Surya, CEO muda, tampan, cerdas dan sukses, duduk bersandar santai di ruang kantornya yang luas beserta arsitektur elegan dengan pemandangan kota indah yang memanjakan mata. Terbentang pegungungan dan hijaunya pepohonan yang menyatu dengan alam bisa dinikmati setiap saat dari seluruh sudut ruangan.
Namun, kedua mata Surya yang sehari-hari terjaga pada layar laptop yang berisi laporan keuangan atau pesan dari banyak mitra bisnisnya, hari ini sungguh berbeda. Benaknya terusik oleh sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya.
Foto seorang gadis dengan senyum yang begitu hangat. Sinta, wanita sederhana yang selalu merawat kucing liar di taman kota. Surya mengenal Sinta sejak beberapa bulan lalu, setelah secara tak sengaja membaca flayer donasi dari komunitas relawan Sinta yang meminta bantuan untuk merawat hewan-hewan liar.
Pada awalnya, Surya ragu dan berhati-hati membalas pesan itu untuk menghindari penipuan. Namun malam ini, hatinya tergerak untuk mengunjungi taman tempat Sinta merawat kucing-kucing liar tersebut tanpa memberitahukan identitas aslinya. Ia datang mendaftar menjadi relawan dengan identitas sebagai orang biasa, jauh dari citra seorang CEO yang terkenal.
Sejak pertemuan pertama mereka, Surya merasa ada getaran yang berbeda. Sinta menyambut niat baiknya dengan hangat. Surya merasa semakin tertarik pada kesederhanaan dan ketulusan hati Sinta. Keduanya semakin dekat dari hari ke hari. Selalu berbagi momen kecil bersama, seperti memberi makan kucing-kucing liar yang selalu mengelilingi mereka.
Namun, Surya selalu merasa insecure. Ia takut jika akhirnya Sinta mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, dan status sosialnya akan membuat Sinta merasa terbebani. Surya pun terus menjalani hubungan mereka dengan tetap pura-pura sebagai orang biasa. Meskipun, perasaan cintanya terhadap Sinta semakin dalam.
Senja itu, mereka duduk di bawah pohon di taman, memandangi kucing-kucing yang bermain, Surya merasa waktunya telah tiba untuk mengungkapkan perasaannya. Ia mengeluarkan sebuah cincin berlian berbentuk kucing kecil yang telah ia desain khusus, dan dengan suara gemetar, Surya melamar Sinta.
“Sinta, aku … aku mencintaimu,” ucap Surya, mencoba menahan getaran di suaranya.
Sinta terdiam sejenak, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Surya, yang mulai ragu, merasa ada sesuatu yang aneh. Tiba-tiba, Sinta mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Selembar kartu nama yang bertuliskan Surya Prasetya Wiranegara, CEO XYZ TECH.
Surya terkejut. Jantungnya berdebar hebat, dan seolah waktu berhenti sejenak.
“Kamu tahu dari awal?” tanya Surya dengan suara bergetar, tak percaya.
Sinta hanya tersenyum misterius, matanya tetap memandangi kucing-kucing yang berlarian di sekeliling mereka.
Sinta berhenti mengetik laptop, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Akhirnya, cerita ini selesai juga.” ucapnya lega.
Dari sudut lain, tanpa sadar Sinta diperhatikan seseorang dari balik kaca ruangan mewah, yaitu: Surya tersenyum kecil penuh kagum dan cinta menatap assitennya, Sinta yang sedang senyum-senyum sendiri di balik layar laptop yang terbuka.
Sosok wanita sederhana, namun berharga bagi seluruh hidup Surya. Sinta yang gemar berkhayal, disetiap selesai jam kerjanya sibuk mengetik kisah imajinya dengan bosnya yang ia cintai diam-diam.
Seketika, Sinta menatap ke arah Surya. Sinta terkejut dan salah tingkah, ia segera memalingkan wajahnya yang memerah karena malu, ketika, Sinta hendak bangkit dari duduk, Surya muncul tiba-tiba di belakangnya membuat Sinta terduduk kembali.
Lalu, sedetik kemudian Surya meletakkan kotak kecil yang terbuka di depan mata Sinta. Sebuah cincin berlian dengan bermatakan desain kucing kecil di benda cantik tersebut.