Pagi itu, udara kota Millerachen tampak lebih dingin dari biasanya. Tiupan angin dari arah Gunung Müller, gunung tertinggi di Daerah Otonom Vitania sekaligus gunung tertinggi di Kerajaan Archipelahia itu menyejukkan suasana. Pepohonan rindang berjejer di sepanjang jalan kecil di pinggiran kota, menciptakan tarian bayangan yang bergerak di tanah.
Tepat di jalanan yang sepi itu, seorang gadis berambut panjang dengan seragam militer berwarna tua dan baret putih berjalan sendirian. Cincin Angke berwarna hijau muda di jarinya berkilau samar terkena cahaya mentari yang menerobos celah dedaunan.
Antilles Samarchia melangkah dengan waspada. Mata hijaunya yang tajam sesekali melirik ke arah sekitar, memindai setiap sudut dan bayangan di antara pepohonan yang rindang.
Di tengah keheningan itu, sosok misterius tiba-tiba melesat dari atas pohon. Kilatan sabit besar berwarna merah terayun cepat mengincar leher Antilles. Namun dengan gerakan mulus, Antilles menarik pedang cutlass peraknya dan menangkis serangan itu dalam satu gerakan cepat.
TRINGG
Percikan api kecil muncul dari benturan logam senjata sihir itu. Sosok tersebut terhempas beberapa langkah ke belakang.
“Terlalu mudah ditebak,” gumam Antilles.
Hanya berselang beberapa detik, suara gerakan cepat terdengar dari belakang. Sosok kedua dengan cakar besi hitam berlapis sihir angin menyerang Antilles dengan membabi buta.
SRINGG SRINGG SRINGG
Antilles berkelit, tubuhnya bergerak seperti angin itu sendiri. Semua serangan itu ia hindari dengan gerakan yang efisien layaknya daun yang tertiup angin.
“Terlalu kasar,” ucapnya sambil menghindari tebasan sihir cakar angin tersebut.
Tepat setelah Antilles berhasil menciptakan jarak dari kedua sosok misterius yang menyerangnya, muncul seberkas cahaya dari arah jam enam. Serangan sihir cahaya melesat kencang ke arahnya. Namun lagi-lagi Antilles bisa dengan mudah menghindarinya.
“Koordinasi yang buruk,” gumamnya kembali.
Antilles lalu mengayunkan pedangnya ke arah sosok misterius yang menembakkan sihir cahaya itu, menciptakan sihir pisau angin yang melesat kencang ke arah sosok itu. Sosok tersebut berhasil menghindar, tapi sayangnya kakinya tersandung akar pohon yang menonjol. Ia pun terjatuh hingga tongkat sihirnya terlepas dari tangannya.
“Aduh…” ucap sosok itu dengan nada feminim.
Sosok misterius bersenjata sabit merah dan cakar besi hitam itu lalu menyerang Antilles secara bersamaan. Namun serangan itu masih bisa dibaca oleh gadis bermata hijau tersebut. Dengan cepat Antilles mengayunkan pedang cutlass peraknya dengan gerakan melingkar sempurna secara vertikal, dan dalam sekejap sabit merah dan cakar besi hitam itu terlepas dari genggaman pemiliknya.
Antilles meraih pergelangan tangan kedua penyerangnya itu sambil mencengkeramnya erat, lalu memutar tubuhnya sendiri. Momentum putaran itu kemudian ia gunakan untuk melempar kedua tubuh lawannya bersama-sama ke arah sosok ketiga yang masih terduduk di dekat akar pohon.
BRUKK
Ketiga sosok itu pun saling bertumbuk dan jatuh berguling-guling di tanah. Wajah dan setelan gadis penyihir dari mereka bertiga pun kini terlihat dengan jelas.
Antilles menarik napas dalam-dalam dan menaruh tangannya di pinggangnya
“Payah sekali!!” ujarnya dengan nada yang tegas. “Tanasha, gerakan pertamamu terlalu mudah ditebak. Angela, kau masih ragu-ragu untuk menyerang. Dan Ran…”
Antilles menunjuk ke arah gadis ketiga yang masih memegangi lututnya yang kesakitan akibat tersandung akar. “…kau terlalu lambat dan tidak fokus.”
Ketiga gadis itu pun bangkit perlahan dengan kepala tertnduk.
“Maafkan kami, Ketua Antilles,” kata Tanasha, gadis bersenjatakan sabit. “Kami akan meningkatkan kemampuan bertarung kami.”
Antilles menghilangkan pedang peraknya. “Kalian bertiga harus lebih cepat dan matang dalam menyergap musuh. Kalau tidak, kalian akan mati. Paham?” tegasnya.
“Paham, Ketua!!” jawab ketiganya serempak.
Antilles pun berjalan meninggalkan tempat itu, diikuti oleh mereka bertiga di belakangnya.
***
Itu adalah sebuah bangunan tua bergaya Karelo-Vitanian kuno dengan sedikit sentuhan modern. Tempat yang cukup tersembunyi dari balik pepohonan rindang tersebut menjadi markas rahasia Antilles Samarchia bersama skuadnya.
Di dalam ruangan berukuran sedang dengan dinding berwarna merah tua dan jendela tinggi, Antilles duduk di balik meja kayu ek sambil memeriksa sejumlah berkas. Tiga gadis muda berdiri di hadapannya dengan ekspresi beragam. Tanasha tampak kesal, Angela cemberut, sementara Ran terlihat gugup.
“Apa kalian tahu betapa pentingnya kemampuan menyergap bagi seorang gadis penyihir?” tanya Antilles tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di depannya.
“Tentu saja, Ketua!!” jawab Angela dan Tanasha tegas.
Namun sedikit berbeda dengan Ran. Gadis berkacamata itu tampak gugup menjawabnya.
“Ta-tapi, kami mustahil bisa mengalahkan Ketua Antilles yang merupakan gadis penyihir terkuat ke-100 di brigade,” ucapnya dengan suara pelan dan sedikit gemetar.
“Bahkan penyihir penjaga ibukota sekelas Erina Petrova saja bisa ketua kalahkan dengan mudah,” lanjutnya.
Antilles mengangkat wajahnya, menatap Ran dengan tatapan tajam.
“Aku tidak minta pendapatmu tentangku, Ran. Aku hanya menyuruh kalian bertarung dengan gigih.”
Ran terdiam mendengarnya. Sementara itu Tanasha dan Angela tampak berdebat di belakangnya.
“Hadeh, seharusnya kau duluan yang menyerang, baru setelah itu giliranku,” tuduh Tanasha pada Angela.
“Lah? Justru itu ‘kan kesepakatan kita sejak awal? Kau menyerang duluan dengan sabitmu, setelah itu aku menyerang dengan sihir cakar angin. Kok malah jadi menyalahkan aku?” bantah Angela.
“Aku sudah bilang itu ide yang payah. Jadinya kita semua gagal ‘kan?”
Ran yang berdiri di antara mereka berdua berusaha mendamaikan.
“Tanasha, Angela, aku pikir kita seharusnya-“
“Diamlah, Ran. Ini urusanku dengan dia,” potong Angela.
Perdebatan semakin memanas. Antilles yang mulai kesal akan hal itu langsung mengambil penggaris besi di mejanya dan memukulnya dengan keras ke permukaan meja.
BRAKK
Ruangan itu seketika hening. Ketiga gadis itu langsung berdiri tegak dengan wajah yang tegas. Keringat dingin pun keluar dari kulit mereka.
“Tanasha, Angela, Ran. Apakah kalian tahu kenapa aku memilih kalian bertiga sebagai asistenku dari seluruh kadet yang ada di skuad ini?” tanya Antilles.
Ketiganya menggeleng pelan tanpa suara.
Antilles berdiri dari kursinya sambil menatap mereka dengan tajam, namun dengan kepedulian.
“Itu karena kalian bertiga adalah gadis penyihir yang sangat potensial,” ucapnya.
Gadis itu menatap bawahannya satu-satu.
“Tanasha, kau memiliki ketangkasan dan ketepatan yang luar biasa. Angela, kecepatan dan refleks-mu mengatasi berbagai serangan membuatku terkesan. Sedangkan kau Ran, kau memiliki kontrol sihir yang sangat baik dibandingkan kadet yang lain.”
Wajah-wajah tegang itu kini berubah menjadi sedikit lebih cerah. Namun Antilles belum selesai bicara.
“Tapi potensi saja tidak cukup. Kalian harus bisa bersatu dan bekerja sama, khususnya dalam strategi dan taktik. Kalian pikir bagaimana reguku bisa bertahan dalam penyergapan di Jalan Volksargaten? Itu karena kami bersatu dan bekerja sama dalam tim. Dan lihatlah apa yang terjadi selanjutnya saat koordinasi kami hancur di Taman Volfostadt?”
Suara Antilles sedikit bergetar di akhir kalimat. Bayang-bayang wajah Izetta, Minerva, Len, dan teman-temannya yang lain terbesit di benaknya. Sementara ketiga bawahannya itu hanya bisa terdiam seribu bahasa.
“Huff.., sudahlah. Lupakan saja.”
Antilles menghela napas dan kembali duduk di kursinya.
“Lagi pula, aku punya misi untuk kalian bertiga,” katanya.
“Misi?” tanya Ran.
“Benar. Kalian harus mendapatkan bunga kenanga Müller yang tumbuh di lereng Gunung Müller,” jelas Antilles.
“Bunga kenanga Müller? Bunga langka itu?” Tanasha bertanya-tanya.
“Tepat sekali,” jawab Antilles. “Ini adalah misi yang bagus untuk melatih kemampuan sembunyi dan menyergap kalian.”
“Melatih kemampuan sembunyi dan menyergap kami? Itu keren,” ujar Angela bersemangat.
Antilles sedikit mengerutkan alisnya. “Tapi ini bukanlah misi sembarangan. Misi ini sejatinya hanya bisa dilakukan oleh divisi spionase saja karena tingkat kesulitannya sangat tinggi.”
“Apa? Divisi spionase?” Ran tampak gugup mendengarnya. “Ta-tapi kami ‘kan hanya kadet biasa.”
Antilles mengabaikan kekhawatiran gadis berkacamata itu.
“Gunung Müller sendiri terkenal dengan lerengnya yang sangat curam dan jurangnya yang sangat dalam. Tempat itu rawan longsor. Selain itu, tempat itu juga merupakan habitat dari hewan-hewan buas seperti beruang Vitania raksasa, macan kumbang, harimau taring pedang…”
Wajah ketiga gadis itu mulai memucat.
“…bahkan tidak menutup kemungkinan adanya makhluk sihir yang besar dan mengerikan yang bisa menerkam kalian bertiga tanpa kalian sadari,” lanjut Antilles sambil tersenyum menyeringai.
Tanasha, Angela dan Ran menelan ludah bersamaan. Namun mereka tetap berusaha terlihat berani, meskipun Antilles masih tetap bisa mengetahui ketakutan mereka.
“Berapa lama waktu yang kami miliki, Ketua Antilles?” tanya Tanasha yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.
“Sebelum Formalha terbenam di ufuk barat,” jawab Antilles singkat.
Ketiganya sontak terkejut dengan perintah itu.
“A-apa? Tapi waktunya singkat sekali,” ucap Ran.
Antilles menatap ketiganya dengan tajam.
“Aku ulangi. Ini adalah misi wajib bagi kalian. Kalau kalian tidak kembali membawa bunga itu sore ini, kalian bertiga akan mendapatkan hukuman yang berat. Paham?”
“Pa-paham, Ketua Antilles!!” jawab ketiganya bersamaan.
“Baiklah. Sekarang cari bunga itu.”
“Baik!!”
Ketiga gadis itu pun memberikan hormat sebelum meninggalkan ruangan dengan langkah yang berat.
Tepat setelah pintu tertutup, cincin Angke di jari Antilles mengeluarkan cahaya, pertanda adanya koneksi masuk. Antilles pun merapalkan mantra pembuka.
“Opun!!”
Sebuah proyeksi holografis muncul tepat di atas cincin Angke-nya, menampilkan garis gelombang suara yang biasanya terdapat dalam sejumlah alat komunikasi berbasis teknologi.
“Oy, Antilles. Apa kabar?” tanya seorang gadis via koneksi itu.
Antilles yang mendengar suara itu langsung mengetahui siapa yang menghubunginya. “Ah, Imelda. Sudah cukup lama tidak berbicara denganmu.”
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Imelda dari perpustakaan intelijen rahasia di kota Trossbourgh.
“Tidak terlalu spesial,” jawab Antilles singkat. “Banyak pekerjaan baru yang harus aku selesaikan.”
Imelda menghela napas panjang. “Aahh…, semenjak kau jadi ketua skuad menggantikan Izetta dan harus pindah ke Millerachen, aku jadi kesepian di perpustakaan ini,” keluhnya.
“Bukannya ada Madoka di sana?”
“Madoka ya? Dia…” Imelda terdiam sejenak. “…dia masih merenung sendirian di kamar perpustakaan. Sepertinya dia masih terpukul akibat kematian adiknya Kirika.”
“Begitu ya?”
Bayangan Arisaka Kirika yang terluka parah di Taman Volfostadt terlintas di benak Antilles. Gadis suku Higashi itu sempat berpesan pada Antilles untuk menyelamatkan Izetta sebelum akhirnya gugur karena luka parah.
Antilles pun menghela napas. “Huff…, berikan dia waktu untuk beristirahat sampai kembali pulih dan bisa berjuang kembali bersama kita.”
Imelda yang mendengar hal itu tersenyum hangat. “Kau benar-benar mirip Ketua Izetta, Antilles? Meskipun sangat tegas dan keras, tapi kau sangat peduli terhadap kondisi bawahanmu.”
“Kau terlalu berlebihan, Imelda,” bantah Antilles.
“Tidak. Aku serius kok. Kau tak seperti pemimpin skuad lainnya. Apa kau tahu Abigail Himmler, ketua skuad yang dibubarkan beberapa hari yang lalu? Dia memaksa bawahannya untuk bertarung walaupun kondisi fisik dan mental mereka sudah hancur. Dan dia akhirnya kalah dalam Duel oleh bawahannya sendiri,” jelas Imelda.
Antilles menggelengkan kepalanya. “Aku hanya melanjutkan prinsip yang telah Ketua Izetta tanamkan pada skuad kita. Tidak lebih dari itu.”
“Kau terlalu merendah, Antilles,” puji Imelda. “Ngomong-ngomong, aku benar-benar salut dengan nilai apresiasimu terhadap bawahanmu.”
“Apresiasi?”
“Iya. Caramu menghargai usaha mereka dalam berjuang,” kata Imelda.
“Begitu ya?”
Suasana pun menjadi hening.
“Ah iya, aku harus kembali memeriksa sejumlah buku baru. Kita bicara lagi nanti ya. Bye Antilles.”
“Bye Imelda.”
Setelah percakapan mereka berakhir dan koneksi holografis terputus, Antilles termenung di kursinya. Kata-kata Imelda tadi terus terngiang di telinganya.
“Apresiasi, ya?”
***
Formalha sudah mulai naik ke atas ufuk, menyinari kota Millerachen yang mulai menghangat. Antilles berjalan melewati jalan kecil yang sama seperti tadi pagi. Kali ini dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu dan rok panjang berwarna biru muda, setelan feminim yang selalu ia kenakan saat bersama Imelda di perpustakaan. Di tangannya terdapat bingkisan berisi kue coklat yang ia beli di toko kue yang tak jauh dari markasnya.
Antilles sempat memperhatikan kue itu dengan seksama sebelum menurunkannya lagi.
Meskipun di siang hari, tapi jalanan kecil itu tampak sepi. Pepohonan rindang menciptakan bayangan gelap yang menari-nari tertiup angin. Antilles berjalan sendirian di sana. Namun di tengah kesendirian itu, insting tajamnya tiba-tiba mendeteksi sesuatu.
“How weird,” gumamnya dalam bahasa Atlantia.
Antilles merasa seperti ada yang mengawasinya. Ia pun menoleh ke belakang. Tapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya daun-daun yang berguguran tertiup angin.
“Tidak ada siapa pun,” gumamnya.
Namun saat ia menoleh kembali ke depan, sosok misterius dengan helm menutupi kepalanya tiba-tiba muncul tepat di depannya. Belum sempat Antilles bereaksi, sosok itu memukul perutnya dengan sangat keras.
“Ughh…”
Tubuh Antilles terhempas dan berguling-guling di tanah. Bingkisan kue coklat yang ia bawa terlempar, isinya berhamburan.
Antilles berusaha bangkit dan merapalkan mantra transformasi.
“Vre-“
BRUKK
Tetapi sayangnya, sebelum mantranya selesai diucapkan, sosok itu kembali menyerang. Kali ini dengan tendangan keras di perutnya. Tubuh Antilles kembali terhempas. Punggungnya menghantam batang pohon dengan keras.
BRUKK
“Aghh…”
Pandangan Antilles mulai kabur akibat terkena serangan itu. Di tengah kesadarannya yang menipis, ia melihat dua sosok misterius yang berdiri di depannya.
“Akhirnya kita berhasil menemukannya,” ucap sosok misterius yang menendangnya. Suaranya terdengar seperti seorang wanita dewasa.
“Sesuai dengan perkiraan,” timpal sosok misterius lainnya yang terdengar seperti seorang pria dewasa.
Antilles berusaha mempertahankan kesadarannya, namun kegelapan perlahan menelannya. Hal terakhir yang ia lihat adalah dua sosok misterius dengan kepala tertutup helm yang melihat ke arahnya, tepat sebelum semuanya menjadi hitam pekat.
***