Noah masih terdiam di tempatnya, dia masih berpikir jawaban apa yang akan dia berikan pada Lana. “Nanti malam? Sepertinya aku nanti malam tidak bisa datang, aku akan bekerja lembur.”
“Oh begitu,” suara Lana terdengar agak kecewa.
“Kamu harus tahu kesibukan aku sekarang, Sayang, aku melakukan semua ini untuk kita juga nantinya. Apa kamu mau mengerti dan mendukungku?”
“Tentu saja aku akan mendukung kamu, Noah. Ya sudah kalau kamu tidak bisa datang.”
“Lana,” panggil Noah lirih.
“Ada apa?”
“Apa kamu percaya denganku?”
“Tentu saja, Noah. Aku sangat percaya dan mencintai kamu, kalau tidak untuk apa aku mempertahankan kamu sampai menentang kedua orang tuaku?”
“Aku juga sangat mencintai kamu, Lana. Lana jika suatu saat aku melakukan kesalahan sama kamu, aku harap kamu bisa memaafkan aku dan mengerti kenapa aku sampai melakukan hal itu.”
Seketika Lana merasa aneh dengan ucapan kekasihnya. “ Noah, sebenarnya ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, Sayang, aku hanya ingin menyampaikan apa yang ada di hatiku saja, terima kasih sudah sangat mencintaiku dan mempercayaiku.”
“Kamu membuatku khawatir saja.”
“Ya sudah! Aku harus segera kembali bekerja lagi. Lana, aku mencintai kamu.”
“Aku juga, Noah.”
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya dan Noah bersiap-siap untuk mengikuti balapan motor nanti malam. Dia mempersiapkan motornya dan juga hatinya, dia harus memenangkan balapan motor kali ini karena dia harus mendapatkan uang itu untuk membiayai kesembuhan Daniel.
Malam itu di arena balap motor terdengar suara yang sangat ramai, bahkan lebih ramai melebihi hari biasanya karena banyak sekali orang dari kota lain datang untuk memberi dukungan kepada pembala motor idolanya. Di area itu sudah benar-benar dinyatakan aman dan tidak akan ada petugas yang akan membubarkan acara balap motor itu karena mereka telah memberi uang kepada beberapa petugas agar acara mereka bisa berlangsung dengan baik.
Mara dan Cilla berada di rumah sakit untuk menjaga Daniel, dan Noah tidak mau kalau mereka berdua ada di sana. “Balapan motor kali ini agak berbeda dengan balapan motor seperti biasanya. Noah akan mendapatkan lawan yang sangat kuat, aku dengar orang yang diminta Bruno untuk mengikuti balap motor kali ini adalah pembalap motor yang tidak pernah kalah di kotanya, bahkan dia sering menjadi juara di kota lain. Dia juga terkenal kejam pada lawannya saat mereka bertanding,” jelas Cilla.
Mara yang mendengarnya tampak sangat khawatir pada Noah. Tidak lama Cilla mendengar kabar dari temannya di arena balap, jika balapan motor kali ini mereka harus membawa seorang gadis untuk menemani sang pembalap.
“Lalu Noah bagaimana? Mara, aku akan ke sana untuk menemani Noah. Kamu sebaiknya di sini menjaga Daniel.”
Saat Cilla akan pergi, tiba-tiba tangan Cilla ditahan oleh Mara. “Cilla, biarkan aku yang menemani Noah di sana. Noah berjuang untuk pria yang aku cintai, dan aku juga akan berjuang untuk ayah dari bayiku.” Mara memegang perutnya.
“Apa? Kamu hamil?” Cilla tampak terkejut.
“Iya, aku baru mengetahuinya dua hari yang lalu, aku hamil dan ini ada bayi kecilku dengan Daniel, Cilla,” ujar Mara menahan tangis.
“Tapi Mara, biar aku saja yang ke sana. Kamu harus menjaga diri kamu, apalagi ada bayi kecil dalam perut kamu.”
“Cilla, aku akan baik-baik saja, aku percaya pada Noah yang akan bisa memenangkan balap motor ini.” Mara tanpa berkata lagi langsung berlari pergi meninggalkan Cilla yang berdiri tertegun di sana. Dia sampai berdoa agar mereka berdua dapat memenangkan balap motor kali ini.
Di arena balap, Bruno sedang menertawakan Noah yang tidak memiliki pasangan untuk diajak naik motor, dan menyuruh Noah sebaiknya mengundurkan diri agar tidak mengikuti balapan motor kali ini.
“Noah akan tetap mengikuti balap motor kali ini karena aku yang akan menjadi pasangan untuk Noah.” Seketika Noah terkejut melihat Mara ada di sana dan naik ke atas motor di belakang Noah.
“Mara? Kenapa kamu bisa ke sini? Seharusnya kamu tidak ada di sini, kamu seharusnya menjaga Daniel di rumah sakit.”
“Aku akan ikut berjuang dengan kamu, Noah. Aku akan baik-baik saja, aku mohon kamu mengizinkan aku untuk membantu kamu.”
“Ya sudah, kita segera mulai saja , aku sudah tidak sabar untuk memenangkan hadiahku dan mengalahkan kalian. Terutama kamu, Noah.” Tatapan pria itu mengarah dengan tajam pada Noah.
Acara itupun akhirnya di mulai. Mara berpegangan erat memeluk pinggang Noah. Noah memegang tangan Mara dan meyakinkan agar Mara percaya padanya. Terdengar suara yang sangat ramai dari orang-orang yang berkerumun di sana untuk memberi semangat kepada jagoan mereka.
Di tempatnya Cilla sangat khawatir dengan keadaan Mara, dia berharap bisa menghentikan Mara untuk ikut di arena balap itu. Entah kenapa perasaan Cilla hari ini sangat tidak enak dengan Noah dan Mara.
Gadis itu meminta tolong kepada perawat rumah sakit untuk menjaga Daniel sementara karena dia harus pergi dan jika ada apa-apa agar menghubungi dirinya.
Para pembalap saling memacu motornya agar dapat menjadi yang terdepan. Pun dengan Noah, dia fokus melihat jalanan dan terus memacu motornya. Pria yang tadi diceritakan oleh Cilla terlihat berusaha mengejar Noah yang ada di depannya. Tak disangka Noah, pria itu melakukan hal curang dengan mendekat pada motor Noah dan mendendang dengan keras kaki Mara hingga Mara berteriak kesakitan.
Noah yang mendengar teriakan Mara terlihat terkejut dan tidak sengaja malah tidak fokus dan menabrak pembatas jalan di sana dengan keras. Noah dan Mara terpental jauh dan motor. Noah terlihat jatuh dan terseret sendiri.
Semua orang yang mengetahui hal itu tampak berlari mendekati di mana Noah yang hampir saja mencapai garis finish. Terlihat Noah yang terluka pada pelipis sebelah kirinya dan mengeluarkan darah segar.
“Mara, mana Mara?” Noah ternyata masih bisa bangkit dan berjalan gontai dengan memegangi kepalanya mencari di mana Mara. Noah berjalan dan tidak lama dia sangat terkejut melihat tubuh Mara tergeletak dengan kedua mata sudah terpejam dan terdapat darah mengalir dari perutnya. Ada benda yang ternyata tertancap pada perut Mara.
“Oh Tuhan! Mara!” teriak Noah histeris dan dia mendekat pada Mara menyangga kepala Mara dengan kakinya. “Tolong panggilkan tim medis. Cepat!” Noah berteriak meminta bantuan kepada orang-orang yang ada di sana.”
“Mara! Noah, apa yang terjadi dengan Mara?” suara Lana ada di sana. Lana duduk di tanah dan memeriksa keadaan Mara. Noah tidak dapat berkata apa-apa lagi dia terlihat sangat snock.
Cilla mencoba memeriksa Mara dengan merasakan denyut nadinya dan napasnya. “Mara meninggal, Noah. Dia sudah meninggal,” Cilla berkata dengan sedih.
“Apa? Tidak mungkin! Dia tidak mungkin meninggal.” Noah seolah tidak percaya dengan semua ini. “Mara! Bangun! Aku mohon bangunlah,” teriak Noah sekali lagi.