Kata Yang Tak Terucap

Bab 10. Simbol Kembar Dan Kebisuan Orang Tua

Bab 10. Simbol Kembar Dan Kebisuan Orang Tua

Penemuan simbol “Jiwa yang Terikat” dan “The Twin’s Legacy” di boneka kayu membuat Alfian dan Olivia terdiam, pikiran mereka berputar. Mereka kembali ke perpustakaan, mencari sudut paling sepi untuk mendiskusikan temuan mengejutkan itu.

“Jiwa yang Terikat? Peninggalan Kembar?” Olivia menggumam, menatap ponselnya yang menampilkan hasil pencarian simbol kuno itu. “Apa maksudnya ini, Yan?”

Alfian menggeleng, wajahnya pucat. “Aku tidak tahu, tapi kembar? Apa mungkin kita ini kembar?”

“Tidak mungkin,” Olivia langsung menyangkal. “Kita bahkan tidak mirip dan kita baru bertemu di SMA ini.”

“Tapi kilasan memori itu, Liv,” Alfian bersikeras. “Dua anak kecil yang bermain bersama boneka ini, dan mereka terlihat mirip, lalu anak yang cemburu itu. Ini terlalu banyak kebetulan.”

“Dan ‘Jiwa yang Terikat’,” Olivia menambahkan, suaranya pelan. “Apakah itu artinya kita punya ikatan yang lebih dalam dari sekadar teman masa kecil yang terlupakan?”

Kecurigaan mereka semakin besar. Ada sesuatu yang disembunyikan. Mereka memutuskan untuk mencoba mencari tahu dari sumber yang paling dekat: orang tua mereka.

Malam harinya, di rumah Alfian, ia mencoba berbicara dengan ayahnya di ruang keluarga. Pak Ardi, adalah sosok yang lebih terbuka dibandingkan istrinya.

“Yah,” Alfian memulai, ragu. “Aku mau tanya sesuatu tentang masa kecilku. Apa aku pernah punya teman dekat waktu kecil, sebelum aku masuk TK?”

Pak Ardi, yang sedang membaca koran, mengangkat alis. “Tentu saja. Kamu anak yang periang. Banyak teman.”

“Maksudku, teman yang sangat dekat,” Alfian menambahkan, mencoba mencari celah. “Mungkin… anak perempuan?”

Pak Ardi terdiam sejenak. Ia menurunkan korannya, menatap Alfian dengan pandangan aneh. “Kenapa tiba-tiba menanyakan ini? Kamu sedang tidak dalam masalah, kan?”

“Tidak, Yah,” Alfian meyakinkan. “Hanya aku punya memori samar tentang seorang anak perempuan, dan sebuah boneka kayu tua. Seperti kilas balik. Aku cuma penasaran.”

Wajah Pak Ardi berubah tegang. Ia tampak tidak nyaman. “Itu mungkin hanya imajinasimu, Nak. Kamu kan suka berimajinasi sejak kecil.”

“Tapi ini terasa sangat nyata, Yah,” Alfian menekan. “Ini juga ada simbol aneh di boneka itu. Simbol kuno. Seperti ‘Jiwa yang Terikat’.”

Mendengar kata “Jiwa yang Terikat”, raut wajah Pak Ardi langsung berubah. 

Ada gurat ketakutan yang jelas di matanya. Ia dengan cepat mengalihkan pandangan, lalu berdiri.

“Sudahlah, Alfian. Jangan memikirkan hal-hal yang aneh,” Pak Ardi berkata, suaranya terdengar kaku. “Masa lalu biarlah berlalu. Fokus saja pada sekolah dan proyek dramamu itu.”

Ia lalu pergi meninggalkan Alfian yang masih terdiam, penuh pertanyaan. Reaksi ayahnya bukan penolakan biasa. Itu adalah kebisuan yang penuh rahasia. 

Alfian tahu, ada sesuatu yang besar yang disembunyikan.

Di sisi lain kota, Olivia juga mencoba peruntungannya dengan ibunya. Namun, Bu Indah adalah tipe yang sangat tertutup.

“Bu, aku mau tanya,” Olivia berkata hati-hati, saat Bu Indah sedang memasak di dapur. “Waktu aku kecil, apa aku pernah punya teman dekat yang sangat spesial? Atau mungkin pernah tinggal di tempat lain selain di sini?”

Bu Indah berhenti mengiris bawang. “Apa-apaan pertanyaanmu ini, Liv? Kamu ini kenapa? Tidak ada yang spesial. Kamu selalu di sini bersamaku.”

“Tapi aku punya kilasan memori aneh, Bu,” Olivia menjelaskan. “Tentang taman bermain, boneka kayu, anak laki-laki, dan anak perempuan lain yang cemburu. Dan ada simbol aneh di boneka itu.”

Bu Indah meletakkan pisaunya dengan keras. Suaranya berubah dingin. “Cukup, Olivia. Jangan membicarakan hal-hal yang tidak penting. Itu mungkin hanya mimpi atau imajinasimu. Jangan mencari-cari masalah.”

“Tapi Bu,” Olivia mencoba lagi. “Ini terasa sangat nyata. Seperti ada yang disembunyikan dari aku.”

“Tidak ada yang disembunyikan!” Bu Indah membentak, hal yang jarang sekali ia lakukan. “Hidupmu sekarang penting. Masa lalu tidak perlu diungkit. Fokus saja pada masa depan!”

Olivia terkejut dengan amarah ibunya. Bu Indah berbalik dan melanjutkan pekerjaannya dengan tergesa-gesa, seolah ingin mengakhiri percakapan. Olivia tahu, ia tidak akan mendapatkan apa-apa dari ibunya. Sama seperti Pak Ardi, ibunya juga menyembunyikan sesuatu.

Keesokan harinya, di sekolah, latihan drama semakin intens. Alfian dan Olivia terpaksa berinteraksi lebih banyak, membuat Alexa dan gengnya semakin geram. Mereka berlatih di aula yang agak sepi, karena properti panggung masih dalam tahap pengerjaan.

“Bagian ini, Bima, kamu harus memegang tangan Aruna dan bernyanyi,” Bu Lidya memberi instruksi. “Aruna, kamu tatap Bima dengan penuh kerinduan.”

Alfian dan Olivia saling menatap. Alfian mengulurkan tangannya, ragu. Olivia menyambutnya, tangannya sedikit gemetar. Saat jari mereka bertaut, kilasan memori itu datang lagi, jauh lebih jelas:

Kilasan itu terasa begitu hidup:

Dua anak kecil, Alfian dan Olivia versi mini, sedang berpegangan tangan, berlari riang di taman bermain. Boneka kayu itu dipegang erat oleh Alfian kecil. Mereka tertawa, suara mereka polos dan riang. 

Tiba-tiba, seorang anak perempuan dengan kepang dua muncul di hadapan mereka, wajahnya merah padam. Dia berteriak, suaranya melengking. “Itu bonekaku! Aku benci kalian! Kalian jahat!” Dia mendorong Alfian kecil, membuat boneka itu jatuh dan terlempar. Kedua anak kecil lainnya menangis, lalu muncul sosok dua orang dewasa yang langsung memisahkan mereka. “Jangan dekati dia lagi!” teriak salah satu orang dewasa. Mereka ditarik menjauh, perpisahan itu terasa sangat menyakitkan.

Kilasan itu menghantam mereka berdua seperti gelombang. Alfian dan Olivia menarik tangan mereka. Keduanya terengah, mata mereka melebar, dipenuhi keterkejutan dan kesedihan yang mendalam. Mereka tahu dan semakin yakin itu adalah mereka dan anak perempuan yang cemburu itu.

Tiba-tiba, suara tawa sinis memecah keheningan. “Wah, wah, lihat pasangan serasi ini. Aktingnya sampai begitu menjiwai. Atau memang bukan akting?”

Alexa berdiri di ambang pintu aula, tatapannya penuh ejekan. Di tangannya, ia memegang boneka kayu itu. Boneka yang tadi pagi ada di meja mereka, kini ada di tangan Alexa.

“Kamu mencurinya?!” Olivia membentak, amarahnya memuncak.

“Mencuri? Ini milikku, bodoh!” Alexa menyeringai. “Boneka ini sudah bersamaku sejak kecil. Makanya aku tahu semua rahasia kalian.”

“Rahasia apa?” Alfian melangkah maju. “Apa maksudmu?”

“Kalian pikir aku tidak tahu?” Alexa tertawa getir. “Aku tahu kalian berdua. Aku tahu kalian dari dulu. Aku tahu kalian itu kembar sialan yang selalu merebut segalanya dariku! Bahkan boneka ini pun! Itu semua milikku!”

Alfian dan Olivia terhenyak. Kembar? Alexa tahu? Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke dalam luka lama yang tak mereka ingat.

“Aku akan memastikan kalian menyesal telah kembali ke sini,” Alexa mengancam, suaranya penuh dendam. “Drama ini, hidup kalian akan kuhancurkan!”

Alexa melemparkan boneka itu ke lantai, lalu menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Simbol “Jiwa yang Terikat” itu retak menjadi dua bagian. Ia lalu berbalik, meninggalkan Alfian dan Olivia yang masih membeku, syok dengan pengakuan dan ancaman yang baru saja mereka dengar. Kebenaran yang selama ini tersembunyi, kini mulai terkuak dari mulut musuh mereka.

Lates Chapters

Bab 30. Awal Yang Tak Berujung (End)

Bab 30. Awal Yang Tak Berujung Tiga tahun berlalu. Alfian dan Olivia kini adalah mahasiswa tahun ketiga di universitas mereka masing-masing di Jakarta. Mereka memang…

Bab 29. Perpisahan Manis Dan Janji Abadi

Bab 29. Perpisahan Manis Dan Janji Abadi Hari kelulusan SMA akhirnya tiba. Aula sekolah dipenuhi dengan toga hitam, senyum bahagia, dan air mata haru. Alfian…

Bab 28. Melangkah Bersama Menuju Impian

Bab 28. Melangkah Bersama Menuju Impian Hari-hari Alfian dan Olivia dipenuhi tawa dan kebahagiaan. Mereka menjadi pasangan yang tak terpisahkan di sekolah. Kecemburuan Olivia yang…

Bab 27. Mengukir Kisah Baru

Bab 27. Mengukir Kisah Baru Setelah pengakuan Alfian di festival kuliner, status hubungan antara Alfian dan Olivia berubah drastis. Kecanggungan awal perlahan menghilang, digantikan oleh…

Bab 26. Sentuhan Yang Mengisyaratkan

Bab 26. Sentuhan Yang Mengisyaratkan Setelah kepergian Alexa, suasana di sekolah terasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi gangguan kecil yang menimpa Olivia, tidak ada…

Bab 25. Perpisahan Penuh Penyesalan

Bab 25. Perpisahan Penuh Penyesalan Kabar tentang sabotase Alexa dan bagaimana Alfian serta Olivia berhasil menyelamatkan pementasan drama menyebar dengan cepat di seluruh sekolah.  Banyak…

Bab 24. Cahaya Di Tengah Kegelapan

Bab 24. Cahaya Di Tengah Kegelapan Kegelapan menyelimuti aula drama, disusul bisikan dan kepanikan penonton. Tawa sinis Alexa menggema di tengah suasana genting itu, mencoba…

Bab 23. Bayangan Di Panggung Kenangan

Bab 23. Bayangan di Panggung Kenangan Setelah pengakuan tak langsung di taman, suasana antara Alfian dan Olivia terasa berbeda. Ada lapisan baru yang menyelimuti interaksi…

Bab 22. Benih-Benih Pengakuan

Bab 22. Benih-Benih Pengakuan Hari-hari berikutnya di sekolah terasa seperti medan perang kecil bagi Olivia dan Alfian. Ancaman Alexa memang tidak sebesar misteri Organisasi Bayangan,…

Bab 21. Jebakan Di Balik Senyum

Bab 21. Jebakan Di Balik Senyum Meskipun kebenaran pahit mengenai identitas Alfian dan Olivia serta asal-usul 'Organisasi Bayangan' dan keluarga Atmajaya telah terkuak, namun dampaknya…

Bab 20. Tabir yang Tersingkap

Bab 20. Tabir yang Tersingkap Ponsel Alfian bergetar di genggamannya, menampilkan notifikasi aplikasi pelacak lokasi yang seharusnya hanya untuk Olivia. Namun, yang muncul adalah lokasi…

Bab 19. Kebenaran yang Pahit

Bab 19. Kebenaran yang Pahit Kepala Alfian berdenyut hebat. Kata-kata Pak Budi terus terngiang, berputar-putar di benaknya seperti kaset rusak: “Kamu adalah bayi yang dikorbankan.”…

Bab 18. Pertarungan di Panggung

Bab 18. Pertarungan di Panggung Aula drama masih riuh dengan bisikan dan tatapan curiga setelah video rekaman CCTV dari Rumah Sakit Harapan Bangsa diputar. Alexa…

Bab 17. Simbol Yang Berbicara

Bab 17. Simbol yang Berbicara Foto buram yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal itu terus menjadi misteri yang mendalam. Alfian dan Olivia menatapnya lekat-lekat di…

Bab 16. Bisikan Cemburu dan Petunjuk Baru

Bab 16. Bisikan Cemburu dan Petunjuk Baru Pesan misterius yang datang dengan foto buram dan simbol bulan sabit bermata itu terus menghantui Alfian dan Olivia. …

Bab 15. Bayangan Mengintai

Bab 15. Bayangan Mengintai Dingin pagi masih menusuk kulit saat Alfian dan Olivia duduk di bangku taman sekolah, jauh dari keramaian. Obrolan mereka semalam dengan…

Bab 14. Simpul Kebenaran dan Jaring Ancaman

Bab 14. Simpul Kebenaran dan Jaring Ancaman Setelah kembali dari rumah sakit tua dan menghadapi Alexa, Alfian dan Olivia tidak bisa langsung pulang. Mereka memutuskan…

Bab 13. Bayangan Terlarang

Bab 13. Bayangan Terlarang Pagi masih sangat muda ketika Alfian dan Olivia tiba di depan gerbang berkarat Rumah Sakit Harapan Bangsa. Embun masih membasahi rerumputan…

Bab 12. Jejak Retak Di Masa Lalu dan Bisikan Fitnah

Bab 12. Jejak Retak Di Masa Lalu dan Bisikan Fitnah Siang itu, perpustakaan terasa semakin sesak oleh misteri yang belum terpecahkan. Alfian dan Olivia duduk…

Bab 11. Kebenaran yang Terungkap dan Bayangan Dendam

Bab 11. Kebenaran yang Terungkap dan Bayangan Dendam Hening mematikan menyelimuti aula setelah Alexa pergi, meninggalkan Alfian dan Olivia terpaku di tempat mereka berdiri. Pecahan…
error: Content is protected !!