“Kamu harus menikah Alin, ini demi masa depan keluarga kita, jika kamu tidak mau menikah, keluarga kita akan mengalami kebangkrutan” tutur Herman yang merupakan ayah dari gadis yang bernama Alin tersebut.
“Menikah ayah? ayah kan tau sendiri jika Alin menentang segala perjodohan yang datang kepada Alin, kenapa ayah maupun ibu selalu saja membuat Alin merasa kesal dengan persoalan perjodohan yang telah kalian berikan kepadaku!” protesnya kerena merasa jika kedua orang tuanya tersebut selalu memaksanya untuk menikah.
“Lagian usia mu sudah 28 tahun Alin, ini saatnya kamu untuk menikah!” sahut Erna yang merupakan ibu Alin.
“Tapi sebelumnya kalian setuju kan, terkait keputusan Alin? kenapa tiba-tiba kalian memaksa Alin untuk menikahi pria yang seharusnya menikah dengan Alia?” pertanyaan Alin membuat kedua orangtuanya terdiam dan saling pandang sejenak.
“Dengar nak” ucap Herman seraya memegang kedua bahu anaknya dengan lembut.
“Situsainya benar-benar gawat, kamu harus menikah dengan Reval bukan hanya karena perusahaan kita yang hampir bangkrut, tetapi juga karena menyangkut harga diri kita semua, jika kita tiba-tiba membatalkan pernikahan ini dengan alasan karena adikmu kabur dari rumah, apa kau bisa bayangkan betapa malunya kita berdua?”
Alin terdiam ketika mendengar pernyataan dari ayahnya tersebut, walau bagaimanapun jika pernikahan tersebut batal, pihak Reval pasti tidak akan tinggal diam.
“Tapi…Alin sudah berumur 28 tahun ayah! sedangkan Reval masih sebaya dengan Alia yang masing-masing masih berumur 23 tahun”
“Kamu tenang saja, Reval tidak akan mengetahuinya, karena saat pernikahaan berlangsung kau akan memakai tudung, selain itu juga, dia belum mengetahui nama mempelai wanita yang akan ia nikahi karena waktu itu kita semua belum menyebutkan nama kalian beruda bukan? maka dari itu ayah serta kedua orangtua Reval sepakat untuk merahasiakannya sampai pernikahan mu dengan Reval terlaksanakan”
Alin terkejut bukan main setelah mendengar perkataan dari ayahnya.
“Apa? jadi kalian bersiasat agar Reval tidak mengetahui siapa isrinya sampai dia dan aku resmi menjadi suami dan istri? permainan macam apa ini ayah! aku tidak mau!” sentak Alin karena merasa tidak terima dengan keputusan ayahnya tersebut.
“Nak, pikirkan sekali lagi, ini demi kebahagiaan kita semua” seru Erna yang semakin membuat Alin merasa kesal.
“Kalian terus mengatakan, ini demi kebahagiaan kita semua dan juga demi perusahaan, terus bagaimana nasib Alin? bukannya Reval akan merasa tidak terima juga ketika ternyata mempelai istrinya bukan Alia melainkan Alin?”
“Itu tidak akan terjadi nak, kamu tidak kalah cantik dengan Alia, jadi Reval akan jatuh hati kepadamu seperti dia jatuh hati kepada Alia” tutur Erna seraya mengusap dahi Alin dengan lembut.
“Datangnya cinta itu bukan melulu karena kecantikan ma, bahkan ketika keduanya dipertemukan, Reval benar-benar tidak mengalihkan pandangannya dari Alial”
“Apa bedanya itu dengan kecantikan Alin? dia memandangi Alia karena kecantikannya bukan?” protes Erna namun tidak dihiraukan oleh Alin.
“Aku sudah memutuskan, Alin tidak ingin menikah dengan Reval, titik!” Setelah itu Alin pergi meninggalkan kedua orang tuannya yang merasa cemas karena kebingungan untuk berbicara dengan kedua orang tua Reval nanti.
***
Alin masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya rapat-rapat, setelah itu ia membanting tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap.
“Kenapa aku selalu menanggung…atas kesalahan yang Alia buat?”
“Apakah aku tidak di izinkan untuk menikmati kehidupan sesuai yang aku inginkan?”
“Kenapa sulit sekali untuk menyuarakan hakku di rumah ini?”
“Aku memang anak pertama, tapi, bukan berarti aku harus diperlakukan layaknya robot sejak kecil!”
Gerutu Alin seraya melempar bonekanya satu persatu ke sembarang tempat, bahkan ia mengacak-acak rambutnya karena merasa kesal sendiri.
Namun kegiatannya berhenti ketika melihat secarik kertas yang berada di atas nakas, kertas tersebut sebelumnya yang ditinggalkan oleh Alia sebelum kabur dari rumah.
Alin meraih secarik kertas tersebut lalu memandanginya dengan kesal.
“Kamu kalau gak mau di jodohkan, ngomong dong Alia! bukan malah pergi seenak jidat mu! apalagi kau pergi karena sudah memiliki kekasih? pernyataan macam apa itu?!” kesal Alin seraya menaruh kertas tersebut kembali di atas nakas.
“Pokoknya, apapun yang terjadi, aku tidak akan mau menikah dengan bocah itu! biarlah seperti itu, yang penting masa depanku tidak hancur karena harus menikah menggantikan saudariku sendiri!” putus Alin secara bulat.
***
“Jadi bagaimana, terkait pernikahan antara Alin dan Reval, Tuan?” tanya Dion yang merupakan Ayah dari Reval.
“I-itu” Herman terlihat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya bahkan tangannya merasa gemetar.
Alin yang sedari mengintip dari balik tembok pembatas ruang tamu, merasa tidak tega dengan Ayahnya yang seolah-olah merasa di intimidasi tersebut.
“Ah, sebaiknya anda menimati teh hangatnya dulu Tuan Dion, karena saya khawatir jika tehnya tidak segera diminum akan menjadi dingin” ucap Erna bertujuan untuk mencairan suasana.
Dion bergerak untuk melihat jam yang melingkar ditangannya.
“Saya tidak ada waktu untuk basa-basi nyonya Erna, karena setelah ini saya harus mengahdiri meeting bersama klien”
Erna dan Herman saling pandang lalu kembali menatap Dion dengan perasaan gundah.
“Sebenarnya kita sudah berusaha untuk membujuk Alin untuk menikah dengan Reval, Tuan, tetapi-” Ucapan Herman menggantung yang membuat Dion merasa penasaran.
“Tetapi apa Tuan Herman” ucap Dion dengan raut wajah serius, karena perasaanya yang tiba-tiba tidak enak.
“Karena saya ingin pernikahan tersebut dipercepat Tuan Dion!” sahut Alin seraya menyajikan kue kering di meja.
“Apa anda tidak tau Tuan? saya sampai kesal dengan Ayah saya sendiri karena dari tadi tidak mampu mengatakan hal itu, anda kan tau sendiri jika Ayah saya orangnya tidak enak-kan” celetuk Alin semari melipat kedua tangannya di dada.
Alin melirik kearah orang tuanya yang menunjukkan kelegahan di antara keduanya, hal tersebut membuat Alin sendiri merasa tenang karena kedua orangtuanya terhindar dari rasa takut akibat ulah anak-anaknya sendiri.
“Baiklah-baiklah, kita akan berusaha untuk mempercepat pernikahanmu dengan Reval yah, kita akan mengambil tanggal dan bulan yang paling cepat ketika memilih hari baik yang di sarankan oleh pendeta” tutur Dion dengan senyuman yang terukir di wajahya.
“Baik Tuan, apapun keputusan nanti, saya akan menghormatinya karena ini memang demi kebaikan Alin dan Reval.”
Dion berdiri lalu mengelus kepala Alin.
“Tenanglah nak, apa yang aku ucapkan pasti akan terlaksanakan, jadi jika kamu menginginkan untuk mempercepat pernikahannya, maka hal itu akan terjadi”
Aduh, kenapa aku harus mengatakan ingin mempercepat pernikahan yah?
Bagaimana ini?
Runtuk Alin dalam hati.
“Untuk persiapan pasti akan memakan waktu lama kan? kalian tidak perlu terlalu memperdulikan omongan Alin, karena yang pasti segala sesuatunya pasti memerlukan proses bukan?” ucap Alin berharap para orang tua yang ada di hadapannya itu tidak terlalu memusingkan untuk mempercepat pernikahan.
Dion tertawa kecil mendengar pernyataan Alin.
“Nak, kamu tau kan, calon mertuamu ini siapa? jadi kamu jangan khawatir mengenai persiapan, bahkan jika pernikahanmu dilaksanakan lusa nanti, pasti akan terjadi di hari itu juga” celetuk herman yang di bumbui denga kekehan kecil dari Erna.
Mampus aku!