Rin, besok aku tukar shift sama kamu, ya?”
“ Iya,Tan,memang kamu mau ke mana?”
“ Aku mau mengantar Ibuku kontrol ke rumah sakit. Aku sudah ijin ke pengawas tadi,” imbuhnya.
“ Oke, jadi besok aku berangkat pagi, nih?”
“ Iya! Makasih ya, Rin.”
“Iya, sama-sama,Tan,” jawab Rinda, teman Tania sekolah dulu, mereka masuk di pabrik itu bersama-sama.
Hanya saja, keduanya berbeda shift. Tania shift pagi sedangkan Rinda masuk shift malam.
Keesokan harinya,
Tepat pukul 10.30 malam, Tania berangkat dari rumahnya menuju ke pabrik tempat ia bekerja. Jarak antara rumah Tania ke pabrik nya lumayan jauh, shift malam masuk pukul 11 malam. Tania pergi dengan mengendarai skuter matic miliknya, ia sendirian melewati kawasan industri di daerah tersebut.
Sepanjang perjalanan dia melihat kanan dan kiri terlihat deretan gedung – gedung pabrik yang kosong dan gelap, bahkan jalan yang biasanya ia lewati ramai dan macet, kini sepi tak ada seorang pun di jalan. Suasana malam yang sunyi dan gelap, membuatnya berpikir akan hal yang tidak – tidak.
Angin malam berembus menerpa tubuhnya. Tania bergidik, karna ia sendirian melewati jalan yang gelap, gadis itu terlihat cemas dan ketakutan,“ Haduh, ngeri juga ya, ikut shift malam,” ujar Tania dibalik kaca helm nya.
Tania menambah kecepatan gas motornya, berharap ia cepat sampai di pabrik tempat nya bekerja.
Motor Tania meliuk-liuk melewati beberapa tikungan, dan kini ia hendak melewati jembatan.
Namun dari kejauhan, sebelum menaiki jembatan, sorot lampu motornya mengarah ke tembok pembatas jembatan, Ia melihat seorang gadis yang sedang terduduk di sebelah tembok jembatan tersebut.
“Kenapa dia?”celetuk Tania.
Ia menancapkan gas motornya, karna harus menaiki tanjakan jembatan. Namun, ketika ia mencoba melihat dari dekat gadis itu hilang.
Tania terlihat kebingungan, padahal sebenarnya ia berniat menolongnya . Namun gadis itu sudah menghilang, entah ke mana. Tania melanjutkan perjalanannya, ia menghidupkan motornya dan kembali menuju ke pabriknya.
Beberapa menit kemudian, Tania sampai di pabrik tempat ia bekerja. Dia langsung memarkirkan motornya dan pergi ke loker untuk menaruh barang-barang yang dia bawa dari rumah.
Suasana pabrik sangat sepi, hanya ada beberapa karyawan yang datang untuk masuk shift malam.
“ Tan… ” sapa seorang laki laki.
“Tumben masuk malam? “imbuh laki laki yang merupakan teman Tania. Laki-laki itu bernama Johan, dia terkenal sebagai pria tengil yang suka sekali menggoda para wanita di pabrik itu.
“ Iya, Jo … Aku tukar shift sama Rinda”
“ Hati-hati, Lo, ya.Shift malam itu horor!” ujar Johan mencoba menakut-nakuti Tania.
“ Masih horor’an kamu, Jo,” ejek Tania, Johan memang suka sekali menggoda bahkan memacari para gadis di pabrik.
“ Ya wes lah, ayo masuk !!” Johan menggandeng tangan Tania.
“ Lah,ngapain kamu gandeng tanganku, Jo? Bisa bisanya cari kesempatan dalam kesempitan,” sarkas Tania
“ Biar Gak hilang, Tan. Ini kan gelap, nanti kalo kamu di bawa hantu ‘kan ngeri jadinya, Tan??”
“ Lebih ngeri lagi, kalo kamu yang culik, aku, Jo. Ayo cepat masuk!”
“Kalo shift malam itu, banyak setannya, Tan,”
“ Iya, Jo,tau…,yang di depanku kan juga setan.”
“ Hahahaha, aku dong! Hahahaha,”
“ Sadar ternyata, wes, ayo cepat absen!” pinta Tania sambil memasukkan jarinya ke sebuah alat absensi finger print.
Mereka berdua berpisah menuju ruang ganti masing-masing. Selang beberapa menit, Tania keluar dengan pakaian kerjanya. Ia hendak menuju ke ruang produksi di mana banyak mesin produksi dan barang – barang produksi lainya.
Bel masuk berbunyi, semua karyawan berada di mesin mereka masing – masing. Suasana sangat hening dan hanya terdengar suara mesin.
Tania sedang sibuk dengan mesin conveyor di depannya. Dan membungkus barang yang ada di depannya.
Namun, tiba-tiba saja, ada angin berembus melewati tubuhnya.
Seketika bulu kuduknya serasa berdiri, Tania menggaruk garuk leher belakangnya.
“Haduh, ada apa ini?” gumamnya.
Tania mencoba tetap fokus dengan pekerjaannya, namun jantungnya serasa berdegup kencang ketika dia tak sengaja melihat bayangan yang melesat begitu saja di depannya.
“ Astaga apa itu?” teriak Tania, ia terkejut karena bayangan tersebut.
Tania mengelus-elus dadanya, mencoba tetap tenang. Ia melirik sekelilingnya.
Dia melihat teman-temannya yang lain sedang fokus dengan mesin mereka masing-masing. Tania merasakan sesuatu yang aneh malam itu. Hatinya gelisah tak tenang.
Disisi lain, tepat di samping Tania. Ada Dian, gadis yang mengoperasikan mesin yang berada di sebelah Tania.
Dian memperhatikan tingkah laku Tania. Sehingga gadis itu penasaran dan bertanya kepada Tania,“ Kenapa Mbak?” tanyanya kepada Tania.
“ Gapapa kok, Yan. Udah lanjut aja!” jawab Tania sambil kembali membungkus barang yang ada di depannya.
Tania terlihat gusar, dia mencoba membaca beberapa doa di dalam hatinya, untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara seorang wanita tertawa samar-samar.
Suara tersebut membuat Tania semakin ketakutan jantungnya semakin berdegup kencang, karena suara itu perlahan terdengar semakin jelas.
“To—long,” desis suara wanita di telinga Tania
“Apaan sih ??” teriak Tania, sambil memegangi kedua telinganya.
“ Ada apa, Mbak?” tanya Dian untuk yang kedua kalinya, karna ia khawatir, melihat tingkah laku Tania yang menurutnya aneh.
“ Gapapa, Yan,” jawab Tania sembari tersenyum.
Suasananya begitu mencekam malam itu. Tania sudah merasakan hal yang aneh di tubuhnya, tengkuknya terasa lemas dan jantungnya berdegup kencang.
Tania mencoba tetap bertahan, meski keringat dingin sudah mengucur di dahinya. Dia berusaha tetap tenang dan tetap fokus pada pekerjaannya.
Tak lama kemudian, bel istirahat pun berdentum.
Seluruh karyawan keluar ruangan, menuju loker dan yang lainya menuju ke kantin. mereka beristirahat, ada juga yang sedang menghabiskan bekal makanan mereka.
Dian menghampiri Tania yang terlihat sangat lemas.
“ Mbak istirahat di loker yuk!” ajak Dian sambil memegang tangan Tania.
“Ya,udah. Ayo!!” Tania mengiyakan ajakan Dian, karena badanya sudah terasa lemas, entah kenapa hari itu, Tania merasakan hal yang tidak seperti biasanya.
Tania menuju ke loker, jujur dia tidak minat makan karna kejadian yang baru saja ia alami, membuat nafsu makannya hilang. Tania menuju ke loker untuk tidur.
Di dalam loker, ada juga beberapa karyawan wanita yang beristirahat untuk tidur sebentar. Tania pun bergabung dengan mereka.
Para wanita itu tertidur berjejer rapi.
Tania mencoba merebahkan tubuhnya di karpet kecil milik Rinda, berharap bisa beristirahat dan menghilangkan rasa takut yang menyerbu dirinya.
Dia mulai memejamkan matanya, dan dalam hitungan menit dia sudah terlelap.
Di dalam tidurnya, Tania merasa berada di tempat yang berbeda, semua terlihat putih, dan hanya ada Dia, dan juga seorang gadis kecil yang ada di depannya. Gadis kecil itu terlihat menangis.
Tania menghampirinya dan hendak menyentuhnya.Namun, Tania terkejut ketika melihat wajah gadis itu rusak dan juga tubuhnya penuh darah.
Tania tak dapat berkata apapun, mulut dan tubuhnya terasa kaku.
Tania mencoba menghindar dari gadis yang mencoba untuk menyerangnya di alam mimpinya tersebut. Dia mencoba berteriak meminta tolong. Namun mulut nya tak mengeluarkan suara sedikit pun. Gadis itu mencekik leher Tania, sehingga Tania merasa kesakitan.
Disisi lain, Dian yang juga tidur di sebelah Tania terbangun, karna melihat Tania yang tiba- tiba saja kejang, dan merintih kesakitan.
Dian mencoba menyadarkan Tania , dia mengerak gerakan badan Tania,“ Mbak istighfar, Mbak!” Dian mencoba membangunkan Tania. Dian terlihat panik melihat keadaan Tania yang tak kunjung sadar.
“ Mbak, Astagfirullah, bangun Mbak!” Dian mencoba menyadarkan Tania. Suara Dian Membangunkan yang lainya. Dan ketika melihat Tania yang kejang dengan mata yang bergetar dan merintih kesakitan. mereka segera membantu Dian menyadarkan Tania.
“ Cepat baca ayat kursi,Nduk!” perintah salah satu ibu- ibu yang juga seorang karyawan di pabrik tersebut.
Keadaan menjadi panik. Semua wanita di ruangan tersebut turut membacakan doa untuk Tania.
Tania yang sedang berada di alam mimpinya juga berusaha untuk melawan dengan berdoa. Dia hanya berharap ada yang menyelamatkannya dari hantu gadis kecil yang menyeramkan itu.
Di alam mimpinya, Tania mendengar alunan doa ayat kursi yang dibacakan oleh teman-temanya, sehingga membuatnya tersadar dan perlahan bayangan hantu perempuan tersebut menghilang. Ia tersadar dan bangun dari mimpinya dengan nafas yang terengah-engah, keringatnya pun membasahi seluruh tubuhnya. Perlahan ia membuka matanya dan melihat teman-temanya yang mengerubunginya.
“ Mbak, Mbak sudah sadar??” tanya Dian dengan nada bergetar.
Tania mengangguk perlahan, tubuhnya masih terasa lemas. Dia kehilangan banyak tenaga karena kejadian tersebut. Keringatnya bercucuran hebat dan wajahnya terlihat pucat.
“Alhamdulillah, Mbak !” ucap Dian lega.
Semua terlihat lega karena Tania sudah tersadar.
Tania masih terlihat syok karna baru saja mengalami hal mengerikan malam itu.
Dia masih belum bisa untuk melanjutkan pekerjaannya. Karna kejadian tersebut, Tania di pulangkan lebih awal karena kondisi nya yang masih belum pulih sepenuhnya.
Malam itu menjadi pengalaman shift malam pertama yang mengerikan bagi Tania.
Suasana terasa mencekam semua karyawan diharapkan mundur dan keadaan diambil alih oleh pengawas .
Para pengawas pun memanggil ustad yang biasanya memang dipanggil untuk menyembuhkan karyawan yang biasanya diganggu.
Keesokan harinya, Tania kembali bekerja setelah kondisinya pulih, dia kembali masuk shift pagi.
Dan teman-temanya bertanya mengenai keadaannya. Tania mulai menceritakan peristiwa malam itu kepada teman-teman dan juga seniornya di pabrik itu, Dan dari situlah, Tania baru mengetahui bahwa dari dulu memang jembatan tersebut angker, dan ada hantu yang sering mengganggu orang lewat di jembatan tersebut.