Antilles Sang Pemotong Jiwa

Bab 6 : Kelahiran Sang Penyihir Angin

Dunia Antillia kini adalah sekat-sekat besi yang dingin dan tembok batu hitam yang seakan menelan cahaya. Penjara Tanjung Charnevall, Vitania Timur. Para penjahat kelas kakap pasti akan merinding begitu mendengar nama tempat yang sangat tertutup dan sangat jarang dijamah oleh orang biasa tersebut. Tak ada yang tahu pasti lokasi tepatnya di mana, hanya orang-orang besar di ibukota Sentralberg saja yang mengetahuinya.

Jeruji selnya berkarat, bercampur dengan bau logam dan darah kering. Udara yang lembab membawa bau busuk dari para tahanan yang dibiarkan membusuk dalam penderitaan. Setiap malam, selalu terdengar jeritan-jeritan para tahanan yang disiksa, maupun jiwa-jiwa yang putus asa.

Para tahanan yang kebanyakan merupakan pemberontak itu diperlakukan dengan kejam dan tak manusiawi di sini. Kerja paksa dengan siksaan seperti cambukan dan rantai besi seolah menjadi makanan sehari-hari para tahanan di sini. Makanan yang hanya diberikan sekali setiap hari dengan porsi yang sangat sedikit, serta jam tidur yang sangat pendek menjadikannya sebagai penjara terkejam di seantero Kerajaan Archipelahia.

Walaupun bertujuan untuk memberikan efek jera, akan tetapi akhir-akhir ini banyak tahanan yang sebenarnya tidak melakukan kejahatan serius yang mengancam kerajaan, namun mereka dipaksa mendekam di tempat yang mengerikan ini. Termasuk Antillia Samarchia, gadis berusia belasan tahunan dari Tolvanstadt itu.

Hukum Archipelahia sebenarnya memiliki aturan khusus untuk pelaku kejahatan di bawah umur. Namun entah kenapa gadis itu malah dipaksa menjalani hukuman yang tak setimpal di penjara ini. Ia pun mendapatkan perlakuan yang hampir sama dengan para tahanan kelas kakap lainnya di sini.

PLAKK

“Aghh…”

Antillia hanya bisa meringis kesakitan setelah seorang sipir wanita bertubuh besar menampar pipinya. Gadis itu tampak sudah babak belur dengan mulut berlumuran darah.

“Dasar bocah tengik!! Nasib baik kami tidak menjatuhkan hukuman gantung padamu setelah apa yang kau lakukan,” bentaknya.

Gadis berambut panjang itu tak bisa berbuat apa-apa dengan luka lebam hampir di sekujur tubuhnya, setelah siksaan yang ia terima hampir setiap hari.

“Jangan harap kami akan berbelas kasihan padamu setelah apa yang kau lakukan pada kerajaan, bocah sialan!!”

Kedua sipir wanita itu meninggalkannya dalam jeruji besi yang dingin tersebut.

“Sialan. Bisa-bisanya aku terjebak di sini gara-gara para keparat itu. Padahal aku hanya membela desaku,” gerutu Antillia. “Seandainya aku punya kekuatan lebih, akan kulawan mereka semua demi keadilan, meskipun itu artinya kematian untuk mereka.”

Dirinya bergumam sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. Namun di tengah keputusasaan itu, seorang wanita di sel sebelah menyahutnya.

“Apa kau ingin kekuatan?”

Antillia menoleh ke arah sumber suara itu. Terlihat seorang wanita berusia 25 tahun yang dirantai hampir di sekujur tubuhnya.

“Apa maksudmu?” tanya Antillia.

“Kau terlalu lemah bukan? Apa kau ingin kekuatan lebih untuk melawan mereka? Aku bisa memberikanmu kekuatan yang sangat dahsyat,” ujar wanita misterius tersebut.

Mendengar hal itu, Antillia langsung mendekatinya.

“Benarkah? Katakan padaku, kekuatan apa itu? Aku mohon, berikan aku kekuatan itu!!”

“Sebelum itu, pakailah benda ini di jarimu terlebih dahulu.”

Wanita itu melemparkan sebuah cincin batu mineral dengan kakinya. Sepertinya itu merupakan benda yang ia sembunyikan selama ini.

Tak berpikir lama, Antillia langsung memakainya di jarinya walaupun dirinya sendiri masih belum paham benda apa itu. “Apa ini?”

Wanita itu tak menjawab pertanyaannya dan langsung melafalkan kalimat misterius.

“Wahai permata suci yang ada di Tanah Kamina yang agung ini…”

Antillia yang mendengarnya sontak terkejut. “What? Mantra?”

TRINGG

Batu mineral yang ada di cincin yang ia kenakan tiba-tiba mengeluarkan cahaya, sedangkan di depan wanita itu muncul sebuah lingkaran cahaya berputar dengan pola yang unik.

Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” Antillia bertanya-tanya.

Akan tetapi saat wanita itu melanjutkan rapalan mantra, sesuatu terjadi pada tubuhnya.

“Aghh…”

Rantai yang mengekang wanita itu tiba-tiba mengeluarkan sengatan listrik. Hal itu sontak membuatnya sedikit meronta. Lampu di depan pintu pun menyala dan terdengar suara sayup-sayup langkah kaki dari para sipir penjara. Sang wanita pun kembali melanjutkan mantra.

“…dengan nama Amanda Fatir, sang penemu permata suci ini, ughh… aku Clementina, MELEPASKANMU!!”

Sengatan listrik pada tubuh wanita bernama Clementina itu makin kuat. Sementara itu para sipir penjara semakin dekat.

BRUKK

Pintu besi ruangan itu dibuka paksa oleh seorang sipir.

“APA YANG-“

“ALS VREYT!!”

TRINGG

WUSHH

Cahaya putih menyelimuti seluruh tubuh Antillia, disertai hembusan angin super kuat yang menghancurkan sebagian besar ruangan tersebut. Semuanya terhempas, termasuk para sipir yang baru masuk itu. Tembok samping penjara ikut hancur karenanya.

Cahaya putih itu pun perlahan menghilang dari tubuhnya. Antillia menyadari ada sesuatu yang berubah dari penampilannya. Kini ia mengenakan sebuah jas militer berwarna gelap sambil memegang sebuah pedang cutlass perak di tangan kanannya.

Tak ada hal lain yang bisa ia ungkapkan selain kekaguman. “Ini, fantastic.”

Sementara itu, hembusan angin super kuat itu juga membuat tembok yang ada di sel sebelah ikut ambruk dan menghantam wanita tersebut. Tapi dirinya tampak tak terlalu mempedulikannya, walaupun kondisinya tertindih oleh puing-puing.

“Uhukk… kau sekarang sudah cukup kuat. Kau bisa melawan mereka semua sekarang. Tapi ingatlah… uhukk… jangan pernah membunuh sesama orang Vitania. Sekarang pergilah.”

Wanita itu memberikan sebuah pesan walaupun dirinya sedang tertindih puing-puing. Namun alih-alih menolongnya, Antillia malah mendebat wanita tersebut.

“Tunggu, kenapa aku tidak boleh melakukan hal itu? Bukankah kau yang memberikan kekuatan dahsyat ini padaku?”

“Pergilah!!”

Sang wanita menyuruh Antillia untuk pergi. Ia pun melakukannya karena tak punya pilihan lain, apalagi terdengar suara langkah kaki para sipir lainnya yang akan segera tiba.

WUSHH WUSHH

Gadis berambut panjang itu berusaha melarikan diri dari kompleks penjara. Memanfaatkan kemampuan unik yang ia miliki, Antillia dengan mudah menebas dan menjatuhkan para penjaga yang bersenjata tersebut dengan mudah.

“Wah…, kekuatan ini sungguh dahsyat,” kagumnya.

Walaupun dirinya baru saja mendapatkan kemampuan spesial itu, akan tetapi Antillia seakan sudah mahir menggunakannya. Dengan pedang perak yang ia genggam, gadis itu dengan sangat lincah memanfaatkan sihir angin untuk mengalahkan para penjaga,

“Itu dia, pintu keluarnya.”

Antillia hanya berjarak kurang dari 100 meter untuk mencapai jalan keluar. Namun sayangnya para penjaga sudah menutup pintu gerbang besi raksasa itu.

“JANGAN BIARKAN BOCAH ITU LOLOS!!” teriak salah satu penjaga.

Semangat dan ambisi Antillia untuk keluar dari neraka itu semakin besar. Gadis itu pun mengangkat pedangnya ke atas dengan kedua tangan.

“Kumohon, berikan aku kekuatan yang lebih dahsyat lagi, wahai pedang magis yang tak bernama!!”

“SEMUANYA, BERSIAP DI POSISI!!”

Bersenjatakan senjata multifungsi Politia berwujud musket, para penjaga menodongkannya ke arah gadis yang tengah berlari itu. Cahaya pun terlihat dari moncong senjata buatan perusahaan Politech tersebut saat mereka mulai menyentuh pelatuknya.

Antillia terus berlari ke arah pintu gerbang seraya menciptakan pusaran angin yang makin membesar pada pedangnya. “ENYAHLAH KALIAN SEMUA!!”

Sang pemimpin penjaga mengangkat tangan. “BERSIAP!!”

“HIYAAA!!”

WUSHH

Antillia menghunuskan pedangnya dari jarak 30 meter, menciptakan sihir pusaran angin yang melesat ke arah gerbang kompleks penjara tersebut.

“TEMBAK!!”

DORR

Peluru cahaya yang ditembakkan dari Politia itu melesat ke arah Antillia. Akan tetapi pusaran angin sihir yang diciptakan gadis itu berhasil melenyapkan mereka semua dan terus melesat ke arah para penjaga.

“APA YANG-“

“AAAGGHHHH…”

WUSHH

Serangan sihir pusaran angin itu menghempaskan seluruh penjaga dan menghancurkan gerbang seketika. Antillia pun berhasil melarikan diri dari kompleks penjara yang mengerikan tersebut.

Ia berlari ke arah sebuah bukit gelap yang tak jauh dari Tanjung Charnevall. Bermandikan cahaya rembulan malam, Antillia menyandarkan dirinya di sebuah pohon.

“Huh, akhirnya aku berhasil keluar dari penjara sialan itu,” ujarnya sambil menghela napas.

Angin malam yang dingin berhembus cukup kencang. Namun bagi Antillia, itu seperti angin sejuk yang mendinginkan keringatnya setelah keluar dari tempat yang mengerikan itu.

Suasana tampak sepi. Hanya terdengar suara hembusan angin saja tanpa adanya tanda-tanda kehidupan hewan malam seperti jangkrik maupun burung hantu. Namun suara wanita misterius yang muncul tiba-tiba memecahkan keheningan tersebut.

“Antillia.”

“Eh?”

Gadis berambut panjang itu sontak bersiaga sambil memegang pedangnya begitu melihat sekelompok orang berjubah misterius tiba-tiba muncul di depannya.

Antillia menatap mereka dengan curiga. “Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan dariku?”

Salah satu dari orang berjubah hitam itu menghampirinya. Terlihat di lengan kirinya ada sebuah syal dengan simbol segitiga berwarna biru muda dan tiga bintang putih di setiap sudutnya.

Segitiga biru muda? Tiga bintang putih? Simbol organisasi apa itu?” Antillia bertanya-tanya.

“Kau sudah melihatnya ‘kan, ketidakadilan yang terjadi di tanah ini? Dan kau berusaha untuk melawan dan menghancurkannya bukan? Sangat jelas bahwa dirimu sejalan dengan misi kami, Antillia,” kata salah satu dari mereka.

Antillia menatap dengan curiga. “Sejalan dengan misimu? Apa maksudmu? Dan kenapa kau bisa tahu namaku?”

Gadis berjubah hitam itu tak memberikan jawaban dan langsung mengulurkan tangannya pada Antillia.

“Cepat atau lambat kau pasti akan mengetahuinya, gadis penyihir angin Antillia Samarchia. Sekarang ikutlah dengan kami. Ayo kita hancurkan ketidakadilan ini dan membebaskan seluruh rakyat Vitania.”

Kalimat ajakan misterius itu menarik perhatian Antillia. Lewat semua penderitaan yang ia alami, dirinya berpikir bahwa mungkin mereka juga mengalami hal yang sama, dan mereka berjuang bersama untuk menghancurkan ketidakadilan.

Antillia pun tersenyum dan meraih tangan gadis berjubah hitam itu.

“Baiklah, aku ikut dengan kalian.”

 

***

Lates Chapters

Bab 34 : Anne dan Rose

Tubuh Antilles gemetar hebat begitu melihat sosok yang sangat tak biasa dan mengerikan itu ada di depannya. Tepat di belakang Rikka, sesosok cahaya putih menyerupai…

Bab 33 : Pertemuan Kembali

WUSHH TRINGG Pedang cutlass perak dan pisau kecil bermotif salib saling beradu memecah keheningan senja. Di dalam kubah perisai sihir jiwa itu, sang peringkat 10…

Bab 32 : Sang Ninja

Langit senja mulai menyinari langit Distrik Wilwien dengan gradasi jingga keemasan yang perlahan pudar menjadi ungu gelap. Sebuah kubah sihir transparan yang besar menjulang setinggi…

Bab 31 : Tabiat Dibaliknya

Hembusan angin sisa-sisa tebasan sihir itu berhenti, kembali berganti dengan tiupan angin alami di waktu menjelang petang. Pepohonan beringin tropis yang banyak ditemukan di Matrotshaven…

Bab 30 : Semua Tentangnya

Angin petang bertiup kencang di atas perkebunan Wilwien, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang berguguran. Tampak puing-puing gubuk yang berterbangan akibat serangan sihir yang…

Bab 29 : Penemuan Besar

Ruangan markas skuad Antilles masih terasa mencekam setelah ledakan emosi yang baru saja terjadi. Karpet merah di bawah kaki mereka seakan menyerap ketegangan yang menggantung…

Bab 28 : Dibalik Cahaya

Sang Formalha kembali menyinari langit kota Millerachen dan markas skuad Antilles di dalamnya. Karpet merah dalam bangunan bergaya Karelo-Vitania kuno itu membentang di koridor utama,…

Bab 27 : Orang Lama

Millerachen seakan menyambut Antilles dengan hembusan angin sore yang hangat. Bangunan-bangunan bergaya arsitektur Karelo-Vitania menjulang dengan elegan, sementara lampu-lampu dengan hiasan klasik mulai menyala satu…

Bab 26 : Angin dan Petir

Angin berhembus di sudut timur kota Salzyburg yang sepi itu. Di tengah kesunyian kota yang terletak di Vitania Tengah tersebut, Antilles menatap tajam ke arah…

Bab 25 : Kecurigaan Semata

Suasana ruang pertemuan Brigade Penyihir Garis Depan Vitania makin mencekam. Cahaya mentari pagi Formalha yang menyinari sebagian ruangan itu seakan tak mampu mengusir kegelisahan yang…

Bab 24 : Pembelot Misterius

Darah segar merembes di antara dedaunan yang berserakan, membentuk genangan merah pekat di tanah Hutan Bellstock yang lembab. Tubuh Priscilla Holstein terbaring kaku dengan lubang…

Bab 23 : Pohon Api

Tubuh Antilles masih terperangkap di dalam batang pohon yang tumbuh dengan tak wajar tersebut. Akar-akar sihirnya melilit kuat seraya terus menyerap partikel gaib dari dalam…

Bab 22 : Pertemuan di Utara

Sinar Formalha di pagi hari menerobos lapisan awan tipis, menyinari hamparan bebatuan dan rumput hijau yang membentang luas di sudut kota Millerachen itu. Embun pagi…

Bab 21 : Operasi Senyap

Sinar mentari pagi menembus tirai putih tipis yang menutupi jendela ruang perawatan. Ruangan itu tidak begitu luas, namun cukup nyaman dengan dinding bercat putih dan…

Bab 20 : Kembali ke Markas

Angin dingin berhembus menembus kulit. Tidak ada hal lain yang dirasakan selain udara dingin yang menembus pori-pori kulit halusnya. Antilles Samarchia terbangun dengan napas sedikit…

Bab 19 : Alibi Dibaliknya

Angin malam berhembus dingin di Hutan Kota Yukavik, bagian tengah Distrik Aastland di ibukota Sentralberg. Pohon-pohon rindang menjulang, membentuk dinding alami di sekeliling tempat pertarungan…

Bab 18 : Sang Penyihir Buku

Konsentrasi partikel gaib yang sangat kuat begitu terasa malam itu di Hutan Kota Yukavik, Aastland Tengah. Tak mengherankan karena sejumlah gadis penyihir kuat akan saling…

Bab 17 : Langkah Penghakiman

Rembulan Folmane tertutup awan pada malam itu, sedikit menutupi sinar yang menerangi wilayah tengah Distik Aastland, ibukota Sentralberg. Udara dingin menyelinap di antara dedaunan Hutan…

Bab 16 : Luka Hati

Ruangan kerja Antilles Samarchia sebagai pemimpin skuad yang baru menggantikan Izetta yang gugur beberapa waktu yang lalu tampak tak terlalu rapi hari ini. Beberapa dokumen…

Bab 15 : Di Alun-alun Kota

Sang mentari Formalha sudah bergerak ke ufuk barat. Mungkin sekitar tiga setengah jam lagi sebelum ia tenggelam dan rembulan kembar Folmane dan Ilmane menggantikan tugasnya…
error: Content is protected !!