Ningsih Manis Di Jembatan Merah

Bertemu Si manis

“Dim, gua mau ngajak loe ke suatu tempat. Mau kaga?” tanya Niko. 

 

Terlihat raut wajah Niko sedikit takut, ia menatap laki-laki yang duduk di samping Dimas secara berganti. Tiga teman baik itu seolah tidak bisa dipisahkan, terlabih Niko seorang laki-laki penakut. Berbeda dengan Dimas yang berani dan memiliki sedikit ilmu warisan dari sang ayah yang mampu membuatnya disenangi oleh kedua temannya. 

 

“Kemana? Jangan bilang cari janda di kampung sebelah,” seloroh Rian, wajah manis Rian terus saja tersenyum ke arah temannya yang penakut itu. 

 

“Hus. Apa Loe enggak tahu kalau Niko ini penakut? Sama bocah SMA saja dia takut apalagi sama janda,” olok Dimas yang baru saja meletakkan sisa rokoknya ke dalam asbak. 

 

“Nah!” Niko menggebrak meja hingga membuat kedua temannya terkejut dan bangkit dari duduknya. 

 

Dimas dan Rian serentak memukul Niko, terlihat Niko yang hanya tersenyum membuat mereka saling melemparkan pandangan. Rasa enggan mengeluarkan kata-kata dari mulut Niko membuat Rian geram hingga menggebrak meja seperti yang Niko lakukan tadi, sekarang giliran Niko yang terkejut dan menyentuh dadanya. 

 

“Sialan, Loe.”

 

“Lagian. Loe mau ngajak Dimas bukan langsung pada intinya, gua sate juga Loe,” gerutu Rian. 

 

Terlihat Dimas hanya menyesap kopinya yang masih tersisa setengah gelas, ia hanya mendengarkan apa yang diperdebatkan oleh kedua sahabatnya. 

 

“Gini. Gua penasaran sama wajah cantiknya Ningsih, konon kata babe gua kalau dia bunuh diri di jembatan merah.” Niko segera berpindah dan mendekat ke samping Dimas. 

 

Warung kopi yang awalnya masih ada pengunjung kini seolah mendadak sepi. Bulu kuduk Niko meremang, ia memandang sekeliling yang agak gelap. Perkampungan yang banyak pepohonan itu terlihat masih asri, tempat ayah Niko dibesarkan tidak begitu akrab bagi Niko karena ia pulang ke kampung halaman ayahnya hanya untuk menjual beberapa wanisan dari sang kakek. 

 

“Jadi Loe jauh-jauh dari Jakarta cuma mau bawa kita berdua lihat Ningsih? Benar-benar gila Loe,” cibir Rian. Rian berpikir kalau temannya itu sedang berbohong padanya. 

 

Rian bangkit dan hendak memukul Niko lagi tapi ditahan oleh Dimas, ia tidak ingin orang salah paham tentang kegaduhan yang merka buat. 

 

“Jadi, sekarang atau kapan kita ke jembatan merah?” tanya Dimas serius. 

 

Ketika nulai serius Dimas dapat merasakan agin yang bertiup di bagian kuduknya. Namun Dimas tidak memperdulikan hal itu, ia sudah menikmati apa yang ada pada dirinya saat ini. Dimas cukup senang dengan ilmu yang diwariskan oleh kakeknya hingga rasa takutnya pada makhluk ghaib tidak ada sama sekali. 

 

“Sekarang aja yuk, Dim. Besok babe gua ngajak balik ke Jakarta, katanya warisannya ga jadi dijual karena ada kuburan nenek gua di kebun itu jadi pembeli kaga mau beli,” jelas Niko panjang lebar. 

 

“Yakin Loe? Gua tahu Loe itu pengecut, bisa-bisanya ngajak cari si Ningsih di jembatan merah,” hina Rian. Pertemanan yang mendekati sepuluh tahun membuat Rian paham betul seperti apa temannya itu. 

 

“Gua bawa kamera, video Loe mengompol bakalan tersebar di kampus besok.” Rian membelakangi Niko lalu gelak tawa Rian terdengar begitu nyaring setelah mengatakan itu sedangakan Dimas hanya tersenyum melihat dua temannya yang sedang berdebat. 

 

Tidak dapat dipungkiri, Dimas dan Rian juga penasaran dengan wajah wanita yang katanya cantik jelita dan menjadi incaran para pemuda di kampung Raya itu, tapi rasa penasaran Niko lebih besar karena ia pikir Ningsih saat sudah menjadi hantu pun akan tetap cantik. 

 

 

Dimas bangkit terlebih dahulu dan membayar kopi juga membeli sebungkus rokok pada pemilik warung. 

 

“Berapa, Mang?” Dimas menyodorkan uang lima puluh ribu ke arah pemilik warung yang biasa disapa ‘Mang’. 

 

“Empat puluh delapan ribu, Den. Mau ke mana malam-malam begini, Den?” 

 

“Jembatan merah!” Refleks jawaban itu keluar dari mulut Rian hingga membuat Dimas melirik ke arah Rian yang masih duduk di bangku. 

 

“Saran dari Mamang jangan kesana, Den. Takutnya nanti ….” 

 

Laki-laki yang biasa disapa mang itu meninggalkan mereka bertiga dan melayani satu pembelinya yang baru saja tiba, mereka bertiga pun tidak menghiraukan perkataan laki-laki yang nyaris tua itu. 

 

 

Perjalanan gelap pun mereka tempuh, jalan setapak dan becek tidak menjadi halangan karena rasa penasaran pada wajah cantik jelita Ningsih yang konon katanya menyerupai bidadari. Gerimis pun mulai jatuh dan menambah kesan seram karena dedaunan yang mulai basah dalam gelapnya malam sementara mereka hanya dibekali senter ponsel yang mereka bawa. 

 

Tidak lama mereka sampai di perbatasan larangan jembatan merah yang sudah ditutup akses kesana, mengingat beberapa orang tergelincir ke dalam sungai karena takut pada arwah Ningsih yang mati penasaran dan terus menjaga jembatan merah. 

 

“Kaga ada apa-apa,” celetuk Dimas. 

 

Suara Dimas yang nyaring di tengah suara jangkrik membuat Niko terperanjat dan memeluk lengan Dimas dengan begitu erat. 

 

“Loe itu laki apa banci sih?” tanya Rian kesal. 

 

“Gua penasaran. Kayak enggak pernah pacaran aja sih Loe,” cetus Niko dengan suara bergetar. Niko menyamakan penasaran pada hantu dengan rasa penasaran pada seorang gadis. 

 

Rasa takut pada diri Niko kini memenuhi otak dan hatinya, sehingga kata-kata yang tidak masuk akal pun ia keluarkan, Niko terus menatap sekeliling begitu kental dan sesekali mengarahkan senternya ke arah pohon, sedangkan Rian mulai mengarahkan kamera yang dari tadi sudah mulai merekam ke arah Niko. Tontonan dan bahan olokan yang asik saat kembali ke Jakarta sangat memuaskan hati Rian. 

 

Suara melengking mulai tedengar samar dan perlahan mulai mendekat. Dimas sudah paham dengan situasi karena ini bukan kali pertamanya ia melakukan hal seperti ini, bacaan ayat yang ia amalkan mulai ia baca karena suara yang ia dengar begitu aneh. 

 

“Dimas, kaki kiri gua dingin banget. Tolongin gua, sepertinya masuk ke dalam lumpur nih.” 

 

Dimas fokus dengan bacaan ayatnya, sedangkan Rian fokus dengan kameranya yang mulai buram, sesekali Rian mengelap lensa kameranya, tapi hasilnya tetap sama saja. 

 

“Baca ayat kursi!” seru Dimas dengan suara lantang. 

 

Serentak Rian dan Niko membacakan ayat kursi. Namun bacaan Niko berbelit dan banyak kesalahan, sedangakan Rian mengabaikan kameranya dan membaca ayat kursi dengan benar. 

 

Cengkraman pada kaki Niko semakin kuat hingga ia lupa pada ayat yang sedang ia bacakan terlebih bau anyir kian menyeruak, padahal Dimas sudah mengakatan sejak dulu kalau ayat kursi ampuh untuk mengusir hantu. 

 

“Dim, kaki gua.” 

 

Niko sudah gemetar, ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa sesaat setelah ia menatap ke bawah, ada tangan pucat yang sejak tadi memegang kakinya. Rian melirik ke arah Niko lalu mengambil kameranya. Namun batrai kamera Rian mendadak habis padahal pagi tadi sudah ia cas penuh. 

 

“Rian, jangan nakut-nakutin gua,” kata Niko panik sambil sekali memejamkan matahnya paksa. 

 

“Heh … enak saja!”

 

Niko kembali terkejut, ia tidak percaya dengan apa yang ia alami saat ini. Wajah cantik Ningsih belum sepat ia lihat tapi air kencingnya sudah membasahi celana pendek selutut yang ia kenakan, sayang sekali momen ini tidak akan mejadi trending topic di kampusnya besok saat mereka pulang ke kota. 

 

“Dim. Sumpah, gua enggak suka ini!” 

 

“Lepasin tangan gua dulu. Loe pikir dengan loe pegang tangan gua, itu tangan bakal lepasin kaki Loe?” gerutu Dimas. 

 

Beberapa ayat dan mantra pun dibacakan oleh Dimas, ia meniupkan pada kaki Niko, ilmu yang diwariskan oleh kakeknya cukup untuk menjaga orang-orang disekitarnya. Terlihat tangan putih pucat itu melonggar dan melepaskan kaki Niko hingga membuat Niko mengelus dadanya. 

 

Suara melengking kembali terdengar menjauh, Dimas tersenyum melihat Niko yang memegang celananya. 

 

“Ayo pulang, tidak ada yang ingin menampakan dirinya pada kita,” ucap Dimas. 

 

Mereka bertiga pun kembali ke rumah, Dimas tidak ingin berada di jembatan terlalu lama karena bulu kuduknya terus meremang. Kejadian ini menyadarkan Dimas kalau ia tidak harus ikut kata-kata teman yang lemah jiwanya karena Dimas sendiri yang akan menanggung akibatnya. 

 

 

Pagi pun menampakkan cahayanya begitu indah, Niko sudah menyiapkan segalanya untuk segera kembali ke kota. Kejadian semalam membuatnya benar-benar takut, seolah-olah nyawanya hampir melayang karena takut. 

 

“Ayo!” 

 

“Secepat ini?” tanya Dimas heran, begitu juga dengan Rian yang berdiri mematung usai membasuh tubuhnya, bahkan pakaian saja belum ia kenakan. 

 

“Iya, rasanya semalam gua kayak mau mati,” ungkap Niko.

 

“Mau gua kasih penjaga tubuh seperti gua?” 

 

“Mau … mau.” 

 

“Sampai di Jakarta dua kasih,” pungkas Dimas lalu meninggalkan Niko seorang diri setelah mengulas senyum yang membuat Niko jengkel. 

 

 

 

 

 

error: Content is protected !!