Citra memahami perasaan suaminya, sejak Irvan mengetahui perihal kehancuran rumah tangga putri mereka yang akhirnya membuatnya terkena stroke, Irvan seakan tidak ada keinginan untuk hidup karena bagi Irvan putri semata wayangnya itu adalah sebuah permata rapuh yang tidak boleh dihancurkan siapa pun juga.
“Ayah, mau video call nggak sama Kania? Ibu sambungkan ya,” tawar Citra menghibur Irvan, suaminya.
Citra lalu mengambil ponselnya kemudian menekan nomor putrinya untuk melakukan panggilan video melalui aplikasi hiijau di ponselnya.
Tuuut! Tuuut! Tuuut! Klik!
Terdengar nada sambung panggilan yang disusul dengan nada tombol panggilan diterima.
[Assalamualaikum, Kania.] sapa Citra, ibu Kania mengawali panggilan.
[Eh, ibu. Ibu dan ayah, apa kabar? Kania kangen, Bu.] tanya Kania, begitu tahu ibunya yang meneleponnya.
[Baik, alhamdulillah baik, Nak. Kamu juga apa kabarnya di Jakarta, Sayang?] Citra menyatakan kabar putrinya yang sudah lama tidak bersua.
[Kania baik, Bu. Oh ya, Bu, Kania tadi pagi sudah kirim laporan keuangan resto dan perusahaan ke e-mail ibu ya. Omset akhir tahun keduanya meningkat tajam, Bu jadi ibu dan ayah nggak usah khawatir soal resto dan perusahaan, Kania akan berjuang keras untuk kita semua, Bu.]
Kania memberitahukan kondisi terakhir keuangan restoran dan perusahaan yang sekarang dia kelola penuh setelah ayahnya terkena stroke.
[Kania. Ini ada yang mau ketemu kamu, Nak. Kamu sapa ya.] ucap Citra memberitahu.
[Iya, Bu.] balas Kania.
Kamera ponsel pun menampilkan Irvan Prasetyo, ayah Kania. Seketika Kania membeku menatap manik lelaki yang akan selalu menjadi cinta pertamanya itu. Meski perih mengiris hatinya, saat mengingat betapa murka ayahnya sewaktu tahu kalau dia telah membohongi mereka berdua perihal pernikahannya dengan Arga, tetapi Kania tahu bahwa sesungguhnya lelaki separuh abad yang masih tampan itulah yang paling terluka.
[Ayah … Kania senang melihat ayah mulai sehat, semoga ayah terus sehat ya. Cepat pulih, Yah. Kania berjanji pada ayah dan ibu bahwa Kania akan membalas semua yang telah menyakiti kita, terutama yang telah menyakiti dan menghancurkan ayah juga ibu.]
Kania mengungkapkan tekadnya kepada ayah tercintanya yang kini hanya diam tak berdaya.
[Uh … hanan Hania, yah nta hanan. Afan aja eta, ak aik mehenham.*]
[Uh … jangan Kania, ayah minta jangan. Maafkan saja mereka, tak baik mendendam.] cegah ayahnya dengan terbata.
Kania menggelengkan kepalanya sambil sesekali mengusap air matanya kasar, dia tidak suka melihat sikap ayahnya yang mau memaafkan mereka begitu saja.
[Maafkan Kania, Ayah. Kania tidak akan menuruti permintaan ayah kali ini. Kania akan tetap menuntut balas.]
Kania bersikukuh dengan keinginannya, dan dia meminta ayah dan ibunya agar mendoakan dirinya selamat serta tidak terlalu mencemaskannya. Kania berjanji dia akan berhati-hati.
[Ayah, ibu … Kania minta doakan Kania agar Kania di sini selamat. Ayah dan ibu jangan terlalu mencemaskan Kania. Kania janji akan berhati-hati dengan semua yang Kania lakukan dan suatu hari pasti Kania akan datang menjenguk ayah dan ibu di Bali. Kania, barusan transfer 200 juta ke rekening ibu ya untuk biaya ibu dan ayah selama berobat di Bali, nanti kalau ibu dan ayah perlu apa-apa, kabari Kania.]
Mendengar permintaan Kania, ayah dan ibunya hanya berpesan supaya dirinya jangan sampai terbawa nafsu amarah, selalu mengingat Allah dan menjaga diri.
[Iya, Kania. Ayah dan ibu pasti selalu akan mendoakanmu, Nak. Kami minta kamu jangan terbawa nafsu, jangan sampai amarahmu membakarmu. Jangan lupakan Allah, jaga dirimu selalu. Ibu dan ayah sudahi dulu ya. Untuk transferan, setelah ini ibu cek m-banking ibu ya. Terima kasih, Sayang sudah menjadi anak yang begitu perhatian kepada kami. We always love you, Kania. Wassalamualaikum.] ucap ibu Kania sebelum dia mengakhiri panggilan videonya.
[I love both of you, Bu, Ayah.] balas Kania kemudian mematikan ponsel kesayangannya.
Kania terdiam untuk sejenak, hatinya terasa pilu mendengar permintaan ayahnya. Sesaat hatinya meragu, apakah sebaiknya dia akhiri saja mumpung belum terlalu jauh. Namun di satu sisi, dia sangat ingin membalas orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya.
Saat Kania menimbang-nimbang antara ingin melanjutkan atau menghentikan permainan yang baru saja dimulainya, tanpa dia sadari lampu di kamarnya mulai berkedip, sebentar nyala, sebentar mati.
Aroma amis pun mulai menyeruak masuk ke dalam rongga pernafasan, tiba-tiba terdengar bisikan tak kasat mata tepat di telinganya yang menyuruhnya untuk terus melanjutkan permainannya.
“Saudariku Kania … lanjutkan permainan kita, jangan berhenti. Jika kamu berhenti, kamu tidak akan pernah bisa membalaskan sakit hatimu pada mereka. Mereka patut diberi pelajaran yang setimpal. Aku akan membantumu mewujudkan semua inginmu karena hanya aku yang peduli padamu, hanya aku … Kania.” Kania mengusap bulu kuduknya yang meremang saat mendengar suara yang serak dan mengerikan itu begitu dekat dengan telinganya.