Antilles Sang Pemotong Jiwa

Bab 10 : Malam Penyerbuan

Sinar rembulan Folmane menerangi langit malam yang dingin di langit Distrik Aastland, ibukota Sentralberg, menyinari Jalan Volksargaten yang sepi dengan cahaya keperakan. Lampu-lampu jalan bercorak kuno menghiasi pinggiran jalan, menerangi pohon-pohon palem yang berdiri berjajar menghiasi jalan beraspal hitam yang mulus. Angin malam bertiup menggoyangkan dedaunan, mengisi keheningan malam itu.

Dari balik semak-semak dan pepohonan rindang di tanah yang sedikit berbukit, lima sosok gadis penyihir mengawasi jalanan itu dalam gelap. Antilles Samarchia yang kini mengenakan setelan seragam militer berwarna gelap menggenggam erat pedang cutlass peraknya.

“Kalau dari informasi yang didapat Ketua Izetta, dia seharusnya lewat sekitar kurang dari 10 menit lagi,” bisik Minerva.

“Tetap fokus. Kita tidak boleh kehilangan dia. Jangan sampai dia lolos,” ujar gadis suku Higashi di sampingnya.

Tatapan mereka tampak fokus ke depan, seakan tak membiarkan sehelai daun pun luput dari pengawasan. Antilles yang juga berada di samping gadis Higashi itu sedikit menoleh ke arahnya.

“Hei, ngomong-ngomong kau berbakat juga dalam hal pengintaian seperti ini, Arisaka Kirika.”

Gadis Higashi itu hanya tersenyum tipis mendengar pujian itu.

“Kau sama seperti kakakmu Madoka yang sering memimpin operasi mata-mata. Tapi aku kadang sulit membedakan mana dirimu dan kakakmu itu,” Antilles sedikit basa-basi dengannya untuk menghilangkan ketegangan.

“Begitulah. Onee-chan lahir 5 menit lebih dulu dariku, dan kami terlahir sebagai anak kembar identik. Perbedaan kami mungkin hanya terletak dari penggunaan sihirnya,” jelas Kirika sambil menyelipkan istilah yang berarti ‘kakak perempuan’ dalam bahasa Yamato.

“Begitu ya…”

Di tengah keheningan itu, cincin Angke Minerva tiba-tiba menyala. Ia pun membaca pesan hologram yang masuk.

“Elliot Hierowitz telah dihabisi. Regu Zwei berhasil melaksanakan misi mereka tanpa hambatan,” tutur Minerva.

Gisel yang sedari tadi menjilati lolipop pink berujar dengan antusias. “Ah, berarti tugas kita akan jauh lebih mudah dong? Dia saja tidak punya penjagaan yang kuat seperti itu.”

“Tidak seperti itu,” potong Len yang tengah membidik dengan Posacca berwujud senapan runduk. “Berdasarkan informasi dari Divisi Intelijen, penjagaan Ulysses lebih ketat dari Elliot. Kita harus tetap waspada dan jangan sampai lengah.”

Semua terdiam. Tak berselang lama, Len melihat sesuatu yang bercahaya melewati jalan itu.

“Itu mereka,” desisnya.

Tiga Carreta, atau mobil dengan warna hitam mengkilap melaju perlahan dari kejauhan. Lampu depannya yang cerah membelah kegelapan Jalan Volksargaten.

“Baiklah. Bersiap di posisi,” perintah Minerva, mengambil alih komando. “Sesuai dengan rencana.”

Len mengangguk. Gadis berambut pendek itu menarik napas dalam-dalam dan memfokuskan sihir pada senapan runduknya. Moncong senapan itu mulai mengeluarkan cahaya, menandakan konsentrasi partikel gaib kuat yang siap ditembakkan.

Tepat saat ketiga mobil hitam itu melewati jalan, Len menarik pelatuknya.

BANGG

Seberkas peluru sihir cahaya melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam kaca depan mobil kedua yang ditumpangi Ulysses.

DUARR

Peluru sihir cahaya itu pun meledak tepat di samping tiga kendaraan itu. Namun rupanya hal itu masih jauh dari cukup untuk menghabisi sang konglomerat.

“Huh, sesuai dengan prediksi Ketua Izetta. Mobil-mobil itu dilapisi bahan metal yang sangat kuat. Sihir biasa tak mungkin bisa menghancurkannya,” ujar Minerva.

Debu akibat ledakan menghilang, namun ketiga mobil itu masih kokoh tanpa tergores sedikit pun.

Gisel terkejut mendengarnya. “Kalau begitu, kenapa kita tidak pakai sihir yang lebih kuat saja untuk menghancurkannya?”

Len yang masih fokus dengan senapan runduknya menjawab. “Tujuan kita bukan untuk membakar semua tempat ini.”

Konvoi kendaraan berhenti seketika, dan dalam hitungan detik, sekitar 20 pria berjas hitam keluar dari ketiga mobil membentuk formasi siaga perlindungan.

Gisel yang melihat hal itu kembali terkejut. “Eh? Siapa orang-orang itu? Mereka tidak terlihat seperti Askar atapun Patrol,” ujarnya lantang.

Belum sempat ada yang menjawab, para pria berjas hitam itu mengangkat Politia mereka yang berwujud berbagai jenis senapan dan mengarahkannya ke posisi 5 gadis penyihir tersebut.

BANGG

Mereka menarik pelatuknya, melesatkan belasan peluru cahaya eksplosif ke arah Antilles dan teman-temannya.

BOOMM

Tercipta ledakan dahsyat yang menghancurkan sebagian besar pohon tempat mereka sembunyi.

Debu pun bertebaran di udara. Para pria berjas hitam menyaksikan peristiwa itu. Sebagian dari mereka tersenyum menyeringai, berpikir bahwa mereka berhasil membinasakan musuhnya. Tapi tentunya hal itu tidak mungkin.

Dari balik debu, Arisaka Kirika dengan setelan gadis penyihir berupa jubah gelap dan rok pendek melangkah ke arah para pria berjas hitam itu. Dirinya melangkah santai, rambutnya melambai pelan, matanya menatap tajam tanpa rasa takut.

“Apa-apaa ini? Habisi dia!!” teriak salah satu pria berjas hitam.

BANGG

Mereka kembali menembakkan Politia ke arah Kirika. Namun begitu peluru-peluru cahaya menembus tubuhnya, sesuatu yang aneh terjadi.

“Apa yang-“

WUSHH

Tubuh Kirika tiba-tiba mengempes seperti balon yang dilubangi. Asap keluar dari beberapa lubang di tubuhnya akibat senjata itu, menciptakan kabut tebal yang dengan cepat menyebar ke seluruh area dan menutupi pandangan.

“Sial. Kabut apa ini?” ujar salah satu pria.

Para pria berjas hitam tak bisa melihat apa pun dari balik kabut itu. Berbeda dengan kelima gadis penyihir yang bisa dengan mudah melihat mereka.

“Baiklah. Lanjut ke tahap berikutnya,” ucap Len.

Lewat sihir bayangan kabut ciptaannya, Kirika telah menandai pria berjas hitam yang merupakan suku Vitania dan mana yang bukan dari suku Vitania.

WUSHH WUSHH

Antilles menebas dua pria berjas hitam non-Vitania sekaligus dengan pedang peraknya dari balik kabut. Ambisinya yang kuat untuk melenyapkan Ulysses menjadi kekuatan besar baginya. Gisel dan Minerva bergerak bersamaan, melumpuhkan sejumlah pria berjas hitam dari suku Vitania tanpa luka fatal.

“Sial, mereka dima-“

BANGG

Sementara itu Len dari balik bayangan dengan presisi tinggi menembakkan peluru sihir cahaya yang tepat melubangi kepala pria non-Vitania lainnya.

Perlawanan mereka berlangsung singkat, namun sangat efektif. Tepat saat kabut menghilang, kedua puluh pria berjas hitam itu sudah terkapar. Mereka dari suku Vitania tak sadarkan diri, sementara mereka yang bukan suku Vitania tergeletak tak bernyawa.

Minerva membuka pintu mobil kedua yang ditumpangi Ulysses. Tapi sayangnya pria itu tidak ada di sana.

“Kosong?” gumam Antilles.

“Dia di sana!!” teriak Gisel seraya menunjuk ke sebuah gedung bercat kuning sekitar 50 meter dari posisi mereka.

Pria berkacamata dengan jas putih formal itu sedang mencoba membuka pintu bangunan tersebut. Di belakangnya terlihat dua pria berjas hitam yang mengawalnya.

Antilles dan teman-temannya sontak berlari ke arah mereka.

“Takkan kami biarkan kalian melukai bos kami, penyihir!!”

Kedua penjaga itu mengeluarkan Politia untuk melindungi bos mereka, namun Gisel dan Minerva dengan mudah melumpuhkan keduanya.

Kini tak ada lagi yang menghalangi antara Antilles dan Ulysses. Pria yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya kini berada tepat di depan mata tanpa penjagaan. Amarah yang telah ia pendam selama ini pada pria itu akan segera ia tuntaskan.

“Ulysses!!” teriak Antilles sambil mengacungkan pedangnya.

Pria berkacamata itu sontak menoleh ke belakang. Melihat ada sosok gadis penyihir berseragam militer yang membawa pedang membuatnya diam terpaku.

“Si-siapa kau?” tanyanya terbata-bata.

Antilles tak menjawabnya dan langsung melesat ke arah pria itu. “Semua yang kau lakukan pada keluarga dan desa kami, tidak akan pernah kuampuni!!”

Gadis itu melompat ke arah Ulysses, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan bersiap untuk menghunuskannya. Namun sebelum ia melakukannya, Gisel berteriak.

“Antilles!! Mundur!!”

“Apa?”

BRUKK

Gadis itu langsung melompat mundur begitu sosok misterius tiba-tiba turun dari langit, menukik dengan kecepatan tinggi dan mendarat di antara Antilles dan Ulysses. Debu pun bertebaran begitu sosok itu menghujam tanah.

“Di-dia…”

Debu menghilang dan berganti dengan hembusan hawa panas yang membuat udara di sekitarnay bergelombang. Rupanya itu adalah sesosok golem lahar bertangan empat. Makhluk sihir semi-otonom itu menghalangi jalan mereka untuk membinasakan sang konglomerat.

“Go-golem lahar? Kenapa dia bisa ada di sini?” tanya Gisel.

Kirika menjawab dengan nada yang dingin. “Tentu saja karena mereka.”

Dari balik sosok raksasa berotot itu muncul lima orang gadis berjubah dan bertudung gelap. Salah satu dari mereka tampak memegang golem lahar itu, mengindikasikan bahwa dia adalah penyihir yang menciptakan makhuk tersebut.

“Gadis penyihir penjaga ibukota Sentralberg,” gumam Kirika.

Salah satu dari mereka melangkah maju. “Pemberontak Vitania. Kami tidak akan membiarkan kalian pergi lebih jauh lagi. Bersiaplah menerima hukuman setimpat atas pengkhianatan kalian pada Kerajaan Archipelahia.”

Antilles menggertakkan gigi. Tinggal sedikit lagi dia menuntaskan dendamnya selama bertahun-tahun itu, tapi ada pihak lain yang berusaha menghadang. Ia menggenggam pedangnya lebih erat.

“Penyihir kerajaan pusat sialan. Takkan aku biarkan kalian menghalangi jalanku!!” gumam Antilles dengan amarah.

Ulysses masuk ke dalam gedung itu, sementara Antilles dan teman-temannya kini harus menghadapi para penyihir kerajaan pusat yang menghalangi misi mereka. Pertarungan sengit pun tak terelakkan.

 

***

Lates Chapters

Bab 34 : Anne dan Rose

Tubuh Antilles gemetar hebat begitu melihat sosok yang sangat tak biasa dan mengerikan itu ada di depannya. Tepat di belakang Rikka, sesosok cahaya putih menyerupai…

Bab 33 : Pertemuan Kembali

WUSHH TRINGG Pedang cutlass perak dan pisau kecil bermotif salib saling beradu memecah keheningan senja. Di dalam kubah perisai sihir jiwa itu, sang peringkat 10…

Bab 32 : Sang Ninja

Langit senja mulai menyinari langit Distrik Wilwien dengan gradasi jingga keemasan yang perlahan pudar menjadi ungu gelap. Sebuah kubah sihir transparan yang besar menjulang setinggi…

Bab 31 : Tabiat Dibaliknya

Hembusan angin sisa-sisa tebasan sihir itu berhenti, kembali berganti dengan tiupan angin alami di waktu menjelang petang. Pepohonan beringin tropis yang banyak ditemukan di Matrotshaven…

Bab 30 : Semua Tentangnya

Angin petang bertiup kencang di atas perkebunan Wilwien, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang berguguran. Tampak puing-puing gubuk yang berterbangan akibat serangan sihir yang…

Bab 29 : Penemuan Besar

Ruangan markas skuad Antilles masih terasa mencekam setelah ledakan emosi yang baru saja terjadi. Karpet merah di bawah kaki mereka seakan menyerap ketegangan yang menggantung…

Bab 28 : Dibalik Cahaya

Sang Formalha kembali menyinari langit kota Millerachen dan markas skuad Antilles di dalamnya. Karpet merah dalam bangunan bergaya Karelo-Vitania kuno itu membentang di koridor utama,…

Bab 27 : Orang Lama

Millerachen seakan menyambut Antilles dengan hembusan angin sore yang hangat. Bangunan-bangunan bergaya arsitektur Karelo-Vitania menjulang dengan elegan, sementara lampu-lampu dengan hiasan klasik mulai menyala satu…

Bab 26 : Angin dan Petir

Angin berhembus di sudut timur kota Salzyburg yang sepi itu. Di tengah kesunyian kota yang terletak di Vitania Tengah tersebut, Antilles menatap tajam ke arah…

Bab 25 : Kecurigaan Semata

Suasana ruang pertemuan Brigade Penyihir Garis Depan Vitania makin mencekam. Cahaya mentari pagi Formalha yang menyinari sebagian ruangan itu seakan tak mampu mengusir kegelisahan yang…

Bab 24 : Pembelot Misterius

Darah segar merembes di antara dedaunan yang berserakan, membentuk genangan merah pekat di tanah Hutan Bellstock yang lembab. Tubuh Priscilla Holstein terbaring kaku dengan lubang…

Bab 23 : Pohon Api

Tubuh Antilles masih terperangkap di dalam batang pohon yang tumbuh dengan tak wajar tersebut. Akar-akar sihirnya melilit kuat seraya terus menyerap partikel gaib dari dalam…

Bab 22 : Pertemuan di Utara

Sinar Formalha di pagi hari menerobos lapisan awan tipis, menyinari hamparan bebatuan dan rumput hijau yang membentang luas di sudut kota Millerachen itu. Embun pagi…

Bab 21 : Operasi Senyap

Sinar mentari pagi menembus tirai putih tipis yang menutupi jendela ruang perawatan. Ruangan itu tidak begitu luas, namun cukup nyaman dengan dinding bercat putih dan…

Bab 20 : Kembali ke Markas

Angin dingin berhembus menembus kulit. Tidak ada hal lain yang dirasakan selain udara dingin yang menembus pori-pori kulit halusnya. Antilles Samarchia terbangun dengan napas sedikit…

Bab 19 : Alibi Dibaliknya

Angin malam berhembus dingin di Hutan Kota Yukavik, bagian tengah Distrik Aastland di ibukota Sentralberg. Pohon-pohon rindang menjulang, membentuk dinding alami di sekeliling tempat pertarungan…

Bab 18 : Sang Penyihir Buku

Konsentrasi partikel gaib yang sangat kuat begitu terasa malam itu di Hutan Kota Yukavik, Aastland Tengah. Tak mengherankan karena sejumlah gadis penyihir kuat akan saling…

Bab 17 : Langkah Penghakiman

Rembulan Folmane tertutup awan pada malam itu, sedikit menutupi sinar yang menerangi wilayah tengah Distik Aastland, ibukota Sentralberg. Udara dingin menyelinap di antara dedaunan Hutan…

Bab 16 : Luka Hati

Ruangan kerja Antilles Samarchia sebagai pemimpin skuad yang baru menggantikan Izetta yang gugur beberapa waktu yang lalu tampak tak terlalu rapi hari ini. Beberapa dokumen…

Bab 15 : Di Alun-alun Kota

Sang mentari Formalha sudah bergerak ke ufuk barat. Mungkin sekitar tiga setengah jam lagi sebelum ia tenggelam dan rembulan kembar Folmane dan Ilmane menggantikan tugasnya…
error: Content is protected !!