Song of the Soul

Bab 4. Jangan Pudarkan Cintaku

“Kamu tau? Dari kecil Nenekku ‘lah yang merawat dan menyayangiku.”

“Iya, Kak. Menangislah sepuas hati, Kakak. Ada Adek disini untuk Kak Vano.”

 

Mutiara memeluk erat  Vano  agar merasa lebih tenang. Ia menangis tergugu,  Vano satu persatu menceritakan semua hal tentang masa lalunya. Bahwa neneknya yang paling ia rindu ketimbang mamanya sendiri dan yang membikin hatinya tambah hancur adalah Eva  diminta untuk datang menjaga neneknya justru malah menolak datang. Itulah kenapa Vano memilih Mutiara.

 

Menurut  Vano, jika Eva  tidak mau datang ke Solo untuk menjaga nenek maka ia akan menikah lagi. Ternyata Eva  tidak kunjung  datang, olehnya ia melamar Mutiara walaupun sampai saat ini  hubungan mereka belum diketahui.

 

“Pulanglah, Kak. Jika memang pada akhirnya aku harus jadi istri keduamu aku rela.”

“ Biarlah aku menjadi madu yang akan kau jadikan pelabuhan dalam hatimu, itu akan lebih baik daripada harus melukai seorang wanita lain.”

 

Meluncur begitu saja dari bibir Mutiara kata-kata paling bodoh dengan mata yang berbinar-binar. Sedih.

 

“Sampai kapanpun kamu selalu di hatiku, Dek.”

“Ya… Jika pada akhirnya di dunia ini kita tidak bisa bersama. Maka akan kutunggu kakak di surga.”

Begitu gilakah cinta Mutiara pada Vano. Sehingga apa yang diucapkan tak terbendung. Benarkah ini yang dinamakan cinta sejati, atau sebuah keputus asaan.

 

Meski dengan berat hati, Vano akhirnya pulang ke jawa meninggalkan Mutiara di Makassar.  Berteman sepi, mau tidak mau harus Mutiara  terima kenyataan pahit itu.

 

“Dulu setiap sudut ruangan rumah tempatku tinggal penuh dengan kebahagiaan dan keindahan kini berganti kenangan yang menyakitkan.

 

Makan tak enak, tidur tak nyenyak …..

Aku rindu belaian mesranya ….

Kecupan lembutnya ….

Aroma parfumnya ….

Hangat tawanya ….

Semuanya ….

Saat di meja makan, kumenunggu Kak Vano datang. Biasanya ia memasakkan untukku.

Merayuku saat telat makan..

Tapi kini ia pergi

Hatiku sontak hancur saat Kak Vano bilang mbak Va pulang ke Solo dan tidak mau pisah dengannya lagi.”

 

Mutiara membayangkan Vano dalam pelukan Eva, hatinya perih, terbakar.  Mutiara  sendiri kesepian,  tidak bisa tidur memikirkan mereka bercumbu mesra. Kering sudah air mata Mutiara hingga membuatnya jatuh sakit berhari-hari. 

Betapa menyakitkan, dihancurkan secara perlahan, Mutiara mengira Vano beneran sayang, bisa menjadi imam yang baik untuk para makmumnya. Ternyata hanya manis dibibir saja. 

 

Benarkah berbagi indah, lantas jika berbagi rasa? Itu sangat menyakitkan. Tidak percaya? Coba saja sendiri. Batin Mutiara berperan dengan hatinya

 

Rela melepaskan seseorang tercinta dengan  keyakinan, dari pada sakit hati lebih baik memilih bahagia.  Benarkah begitu? Adalah yang mengetahui bahwa cinta itu tidak mungkin segala sesuatunya ada dalam kehidupan laki-laki.

 

Mutiara kini hanya bisa membayangkan, membaca aksara yang terangkai penuh makna tanpa sanggup menyapa dan hanya bisa mengenangnya dalam duka.

 

Vano telah pergi, tanpa peduli tentang perasaannya. Ia pergi dengan keangkuhan, tinggalkan kenangan yang hanya akan rapuh ditelan waktu dan sisa-sisa luka itu menyayat jiwa.

 

Haruskah air mata Mutiara mengalir setiap waktu karena merindukan Vano? Demikian rasa begitu dalam dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Haruskah nyawa terpisah dari raga karena rindu ? Mungkin itu semua telah menjadi suratan takdir.

 

Mutiara hanya seorang wanita biasa, yang ingin merasakan kasih sayang dari seorang pria yang telah memenjarakannya dalam kerinduan.

 

Lates Chapters

BAB 10. Menikmati Sunrise dan Sunset di Ende

Oleh karena bersama Vano,  Mutiara bahagia. Hanya Vano yang paling mengerti tentangnya, satu kemauan yang sangat sederhana. Tidak ingin berpisah hingga di ujung senja. Singgasana…

BAB. 9. Musim Semi Asmara di Ujung Timur

Senyumnya tipis mengembang. Vano terperangah. Apalagi kedua mata bidadari di hadapannya penuh dengan sinar gemilang yang membuat Vano seperti hidup di alam maya, serba memabukkan…

Bab 8. Selamat Jalan Kenangan

Tahukah kamu, apa yang tersulit itu bukan mengucapkan selamat tinggal? Adalah saat aku untuk membiasakan diri, disaat aku melewati tempat yang dulu pernah ada, pernah…

Bab 7. Topeng Sebuah Perhubungan

Sebuah pesan masuk dari Kak Vano : "Kamu lagi pacaran sama Goen ya?" "Emang kenapa? Bukankah Kak Vano udah tau? Waktu nerima Goen kan sudah…

Bab. 6 Bunga Liar Di Semak Belukar

Perlahan bulir-bulir bening bercucuran membasahi pipi, membentuk pulau keterasingan seperti hidup Mutiara yang tercampakan. Hari berikutnya, para cowok di tempat Mutiara bekerja mulai mendekat, mereka…

Bab 5. Terbuang Di Tepi Jalan

Tepat setelah Vano pulang ke jawa, ada sesuatu yang membuat hati Mutiara sakit yaitu mengetahui Eva bersamanya lagi. Sebagai wanita kedua, tentu ia tahu akan…

Bab 3. Ketika Cinta Mulai Bermekaran

Pulau Khayangan indah. Salah satu pantai pulau kecil Kota Makassar bagian timur. pesonanya sepanjang masa seperti memikat para pelancong datang untuk melepaskan lelah sambil menikmati…

Bab 2. Debaran Cinta Di Hati

Papa bekerja atau melamun sih. Ayo dong Papa menyanyi lagi buat Dita. Kita bisa nyanyi keras-keras. 'Kan Mama tidak ada. Suaranya mengagetkan lamunannya   Banu …

Bab 1. Misteri Cinta Dua Insan

              Baru saja Mutiara menyalakan laptopnya ketika terdengar suara nyanyian disusul derai tawa gadis kecil Dita malaikat kecilnya. Ia…
error: Content is protected !!