Kata Yang Tak Terucap

Bab 5. Terjebak Dalam Gelap (Bagian 2)

Bab 5. Terjebak dalam Gelap (Bagian 2)

Keringat dingin membasahi dahi Alfian. Kawat tipis yang berhasil ditariknya dari celah pintu tak berguna sama sekali. 

Pintu itu tetap terkunci rapat. Kevin dan Aisyah sudah duduk meringkuk di sudut ruangan, hanya suara isak tangis Aisyah yang samar terdengar. Olivia masih berdiri di dekat pintu, raut wajahnya tegang.

“Ini tidak mungkin,” desis Alfian, mencoba mendorong pintu dengan bahunya. Usahanya sia-sia. “Ada yang aneh. Seharusnya kawat itu penyebabnya.”

“Mungkin bukan hanya kawat,” sahut Olivia, mendekat lagi. Ia menyalakan senter ponselnya yang entah bagaimana tiba-tiba menyala lagi, meski sinyal masih nihil. Cahaya itu menari-nari di dinding, memperlihatkan bayangan-bayangan menakutkan. “Ada sesuatu yang lain.”

“Apa itu hantu, ya?” Kevin bergidik.

“Bodoh! Itu bukan hantu!” Alfian menoyor kepala Kevin. “Mungkin ada kunci cadangan di ruang penyimpanan lab. Pernah ada rumor guru menyimpan barang-barang penting di sana.”

Olivia memutar kepalanya. “Ruang penyimpanan? Yang di pojok itu?”

“Iya. Aku pernah lihat Bu Lidya masuk ke sana,” Alfian mengangguk. “Itu pintunya selalu terkunci.”

“Percuma saja kalau terkunci juga,” Aisyah mengeluh.

“Tidak ada salahnya mencoba,” kata Olivia, melangkah menuju sudut ruangan yang dimaksud Alfian. “Siapa tahu ada celah atau sesuatu yang bisa kita gunakan.”

Alfian mengikutinya, cahaya ponselnya kini fokus ke pintu ruang penyimpanan. Pintu itu tampak usang dan tebal, terbuat dari kayu solid. Tidak ada celah sedikit pun.

“Sudah kubilang, terkunci rapat,” Alfian mendesah putus asa.

Olivia mengamati gagang pintu. Ia melihat goresan samar di sekitarnya. “Ini bukan kunci biasa. Sepertinya menggunakan kunci manual yang besar.” Tangannya menyusuri bagian bawah pintu, lalu berhenti. “Ada sesuatu di sini!”

Ia berjongkok, mengarahkan senter ponselnya. Ada sebuah buku tebal yang tergeletak di lantai, setengah tersembunyi di balik rak buku. Olivia menariknya keluar. Buku itu terlihat tua, dengan sampul yang sudah usang.

“Buku apa itu, Liv?” Kevin bertanya, mencoba mendekat.

“Tidak tahu,” jawab Olivia, membuka halaman depan. “Ini buku panduan keselamatan lab? Sudah sangat tua.”

Alfian mengambil buku itu dari tangan Olivia. Ia membolak-balik halamannya, tampak tidak tertarik. Namun, saat jemarinya menyentuh bagian tengah buku, sebuah benda kecil jatuh ke lantai dengan bunyi ting.

Itu adalah sebuah kunci. Kunci perak kecil, mengilat di bawah cahaya senter Olivia.

“Kunci?” keempatnya berpandangan.

“Ini pasti kunci ruang penyimpanan!” Alfian bersemangat, mengambil kunci itu. “Tidak mungkin kebetulan ada buku ini di sini, dan kuncinya jatuh.”

Olivia mengerutkan kening. “Terlalu kebetulan. Seolah ada yang sengaja menaruhnya agar kita temukan.”

“Mungkin guru piket yang lupa,” Kevin mencoba berpikir positif.

Alfian langsung menuju pintu ruang penyimpanan, memasukkan kunci ke lubang kunci. Ia memutar kunci, dan terdengar bunyi klik yang memuaskan.

“Berhasil!” Alfian berseru, membuka pintu.

Ruang penyimpanan itu gelap gulita, dipenuhi rak-rak tinggi yang berisikan tabung reaksi, botol-botol kimia, dan peralatan lab lainnya. Aroma kimia yang tajam langsung menusuk hidung mereka.

“Bau apa ini?” Aisyah menutup hidungnya.

“Jangan masuk sembarangan. Bisa jadi ada bahan kimia berbahaya,” Olivia memperingatkan, berhati-hati.

Alfian sudah melangkah masuk. “Aku harus cari saklar lampu di sini. Mungkin lampu utamanya ada di sini.”

Ia meraba-raba dinding dalam gelap. Tiba-tiba, ia menginjak sesuatu yang keras. Krak!

“Aduh!” Alfian terhuyung.

“Ada apa, Yan?” Olivia bertanya, khawatir.

Alfian menyalakan senter ponselnya. Di kakinya tergeletak sebuah tabung reaksi yang pecah, isinya cairan berwarna biru kehijauan yang mulai menguap. Asap tipis mulai mengepul.

“Sial! Ini asam!” Olivia berseru panik. Ia mengenali baunya. “Kita harus keluar dari sini sekarang! Alfian, cepat keluar!”

Alfian segera melompat mundur, menghindari cairan yang menggenang. Rasa perih samar mulai terasa di kakinya yang terkena cipratan.

Kevin dan Aisyah sudah mundur menjauh dari pintu, wajah mereka pucat pasi.

“Bagaimana ini?!” Alfian meringis. “Kakiku kena!”

Olivia dengan cepat mencari sesuatu di rak terdekat. Ia meraih sebotol besar berisi cairan bening. “Ini air! Cepat bilas kakimu dengan ini!” Ia melemparkan botol itu kepada Alfian.

Alfian dengan sigap menangkapnya dan segera menyiram kakinya dengan air. Asap dari tabung pecah itu mulai menebal, mengisi ruangan.

“Kita tidak bisa berdiam di sini!” Olivia berseru, melihat jam di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sekolah pasti sudah sepi. “Kita harus mencari jalan keluar utama.”

Alfian mengangguk, napasnya sedikit terengah. “Tapi bagaimana caranya? Semua pintu terkunci.”

“Tunggu,” Olivia tiba-tiba teringat sesuatu. “Ada pintu darurat di belakang aula utama. Itu mungkin tidak dikunci.”

“Aula utama? Itu jauh sekali!” Kevin mengeluh.

“Tidak ada pilihan lain,” kata Alfian, mulai berjalan pincang. “Kita harus ke sana.”

Mereka berempat keluar dari lab komputer, meninggalkan pintu ruang penyimpanan terbuka. Aroma asam masih tercium samar. Aula utama sekolah berada di ujung koridor panjang, jauh dari area lab. Berjalan di koridor gelap dan sepi, hanya diterangi cahaya ponsel yang kadang redup, membuat bulu kuduk mereka berdiri. Setiap bayangan, setiap suara angin, terasa seperti ancaman.

“Aku merasa kita diawasi,” bisik Aisyah, menempel pada Kevin.

“Hush, jangan membuat suasana makin seram,” tegur Kevin.

Alfian berjalan di depan, mencoba terlihat berani meski rasa perih di kakinya mengganggu. Olivia mengikuti di belakangnya, matanya terus jelalatan ke setiap sudut gelap. Dalam diam, mereka semua merasakan ketidaknyamanan yang sama. 

Mereka terjebak dalam situasi yang melebihi kenakalan siswa biasa. Ada rasa dingin dan aneh yang menyelimuti sekolah ini malam itu. Namun, di tengah ketegangan itu, Olivia merasakan kembali aroma familiar dari Alfian yang berjalan di depannya. 

Kali ini, ia tak bisa mengabaikannya. Aroma itu seolah memicu kilasan samar di benaknya sebuah tempat yang cerah, suara tawa anak kecil, dan perasaan hangat. Ia menggelengkan kepala. Tidak mungkin.

“Kita sudah sampai!” seru Alfian, ia berdiri di depan pintu aula utama yang besar. Pintu darurat berada di sisi kanannya.

Mereka semua berlari ke arah pintu darurat. Alfian mencoba gagangnya. Pintu itu sedikit terbuka. “Tidak terkunci!” seru Alfian, wajahnya lega. Ia mendorong pintu, dan cahaya rembulan langsung menerpa wajah mereka.

Mereka berempat berhamburan keluar, menghirup udara malam yang segar. Mereka berdiri di halaman belakang sekolah, jauh dari keramaian jalan raya dan mereka merasakan lega.

“Kita berhasil keluar!” Aisyah berseru gembira.

“Benar, tapi siapa yang melakukan ini?” Olivia menatap kembali ke arah pintu aula.

Alfian tiba-tiba terdiam. Matanya terpaku pada sesuatu yang tergeletak di dekat pintu darurat. Ia melangkah mendekat, lalu membungkuk.

Itu adalah sebuah boneka kayu kecil, tampak tua dan usang. Boneka itu memiliki senyum aneh yang terukir di wajahnya. Mata boneka itu seolah menatap langsung ke arah mereka. Alfian mengambil boneka itu.

“Boneka apa ini?” Kevin bertanya, merinding melihatnya.

“Aku tidak tahu,” jawab Alfian, menatap boneka itu lekat-lekat. Namun, ia merasakan sesuatu yang aneh. Seolah pernah melihat boneka ini sebelumnya. 

Di suatu tempa yang dulu sekali. Olivia mendekat, melihat boneka itu. Ia juga merasakan keanehan yang sama. Sebuah kilasan muncul di benaknya: tawa anak kecil, boneka yang sama, dan sebuah tangan yang memegang erat tangan lain. Perasaan hangat dan dingin bercampur aduk.

Boneka itu adalah petunjuk, mereka semua merasakannya. Sebuah petunjuk dari seseorang yang sengaja mengerjai mereka, seseorang yang tahu tentang masa lalu yang samar itu.

“Kita harus mencari tahu siapa yang melakukan ini,” Alfian berucap pelan, tangannya menggenggam boneka kayu itu erat. “Kita harus tahu apa tujuannya.”

Lates Chapters

Bab 30. Awal Yang Tak Berujung (End)

Bab 30. Awal Yang Tak Berujung Tiga tahun berlalu. Alfian dan Olivia kini adalah mahasiswa tahun ketiga di universitas mereka masing-masing di Jakarta. Mereka memang…

Bab 29. Perpisahan Manis Dan Janji Abadi

Bab 29. Perpisahan Manis Dan Janji Abadi Hari kelulusan SMA akhirnya tiba. Aula sekolah dipenuhi dengan toga hitam, senyum bahagia, dan air mata haru. Alfian…

Bab 28. Melangkah Bersama Menuju Impian

Bab 28. Melangkah Bersama Menuju Impian Hari-hari Alfian dan Olivia dipenuhi tawa dan kebahagiaan. Mereka menjadi pasangan yang tak terpisahkan di sekolah. Kecemburuan Olivia yang…

Bab 27. Mengukir Kisah Baru

Bab 27. Mengukir Kisah Baru Setelah pengakuan Alfian di festival kuliner, status hubungan antara Alfian dan Olivia berubah drastis. Kecanggungan awal perlahan menghilang, digantikan oleh…

Bab 26. Sentuhan Yang Mengisyaratkan

Bab 26. Sentuhan Yang Mengisyaratkan Setelah kepergian Alexa, suasana di sekolah terasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi gangguan kecil yang menimpa Olivia, tidak ada…

Bab 25. Perpisahan Penuh Penyesalan

Bab 25. Perpisahan Penuh Penyesalan Kabar tentang sabotase Alexa dan bagaimana Alfian serta Olivia berhasil menyelamatkan pementasan drama menyebar dengan cepat di seluruh sekolah.  Banyak…

Bab 24. Cahaya Di Tengah Kegelapan

Bab 24. Cahaya Di Tengah Kegelapan Kegelapan menyelimuti aula drama, disusul bisikan dan kepanikan penonton. Tawa sinis Alexa menggema di tengah suasana genting itu, mencoba…

Bab 23. Bayangan Di Panggung Kenangan

Bab 23. Bayangan di Panggung Kenangan Setelah pengakuan tak langsung di taman, suasana antara Alfian dan Olivia terasa berbeda. Ada lapisan baru yang menyelimuti interaksi…

Bab 22. Benih-Benih Pengakuan

Bab 22. Benih-Benih Pengakuan Hari-hari berikutnya di sekolah terasa seperti medan perang kecil bagi Olivia dan Alfian. Ancaman Alexa memang tidak sebesar misteri Organisasi Bayangan,…

Bab 21. Jebakan Di Balik Senyum

Bab 21. Jebakan Di Balik Senyum Meskipun kebenaran pahit mengenai identitas Alfian dan Olivia serta asal-usul 'Organisasi Bayangan' dan keluarga Atmajaya telah terkuak, namun dampaknya…

Bab 20. Tabir yang Tersingkap

Bab 20. Tabir yang Tersingkap Ponsel Alfian bergetar di genggamannya, menampilkan notifikasi aplikasi pelacak lokasi yang seharusnya hanya untuk Olivia. Namun, yang muncul adalah lokasi…

Bab 19. Kebenaran yang Pahit

Bab 19. Kebenaran yang Pahit Kepala Alfian berdenyut hebat. Kata-kata Pak Budi terus terngiang, berputar-putar di benaknya seperti kaset rusak: “Kamu adalah bayi yang dikorbankan.”…

Bab 18. Pertarungan di Panggung

Bab 18. Pertarungan di Panggung Aula drama masih riuh dengan bisikan dan tatapan curiga setelah video rekaman CCTV dari Rumah Sakit Harapan Bangsa diputar. Alexa…

Bab 17. Simbol Yang Berbicara

Bab 17. Simbol yang Berbicara Foto buram yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal itu terus menjadi misteri yang mendalam. Alfian dan Olivia menatapnya lekat-lekat di…

Bab 16. Bisikan Cemburu dan Petunjuk Baru

Bab 16. Bisikan Cemburu dan Petunjuk Baru Pesan misterius yang datang dengan foto buram dan simbol bulan sabit bermata itu terus menghantui Alfian dan Olivia. …

Bab 15. Bayangan Mengintai

Bab 15. Bayangan Mengintai Dingin pagi masih menusuk kulit saat Alfian dan Olivia duduk di bangku taman sekolah, jauh dari keramaian. Obrolan mereka semalam dengan…

Bab 14. Simpul Kebenaran dan Jaring Ancaman

Bab 14. Simpul Kebenaran dan Jaring Ancaman Setelah kembali dari rumah sakit tua dan menghadapi Alexa, Alfian dan Olivia tidak bisa langsung pulang. Mereka memutuskan…

Bab 13. Bayangan Terlarang

Bab 13. Bayangan Terlarang Pagi masih sangat muda ketika Alfian dan Olivia tiba di depan gerbang berkarat Rumah Sakit Harapan Bangsa. Embun masih membasahi rerumputan…

Bab 12. Jejak Retak Di Masa Lalu dan Bisikan Fitnah

Bab 12. Jejak Retak Di Masa Lalu dan Bisikan Fitnah Siang itu, perpustakaan terasa semakin sesak oleh misteri yang belum terpecahkan. Alfian dan Olivia duduk…

Bab 11. Kebenaran yang Terungkap dan Bayangan Dendam

Bab 11. Kebenaran yang Terungkap dan Bayangan Dendam Hening mematikan menyelimuti aula setelah Alexa pergi, meninggalkan Alfian dan Olivia terpaku di tempat mereka berdiri. Pecahan…
error: Content is protected !!