunda masih sakit. Jangan tambah beban Bunda,” ucap Sarah, putri tunggal Helena yang marah kepada pamannya, Haryadi Tjokroaminoto, adik mendiang ayahnya. 

Sarah melihat tangan bundanya sedang memegang dadanya dan berusaha untuk mencengkram sesuatu benda di dekatnya, karena pikirannya serasa mau pecah. Segera saja dipeluknya pundak bundanya agar sedikit lebih tenang. 

Di hadapan Helena, Haryadi hanya bisa berlutut. Di bawah kaki kakak iparnya, dia memohon agar dosanya diampuni. “Maafkan aku … kak Helena, aku khilaf, aku tidak sadar kalau aku sudah tidak punya uang.”

“Berapa hutangmu?!” tanya Helena sambil berteriak. 

“Hampir lima milyar, kak ….” 

“Ya Tuhan … kamu tahu, hotel dijual pun belum bisa menutup hutangmu! Kamu tahu? Itu hotel tua! Bagaimana kakakmu berusaha mati-matian agar hotel itu tetap berjalan!!” 

“Maaf kak, aku khilaf, hotel sudah aku jaminkan, dan sisa hutangku tinggal lima milyar itu …! 

“Astaga! Sudah kamu jaminkan?!” 

Sekali lagi, dengan geram, Helena mengambil kursi plastik dan melemparkannya ke arah Haryadi dan mengenai pundaknya, hingga kursi plastik itu pun pecah. Haryadi hanya meringis kesakitan akibat pukulan kursi yang tiba-tiba itu.

“Ampun kak … ampun!” ucapnya sambil bersujud dibawah kaki Helena meminta pengampunan.

“Bun, tenang, Bun!!” Sarah berusaha membuat Helena tenang. Tampaknya, amarah Helena belum juga reda. Sarah takut terjadi apa-apa dengan ibunya, sehingga dipeluk ibunya agar tidak melakukan hal-hal yang lebih parah lagi. 

“Sarah … ayahmu … ayahmu akan kece–.” Tiba-tiba saja Helena ambruk, badannya lemas. Sarah kaget dan langsung memegang badan bundanya. 

“Om, tolong bunda! Dia pingsan!” teriak Sarah. 

Haryadi langsung bangkit dari tempatnya bersujud dan langsung membantu Sarah membopong Helena ke sofa dan membaringkannya. 

“Telepon ambulans, Sar!” perintah Haryadi. 

Sarah berlari mengambil ponsel miliknya yang di atas meja, kemudian memencet tombol kontak ambulans agar segera datang. 

“Bun … sadar Bun, ambulans akan segera datang, kita ke rumah sakit yah?” ujar Sarah sambil menggosok-gosokkan minyak kayu putih di kening, leher dan sedikit aroma di hidung bundanya agar siuman. 

Lambat laun Helena pun terbangun, “Dada Bunda …,” ucapnya sambil memegang dadanya yang terasa sakit. 

“Sabar yah, Bun? Pertolongan akan segera datang,” ucap Sarah menenangkan.

Tidak berapa lama, suara ambulans dari kejauhan pun terdengar. Semakin lama makin terdengar kencang dan mendekat. 

“Ambulans sudah datang! Sarah ayo bersiap, bawa perlengkapan bundamu. Om akan bantu menggotong bunda ke brankar!” perintah Haryadi. Sarah membawa tas ransel dan keperluan bundanya. 

Mobil ambulans sudah berada di teras rumah Sarah. Dua orang perawat mengeluarkan brankar dan membantu Haryadi menggotong Helena ke atasnya, kemudian dimasukkannya ke dalam mobil ambulans. Sarah duduk di samping bundanya membawa tas perlengkapan bundanya. Kemudian ambulans pun melaju ke rumah sakit. 

Di dalam mobil ambulans, Helena diperiksa terlebih dahulu oleh para perawat dan diberi pertolongan pertama berupa oksigen. 

“Apakah ibumu ada riwayat penyakit?” tanya perawat. 

“Pernah sekali serangan jantung ketika ayahku meninggal,” ucap Sarah. 

Perawat mengangguk, diperhatikan dengan lebih detail lagi. “Sepertinya ibumu terkena serangan jantung yang kedua, semoga keadaannya tidak buruk, berdoa saja. Kita sebentar lagi akan sampai,” ucap perawat menenangkan. 

Perawat pun menelepon bagian administrasi untuk segera mendatangkan dokter jantung untuk kasus urgensi. 

Mobil ambulans pun tiba di rumah sakit dan hari sudah sangat malam, hampir jam sepuluh malam. Sarah dan para perawat berjalan di koridor rumah sakit sambil membawa brankar menuju ruang UGD. 

“Dokternya sudah ada?” tanya perawat yang membantu Helena selama perjalanan di ambulans. 

“Sedang dalam perjalanan, sebaiknya ditangani dulu oleh dokter Markus, dia dokter jaga,” ucap suster administrasi. 

Perawat pun membawa ke salah satu ruang yang kosong, dokter Markus datang dan memeriksa Helena. “Tolong bunda saya, dok,” mohon Sarah. 

“Akan saya cek terlebih dahulu, kami akan mengambil darahnya untuk diperiksa, apakah diijinkan?” tanya dokter Markus. 

“Lakukan yang terbaik dok,” jawab Sarah. 

“Mbak, sebaiknya mbak menandatangani berkas-berkas ini, kemudian bisa ke ruang kasir untuk biaya administrasinya,” ucap suster. 

Sarah menandatangani berkas-berkas yang diberikan untuk membayar biaya administrasi. 

“Dokter Budiman, spesialis jantung sudah datang, dia sedang menangani ibu mbak,” kata suster. 

“Terima kasih suster,” jawab Sarah hendak masuk. 

“Mbak, sebaiknya, jangan masuk terlebih dahulu, nanti mbak bisa konsultasi dengan dokter Budiman di ruangannya setelah kami pindahkan ibu mbak dari ruang UGD ke kamar,” ucap suster. 

Sarah hanya mengangguk pasrah. Dia duduk di ruang tunggu menunggu dokter Budiman memeriksa bundanya. 

“Kamu putrinya?” tanya dokter Budiman setelah selesai memeriksa Helena. 

“Iya, Dok.” 

“Ikut ke ruangan saya,” ajaknya. 

Sarah mengikuti langkah dokter Budiman masuk ke ruang kerjanya, “Begini, ibumu mengalami penyumbatan pada pembuluh darah di jantungnya, jadi harus segera dioperasi bypass,” ujar dokter. 

“Apa tidak ada cara lain selain operasi dok?” 

“Bisa menggunakan obat, tapi untuk kasus ibumu, sebaiknya dioperasi. Pada saat ini, saya hanya bisa menstabilkan aliran darah dengan obat-obatan, tapi tidak bisa berlangsung lama. Maksimal satu minggu harus sudah di operasi.” 

“Satu minggu?” 

Dokter Budiman mengangguk. 

“Biayanya berapa dok?” 

“Sekitar dua ratus juta, bisa lebih tergantung dari hasil pemeriksaan darah, apakah ada penyakit lain yang mengikutinya.” 

Sarah menunduk, bundanya sakit karena hutang pamannya lima milyar yang dibebankan kepada bundanya. “Apakah bunda masih menyimpan perhiasan? Mungkin bisa dijual untuk biaya operasi,” gumamnya dalam hati. 

“Soal dana, jangan dipikirkan, sambil jalan saja dulu, Dokter berdoa agar semua dipermudah,” ujar dokter Budiman yang sepertinya mengerti kegalauan keluarga pasien karena dana.

Sarah menghela nafas panjang. Uang bisa dicari, yang terpenting bunda bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik. “Baiklah Dok, saya akan berusaha mencari dananya, saya ingin bunda segera sembuh,” ujar Sarah. 

Dokter mengangguk. “Jangan lupa berdoa. Anak yang mendoakan ibunya disaat sakit adalah salah satu obat kesembuhan,” ujarnya. 

Sarah tersenyum, mengangguk. Keluar dari ruangan dokter Budiman, Sarah masuk ke ruangan bundanya yang sudah diinfus dan diberi oksigen. Sedangkan pada bagian dinding kamarnya terdapat alat detak jantung. 

Sarah menangis, melihat keadaan bundanya seperti itu. Digenggam tangan bundanya dan diciumnya. Kemudian diambilnya kursi dan duduk, “Bun … bunda harus segera sembuh, jangan biarkan Sarah sendirian di dunia ini. Sarah takut bun … Sarah takut kehilangan bunda. Sarah belum siap menjadi sebatang kara,” tangis pilu Sarah. 

Air matanya mengenai tangan bundanya, dan Sarah mengusap-usap tangannya untuk memberikan semangat kepada bundanya, “Yang penting, bunda harus sembuh yah! Jangan kuatir soal biaya rumah sakit! Bunda selalu mengajarkan supaya Sarah bisa menabung. Jadi jangan kuatir. Sarah hanya ingin bunda sehat seperti semula,” Sarah tersenyum dan mencium tangan bundanya. 

Sarah semalaman berjaga di samping tempat tidur Helena. Pagi ini, dia mau pulang sejenak untuk membersihkan diri dan pergi ke kampus karena ada ujian yang tidak bisa dia tinggalkan.

“Aku mau pulang sejenak, mungkin ada simpanan bunda di rumah, bisa untuk tambah-tambah bayar biaya rumah sakit.”

Setelah memberikan nomor ponsel pada suster jaga jika terjadi sesuatu, Sarah memesan ojek online untuk mengantarkan ke rumahnya. 

“Mbak Sarah?” tanya tukang ojek. 

“Iya, Pak.” 

“Jalan mawar ya, Pak,” ujarku. 

“Oke! Berangkat!” jawab tukang ojek melajukan motornya. 

“Pak! Pak! Berhenti di sini!” ujar Sarah pada tukang ojek untuk berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. 

Rumahnya tertutup, tapi tidak dikunci. Semalam, pamannya berada di rumah ini karena tidak ikut mengantarkan Helena ke rumah sakit. Sekarang, Sarah melihat keadaan rumahnya sudah berantakan. TV, AC, lukisan mahal milik ayahnya, guci-guci mahal, dan barang-barang berharga hilang semua, termasuk pamannya pun tidak ada di rumah. “Apakah ada pencuri, ataukah om Haryadi yang menjadi pencuri?” pikirnya. 

Sarah berlari ke kamar bundanya. Kamar bundanya pun sudah berantakan, Sarah melihat lemari baju milik bundanya berceceran ke lantai. Segera saja, Sarah mencari kotak perhiasan tempat bundanya menyimpan barang berharga. 

Diambil kotaknya yang sudah ringan itu dan dibuka tanpa ada isinya. Langsung lemaslah badan Sarah dan duduk di lantai sambil menangis. Di atas kasur Sarah melihat terdapat secarik kertas, diambilnya kertas itu dan dibukanya, “Sarah, om minta maaf. Om takut rentenir itu membunuh om. Om bawa perhiasan bunda supaya om bisa bertahan hidup. Jika om sukses, akan om kembalikan beserta dengan bunga-bunganya, salam om Haryadi.” 

“Argh!” Teriak Sarah diikuti dengan tangisannya.

 

 

Lates Chapters

Bab 98. Akhir Sebuah Kisah

"Disini jam 10 malam Bun. Aku tidak bercanda."   "Oke! Ceritakan pada Bunda, apa yang terjadi disana." Helena mendengarkan Sarah dengan lebih serius.   Sarah…

Bab 97. Akhir Perjalanan Bella

"Maafkan aku Sarah. Maafkan aku Heru! Aku telah jahat pada kalian! Ya aku yang sudah membunuh Daddy dengan memasukkan obat hingga over dosis, aku juga…

Bab 96. Gelandangan di Paris

Setelah mendapatkan ijin dari dokter kandungan untuk pergi honeymoon ke Paris, Heru menyewa pesawat pribadi agar perjalanan mereka lebih nyaman.   "C'est votre numéro de…

Bab 95. Pernikahan Ulang

"Hahaha." Sarah tidak bisa menjawab apapun karena humor madam Gun disertai dengan ekspresinya membuat Sarah tertawa. Heru yang melihatnya hanya tersenyum dan menutup wajahnya dengan…

Bab 94. Pembatalan Pernikahan

"Pak Hakim yang terhormat, ibu Bella masih menjadi buronan sampai saat ini," ucap Hotman Ferris disertai dengan anggukan dari pihak hakim. Hotman Ferris menampilkan Sarah…

Bab 93. Sidang Pengadilan

"Ogah! Gue gak mau bekas orang. Lo aja kasih orang, apalagi gue, hahaha!" jawab Setiawan.   "Hahaha, setiap kejahatan, pasti ada hukumannya. Thanks bro, buat…

Bab 92. Tes DNA

Mobil Heru meluncur di jalanan kota Jakarta. Heru duduk di belakang Daman dan rasanya masih terasa genggaman tangan Sarah di jemarinya, "Aden teh dari tadi…

Bab 91. Kalina Yang Kesepian

"Kembali ke Jakarta," jawab Heru.   "No! Aku tidak mau ke rumahmu. Bukankah sudah ada nyonya baru?" tanya Sarah menyelidiki.   "Hm, aku akan memberikanmu…

Bab 90. Di Rumah Sakit

Heru membutuhkan waktu 30 menit untuk tiba dari bandara menuju RSU Surabaya dan dengan sedikit tergesa-gesa, Heru menuju loket informasi untuk bertanya dimana ruang inap…

Bab 89. Kedatangan Polisi

"Polisi? Baik, suruh mereka masuk ke ruangan saya," jawab Heru.     "Ada apa polisi kemari? Apa ada berita mengenai tante Bella?" pikir Heru.  …

Bab 88. Interogasi Polisi

"Iya, pak."     "Lalu apakah kalian ada permasalahan dengan Bella Salsabila Putri ini? Karena sepertinya Bella adalah tersangka dari pembunuhan yang dilakukan dengan cara…

Bab 87. Interogasi

"Dor!"     Suara tembakan itu disertai juga dengan suara kereta api yang tidak sempat berhenti mendadak menyeret mobil Bima kemudian terdengar ledakan. Mobil-mobil yang…

Bab 86. Saat Genting

***   "Josh, apakah kau single?" tanya Bella.       "Aku seorang duda dengan seorang anak yang sudah gadis remaja."       "Istrimu?"…

Bab 85. Konferensi Pers

Heru dan Kalina melangsungkan resepsi pernikahan di hotel bintang 5 dengan undangan khusus. Namun, ada beberapa wartawan yang diundang untuk meliput pesta mewah tersebut.  …

Bab 84. Berita Viral

***   "Sayang, baca ini!" Helena menyerahkan ponselnya kepada Sarah.       "Mereka ingin mencelakai kita Bun, kita dalam pengawasan" ucap Sarah dengan lirih.…

Bab 83. Sarah dan Helena diusir

Dengan lesu, Heru kembali ke ruangannya, "Apa yang harus gue katakan kepada Sarah yang sedang hamil juga?"     Diambil ponselnya, kemudian melakukan video call…

Bab 82. Hasil USG Kalina

"Kalina! Lo dengar gue kan?" tanya Michael. Ingin rasanya dia cepat-cepat pulang. Dia lebih kangen bersama dengan istrinya yang sebentar lagi hendak melahirkan. Bersama Kalina,…

Bab 81. Harga Sebuah Kesepakatan

Kalina mengangguk, sambil kembali menunjuk berkas yang masih ditutup, Kalina menjelaskan, "Disini, lokasi Sarah dan ibunya. Mereka mempunyai toko bakery di Bali, jadi, aku masukkan…

Bab 80. Gara-Gara Lima Milyar

"Hufh! Belum, untunglah!" Sarah berdiri dan melihat setiap orang yang datang untuk berangkat, dari kejauhan, Sarah melihat sosok badan yang dia kenal. Memakai jeans dengan…

Bab 79. Kode Kalina Untuk Bella

"Tamu? Siapa ya? Aku jarang menerima tamu. Apakah teman-teman arisanku? Aduh! Makeup aku kemana ya? Apa yang harus aku pakai? Aku belum sempat ke mall!"…
error: Content is protected !!