Dunia Antillia kini adalah sekat-sekat besi yang dingin dan tembok batu hitam yang seakan menelan cahaya. Penjara Tanjung Charnevall, Vitania Timur. Para penjahat kelas kakap pasti akan merinding begitu mendengar nama tempat yang sangat tertutup dan sangat jarang dijamah oleh orang biasa tersebut. Tak ada yang tahu pasti lokasi tepatnya di mana, hanya orang-orang besar di ibukota Sentralberg saja yang mengetahuinya.
Jeruji selnya berkarat, bercampur dengan bau logam dan darah kering. Udara yang lembab membawa bau busuk dari para tahanan yang dibiarkan membusuk dalam penderitaan. Setiap malam, selalu terdengar jeritan-jeritan para tahanan yang disiksa, maupun jiwa-jiwa yang putus asa.
Para tahanan yang kebanyakan merupakan pemberontak itu diperlakukan dengan kejam dan tak manusiawi di sini. Kerja paksa dengan siksaan seperti cambukan dan rantai besi seolah menjadi makanan sehari-hari para tahanan di sini. Makanan yang hanya diberikan sekali setiap hari dengan porsi yang sangat sedikit, serta jam tidur yang sangat pendek menjadikannya sebagai penjara terkejam di seantero Kerajaan Archipelahia.
Walaupun bertujuan untuk memberikan efek jera, akan tetapi akhir-akhir ini banyak tahanan yang sebenarnya tidak melakukan kejahatan serius yang mengancam kerajaan, namun mereka dipaksa mendekam di tempat yang mengerikan ini. Termasuk Antillia Samarchia, gadis berusia belasan tahunan dari Tolvanstadt itu.
Hukum Archipelahia sebenarnya memiliki aturan khusus untuk pelaku kejahatan di bawah umur. Namun entah kenapa gadis itu malah dipaksa menjalani hukuman yang tak setimpal di penjara ini. Ia pun mendapatkan perlakuan yang hampir sama dengan para tahanan kelas kakap lainnya di sini.
PLAKK
“Aghh…”
Antillia hanya bisa meringis kesakitan setelah seorang sipir wanita bertubuh besar menampar pipinya. Gadis itu tampak sudah babak belur dengan mulut berlumuran darah.
“Dasar bocah tengik!! Nasib baik kami tidak menjatuhkan hukuman gantung padamu setelah apa yang kau lakukan,” bentaknya.
Gadis berambut panjang itu tak bisa berbuat apa-apa dengan luka lebam hampir di sekujur tubuhnya, setelah siksaan yang ia terima hampir setiap hari.
“Jangan harap kami akan berbelas kasihan padamu setelah apa yang kau lakukan pada kerajaan, bocah sialan!!”
Kedua sipir wanita itu meninggalkannya dalam jeruji besi yang dingin tersebut.
“Sialan. Bisa-bisanya aku terjebak di sini gara-gara para keparat itu. Padahal aku hanya membela desaku,” gerutu Antillia. “Seandainya aku punya kekuatan lebih, akan kulawan mereka semua demi keadilan, meskipun itu artinya kematian untuk mereka.”
Dirinya bergumam sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. Namun di tengah keputusasaan itu, seorang wanita di sel sebelah menyahutnya.
“Apa kau ingin kekuatan?”
Antillia menoleh ke arah sumber suara itu. Terlihat seorang wanita berusia 25 tahun yang dirantai hampir di sekujur tubuhnya.
“Apa maksudmu?” tanya Antillia.
“Kau terlalu lemah bukan? Apa kau ingin kekuatan lebih untuk melawan mereka? Aku bisa memberikanmu kekuatan yang sangat dahsyat,” ujar wanita misterius tersebut.
Mendengar hal itu, Antillia langsung mendekatinya.
“Benarkah? Katakan padaku, kekuatan apa itu? Aku mohon, berikan aku kekuatan itu!!”
“Sebelum itu, pakailah benda ini di jarimu terlebih dahulu.”
Wanita itu melemparkan sebuah cincin batu mineral dengan kakinya. Sepertinya itu merupakan benda yang ia sembunyikan selama ini.
Tak berpikir lama, Antillia langsung memakainya di jarinya walaupun dirinya sendiri masih belum paham benda apa itu. “Apa ini?”
Wanita itu tak menjawab pertanyaannya dan langsung melafalkan kalimat misterius.
“Wahai permata suci yang ada di Tanah Kamina yang agung ini…”
Antillia yang mendengarnya sontak terkejut. “What? Mantra?”
TRINGG
Batu mineral yang ada di cincin yang ia kenakan tiba-tiba mengeluarkan cahaya, sedangkan di depan wanita itu muncul sebuah lingkaran cahaya berputar dengan pola yang unik.
“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” Antillia bertanya-tanya.
Akan tetapi saat wanita itu melanjutkan rapalan mantra, sesuatu terjadi pada tubuhnya.
“Aghh…”
Rantai yang mengekang wanita itu tiba-tiba mengeluarkan sengatan listrik. Hal itu sontak membuatnya sedikit meronta. Lampu di depan pintu pun menyala dan terdengar suara sayup-sayup langkah kaki dari para sipir penjara. Sang wanita pun kembali melanjutkan mantra.
“…dengan nama Amanda Fatir, sang penemu permata suci ini, ughh… aku Clementina, MELEPASKANMU!!”
Sengatan listrik pada tubuh wanita bernama Clementina itu makin kuat. Sementara itu para sipir penjara semakin dekat.
BRUKK
Pintu besi ruangan itu dibuka paksa oleh seorang sipir.
“APA YANG-“
“ALS VREYT!!”
TRINGG
WUSHH
Cahaya putih menyelimuti seluruh tubuh Antillia, disertai hembusan angin super kuat yang menghancurkan sebagian besar ruangan tersebut. Semuanya terhempas, termasuk para sipir yang baru masuk itu. Tembok samping penjara ikut hancur karenanya.
Cahaya putih itu pun perlahan menghilang dari tubuhnya. Antillia menyadari ada sesuatu yang berubah dari penampilannya. Kini ia mengenakan sebuah jas militer berwarna gelap sambil memegang sebuah pedang cutlass perak di tangan kanannya.
Tak ada hal lain yang bisa ia ungkapkan selain kekaguman. “Ini, fantastic.”
Sementara itu, hembusan angin super kuat itu juga membuat tembok yang ada di sel sebelah ikut ambruk dan menghantam wanita tersebut. Tapi dirinya tampak tak terlalu mempedulikannya, walaupun kondisinya tertindih oleh puing-puing.
“Uhukk… kau sekarang sudah cukup kuat. Kau bisa melawan mereka semua sekarang. Tapi ingatlah… uhukk… jangan pernah membunuh sesama orang Vitania. Sekarang pergilah.”
Wanita itu memberikan sebuah pesan walaupun dirinya sedang tertindih puing-puing. Namun alih-alih menolongnya, Antillia malah mendebat wanita tersebut.
“Tunggu, kenapa aku tidak boleh melakukan hal itu? Bukankah kau yang memberikan kekuatan dahsyat ini padaku?”
“Pergilah!!”
Sang wanita menyuruh Antillia untuk pergi. Ia pun melakukannya karena tak punya pilihan lain, apalagi terdengar suara langkah kaki para sipir lainnya yang akan segera tiba.
WUSHH WUSHH
Gadis berambut panjang itu berusaha melarikan diri dari kompleks penjara. Memanfaatkan kemampuan unik yang ia miliki, Antillia dengan mudah menebas dan menjatuhkan para penjaga yang bersenjata tersebut dengan mudah.
“Wah…, kekuatan ini sungguh dahsyat,” kagumnya.
Walaupun dirinya baru saja mendapatkan kemampuan spesial itu, akan tetapi Antillia seakan sudah mahir menggunakannya. Dengan pedang perak yang ia genggam, gadis itu dengan sangat lincah memanfaatkan sihir angin untuk mengalahkan para penjaga,
“Itu dia, pintu keluarnya.”
Antillia hanya berjarak kurang dari 100 meter untuk mencapai jalan keluar. Namun sayangnya para penjaga sudah menutup pintu gerbang besi raksasa itu.
“JANGAN BIARKAN BOCAH ITU LOLOS!!” teriak salah satu penjaga.
Semangat dan ambisi Antillia untuk keluar dari neraka itu semakin besar. Gadis itu pun mengangkat pedangnya ke atas dengan kedua tangan.
“Kumohon, berikan aku kekuatan yang lebih dahsyat lagi, wahai pedang magis yang tak bernama!!”
“SEMUANYA, BERSIAP DI POSISI!!”
Bersenjatakan senjata multifungsi Politia berwujud musket, para penjaga menodongkannya ke arah gadis yang tengah berlari itu. Cahaya pun terlihat dari moncong senjata buatan perusahaan Politech tersebut saat mereka mulai menyentuh pelatuknya.
Antillia terus berlari ke arah pintu gerbang seraya menciptakan pusaran angin yang makin membesar pada pedangnya. “ENYAHLAH KALIAN SEMUA!!”
Sang pemimpin penjaga mengangkat tangan. “BERSIAP!!”
“HIYAAA!!”
WUSHH
Antillia menghunuskan pedangnya dari jarak 30 meter, menciptakan sihir pusaran angin yang melesat ke arah gerbang kompleks penjara tersebut.
“TEMBAK!!”
DORR
Peluru cahaya yang ditembakkan dari Politia itu melesat ke arah Antillia. Akan tetapi pusaran angin sihir yang diciptakan gadis itu berhasil melenyapkan mereka semua dan terus melesat ke arah para penjaga.
“APA YANG-“
“AAAGGHHHH…”
WUSHH
Serangan sihir pusaran angin itu menghempaskan seluruh penjaga dan menghancurkan gerbang seketika. Antillia pun berhasil melarikan diri dari kompleks penjara yang mengerikan tersebut.
Ia berlari ke arah sebuah bukit gelap yang tak jauh dari Tanjung Charnevall. Bermandikan cahaya rembulan malam, Antillia menyandarkan dirinya di sebuah pohon.
“Huh, akhirnya aku berhasil keluar dari penjara sialan itu,” ujarnya sambil menghela napas.
Angin malam yang dingin berhembus cukup kencang. Namun bagi Antillia, itu seperti angin sejuk yang mendinginkan keringatnya setelah keluar dari tempat yang mengerikan itu.
Suasana tampak sepi. Hanya terdengar suara hembusan angin saja tanpa adanya tanda-tanda kehidupan hewan malam seperti jangkrik maupun burung hantu. Namun suara wanita misterius yang muncul tiba-tiba memecahkan keheningan tersebut.
“Antillia.”
“Eh?”
Gadis berambut panjang itu sontak bersiaga sambil memegang pedangnya begitu melihat sekelompok orang berjubah misterius tiba-tiba muncul di depannya.
Antillia menatap mereka dengan curiga. “Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan dariku?”
Salah satu dari orang berjubah hitam itu menghampirinya. Terlihat di lengan kirinya ada sebuah syal dengan simbol segitiga berwarna biru muda dan tiga bintang putih di setiap sudutnya.
“Segitiga biru muda? Tiga bintang putih? Simbol organisasi apa itu?” Antillia bertanya-tanya.
“Kau sudah melihatnya ‘kan, ketidakadilan yang terjadi di tanah ini? Dan kau berusaha untuk melawan dan menghancurkannya bukan? Sangat jelas bahwa dirimu sejalan dengan misi kami, Antillia,” kata salah satu dari mereka.
Antillia menatap dengan curiga. “Sejalan dengan misimu? Apa maksudmu? Dan kenapa kau bisa tahu namaku?”
Gadis berjubah hitam itu tak memberikan jawaban dan langsung mengulurkan tangannya pada Antillia.
“Cepat atau lambat kau pasti akan mengetahuinya, gadis penyihir angin Antillia Samarchia. Sekarang ikutlah dengan kami. Ayo kita hancurkan ketidakadilan ini dan membebaskan seluruh rakyat Vitania.”
Kalimat ajakan misterius itu menarik perhatian Antillia. Lewat semua penderitaan yang ia alami, dirinya berpikir bahwa mungkin mereka juga mengalami hal yang sama, dan mereka berjuang bersama untuk menghancurkan ketidakadilan.
Antillia pun tersenyum dan meraih tangan gadis berjubah hitam itu.
“Baiklah, aku ikut dengan kalian.”
***