BESTIE FOREVER
Aku, Aira, dan Citra sudah tidak sabar ingin memulai petualangan baru di SMP Saribuana. Sekolah baru, teman baru, dan tentu saja, banyak hal seru yang menanti. Ketiganya sudah bersahabat sejak TK, jadi mereka sudah sangat mengenal satu sama lain.
Hari pertama sekolah terasa begitu menyenangkan. Mereka bertemu banyak teman baru, mengikuti MOS yang seru, dan mulai menjelajahi setiap sudut sekolah.
“Wah, gak nyangka ya kita bakal sekelas lagi di SMP Saribuana,” ucap Citra dengan mata berbinar.
“Iya, pasti seru banget!” sahut Aira. “Kita bisa eksplorasi banyak kegiatan baru di sana.”
Aku mengangguk setuju. Membayangkan hari-hari mendatang di SMP Saribuana membuatku sangat antusias. Tapi, di balik rasa senang itu, ada juga sedikit rasa khawatir. Bagaimana ya kalau kita punya kelas yang berbeda? Atau kalau kita punya teman baru yang lebih dekat dari kita?
“Jangan khawatir, ya,” kata Citra sambil merangkulku. “Kita kan selalu bersama.”
“Iya, kita akan hadapi semuanya bersama-sama,” tambah Aira.
Untuk merayakan kelulusan SD dan menyambut masa-masa SMP, kami bertiga memutuskan untuk mengadakan pesta piyama. Kami menghias kamar dengan balon dan lampu-lampu kecil, lalu membuat kue bersama. Sambil menikmati kue buatan kami, kami bercerita tentang harapan dan impian di SMP.
“Aku pengen banget ikut ekskul basket,” kata Citra.
“Kalau aku, pengen coba ekskul paduan suara,” ujar Aira.
“Aku sih belum kepikiran mau ikut ekskul apa, tapi aku pengen nyoba hal-hal baru,” kataku.
Malam itu, kami bertiga tertawa lepas dan saling berbagi cerita. Kami merasa sangat beruntung memiliki persahabatan yang kuat. Kami yakin, persahabatan kami akan semakin erat di SMP Saribuana.
Keesokan harinya, saat hari pertama masuk sekolah, kami datang ke SMP Saribuana dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa gugup, tapi juga rasa senang. Kami mencari kelas masing-masing dan ternyata, kami bertiga memang satu kelas! Kami langsung berpelukan dan bersorak kegirangan.
“Yeay, kita sekelas lagi!” teriak Citra.
“Ini baru awal dari petualangan seru kita di SMP Saribuana,” tambah Aira.
Aku tersenyum lebar. Aku tahu, di SMP Saribuana, kami akan membuat banyak kenangan indah bersama. Namun, kebahagiaan kami mulai terusik ketika aturan baru tentang penggunaan handphone di sekolah diberlakukan.
“Kenapa sih harus dilarang bawa HP? Aku kan butuh buat belajar!” protes Aira.
“Iya, aku juga sering pakai HP untuk cari referensi buat tugas,” tambah Citra.
Aku hanya bisa menghela napas. Sebenarnya, aku juga merasa kurang nyaman dengan aturan baru ini. Tapi, sebagai ketua kelas, aku harus bisa menjadi contoh yang baik bagi teman-teman sekelas.
Beberapa hari kemudian, masalah semakin rumit. Handphone Citra tiba-tiba hilang saat jam istirahat. Citra sangat panik karena di dalam handphone itu ada banyak foto dan video kenangan bersama kami.
“Pasti ada yang mengambilnya!” seru Citra dengan nada kesal.
Aira dan aku berusaha menenangkan Citra. Kami berjanji akan membantunya mencari handphone yang hilang. Bersama-sama, kami mencari ke seluruh penjuru sekolah, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan handphone Citra.
Keesokan harinya, saat pelajaran sedang berlangsung, handphone Citra tiba-tiba berdering. Suara dering itu berasal dari dalam tas salah seorang siswa di kelas. Semua mata tertuju pada siswa tersebut.
“Itu handphone-ku!” teriak Citra dengan gembira.
Ternyata, siswa itu tidak sengaja mengambil handphone Citra saat jam istirahat. Ia merasa bersalah dan segera mengembalikan handphone itu kepada Citra.
Setelah kejadian itu, mereka bertiga semakin menyadari pentingnya saling percaya dan menjaga barang milik teman. Mereka juga belajar untuk mematuhi aturan sekolah, meskipun awalnya merasa keberatan.
Setelah insiden kehilangan handphone, Citra, Aira, dan aku sepakat untuk mengurangi penggunaan media sosial. Namun, godaan itu sulit dihindari. Teman-teman sekelas mulai membuat grup chat yang ramai dengan berbagai macam informasi dan meme lucu.
“Kalian udah gabung grup kelas belum? Seru banget!” ajak Rani, salah satu teman sekelas kami.
Citra merasa ragu. “Aku takut kalau nanti jadi keasyikan main HP lagi,” gumamnya.
Aira mengangguk setuju. “Tapi, aku juga pengin tahu apa aja yang mereka bicarakan,” tambahnya.
Aku mencoba menengahi. “Kita bisa coba batasi waktu main HP-nya. Misalnya, cuma boleh main setelah selesai mengerjakan tugas.”
Akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk bergabung dengan grup chat kelas. Awalnya, kami merasa senang karena bisa ikut berinteraksi dengan teman-teman. Namun, lama-kelamaan, kami mulai merasa tertekan. Banyak sekali tugas sekolah yang harus diselesaikan, ditambah lagi dengan notifikasi dari grup chat yang terus berbunyi.
Suatu hari, terjadi perdebatan sengit di grup chat. Beberapa teman saling menyalahkan dan menghina. Citra merasa tidak nyaman dengan suasana yang seperti itu.
“Aku enggak suka kalau harus lihat teman-teman saling bertengkar,” kata Citra sedih.
Aira pun merasakan hal yang sama. “Aku lebih suka kalau kita bisa saling mendukung satu sama lain.”
Aku mengusulkan untuk membuat peraturan di grup chat agar suasana menjadi lebih kondusif. “Kita bisa buat aturan, misalnya dilarang menghina atau menyebarkan berita bohong.”
Usulanku mendapat dukungan dari teman-teman yang lain. Kami membuat peraturan bersama dan menunjuk beberapa orang sebagai admin untuk mengawasi grup chat.
Yah, handphone memang memiliki dampak yang baik namun juga memiliki dampak negatif jika tidak dipergunakan dengan baik. Maka kita sebagai kaum milenial pintar-pintarlah dalam menggunakan handphone.