Langkah Sintensy membawanya kembali ke reruntuhan desa tempat ia dibesarkan. Tanah itu kini ditumbuhi ilalang liar, rumah-rumah tinggal puing. Hanya beberapa fondasi yang masih terlihat—jejak hening dari tragedi yang mengubah hidupnya.
Ia berjalan pelan, menyusuri bekas jalan tanah, melewati tempat ia dulu bermain, tempat ia dan teman-temannya bercanda sebelum semuanya lenyap. Ingatan itu datang seperti hantaman, bukan untuk menyakiti, tapi untuk mengingatkan.
Di ujung reruntuhan, ia menemukan sebuah papan kayu setengah gosong. Tertulis samar: Balai Warga. Di sanalah kerusuhan bermula. Dua kelompok warga berdebat tentang harga bahan bangunan, lalu berubah jadi perebutan pelanggan, dan… sisanya adalah neraka.
Sintensy duduk di bawah pohon tua. Ia menarik napas panjang. “Siapa yang mulai semua ini?” bisiknya.
Dalam keheningan, ia mengingat satu nama: Pak Giman, tukang bangunan dari desa tetangga yang dulu sering datang membawa proyek.
Pak Giman dulunya dianggap penengah. Tapi di hari tragedi itu, ia justru hilang. Tidak terlihat saat tawuran terjadi, tidak pernah ditemukan setelahnya. Nama itu terlupakan… sampai sekarang.
“Kalau ada yang tahu kenapa desa ini bisa terbakar, mungkin dia.”
Sintensy berdiri lagi. Kali ini dengan niat baru: mencari kebenaran tentang orang-orang yang terlibat di masa lalu, bahkan jika itu berarti membuka luka yang sudah membatu.
Langkahnya ringan, tapi dalam pikirannya mulai terbentuk peta: orang-orang yang pernah datang ke desanya, yang mungkin terlibat, yang dulu hanya bayangan lalu lalang.
Ia tak tahu apakah ia akan menemui mereka untuk bicara… atau membunuh.
Tapi satu hal pasti:
Ia tak akan membiarkan amarah mengendalikan langkah selanjutnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bergerak bukan karena pelarian, bukan karena kemarahan… tapi karena ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya.
..•..
Langit mendung menyelimuti desa tetangga saat Sintensy tiba. Ia mengenakan mantel panjang dan topi lusuh yang menyembunyikan wajahnya. Langkahnya tenang, tapi sorot matanya tajam mengamati tiap orang yang lewat.
Desa ini tak mengalami kehancuran seperti desanya. Justru terlihat berkembang—ada kios kecil, bengkel, dan beberapa rumah baru dibangun. Tapi bagi Sintensy, tempat ini adalah lembaran tua yang belum selesai dibaca.
Ia berjalan ke pasar. Suasana ramai, pedagang berteriak menawarkan barang, anak-anak berlarian. Tapi fokusnya tertuju pada seorang pria tua yang duduk di bawah pohon besar, menjajakan rokok linting dan koran bekas. Wajahnya keriput, matanya tajam.
Sintensy menghampirinya dan berbisik pelan, “Pak Giman… dulu sering ngantar bahan bangunan ke desa sebelah, kan?”
Pria itu mendongak. Sorot matanya berubah waspada. “Kamu siapa?”
“Orang yang selamat dari desa yang hancur gara-gara tawuran itu,” jawab Sintensy datar. “Aku cuma mau tahu… kenapa bisa terjadi.”
Pak tua itu menarik napas panjang, lalu menyulut sebatang rokok.
“Aku kira gak bakal ada yang nanyain itu lagi… Setelah desa kalian habis, semua orang pura-pura lupa. Mereka pikir kalau diam, semua bakal tenang.”
“Termasuk kamu?” desak Sintensy.
Pria tua itu mengangguk pelan. “Aku ada di sana. Hari itu, aku nyari aman. Aku tahu dua orang yang manasin suasana… tapi mereka bukan warga biasa. Mereka disuruh. Disuruh siapa, aku gak tahu pasti. Tapi aku pernah denger… nama seseorang disebut: Garda.”
“Siapa Garda?” mata Sintensy menyipit.
“Dulu dia kerja buat perusahaan properti. Sering dateng ke desa-desa yang strategis. Ngadu domba warga, bikin kerusuhan… biar lahannya bisa dibeli murah. Aku dengar, setelah desa kalian rata, mereka beneran beli tanahnya.”
Tangan Sintensy mengepal. “Dan gak ada yang pernah diadili?”
“Gak ada. Karena semua saksi bungkam. Semua warga takut. Tapi ada satu orang yang mungkin masih hidup dan tahu lebih banyak—Bu Ratri, guru SD waktu itu. Dia satu-satunya yang berani ngomong, tapi langsung pindah dan hilang kabar.”
“Di mana dia sekarang?”
Pria itu menunjuk ke arah selatan. “Kota kecil di pegunungan. Ada yang bilang dia kerja di perpustakaan sana.”
Sintensy berdiri. “Terima kasih.”
Pria itu menatapnya lama. “Kalau kamu ketemu Garda… hati-hati. Orang itu gak main kotor. Dia main licik.”
Sintensy tak menjawab. Ia melangkah pergi, meninggalkan pasar yang kembali tenggelam dalam hiruk pikuk. Tapi dalam dirinya, peta yang sempat kabur kini mulai tergambar jelas:
Jejak menuju kebenaran telah ditemukan. Tapi apa yang menantinya di ujung, belum tentu bisa ditebus dengan darah.
Perjalanan ke kota kecil di pegunungan itu memakan waktu dua hari. Sintensy tidak membawa banyak barang—hanya satu tas kain, pisau kecil tersembunyi di balik pinggang, dan satu nama: Bu Ratri.
Kota itu sunyi. Terlalu tenang. Dikelilingi hutan pinus dan kabut yang menggantung di jalan-jalan berbatu. Di ujung jalan utama, berdiri sebuah bangunan tua bercat putih pudar. Plang kayu bertuliskan “Perpustakaan Rakyat” tergantung miring, digantung dua rantai berkarat.
Langkah Sintensy mantap saat ia mendorong pintu perpustakaan. Deritnya tajam, mengusik keheningan.
Di dalam, aroma buku tua dan kayu lembap menyambutnya. Seorang perempuan duduk di meja resepsionis, rambutnya sudah memutih sebagian, tetapi matanya masih waspada seperti seekor burung hantu.
“Sedang cari buku?” tanyanya tanpa menoleh.
“Bukan buku,” jawab Sintensy pelan. “Aku cari Bu Ratri.”
Perempuan itu diam, kemudian mendongak menatapnya. Matanya membulat. Wajahnya menegang.
“Aku tidak tahu siapa itu,” ucapnya cepat.
“Tapi kamu tahu desa yang hancur lima belas tahun lalu. Kamu ada di sana. Kamu tahu tentang Garda.”
Suasana mendadak sunyi. Hanya jam tua di dinding yang berdetak. Tik… tok… tik… tok…
Perempuan itu berdiri perlahan. Tangannya gemetar saat ia menunjuk ke arah rak paling pojok. “Ikut aku.”
Mereka melewati rak demi rak, lalu berhenti di ruang kecil di belakang perpustakaan—ruang kerja yang berantakan, penuh dengan dokumen dan koran lama.
“Aku sembunyi di sini bukan karena takut,” katanya lirih, “tapi karena tidak ada yang mau mendengar.”
Sintensy duduk, matanya menatap tajam. “Aku mau dengar semuanya.”
Bu Ratri membuka sebuah laci tua. Ia mengeluarkan map kusam bertuliskan: Tanah Konflik – 2010.
“Semua berawal dari peta ini,” ujarnya sambil membentangkannya. “Garda dan kelompoknya—entah itu mafia tanah, perusahaan, atau pejabat—mengincar tanah kalian karena jalur sungai di bawahnya. Potensi tambang pasir silika.”
Ia menunjukkan foto-foto: dokumen pembelian tanah yang ditandatangani paksa, surat ancaman, laporan warga yang tak pernah ditindaklanjuti.
“Mereka menyewa dua provokator untuk bikin kerusuhan. Satu dari pihak luar, satu lagi… sayangnya warga sendiri yang tergoda uang.”
Sintensy menggertakkan giginya.
“Lalu setelah rumah-rumah terbakar, kalian semua mengungsi. Beberapa tewas. Dan dalam hitungan minggu, tanah itu sudah berganti pemilik.”
Ia meletakkan surat terakhir—tertanggal seminggu setelah tragedi. Tanda tangan Garda ada di sana, lengkap dengan cap perusahaan.
“Ini cukup untuk menyeret dia?” tanya Sintensy.
“Secara hukum? Belum tentu. Tapi untukmu? Itu semua cukup jadi alasan.”
Sintensy berdiri. Matanya kosong, dingin.
“Aku tahu di mana Garda sekarang,” kata Bu Ratri akhirnya. “Dia sering muncul di kota industri pinggir laut. Di situ dia kelola semacam markas rahasia. Dulu aku dapat informasi dari teman jurnalis… tapi temanku hilang.”
Sintensy mengangguk. “Terima kasih. Sekarang aku tahu arah yang harus kuambil.”
Saat ia meninggalkan ruangan itu, angin berembus dari celah jendela, membawa aroma tanah basah. Masa lalu tak lagi jadi kabut. Kini ia adalah bara.
..•..
Sintensy duduk di atas atap bangunan kecil tak jauh dari perpustakaan, menatap langit yang diliputi awan kelabu. Di tangannya, map berisi dokumen dan bukti kejahatan Garda masih tergenggam erat. Angin gunung yang dingin menyapu wajahnya, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikiran yang membara.
Dia tahu semuanya sekarang.
Siapa yang memulai tawuran. Siapa yang mengadu domba. Siapa yang membakar rumah-rumah. Dan siapa yang menandatangani surat penyerahan tanah dengan darah keluarganya.
Namun, kakinya tetap diam.
Tangannya yang kuat itu—yang dulu tak ragu mematahkan leher demi bertahan hidup—kini gemetar. Bukan karena takut, tapi karena beban.
Beban keputusan.
Dia bisa berangkat malam ini. Menyusup ke kota industri. Menancapkan pisau ke leher Garda dan mengakhiri semuanya. Tapi… apakah itu akhir?
Apakah pembalasan cukup untuk menebus kematian ibu? Apakah luka lama benar-benar sembuh dengan darah baru?
Bayangan wajah ibunya muncul di benaknya. Senyuman lembut saat mengelus kepalanya. Teriakan panik di malam itu. Mata yang terbuka lebar, menatap kosong ke langit setelah tertusuk.
Tangannya mengepal.
“Kalau aku bunuh dia,” bisik Sintensy, “apa aku jadi lebih baik dari dia?”
Tiba-tiba ia teringat ucapan gurunya, lelaki tua dari desa yang pernah ia anggap rumah kedua sebelum dibakar juga:
> “Kebencian itu api, Sintensy. Dia bisa hangatkan tekadmu, tapi kalau kau biarkan, dia bakar jiwamu.”
Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian memejamkan mata.
Dia belum siap.
Belum sekarang.
Tapi suatu hari… dia akan datang. Ketika pikirannya setajam pisau di pinggangnya. Ketika dia bukan lagi pemuda yang marah, tapi lelaki yang tahu persis untuk apa dia bertarung.
Dan hari itu akan menjadi hari terakhir bagi orang-orang seperti Garda.