Saat ini, istana Kaputren sedang berselimut kabut. Bertambah lagi satu alasan kesedihan Kenes Kirana. Bukan saja karena telah kehilangan wajah cantiknya saja. Sekarang, Kenes merasa sedih dengan alasan yang lain, yakni memikirkan ucapan Elang saat terakhir kali mereka berjumpa.
Kenes yang tempo hari menemui Elang di gerbang istana itu mulai mencerna ucapan lelaki yang sudah empat malam ini membuat tidurnya kelabakan. Dihantui bayangan wajah dan kata-kata terakhirnya.
Kabut tipis di Kaputren, semakin menebal hingga berubah menjadi rintikan hujan.
“Jaga dirimu baik-baik, Raden Ayu. Penjahat yang asli masih berkeliaran di dalam Istana.”
Ucapan itu selalu menjadi mimpi di kala tidur. Sebenarnya ada apa? Apa yang sedang terjadi di Istana ini?
“Siapa yang berniat jahat padaku?” gumamnya.
Kenes berjalan mondar-mandir penuh rasa penasaran Bagaimanapun, ucapan Elang sangat mengganggunya.
Selama bertahun-tahun, Damar Langit selalu damai dan tentram. Tak ada musuh yang berani menyerang. Kenapa tiba-tiba, ada penjahat yang menargetkannya?
“Kenapa harus merusak wajahku?” lirihnya.
Sekeras apapun Kenes berusaha memikirkan alasan orang yang berniat jahat padanya, dia tak jua menemukan jawaban.
“Kenes, ada apa?” Saking terjerat dalam lamunan, Kenes tidak menyadari kehadiran sang Ibu yang telah berada di sisinya.
“Aah, Ibunda, aku … aku hanya sedang berpikir tentang ucapan Elang yang memperingatiku.” Tanpa berpikir, Kenes Kirana berkata pada Gusti Ratu.
“Elang?” Dahi wanita paruh baya itu mengernyit heran.
“Ya, Ibunda. Elang berkata bahwa aku harus berhati-hati, karena penjahat yang berniat buruk merusak ketenangan istana masih bebas berkeliaran.”
“Dan kamu percaya padanya? Percaya pada orang yang telah jelas-jelas merusak wajahmu, Cah Ayu?” tanya Gusti Ratu memperjelas.
“Bunda, Elang terlihat jujur. Dia memang tidak mempunyai alasan untuk berbuat buruk padaku.” Gusti Ratu tertawa kecil mendengarnya.
“Hanya karena dia terlihat jujur, kamu percaya padanya? Tumben.”
Pipi Kenes tiba-tiba merona. Gadis itu merasa hatinya sedang tidak normal akhir-akhir ini. Pantas saja Gusti Ratu menertawakannya.
Biasanya, dia bersikap angkuh pada orang lain. Sekarang, kenapa peduli pada Elang?
“Ibunda, jangan menertawakanku!” cicitnya pelan.
Gusti Ratu menghela napas panjang. Mengenai kekhawatiran yang diungkapkan putrinya, dia juga bisa merasakannya. Namun, dia memang tak berani mengatakannya pada siapapun.
“Kenes, sebagai Putri Raja Damar Langit, kamu tidak boleh menampakkan kekhawatiran berlebihan. Apalagi di depan Ayahandamu.”
“Bunda, apakah Ibunda juga merasa curiga?” Kenes bertanya menelisik. Bahkan sang Ibu juga merasakan hal yang sama dengan ucapan Elang. Apakah semua ini begitu kentara?
Gusti Ratu hanya mengangguk lemah, tapi ekspresinya tetap tenang dan datar. Kenes Kirana memperhatikan bagaimana sang Ibu tetap terlihat tenang meski ada gejolak yang membakar dada. Sepertinya, dia harus banyak belajar pada sang Ibunda.
***
“Apa rencanamu, Kangmas Senopati?” tanya Gusti Prabu saat keduanya bertemu di Balairung Istana.
“Hamba telah berhasil mendapatkan informasi valid, ada seorang tabib sakti di Desa Kahuripan. Kabarnya, Tabib sakti itu bisa menyembuhkan berbagai penyakit aneh.” Kanjeng Senopati Raden Mas Bratasena berkata dengan wajah serius.
“Apakah kabar ini bisa dipercaya?” Gusti Prabu tak berniat menjadikan putrinya sendiri sebagai kelinci percobaan untuk kedua kalinya.
Sebelumnya, Kanjeng Senopati telah merekomendasikan Elang Taraka dengan hasil mengecawakan. Sekarang, dia merekomendasikan orang lain lagi. Apakah hasilnya akan sama, atau berbeda?
“Mohon ampun, Gusti Prabu. Hamba sudah mengirimkan prajurit pilihan untuk memastikan informasi ini secara langsung.”
Gusti Prabu terlihat ragu. Dia tidak percaya sepenuhnya, tapi di sisi lain pria paruh baya itu juga merasa iba melihat kesedihan Kenes Kirana.
“Orang ini memang mempunyai kemampuan luar biasa, Gusti Prabu.” Raden Mas Bratasena berusaha meyakinkan keraguan sang Raja.
“Bawa dia ke Istana!” titahnya kemudian.
Kanjeng Senopati menghela napas panjang.
“Mohon ampun, Gusti Prabu. Tabib sakti ini, hanya bersedia mengobati orang, jika orang itu datang sendiri ke Pedepokannya. Meski seorang raja sekalipun, dia harus datang sendiri ke tempatnya. Usianya sudah begitu tua, tak lagi bisa melakukan perjalanan jauh.”
Gusti Prabu menoleh. Benaknya dipenuhi rasa ragu begitu mendengar ucapan Senopati. Dia tidak mungkin melepaskan putri kesayangannya keluar dari Istana untuk berobat. Bagaimana jika ada orang yang berniat jahat pada putrinya di perjalanan?
“Kangmas Senopati, aku tidak mungkin membiarkan Kenes keluar dari Istana. Itu sangat berbahaya,” ucapnya ragu.
Senopati tersenyum lebar. “Itu hanya masalah kecil, Gusti Prabu. Jika Andika berkenan, hamba secara pribadi akan mengantarkan Gusti Putri ke sana untuk memastikan keselamatan beliau. Hanya berobat pada Tabib sakti itu luka di wajahnya akan sembuh, kecantikan Gusti Putri akan kembali lagi.”
“Kangmas Senopati, sepertinya aku harus mendiskusikan semua itu pada Kenes lebih dahulu.” Kendati tak terlalu yakin dengan usulan Bratasena, tapi juga tak rela melepaskan kesempatan untuk kesembuhan putrinya begitu saja. Selagi ada kesempatan, dia harus mencobanya supaya tidak menyesal di kemudian hari.
“Tidak masalah, Gusti Prabu. Hamba rasa, Raden Ayu Kenes Kirana tidak akan keberatan untuk keluar Istana sementara waktu, demi kesembuhannya.”
“Baiklah, Kangmas. Kita bahas lagi setelah Kenes membuat keputusan.”
Raden Mas Bratasena mengangguk setuju. Dalam hati, dia sangat yakin dengan keputusan Kenes. Kilatan mata pria paruh baya itu dipenuhi kebahagiaan ketika keluar dari Balairung Istana. Langkah kakinya terayun menuju tempat tinggalnya.
“Kangmas, kamu terlihat begitu bahagia?” tegur Gayatri ketika mendapati senyuman di bibir Bratasena tak juga memudar ketika dia datang.
“Dinda, kamu ini mengagetkan saja!” dengkusnya begitu menyadari sang Adik datang mengganggu lamunannya.
“Kangmas sendiri yang melamun, kenapa menyalahkanku?” balas Gayatri tak merasa bersalah.
Keduanya duduk di kursi yang ada di aula utama Senopaten. “Jadi, apa Kangmas sudah menyiapkan rencana selanjutnya?” tanya wanita itu.
“Tentu saja. Damar Langit yang makmur ini sudah saatnya berganti pemimpin. Maheswara Kamandaka bukan pemimpin yang layak memimpin. Ha-ha-ha.” Suara tawa serak terdengar menyeramkan. Hanya abdi dalem senopaten yang setia yang tinggal di tempat ini. Bratasena tak pernah khawatir ada yang membocorkan informasi apapun keluar dari tempat tinggalnya ini.
“Kangmas, Isyana Tunggaldewi harus menderita!”
“Kamu jangan khawatir, Nimas. Dia akan menderita bersama suaminya. Ha-ha-ha.”
Jemari Gayatri mengepal erat. Kebencian pada Isyana Tunggaldewi sudah mendarah
daging dalam darahnya. Bisa melihat wanita itu menderita, ada kepuasan tersendiri.
Bersambung