Sam baru saja selesai menerima panggilan telepon dari Pak Yudi. Dia tersenyum senang karena akhirnya ia berhasil membuat Reno membayar apa yang sudah dia lakukan.
Dia pun segera bersiap untuk datang ke kantor polisi guna memberikan keterangan.
Setelah sampai di kantor polisi…
Sam melihat Dinda yang sedang menunggu di luar ruangan interogasi.
“Sam? Untuk apa kamu ke sini?” tanya Dinda dengan raut wajah kesal.
“Tentu saja aku ingin memberikan keterangan pada polisi! Bukan untuk bertemu denganmu!” jawab Sam dingin.
“Tidak perlu! Cepat kamu pergi dari sini!” usirnya dengan menunjuk ke arah pintu.
“Kamu tidak berhak untuk mengusirku! Aku adalah korban di sini dan pacarmu itu akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya!” ucap Sam dengan mendengus kasar.
“Apa?! Dasar ka-“
Belum selesai Dinda menyelesaikan ucapannya, Sam sudah terlebih dahulu meninggalkan gadis itu. Dia tidak ingin berlama-lama lagi berurusan dengan orang yang tidak penting.
Sesampainya di sana, Sam langsung memberikan keterangan kepada polisi sesuai dengan apa yang terjadi padanya dan juga membawa paku payung sebagai bukti bahwa preman itu telah bekerjasama dengan Reno untuk melukainya terlebih dulu.
Sementara itu di sisi lain Dinda sedang menemani Reno di ruang tahanan.
Tangan Reno diborgol dan sudah memakai baju tahanan yang identik dengan warna orange.
Dinda duduk di kursi yang berhadapan dengan Reno. Dia hanya diberi waktu lima menit untuk bicara.
“Sayang, kenapa jadi begini? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?!” dia memang tidak tahu rencana Reno.
“Sudah diam! Lebih baik sekarang kamu hubungi orang tuaku! Beritahu Papa untuk membebaskanku dari sini!” perintah Reno dengan kilatan api dendam di matanya.
“Tapi mereka punya bukti kuat! Bagaimana caranya?” cicit gadis itu bingung.
“Aku tidak mau tahu! Pokoknya aku harus bisa bebas dari sini! Bagaimana pun caranya!” ucapnya frustasi.
Dinda hanya bisa diam mendengarkan keluh kesah Reno.
“Bagaimana dengan hotel milikku? Cafe dan restoran? Aku harus segera mengembalikan nama baikku! Ini juga demi kebaikan kita! Apa kamu mengerti?!”
Sekali lagi Dinda hanya mengangguk. Dia sendiri bingung kenapa malah Sam yang menjebloskan Reno ke penjara, bukannya malah seharusnya pria itu yang menderita.
***
Setelah semua selesai, Sam pun kembali ke apartemennya untuk berdiskusi dengan Pak Yudi.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan?” tanya Yudi membuka pembicaraan mereka.
“Untuk sementara ini kita biarkan saja dulu dia di sana. Aku sedang ingin fokus bekerja,” jawabnya sambil berdiri menatap keluar jendela.
“Baik, Tuan. Saya akan meminta mereka memberikan informasi secepatnya kalau terjadi sesuatu,”
“Oh, satu lagi! Aku ingin Bapak menyelidiki semua aset yang dimiliki oleh Reno. Aku ingin melihat seberapa berani dia setelah ini!” ucap Sam dengan menyeringai di sudut bibirnya.
“Baik, Tuan. Setelah saya membantu Tuan Besar, saya akan mencari info tentang pria itu. Tuan tunggu saja,” jelasnya.
Sam mengangguk paham, seharusnya dia tidak boleh meminta tolong pak Yudi karena tugasnya adalah dengan Papanya tapi Sam juga tidak mungkin melakukannya sendiri.
“Oh ya, Tuan Besar berpesan agar Tuan Muda segera pulang ke rumah. Dia selalu mengatakan itu padaku. Tuan khawatir dan juga karena Nyonya sudah sangat rindu kepada Tuan Muda. Bagaimana?” ujar Yudi menyampaikan pesan Papanya.
“Hmmm. Baiklah, aku akan memikirkan itu. Aku akan menghubungi Papa kapan aku akan pulang. Terima kasih, atas semua kerja kerasmu!” ucap Sam tersenyum tulus.
“Sama-sama, Tuan Muda. Tidak perlu merasa sungkan. Tuan juga sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri!” ucapnya dengan bangga.
Beliau sudah bekerja dengan keluarga Galaxi selama 20 tahun hidupnya, jadi dia sudah tahu betul bagaimana sifat dan watak dari semua anggota keluarga ini. Terutama dari keluarga Papanya Sam.
“Baiklah. Pak Yudi boleh pulang sekarang!”
“Saya permisi, Tuan.”
Yudi pun pamit undur diri untuk kembali ke rumah orangtua Sam.
Sam yakin kalau Reno pasti berencana untuk membebaskan diri tapi dia tidak perlu pusing akan hal itu. Dia akan memberikan balasan yang lain nantinya.
‘Ayo kita lihat apa saja yang kau punya!’
Sementara itu di rumah Reno…
Dinda menunggu di ruang tamu dengan perasaan cemas. Dia belum pernah bertemu dengan orangtua Reno sebelumnya, tapi demi membebaskan pacarnya, dia harus berani. Apalagi rumah besar ini nampak sepi semakin membuat nyali gadis berambut pirang itu ciut.
Kemudian seorang pria paruh baya muncul dan ikut duduk di sofa seberang Dinda.
“Apa Reno yang menyuruhmu kemari, Nak?” tanya Papa Reno langsung pada intinya.
“I-iya, Om. Darimana Om tau?” Dinda sedikit gugup.
“Tentu saja aku tau!” teriaknya menggebrak meja.
Dinda sampai kaget memegangi dadanya karena terkejut.
“Semua orang juga melihat dia digiring oleh polisi! Anak buat malu!” makinya.
“Ma-maaf, Om. Reno meminta saya untuk menemui Om karena dia ingin bantuan agar dibebaskan,” ucapnya pelan sambil menunduk.
“Hmmm. Apa kamu yang sudah membuat anakku berbuat seperti itu?” selidiknya.
“Ti-tidak, Om. Saya tidak tahu apa-apa. Saya juga kaget saat mendengar berita itu!” jawabnya cepat.
‘Aduh! Bisa gagal jadi menantu orang kaya!’ hati gadis itu gelisah.
“Anak itu selalu saja membuatku menghamburkan uang! Besok aku akan ke kantor polisi. Kamu boleh pulang, Nak!” titahnya.
Papa Reno bangkit dari sofa meninggalkan Dinda sendirian lagi di ruang tamu.
“Hah! Aku harap Reno segera bebas!” gumamnya sambil menghembuskan napas.
Besoknya…
Papa Reno datang ke kantor polisi didampingi oleh pengacara.
Mereka sedang berdiskusi dan bernegosiasi agar berhasil membebaskan putranya.
“Aku harap pihak kepolisian bisa kerjasama dengan saya dalam hal ini. Saya yakin anak saya hanya ingin menggertak korban saja,” ucap Papa Reno memberikan pembelaan.
“Bukti CCTV dan juga saksi memberatkan tersangka. Dia bisa dikenakan pasal berlapis. Kami akan menyerahkan keputusan sepenuhnya pada pengadilan,” jelas petugas itu.
“Kami akan membayar dendanya! Saya jamin anak saya tidak akan melakukan hal itu lagi!” ucap Papa Reno dengan penuh penekanan.
“Baik, tapi tersangka harus menandatangani surat perjanjian dan membayar denda yang sudah tertulis sesuai peraturan yang berlaku. Anda dan pengacara keluarga akan kami jadikan sebagai jaminan!”
“Berapapun akan aku bayar! Aku juga ingin nama anakku bersih!” jawabnya dengan menatap tajam.
“Kami tidak bisa membiarkan anak Anda bebas dengan mudah!”
“Aku ingin anakku keluar dari sini!” pintanya lagi kali ini dengan nada tinggi.
Papa Reno mengatupkan rahangnya karena menahan emosi.
Sementara itu, di ruang tahanan petugas sedang membuka borgol yang ada di tangan Reno.
“Ada apa? Apa aku bebas?” tanya pemuda itu heran.
“Ikut kami!”
Reno menelan ludahnya kasar, dia takut akan dibawa ke ruang tahanan berisi preman dan penjahat lain. Membayangkan saja membuatnya sudah bergidik ngeri.
“Ayo cepat!”
Reno melangkah dengan gugup saat keluar dari pintu, lalu terkejut melihat orang yang ada di depannya.