“Kamu tau? Dari kecil Nenekku ‘lah yang merawat dan menyayangiku.”
“Iya, Kak. Menangislah sepuas hati, Kakak. Ada Adek disini untuk Kak Vano.”
Mutiara memeluk erat Vano agar merasa lebih tenang. Ia menangis tergugu, Vano satu persatu menceritakan semua hal tentang masa lalunya. Bahwa neneknya yang paling ia rindu ketimbang mamanya sendiri dan yang membikin hatinya tambah hancur adalah Eva diminta untuk datang menjaga neneknya justru malah menolak datang. Itulah kenapa Vano memilih Mutiara.
Menurut Vano, jika Eva tidak mau datang ke Solo untuk menjaga nenek maka ia akan menikah lagi. Ternyata Eva tidak kunjung datang, olehnya ia melamar Mutiara walaupun sampai saat ini hubungan mereka belum diketahui.
“Pulanglah, Kak. Jika memang pada akhirnya aku harus jadi istri keduamu aku rela.”
“ Biarlah aku menjadi madu yang akan kau jadikan pelabuhan dalam hatimu, itu akan lebih baik daripada harus melukai seorang wanita lain.”
Meluncur begitu saja dari bibir Mutiara kata-kata paling bodoh dengan mata yang berbinar-binar. Sedih.
“Sampai kapanpun kamu selalu di hatiku, Dek.”
“Ya… Jika pada akhirnya di dunia ini kita tidak bisa bersama. Maka akan kutunggu kakak di surga.”
Begitu gilakah cinta Mutiara pada Vano. Sehingga apa yang diucapkan tak terbendung. Benarkah ini yang dinamakan cinta sejati, atau sebuah keputus asaan.
Meski dengan berat hati, Vano akhirnya pulang ke jawa meninggalkan Mutiara di Makassar. Berteman sepi, mau tidak mau harus Mutiara terima kenyataan pahit itu.
“Dulu setiap sudut ruangan rumah tempatku tinggal penuh dengan kebahagiaan dan keindahan kini berganti kenangan yang menyakitkan.
Makan tak enak, tidur tak nyenyak …..
Aku rindu belaian mesranya ….
Kecupan lembutnya ….
Aroma parfumnya ….
Hangat tawanya ….
Semuanya ….
Saat di meja makan, kumenunggu Kak Vano datang. Biasanya ia memasakkan untukku.
Merayuku saat telat makan..
Tapi kini ia pergi
Hatiku sontak hancur saat Kak Vano bilang mbak Va pulang ke Solo dan tidak mau pisah dengannya lagi.”
Mutiara membayangkan Vano dalam pelukan Eva, hatinya perih, terbakar. Mutiara sendiri kesepian, tidak bisa tidur memikirkan mereka bercumbu mesra. Kering sudah air mata Mutiara hingga membuatnya jatuh sakit berhari-hari.
Betapa menyakitkan, dihancurkan secara perlahan, Mutiara mengira Vano beneran sayang, bisa menjadi imam yang baik untuk para makmumnya. Ternyata hanya manis dibibir saja.
Benarkah berbagi indah, lantas jika berbagi rasa? Itu sangat menyakitkan. Tidak percaya? Coba saja sendiri. Batin Mutiara berperan dengan hatinya
Rela melepaskan seseorang tercinta dengan keyakinan, dari pada sakit hati lebih baik memilih bahagia. Benarkah begitu? Adalah yang mengetahui bahwa cinta itu tidak mungkin segala sesuatunya ada dalam kehidupan laki-laki.
Mutiara kini hanya bisa membayangkan, membaca aksara yang terangkai penuh makna tanpa sanggup menyapa dan hanya bisa mengenangnya dalam duka.
Vano telah pergi, tanpa peduli tentang perasaannya. Ia pergi dengan keangkuhan, tinggalkan kenangan yang hanya akan rapuh ditelan waktu dan sisa-sisa luka itu menyayat jiwa.
Haruskah air mata Mutiara mengalir setiap waktu karena merindukan Vano? Demikian rasa begitu dalam dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Haruskah nyawa terpisah dari raga karena rindu ? Mungkin itu semua telah menjadi suratan takdir.
Mutiara hanya seorang wanita biasa, yang ingin merasakan kasih sayang dari seorang pria yang telah memenjarakannya dalam kerinduan.