Di sepertiga malam, semua penghuni rumah di buat gempar dengan kabar tuan besar yang tak sadarkan diri. Dengan sigap Arian pun membawa sang kakek kedalam mobil, Nadia pun ikut dan duduk di kursi belakang menemani sang kakek. Selama perjalanan Nadia menggosok telapak tangan Alex dan mengoleskan kayu putih di dekat hidung pria paruh baya itu. Namun tak ada hasil apapun. Setelah tiba di halaman rumah sakit, Arian segera memanggil perawat untuk mengambilkan brankar supaya memudahkan membawa kakeknya ke ruangan periksa.
Arian dan Nadia terus berjalan mengikuti petugas yang mendorong brankar berisi kakek mereka hingga petugas menyuruh mereka menunggu di luar ruangan. Nadia tak mengeluarkan sepatah katapun, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tatapannya kosong, dan kedua matanya terlihat sudah berkaca-kaca.
Arian yang sedari tadi menundukkan kepalanya pun mulai mendongak, dia mengusap wajahnya kemudian menyandarkan punggung di tembok. Raut kecemasan sangat terlihat dari keduanya, dalam hati, Nadia tak henti-henti melafalkan do’a untuk kesembuhan kakeknya.
Waktu terus berjalan, tak ada sepatah katapun yang terlontar dari keduanya. Keduanya sama-sama bungkam dan tak bersuara. Hingga kemudian Tris beserta seorang pelayan datang dengan langkah lebar.
“Tuan, bagaimana tuan besar ?” Tahya Tris pada Arian.
“Dokter belum keluar.” Jawab Arian singkat.
Tris pun tak bersuara lagi, hingga dia teringat dengan Farza yang berada di sampingnya.
“Mbak, duduk dulu.” Ucap Tris menunjuk kursi yang berada di sisi lain. Farza pun duduk dan kemudian di susul dengan Tris.
“Kalian, kenapa ikut kesini ?” Tanya Arian pada Tris dan Farza.
Pertanyaannya itu membuat Nadia yang sedari tadi terdiam langsung menoleh pada Farza dan Tris di hadapannya.
“Emm, tuan. Kami ingin menemani anda dan nyonya. Pasti ada sesuatu yang bisa kita bantu.” Jawab Tris
“Biarkan saja, Tuan. Mungkin mereka juga ingin mengetahui kondisi kakek.” Ucap Nadia keceplosan hingga membuat ketiga orang itu menatapnya. Berbeda dengan Tris dan Farza yang menatap Nadia dengan bingung, Arian malah menatapnya dengan tajam.
“Ehh, mas !” Ralatnya yang tak berguna. Tetap saja semua orang sudah mendengar ucapannya tadi dengan sangat jelas.
Arian memalingkan wajahnya dengan malas. Sedangkan Farza dan Tris masih terus menatap nyonya mereka.
“Nyonya kenapa memanggil suaminya dengan sebutan tuan, ya ? Apa pernikahan mereka baik-baik saja ?” Bathin Farza.
“Sepertinya benar dugaanku selama ini, kalau tuan dan nyonya terpaksa menikah demi tuan besar yang sangat menyayangi nyonya. Jika nyonya tidak bahagia dengan pernikahannya, akuu…” Tris terus berkecamuk dengan hatinya. Di sisi lain dia merasa senang karena menemukan sedikit celah untuk memperjuangkan perasaanya.
Suasana hening kembali, Nadia yang tadi mendapat tatapan dari semua orang memilih untuk terus menundukkan wajahnya.
Ceklek, pintu ruang periksa terbuka dan memperlihatkan seorang dokter dengan wajah pasrahnya. Nadia serta yang lainnya langsung berdiri dan memberondong sang dokter dengan pertanyaan mereka.
“Dok, gimana keadaan kakek saya dok ??”
“Dok, semua baik-baik saja kan ?”
Dokter laki-laki itu menghela nafas terlebih dulu sebelum menjelaskan.
“Kakek anda kritis. Beliau menderita Bronkitis yang sudah cukup parah. Beliau harus di rawat inap.”
Lagi – lagi Arian hanya bisa mengusap wajahnya dengan gusar.
“Dok, apa boleh saya lihat kakek ?” Tanya Nadia membuat Arian langsung merasa terwakili.
“Ya, silahkan. Tapi jangan terlslu banyak. Cukup dua orang saja.”
Nadia menoleh pada Arian, keduanya pun segera masuk kedalam ruangan dengan beriringan. Di atas ranjang pasien, kakek mereka terbaring lemas dengan berbagai alat yang terhubung pada tubuhnya.
Nadia menatap kakek dengan mata berkaca-kaca. Rasanya saat itu juga dia sudah tak bisa menahan tangisnya, tapi dia dengan sekuat tenaga menahannya.
“Kek… Kakek cepat sembuh. Nadia sangat kesepian tanpa canda kakek. Nadia tidak punya siapa-siapa lagi… Kakek yang kuat ya ?”
Di akhir kalimatnya, Nadia sudah tak mampu menahan air mata yang sudah menggenang memenuhi pelupuk matanya. Nadia menangis tanpa suara sambil memegang tangan Alex, dia menundukkan kepalanya hingga hanya terlihat punggungnya yang bergetar. Arian yang mengetahui Nadia sesang menangis pun dengan reflex memegang pundaknya. Awalnya Nadia mengabaikannya, lalu saat merasakan elusan lembut di bahunya Nadia mulai menoleh pada Arian. Arian yang menyadari kelakuannya pun langsung menjauhkan tangannya dan berdehem dua kali, berusaha mengusir rasa malu dan salah tingkahnya.
“J-jangan nangis. Kakek bakalan sembuh. Nanti kamu menggeser selang infusnya.” Ucap Arian tanpa berani menatap Nadia.
Nadia pun mengusap air matanya dan menatap Alex.
“Ya, kakek bakalan sembuh. Kakek pasti sembuh.” Ucap Nadia meyakinkan dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu, selama ini Nadia terus menunggui kakeknya yang masih belum pulih. Arian pun selalu menyempatkan diri untuk menjenguk kerumah sakit saat pekerjaannya sudah selesai.
Genap seminggu sudah kakek di rawat, kini keadaannya sudah semakin membaik. Bahkan kakek pun sudah bisa berjalan kembali walau harus dipegangi.
“Nak, ayo kita pulang. Kakek sudah tidak betah disini.” Rengeknya dengan raut memelas.
Nadia terkekeh melihat ekspresi kakeknya itu.
“Iya, kek. Nanti nunggu mas Arian ya ? Biar mas Arian minta izin sama dokter.” Jawab Nadia
Alex pun menghela nafas dengan lesu, pasalnya cucunya itu selalu saja menolak dengan tegas jika kakeknya meminta untuk pulang dan di rawat di rumah saja.
“Kakek, Arian akan melakukan apapun yang kakek inginkan dan perintahkan. Tapi jika itu berlawanan dengan kesehatan kakek, Arian tentu saja tidak akan menurutinya.”
Arian selalu mengatakan hal itu jika Alex memintanya untuk pulang.
Ceklek
Pintu terbuka, menampilkan Arian yang masih menggunakan pakaian kantornya. Dia pun masuk dsn di sambut oleh Nadia, Nadia segera meraih tangan Arian dan menciumnya. Kebiasaan baru sejak mereka bertemu di rumah sakit. Nadia memang melakukannya dengan tulus, di tambah lagi di depan kakek yang harus melihat hal baik. Tapi Arian malah menganggap sikap istrinya itu hanya sebatas akting di depan kakek. Jadi dia pun tak memprotes itu. Namun, tetap saja sda rasa berbeda begitu di perlakukan seperti ini oleh istrinya. Ya, dia merasa menjadi suami istri sungguhan.
“Mas ?”
Nadia melambaikan tangannya di depan wajah Arian yang sedang melamun.
“Ehh… Ya ?” Ucapnya dengan gelagapan.
“Kenapa melamun ?” Tanyanya dengan mengerutkan keningnya.
“Eh, e-enggak. Gak kok.” Ucapnya dengan kegugupan yang sangat kentara sekali di wajahnya.
Arian segera beralih pada kakek yang sedang duduk bersandar di atas ranjang untuk menghindar dari Nadia.
“Kek… Kakek gimana keadaannya sekarang ?” Tanya Arian
Alex yang mengetahui cucunya itu sedang salah tingkah, malah jadi ingin menggodanya.
“Kakek baik, Rian. Ayo kita pulang, supaya kalian juga bisa beristirahat di rumah dengan tenang. Kasihan Nadia, dia tidak pernah pulang sama sekali untuk menjaga kakek disini. Nah, Arian, nanti kamu harus memberi istrimu ini jadiah yang sangat istimewa setelah pulang kerumah.” Kakek tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Arian merasa geli melihat tingkah aneh kakeknya itu.
Nadia hanya terkekeh sambil menutup mulutnya, dan langsung pura-pura menatap ke arah lain saat Arian meliriknya.
“Iya kakek. Kakek jangan fikirkan itu, kalau gitu Arian ingin meminta izin terlebih dulu sama dokter untuk pulang.”
Arian pun keluar dari ruangan. Sepeninggalnya, rasa ingin ketawa yang dia tahan pun langsung pecah, Nadia pun ikut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Haha… Kamu lihat raut wajahnya tadi ? Dia ternyata bisa salah tingkah juga di depan wanita.” Ucap kakek pada Nadia.
Nadia pun hanya tersipu malu sambil menundukkan wajahnya. Nadia juga merasa heran dengan sikap suaminya yang akhir-akhir ini lebih friendly padanya. Dan saat tadi pun, dia dapat melihat adanya kegugupan dan salah tingkah pada suaminya itu.