Kulewati sepanjang malam melihat layar gawai, berharap ada notif muncul. Sesekali kulihat di percakapanku dengannya, tapi yang di dapat masih tetap ceklist satu dan tidak ada tulisan online dibawah namanya. Adzan subuh berkumandang, lekas aku bangkit untuk menunaikan kewajibanku sebagai muslimah.
Selepas subuh, dimana harapan sudah mulai memudar notif muncul darinya. Kukucek berulang mataku barangkali karena efek ngantukku. Ternyata ini nyata dan aku tidak mimpi.
‘Iya dek, maaf ya. Kemarin Mas memang sengaja.’
‘Sengaja?’ tanyaku heran.
‘Maksud Mas apa?’
‘Mas hanya takut keblabasan.’
‘Aku masih ngga ngerti.’
‘Nanti kalau Mas ketemu adek, Mas jadi ketagihan pengen sering ketemu gimana.’
Alasan ini masuk akal tapi aku tidak mau mengalah begitu saja. Karena masih ada rasa kesel, mataku juga mulai memanas.
‘Nanti Mas jadi suka adek gimana hehe,’ selorohnya.
‘Setidaknya kan ngga perlu di nonaktifkan.’
Aku masih tidak terima seenaknya saja dia muncul dan hilang.
‘Nanti kalau mas aktifkan mas jadi godain adek terus, dosa nanti mas.’
Dia memang pintar buat alasan.
‘Ya udahlah. Oh ya makasih untuk makan siangnya kemarin, tapi lain kali ngga usah. Bukannya nolak rejeki, tapi Mas ngga tau kan adek udah makan belum?’
‘Iya dek.’
‘Makasih juga bunganya’
‘Bunga?’
‘Iya … Bunga Harapan.’
‘Tapi Palsu,’ lanjutku.
‘hehe apa dek maksudnya?’
‘Mungkin ini balasan untukku karena tiap ada ikhwan WA, tidak pernah ana balas.’
‘Iya dek ….’
‘Apa? Jadi Mas membenarkan iya? Kalau Allah membalas aku lewat Mas?’
Dia bener-bener tidak bisa mengerti perasaanku, tak kuasa lagi bendungan ini tertahan akhirnya jatuh juga membasahi pipiku.
‘Astaghfirullah, adek istighfar jangan marah-marah terus.’
‘Bisa kan bilang dek maaf mas ga bisa ketemu, mas off dulu ya. Jadi kan aku ngga kwatir dan ngga berprasangka buruk.’
‘iya dek … maaf ya udah bikin adek kesel.’
Aku jawab dengan mengirim foto mataku yang sudah berair.
‘Senyum dong … entar manisnya ilang lho.’
Laki-laki memang pandai membual.
‘Istighfar Dek’
Mudahnya dia bilang gitu. Aku tinggalkan gawaiku. Aku mulai aktivitasku seperti biasa, agar sedihku tak kian berlarut.
Setelah mulai tenang kembali aku buka dan aku pun minta maaf padanya tak sepantasnya marah-marah tidak jelas, aku juga bukan siapa-siapanya dia. Astagfirullah.
Ada sedikit rasa takut yang mulai menjalar, takut dia akan pergi untuk selamanya. Sungguh dia semangatku saat ini.
‘Afwan Mas atas sikap ana tadi pagi, tidak seharusnya ana marah-marah tidak jelas sama Akhi. Ana sadar ana bukan siapa-siapa Mas. Tapi sejak hari ana ketemu Akhi, ana jadi lebih semangat. Ibadah ana semakin bagus juga, biasanya untuk bangun tengah malam ana harus menunggu alarm. Tapi, sekarang alarm itu seakan alami, terbangun sendiri meski niat awal hanya untuk melihat balasan WA Akhi.’
‘Iya Dek.’
Setiap libur dia akan pergi ketemu dengan anak-anaknya, dan yang membuatku cemburu adalah dia ketemu dengan mantan istrinya. Dia pernah cerita bahwa anak-anaknya juga belum tau kalau orangtuanya sudah bercerai.
Rasa cemburu itu selalu melekat, meskipun aku sendiri bukan bagian dari hidupnya.
‘Mas lagi apa? ‘
‘Habis belikan makan anak-anak.’
‘Berarti lagi sama anak-anak?’
‘Iya dek.’
‘Sama mamanya juga?’
Hatiku diliputi rasa cemburu.
‘hehe … apa sih dek?’
Ini bukan sebuah jawaban tapi aku tau apa artinya.
‘Boleh dong di foto pengen lihat. Pasti cantik ya mantan istri Mas,’ kataku karena memang penasaran.
‘jangan dek.’
‘Kenapa? Ngga boleh kenal?’
’Iya dek, kapan-kapan mas kenalkan langsung.’
Mulai menitik lagi air mataku. Dia akan selalu menghabiskan seluruh waktu liburnya hanya untuk mereka hingga malam tiba selama dua hari dalam akhir pekan.
‘Mas lagi apa?’ Begitu penasaran di malam hari aku langsung bertanya.
‘Lagi sama anak-anak dek.’
‘Aku ganggu ya?’
‘Lagi sama anak-anak dek.’
Aku yakin kalau disana juga ada mamanya. Ini akan selalu menyakitkan untukku. Akankah terus seperti ini?
*****
Aktivitasku seakan terganggu dengan bayangan dia, ini memang salahku sendiri. Padahal yang single banyak kenapa juga aku memilihnya singgah di hatiku. Tapi aku sendiri tak tahu posisiku apa buatnya, mungkinkah aku yang terlalu percaya diri bahwa rasanya sama dengan rasaku?
Dan lagi keraguan akan statusnya mulai mengusikku. Ku ambil berkas biodata dia di kantor, kulihat lagi KTPnya. Status Kawin masih tertulis jelas di sana.
‘Mas, boleh ana tanya?’
‘Ya dek.’
‘Apa benar Mas sudah resmi cerai?’
‘Iya dek.’
‘Alhamdulillah, Ana hanya takut selama ini ana chatingan sama suami orang.’
‘Oh ya sudah dek, kalau masih beristri ya mas ngga berani, Mas dosa nanti.’
‘Ana lihat di KTP Mas statusnya masih kawin.’
‘Iya. Mas belum sempat urus,’ Jawabannya membuatku tenang. Meski belum resmi setidaknya memang sudah sah secara agama.
Setiap bertemu sahabatku, aku meminta pertimbangan dengan mereka. Ada yang pro dan ada yang kontra.
Seperti sore ini ketika janjian ketemu dengan sahabatku Anisa, di sebuah Cafe. Berawal dari basa basi karena lama tidak bertemu akhirnya muncul juga pertanyaan itu.
“Fatimah, kamu udah punya calon suami belum?” Tanya Anisa
“Belum Nis.”
“Aku ngga percaya, yang suka sama kamu kan banyak”
Aku selalu tidak bisa menutupi apapun dari seorang sahabat, akhirnya ngalir juga cerita tentang Mas Rahmat.
“Nis, aku mau minta pendapat, gimana kalau aku nikah, sama duda dengan dua anak,” kataku
“Ya ngga papa kalau menurutmu dia baik. Orang mana dia?” Tanyanya lagi
“Tapi Nis anaknya yang satu menderita DS, tau sendiri kan penderita DS gimana.”
“Emang gimana sih kalau DS.”
“Download syndrome, coba deh kamu Browsing.”
“Emang kenapa kalau DS,” kata Nisa setelah dia membuka sebentar telpon pintarnya
Aku menggelengkan kepala pelan.
“Kamu Malu?” Selorohnya lagi dengan nada yang tajam.
“Ya bukan gitu, tapi kan perwatannya beda dengan anak normal”
“Lha terus kenapa? Kamu kan sudah tau. Kamu ngga siap?”
Aku diam dan lagi menggelengkan kepala pelan.
“Kalau kamu memang mantab sama dia ya udah tunggu apalagi. Menikah dengan duda berati kamu juga harus siap menerima anak-anaknya. Mengenai anaknya yang DS, kalau kamu bisa nerima dan merawatnya dengan baik, kamu akan dapat pahala darinya.”
Anisa ini sudah punya Tiga anak, satu dari suami pertamanya dan yang dua dari suami barunya yang baru berjalan tiga tahun ini. Jadi dia lebih banyak makan asam garam, selalu mudah untuk menasehatiku yang sama sekali tidak mengerti mengenai rumah tangga dan seluk beluknya.
*****
Mendung bergelanyut manja, membuat raga enggan beranjak. Kuhabiskan libur kali ini dengan melahap karya terbaru dari Novelis Favoritku. Liburku juga beda dengan hari liburnya, jika pun sama dia akan tetap memilih bersama keluarganya.
Meskipun kenal Mas Rahmat satu bulan lebih dan kita masih Chatingan tanpa pernah sekalipun bertemu lagi. Pagi ini dia mengagetkanku dengan sebuah pertanyaan.
‘Dek, bagaimana pandangan adek tentang poligami.’
‘Kenapa, Mas mau poligami?’
‘Hehe … Istri aja belum punya masak poligami?’
‘Poligami kan memang di bolehkan, tapi itu berat mas dan harus bisa adil.’
‘Adil dalam hal apa?’
‘Adil itu ngga hanya tentang materi, tapi adil juga dalam kasih sayang.’
‘Iya dek. Berati adek ngga benci kan.’
‘Ngga lah Mas. Poligami kan sunah bagi yang mampu, kalau adek benci berarti adek menentang syariat islam.’
‘Kenapa sih mas tanya begitu?’
‘Orang yang memahami poligami itu akan bisa menerima keadaan Mas.’
Meskipun bisa bicara, hati masih belum ikhlas rasanya jika di madu. Tapi kalau secara sah sepertinya mudah menerima. Apa yang dia maksud karena dia masih punya hubungan dengan mantan istrinya.
Dia juga pernah bilang dia masih sayang dan yang memisahkan hanya keyakinan.
Rasa sayang itu memang kadang akan mengalahkan segalanya. Meski kadang sakit tapi aku tidak siap jika ditinggalkannya.