Bayi Sima

Bayi Sima

_Bayi Sima_

 

Dinara Sofia

 

“Ada suara tangisan bayi di tengah hutan? Apa si Puseng yakin dia gak salah jalan? Perasaanku gak enak,” bisikku pada Anwar.

Anwar hanya mengangkat bahu, pertanda dia juga tidak mengerti. Puseng tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menyendengkan telinga. Aku, Anwar dan Damian saling bertukar pandang.

Petir menggelegar, angin berhembus dengan kencang. Terdengar suara teriakan dan lolongan kesakitan seorang wanita, Puseng berlari dengan sebilah golok di tangan kirinya. Mau tidak mau, kami ikut berlari dengan menggendong tas carrier yang sangat berat ini. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan kami, bukan?

Langkah kami terhenti melihat pemandangan di depan. Seorang gadis terkapar di tanah dengan bersimbah darah dari dadanya, rambut panjang menandakan bahwa dia adalah seorang wanita. Seorang gadis lainnya menangis histeris dan dipeluk seorang pria bertubuh tegap dan tampan.

“Maura …, tidaaak, Mauraaa, bangun. Antaka, dia lagi becanda, kan? Cepat tolong dia!” teriak gadis itu.

Puseng mendekati Antaka yang diam terpaku, dia menghembus wajah pria itu lalu seketika terkejut dengan pemandangan di depannya. Teriakan dari Antaka dan gadis itu bersahutan. Antaka berlari dan memeluk tubuh Maura yang sudah bersimbah darah itu sambil berteriak dan mendekapnya.

Petir kembali menggelegar, kutatap kilatan cahanya terlukis jelas di langit. Awan hitam bergulung dengan cepat dan angin lagi-lagi berhembus dengan kencang, ada yang berada hawa ini sangat dingin seolah menembus tulang. Bulir bening dari langit mulai menitik perlahan, sekejap kemudian mulai deras dan terasa sangat perih saat menyentuh kulit.

“Ayo berlindung dibalik batu besar itu. Kalian laki-laki bangun dua buah tenda aja, cepat sebelum deras!” perintah Puseng.

Anwar dan Damian berlari secepat yang mereka bisa, aku terpaku melihat batu besar itu. Tepat di puncak batu besar itu duduk seorang gadis cantik menggunakan busana kerajaan di masa lampau. Dia seolah menikmati rintik hujan dengan kepala menengadah ke langit, lalu perlahan menurunkan pandangannya dan menatapku dengan tajam, lalu tersenyum dengan manis. Kakiku seolah terpaku dan tidak bisa mengalihkan pandanganku.

“Woi, Arjuna. Ngapain sih bengong bukan bantuin kami!” bentak Damian.

Seketika aku tersadar dan berlari menghampiri mereka. Satu tenda sudah selesai tinggal merampungkan satu lagi. Kembali kilatan petir menyambar sebuah pohon angin kencang pun seolah akan mencabut pohon itu. kami mempercepat merangkap tenda karena hujan mulai deras. Suara gemuruh air hujan dan desau angin semakin membuat hatiku ciut. Antaka datang sambil menggendong Maura dalam pelukannya, sementara gadis lainnya dan Puseng berada di belakang.

Puseng meminta Antaka dan gadis itu masuk ke tenda yang sudah terpasang, sementara dia membantu kami menyelesaikan satu tenda lagi. Tepat hujan deras datang tenda selesai dirakit dan kami masuk ke dalam tenda.

Aku memeluk kedua lututku menahan hawa dingin, bibirku gemetar dan suara gemerutuk gigi pun terdengar. Damian menghampiriku dan menyelimuti dengan jaket tebal miliknya. Ya, Damian adalah pemimpin regu yang baik hati, tenang dan juga tegas. Itu sebabnya aku bersedia diajak menjelajahi hutan di Pulau Kalimantan ini.

“Arjuna, kamu takut? Maaf, ya. Cuaca dan keadaan kacau ini di luar kendaliku sebagai manusia,” ucap Puseng.

Suara derak ranting patah, disusul suara bergemuruh pohon rubuh pun terdengar tidak jauh dari tenda.  Aku menduga pasti itu pohon yang tersambar petir tadi. Puseng menepuk bahuku tiga kali, kemudian mengusapnya pelan. Terasa hawa hangat menjalar ke dalam tubuhku bahkan rasanya seolah berada di dalam darahku. 

“Badanku kok jadi hangat? Kamu yang kasih? Makasih, ya,” bisikku.

Puseng mengangguk dan mengulas senyum indah. ‘Oh Tuhan, kalo dia perempuan aku bisa jatuh cinta. Manis banget senyumnya,’ pikirku.

“Singkirkan pikiran bodohmu itu. Kau ini manusia istimewa, sangat istimewa.” Puseng berpindah duduk di sisi Damian.

“Semprul, aku masih doyan cewek lah gak doyan batang,” gerutuku kesal.

Anwar beringsut mendekatiku, raut wajahnya serius seolah ada yang menganggu pikirannya. Saat dia akan berbicara, terdengar suara petir sangat keras memekakkan telinga, keadaan begini jujur saja membuat aku takut dan nyaliku hilang entah ke mana. Aku takut hujan disertai angin dan petir seperti ini.

“Jun, itu tenda sebelah kok anteng banget, ya? Padahal satu tenda ama mayat penuh darah loh,” ucap Anwar.

Aku diam dan menajamkan pendengaranku. Benar, sunyi sekali suara di tenda samping. Padahal tadi masih terdengar isak tangis gadis itu. Entah mengapa aku menegadah ke arah langit-langit tenda. Aku seolah melihat gambaran tiga manusia itu sedang kebingungan di tengah derasnya hujan.

“Puseng, mereka hilang. Ayo cari,” ajakku.

Puseng berdiri dan berpesan kepada Anwar dan Damian agar diam di dalam tenda.

“Jangan sekali-sekali membuka tenda, kami bakal menirukan suara binatang kalau sudah pulang,” pesan Puseng.

Aku membuka tenda sebelah, benar saja tidak ada siapa pun di dalam. Puseng menarik tanganku, aku kesulitan mengikuti langkahnya yang cepat seperti Kijang. Aku menoleh ke belakang, aku kembali melihat putri cantik itu tersenyum kemudian sebuah suara merdu nan indah berbisik di samping telingaku.

“Izinkan Harimau putih itu ikut denganmu jika kau bertemu dengannya. Dia sudah lama menunggumu. Dia akan membantumu menemukan manusia yang kau cari.”

Aku terjatuh karena terkejut. Tidak ada Puseng di dekatku seketika aku mulai panik di tengah derasnya hujan dan sambaran petir di angkasa juga berada di hutan.

Sekelebat bayangan putih sangat besar perlahan mendekat, aku ketakutan dan berlari ke sembarang arah. Akan tetapi mata tajam mahluk itu selalu saja bisa menemukanku. Aku terus berlari sambil menangis dan menyebut nama Tuhan berkali-kali. Takut? Putus asa? Tentu, siapa yang tidak takut di tengah keadaan seperti yang aku alami ini.

“Berhenti berlari anak manusia.”

Aku yang berlari sambil menoleh ke belakang, jatuh terjengkang usai menabrak sesuatu yang tidak kasat mata. Sosok putih itu ternyata adalah Harimau yang sangat besar dengan bola mata berwarna kuning, sedang menatapku tajam di tengah deranya hujan.

Perlahan Harimau itu melangkah mendekatiku, aku beringsut dan menarik tubuh dengan kedua tanganku. Perih dan onak duri yang menusuk tangan dan tubuhku tidak aku pedulikan sana sekali, dalam benakku bagaimana caranya aku lari dari mahluk besar yang sama sekali tidak imut ini. Kututup mata karena merasa takut.

Entah bagimana caranya aku seperti melihat kilasan kejadian masa lalu dengan cepat hingga kejadian saat ini. Aku mengerti dan membiarkan sosok itu mendekat.

“Arjuna Wicaksana, namaku adalah Lanang Karna. Manusia yang kau cari ada di depanmu, bukalah matamu,” ujarnya.

Kubuka mata perlahan, benar saja Puseng sedang menepuk pipiku sedangkan orang yang kami cari duduk di depanku. Melihatku sudah siuman, Puseng menarik tanganku.

“Lari, cepat lari. Bergandengan tangan jangan terlepas,” cakap Puseng.

Kami semua berlari, Antaka di belakang karena dia terus saja menggendong wanita yang sudah tiada itu. akhirnya kami sampai di tenda, Puseng menirukan suara binatang yang sudah disepakati di awal dan pintu tenda terbuka.

Anwar ketakutan dan duduk di sudut, sementara lantai tenda basah oleh air dari pakaian kami dan juga darah Maura. Sepuluh menit kemudian hujan berhenti. Kami mulai berunding untuk segera ke luar dari hutan ini dan akan melanjutkan esok hari. Sleeping bag di keluarkan oleh gadis itu yang aku ketahui bernama Puspita. Dia meminta agar jenazah Maura di masukkan dan segera ke luar hutan.

Tiga puluh menit berselang, semua sudah siap dan kami berjalan ke luar dari hutan. Sepanjang perjalanan tidak ada canda tawa yang biasa dilontarkan Anwar. Antaka diam membisu sambil membawa jenazah dalam pelukannya.

“Sepi banget, bosen,” keluh anwar.

“Lah dari tadi sapa suruh ga ngomong,” celetuk Damian.

“Sudahlah, cukup kita merasakan teror bayi sima. Jangan tambah dengan perselisihan,” kata Puseng.

“Padahal aku kan cuma pengen becanda doang,” gerutu Anwar.

“Kalo kamu gak punya perasaan, becanda aja sendiri,” ketus Puspita.

Suasana yang tadinya membuat kami bersemangat, kini berubah menjadi tegang. Sesekali Puseng menatap ke arah langit melalui belah-celah dedaunan. Dia menghela napas dan kembali berjalan dengan gontai. Anwar tiba-tiba saja mencengkeram tanganku, hingga aku meringis kesakitan.

“Apaan sih? Sakit tau,” gerundelku.

“I-Itu, liat. Apaan tuh? Kok kaya ular? Gede banget,” tunjuk Anwar.

Aku menoleh mengikuti arah yang di tunjuk Anwar. Mataku terbelalak melihat ulat sangat besar berwarna hijau, penyamarannya sempurna dengan rimbunan semak belukar. Kepalanya sangat besar dihiasi taring tajam yang sesekali meneteskan cairan beraroma busuk.

Kuseret Anwar karena kami hampir tertinggal. Tanganku menjadi sangat sakit karena ditarik, saat aku menoleh tampak olehku dia sudah di lilitan ekor hijau tersebut.

“Puseng, tolong!” teriakku.

Aku berteriak berkali-kali, akan tetapi aku melihat langkah mereka semakin menjauh. Aku bingung apa yang harus aku lakukan? Mengejar Puseng dan meminta bantuan atau menolong Anwar yang bisa mati kapan saja.

“Damian, Puseng, tolong!” teriakku putus asa.

Aku memutuskan menyelamatkan Anwar, tubuhnya kini tampak lemas. Doa-doa kupanjatkan dari dalam hati, aku memohon keselamatan bagiku juga Anwar. Ular itu meskipun sangat besar tetapi sangat lincah. Berulang kali aku tersandung dan jatuh terguling, tubuh yang terasa remuk redam tidak aku pedulikan. 

Pandangan mataku mulai kabur saat aku hampir mendekati Anwar, sebelum semua gelap aku melihat bayangan Lanang Karna, Harimau jejadian yang mengikutiku. Tiba-tiba ada suara bayi menangis berada di dekatku. Sayup-sayup ku dengar suara ‘bayi sima, hentikan!’

Gelap, aku tidak mendengar apapun usai kejadian itu. Entah berapa lama kemudian sayup-sayup kudengar suara orang berbicara. Kupaksa agar kedua mataku terbuka, samar-samar bayangan pohon.

“Di mana aku?” gumamku.

“Kamu ada di hutan. Untung aja berhasil selamat dari bayi Sima, si pemakan jantung manusia. Ayah … lihat dia sudah sadar,” teriak seorang bocah lelaki.

Aku berusaha bangun tidak ada siapa pun di sana, bahkan bocah kecil tadi. Samar-samar aku melihat seorang lelaki mendekat.

“Hei, teman-teman. Arjuna sudah sadar!” pekik Puseng.

Orang yang kukenal mengerubungiku salah satunya adalah Anwar.

“Kamu itu mau ke mana Juna? Aku teriak-teriak manggil kamu, malah kamu lari cepat banget,” kata Anwar.

Aku melipat kening, seingatku kejadian yang aku alami bukanlah demikian. Aku lah yang mengejarnya karena di lilit oleh ular besar.

Dari balik tubuh Anwar, aku melihat bayangan kepala ular sangat besar diikuti seringai menyeramkan.

 

error: Content is protected !!