Tanya masih terus memanggil-manggil nama Farida hingga membuat Adam tak tega.
“Ma, gimana kalau kita bawa Farida ke sini. Aku yakin kalau Tasya bertemu dengan Farida, dia akan membaik,” ucap Adam akhirnya memberanikan diri untuk membawa Farida bertemu dengan Tasya.
“Tidak, Dam. Aku tidak setuju! Kamu kan tahu kalau aku sangat membenci wanita itu,” tolak Nadira tegas.
“Tapi kita tidak mungkin membiarkan Tasya seperti ini terus, Ma.” Adam menoleh ke arah Tasya yang masih terus memanggil Farida.
“Pokoknya aku tidak mau kalau sampai wanita itu ke sini! Lagipula memangnya kamu tahu dimana wanita itu berada?” tanya Nadia dengan raut menginterogasi.
Adam yang saat itu keceplosan ingin membawa Farida kembali pun merasa bingung dan juga panik.
“Duh gimana ini, aku keceplosan, lagi,” batin Adam bingung.
“Dam, jawab aku! Apa kamu tahu dimana keberadaan Farida?” tanya Nadia lagi.
“Emmm i-itu anu, Ma. Sebenarnya aku tidak tahu dimana dia tapi jika Mama mengizinkan aku membawa Farida ke sini maka aku akan mencarinya,” jawab Adam akhirnya.
“Kamu kan tahu sendiri, Dam. Kalau Mama sudah menyuruh orang mencari wanita itu tapi belum juga ketemu, apalagi kamu.” Nadia mengejek.
“Tapi apa salahnya, Ma. Coba Mama lihat keadaan Tasya sekarang, dia sepertinya sangat merindukan Farida, Ma,” ucap Adam.
“Sudahlah, tidak usah bahas ini lagi. Sekali aku bilang tidak ya tidak! Aku jutsru akan membunuh wanita itu dengan tanganku sendiri jika sampai aku melihatnya,” ucap Nadia tampak sangat serius.
“Mama sungguh tega, nggak kasihan sama Tasya,” ucap Adam kesal.
“Sudahlah kamu nggak usah terlalu khawatir, anak-anak kalau sakit memang begitu, suka mengigau. Tapi nanti juga berhenti sendiri kok setelah dia sehat kembali. Tadi dia sudah ku beri obat jadi kamu tenang saja, nanti juga sembuh.” Nadia bangkit dari duduknya dan perlahan pergi meninggalkan Adam yang masih menjaga Tasya dengan wajah khawatir.
Belum lama Nadia keluar dari kamar, tiba-tiba Tasya membuka matanya perlahan dan langsung disa.bjt oleh Adam yang tampak tersenyum padanya.
“Ayah,” ucap Tasya pelan.
“Iya, Tasya. Ini ayah.” Adam mengamit tangan tanya yang mungil dan menciuminya beberapa kali.
“Ayah, Tasya rindu sama ibu,” ucap gadis kecil yang ada di hadapan Adam saat itu.
“Apa Tasya ingin bertemu dengan ibu?” tanya Adam. Dengan cepat Tasya pun mengangguk.
“Iya, Yah. Tasya ingin bertemu dengan ibu. Tasya rindu sekali ingin peluk ibu,” jelasnya.asam pun termenung mencari cara. Tiba-tiba lamunannya buyar saat melihat butiran kristal putrinya perlahan jauh membasahi wajahnya yang tampak sangat pucat dan lesu.
“Ayah, tolong bawa ibu kemari.” Tangan Tasya mengerat menggenggam tangan Adam.
“T-tapi Oma tidak mengizinkan,” ucap Adam terpaksa jujur.
Seketika Tasya pun menangis tersedu-sedu mendengar apa yang dikatakan oleh Adam.
Suara tangisan Tasya yang cukup keras membuat Nadia pun kembali datang ke kamar Tasya.
“Ada apa, Tasya? Kenapa kamu menangis?” tanya Nadia.
Nadia pun duduk di dekat Tasya dan mencoba menenangkannya. Tangannya mengusap punggung Tasya lembut.
“Oma, Tasya ingin bertemu dengan ibu. Tolong izinkan ibu ke sini,” ucap Tasya sembari terisak.
Nadia pun menoleh ke arah Adam dan menatapnya tajam. Adam yang menerima tatapan dari Nadia langsung paham penyebabnya.
“Kamu ya yang bilang ke Tasya kalau aku tidak mengizinkan Farida ke sini?” Bisik Nadia ke arah Adam.
“I-iya maaf, Bu. Aku terpaks mengatakannya pada Tasya,” jawab Adam sembari menunduk.
“Dasar tidak berguna! Malah bicara begitu pada Tasya,” umpat Nadia kesal.
Mendengar rengekan Tasya yang tak kunjung berhenti, akhirnya Nadia pun bangkit dari duduknya dan melirik ke arah Adam.
“Ikut aku,” pinta Nadia.
Kemudian Nadia keluar dari kamar Tasya diikuti Adam yang berjalan di belakangnya. Keduanya menuju ke ruang tamu.
“A-ada apa, Bu?” tanya Adam yang berdiri di belakang Nadia.
Nadia pun menoleh ke arah Adam dan Nadia memukul wajah Adam dengan sedikit keras.
“Itu akibatnya karena kamu sudah bertindak sesuka mu.” Nadia tampak sangat marah.
Adam hanya bisa pasrah saat Nadia melampiaskan kemarahannya pada dirinya. Tapi akhirnya Nadia luluh juga karena mendengar tangisan Tasya yang tak kunjung berhenti.
“Baiklah aku akan mengizinkan wanita itu datang kemari tapi aku aku hanya memberinya waktu satu jam saja untuk bertemu dengan Tasya,” ucap Nadia akhirnya.
Mendengar Nadia yang kini mengizinkannya untuk membawa Farida ke rumah membuat Adam merasa sangat senang. Setidaknya kedua orang yang ia sayangi bisa bertemu untuk melepaskan rindu.
“Terima kasih, Bu. Aku janji akan segera menemukan Farida dan tidak akan melanggar batas waktu yang sudah ibu tentukan,” ucap Adam semringah.
“Kenapa kamu yang jadi semringah begini?” tanya Nadia keheranan.
“Oh emmm a-aku hanya senang karena akhirnya Tasya bisa bertemu dengan Farida dan pasti akan segera membaik. Itu saja, Bu,” jawab Adam sekenanya.
Tak ingin berlama-lama, Adam pun segera pergi meninggalkan rumah untuk menuju ke rumah Farida dan membawanya bertemu dengan Tasya.
***
Gerimis masih belum usai tapi Adam memaksa datang ke rumah Farida menggunakan ojek dan payung.
Tak sampai satu jam, ia sampai di depan rumah Farida yang terdengar sedikit ramai dari arah luar.
“Siapa yang sedang datang, ya. Kok ada motor di situ?” Batin Adam bertanya-tanya dengan tatapan yang masih belum bisa teralihkan dari motor yang terparkir di depan rumah Farida.
Dengan cepat Adam pun mengetuk pintu dan tak lama keluarlah Farida membukakannya pintu. Dari arah luar Adam melihat seorang pria dan seorang wanita paruh baya yang ia tak kenal sama sekali.
“Ada apa, Mas? Kenapa kamu ke sini malam-malam begini dan hujan-hujanan begini?” tanya Farida.
“Kamu harus ikut aku ke rumah sekarang, Farida.” Dengan tergesa-gesa Adam mencoba menarik tangan Farida tapi Farida menahannya.
“A-ada apa, Mas? Apa ada yang terjadi?” tanya Farida penasaran.
“Ini penting Farida, pokoknya kamu harus ikut denganku.” Adam menatik tangan Farida tapi tiba-tiba tangan Farida yang sebelah ditahan oleh sosok pria yang tak dikenalnya.
“Jangan memaksanya seperti ini! Siapa kamu sampai memaksanya seperti ini,” sarkas Feri mencoba menahan Farida dari Adam yang mencoba menariknya.
“Siapa aku? Aku yang seharusnya bertanya padamu, siapa kamu sampai berani-beraninya menahan Farida seperti ini.” Adam tampak sangat kesal.
“Jelas aku menahan Farida. Kamu tidak bilang alasanmu ingin membawa Farida.” Feri pun tak mau kalah. Ia masih terus mempertahankan Farida.
“Aku Adam, mantan suaminya Farida dan aku ke sini untuk menjemputnya karena anak kita sedang sakit dan ingin bertemu dengannya,” jelas Adam akhirnya.
“A-apa! Tasya sakit!” Farida menaikkan kedua alisnya.
“Iya Farida, karena itulah aku mengajakmu ikut denganku.”
Ratna dan Nani pun menghampiri mereka yang masih berebut Farida saat itu.
“J-jadi kamu sudah punya anak, Farida.” Ratna membulatkan kedua bola matanya.
Feri yang baru tahu bahwa Farida sudah punya anak pun ikut terdiam karena terkejut mengetahui kenyataan bahwa Farida telah memiliki anak.
“I-iya, Bu. Sebenarnya aku sudah punya anak,” jawab Farida pelan.
“Apa maksud kamu tidak memberitahu padaku dan Feri kalau kamu sudah punya anak. Apa kamu sengaja ingin membohongi kami.” Ratna tampak sedikit marah.
“A-aku tidak bermaksud membohongi kalian, Bu,” terang Farida.
“Tunggu dulu, memangnya kalian ini siapa? Kenapa kalian menuduh Farida sudah membohongi kalian?” tanya Adam tak mengerti.