Mengejar Cinta Sang Senior Tampanku

Chapter 1

Keributan dipagi hari sudah menjadi makanan sehari-hari dikediaman keluarga Hartawan.

 

“Nona muda ini sudah waktunya bangun,” seorang kepala pelayan wanita terlihat tengah mencoba membangunkan seseorang yang ia panggil dengan sebutan nona muda itu.

 

“Nona muda kau akan terlambat kesekolah nanti,” pelayan wanita paruh baya itu terus mencoba membangunkan anak majikannya ini dengan sabar.

 

Meski ia tau hal itu hal yang sekarang ia lakukan akan sia-sia saja. Mengingat betapa sulitnya membangunkan nona mudanya ini.

 

Sebenarnya ia juga bingung apa ada orang yang tertidur seperti orang pingsan, sangat sulit untuk dibangunkan.

 

“Bi Inah, dia masih belum bangun,”tanya seseorang diseberang sana tepat didepan pintu kamar.

 

Dia melangkah masuk mendekat kearah kepala pelayan yang dia panggil dengan sebutan bi Inah tadi. Menggeleng pasrah melihat sosok yang masih tertidur pulas diatas ranjang empuk itu.

 

“Nona muda belum juga bangun, nyonya,” ucap sang kepala pelayan paruh baya itu pelan.

 

“Aish anak ini benar-benar keterlaluan,” nyonya Hartawan mulai mengguncang-guncangkan tubuh putrinya.

 

Berharap dengan begitu mata berat putrinya bisa terbuka. Namun usahanya tidak  berhasil dan tidak juga gagal.

 

“Ya aku masih mengantuk!” Keisya memang membuka matanya sesaat, namun setelah itu ia kembali memejamkan matanya damai-_-).

 

Nyonya Hartawan berkacak pinggang melihat kelakukuan putri satu-satunya ini. Sama sekali tidak berubah pikirnya.

 

Hanya ada satu cara agar putrinya ini segera bangun. Kedua bibir nyonya Hartawan tersenyum penuh arti.

 

“Key,” ucap nyonya Hartawan dengan suara yang dibuat semanis mungkin.

 

Membuat kepala pelayan yang berdiri dibelakangnya terkikik geli. Hal yang setiap pagi ia dengar ketika nona mudanya sulit untuk dibangunkan.

 

“Baiklah jika masih tidak ingin bangun, dengan berat hati mama harus menarik semua—“

 

Kalimat nyonya Hartawan terhenti ketika Keisya dengan tiba-tiba menegakkan tubuhnya.

 

“Baik mama. Aku bangun.” Dengan mata yang masih setengah tertutup Keisya bangkit dari ranjang empuknya menuju kamar mandi.

 

“Dan jangan coba-coba mengganggu kartu kreditku!” ucap Keisya sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi.

 

Sementara nyonya Hartawan hanya tersenyum puas melihat reaksi putrinya ini. Kartu kredit memang cara yang ampuh untuk membangunkan Keisya.

 

“Bi Inah tolong siapkan semua keperluan Keisya seperti biasa ya,” ucap nyonya Hartawan kepada kepala pelayan dengan senyum hangat menghiasi wajah perempuan yang hampir menginjak usia kepala empat itu.

 

“Baik nyonya,” jawab pelayan itu dengan senyum yang tak kalah hangat dibandingkan nyonya Hartawan.

 

Bibi Inah bukan hanya kepala pelayan dirumah ini. Namun juga sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh keluarga Hartawan.

 

Bibi Inah sudah bekerja sangat lama dengan keluarga Hartawan. Jauh sebelum Keisya lahir maupun tuan Hartawan dan nyonya Hartawan menikah.

 

*****

 

“Bagaimana, apa Keisya sudah bangun,” tanya tuan Hartawan ketika melihat nyonya Hartawan berjalan kearahnya. Mendudukkan tubuhnya disamping tuan Hartawan dimeja makan.

 

“Jika bukan karna kartu kreditnya mungkin anak itu masih tidur dengan damainya” tuan Hartawan hanya terkikik geli mendengarnya.

 

“Sama sekali tidak berubah,” tanggap tuan Hartawan sambil mengoleskan selai dirotinya.

 

“Itu karena kau terlalu memanjakannya,” sahut nyonya Hartawa  yang kini juga tengah mengoleskan selai dirotinya.

 

“Apa salahnya memanjakan anak sendiri.”

 

“Memang tidak salah jika itu tidak berlebihan.”

 

“Aku tidak berlebihan. Aku hanya memberikan apa yang dia butuhkan,”nyonya Hartawan memutar bola matanya malas. Selalu saja seperti ini jika ia dan suaminya berdebat.

 

“Dia tidak akan pernah berfikir dewasa jika kau terlalu memanjakannya.”

 

“Aku memang tidak ingin Keisya cepat dewasa. Aku masih tidak ingin kehilangan purti kecilku,” ucap tuan Hartawan dengan nada sedih.

 

“Kau tidak akan pernah kehilangan purti kecilmu. Kau juga harus ingat saat ini putri kecilmu sudah menjadi seorang gadis remaja,” tuan Hartawan menatap istrinya dalam. Sebuah senyum hangat melengkung dikedua bibir pria paruh baya itu.

 

“Kau benar sayang.

Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Rasanya baru kemarin aku melihatnya hadir kedunia ini. Dan sekarang aku sudah melihatnya tumbuh menjadi gadis yang manis,” nyonya Hartawan membalas senyum hangat tuan Har.

 

Apa yang dikatakan suaminya ini memang benar ia pun merasa demikian. Putri kecil mereka kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.

 

“Selamat pagi.” Suara Keisya mengalihkan fokus kedua orang tuanya.

 

Ikut duduk disamping ibunya. Mengambil roti yang sebelumya telah diberi selai strowberi. Keisya menghabiskan rotinya setelah itu meminum habis susu yang –juga- telah disiapkan.

 

“Ma, Pa aku berangkat dulu ya,” tak lupa sebelum pergi Keisya mengecup kedua pipi orang tuanya. Hal yang selalu ia lakukan tentunya sebelum pergi kesekolah.

 

“Assalamualaikum sampai jumpa. Aku mencintai kalian,” ucapnya sambil menaikkan kedua tangannya keatas kepala membentuk hati. Sebelum berlari keluar menuju garasi rumahnya.

 

“Aigoo Aigoo,” ucap nyonya Har tak habis pikir sementara Tuan Har tertawa puas melihatnya.

 

@Pelita Bangsa High School

 

“Paman Terima Kasih,” ucap Keisya kepada pria paruh baya yang selalu mengantar maupun menjemputnya kesekolah.

 

“Ya, tentu nona muda itu sudah kewajibanku,” ucap pria itu dengan senyum dibibir rentanya.

 

“Paman kau tidak perlu menjemputku. Aku akan pulang bersama Helen dan Mina.”

 

“Baiklah kalau begitu nona.”

 

Keisya membuka pintu mobilnya dan segera keluar dari mobilnya. Dari sini ia bisa melihat kedua sahabatnya Helen dan Mina melambaikan kedua tangan mereka kearah Keisya.

 

Keisya menghampiri kedua sahabatnya yang tengah menunggunya. Merangkul kedua bahu sahabatnya yang disambut dengan senang hati oleh kedua sahabatnya itu.

 

Keisya, Helen dan Mina berjalan menuju kelas mereka. Kelas yang sudah beberapa bulan terakhir ini mereka tempati. Mereka bertiga juga terdaftar sebagai murid baru pada tahun ini.

 

Meski masih baru disini namun popularitas yang mereka dapatkan cukup membanggakan –bagi mereka – untuk ketiganya.

 

Bukan hanya dikenal dikalangan satu angkatan namun mereka juga dikenal dikalangan para senior mereka. Memiliki wajah yang cantik. Tubuh yang proposional.

 

Ditunjang latar belakang keluarga yang kaya membuat mereka cepat dikenal oleh para murid di Pelita Bangsa High School. Bahkan mereka juga sangat amat dikenal dikalangan guru yang mengajar disana.

 

Bukan karena faktor fisik ataupun latar belakang keluarga namun, karena kelakuan troublemaker mereka yang membuat mereka cepat sekali dikenal.

 

Sepanjang perjalanan menuju kelas semua mata murid yang berada disepanjang koridor sekolah tentu saja tertuju pada mereka bertiga.

 

Berbagai macam tatapan mereka dapatkan. Ada yang menatap mereka dengan tatapan kagum. Tatapan terpesona bahkan banyak siswa pria yang menatap mereka dengan tatapan memuja meraka.

 

Namun ada juga tatapan sinis, benci, marah bahkan iri yang mereka terima dari beberapa siswi ralat! Hampir semua siswi –yang berada dikoridor sekolah- menatap mereka dengan tatapan seperti itu.

 

Seolah-olah mereka bertiga musuh yang begitu mengancam para siswi disana. Musuh abadi yang harus mereka hindari.

 

Bukannya merasa terganggu Keisya, Helen dan Mina terlihat sangat menikmati moment-moment seperti ini. Disaat mereka menjadi pusat perhatian semua orang.

 

Meski berat para siswi disana memang harus mengakui jika Keisya, Helen dan Mina adalah Lambang dari kesempurnaan fisik.

 

Cantik, Menawan dan juga Kaya menambah kesempurnaan yang ada pada diri mereka bertiga. Setiap kelebihan pasti ada kekurangan bukan? Jika kelebihan mereka terdapat pada fisik mereka maka kekurangan mereka terdapat pada kelakuan dan otak mereka.

 

Jika kalian berfikir mereka memiliki keterbelakangan mental kalian salah besar!!. Kekurangan yang dimaksud bukanlah kekurangan seperti itu. Tidak ada yang bermasalah pada otak mereka.

 

Gadis-gadis cantik namun malang dalam hal pelajaran. Nilai pelajaran yang selalu bermasalah. Belum lagi kelakuan mereka yang sering membuat masalah. Menambah daftar buruk catatan disetiap sekolah yang pernah mereka sekolahi.

 

Belajar bukanlah hal yang penting untuk mereka lakukan. Bagi mereka belajar bisa kapan saja namun bersenang-senang adalah prioritas utama mereka.

 

Belajar hanya membuat mereka cepat tua. Memikirkan hal yang sulit mereka pahami dan mereka mengerti hanya akan membuat kulit mereka cepat mengkerut dan menua.

 

Membayangkannya saja sudah membuat mereka bergidik.

 

Jika orang-orang diluar sana mengatakan ‘jika kau ingin kaya maka kau harus pintar’ semua itu salah besar. Bagi mereka ‘jika kau ingin kaya maka kau harus memiliki orang tua yang kaya pula’ Entahlah pemikiran itu berasal dari mana.

 

Namun yang pasti selagi orang tua mereka masih memiliki banyak uang untuk mereka nikmati untuk apa menjadi pintar.

 

Jika pada akhirnya mereka juga akan memiliki seorang suami yang akan menanggung hidup mereka. percayalah belajar itu hanya membuang-buang waktu.

 

“Min, Len apa kalian sudah mengerjakan tugas dari Pak Amar?” tanya Keisya kepada kedua sahabatnya ini.

 

“Tentu saja sudah,” jawab Helen dan Mina bersamaan.

 

“OMG hellow tumben sekali kalian mengerjakannya. Hahh sepertinya hari ini hanya aku saja yang akan dikeluarkan dari kelas,” ucap Keisya acuh.

 

“Maksudmu kau tidak mengerjakan tugasmu,” tanya Mina menghentikan langkahnya yang diikuti Helen dan Keisya.

 

“Aku lupa,” ujar Keisya santai sambil mengangkat kedua bahunya. Melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.

 

Meninggalkan kedua sahabatnya yang masih setia memandangi punggungnya dengan tatapan tidak percaya mereka.

 

“Apa dia amnesia. Bagaimana mungkin dia melupakan tugas dari Pak Amar yang begitu kejam saat memberi hukuman,” gumam Mina tidak percaya. Mata bulatnya mentapa punggung Keisya yang semakin menjauh.

 

“Aku rasa dia bukan hanya amnesia. Tapi dia juga gila!” gumam Helen menimpali.

 

 

Mina mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Helen. Mereka berdua kembali menatap punggung yang telah menjauh dari hadapan mereka. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Keisya.

Lates Chapters

Chapter 5

“Key kau tidak melupakan ‘kegiatan’ kita kan?”   “Aku sedang tidak ingin bersenang-senang,” jawabnya enggan.   “Aku sungguh tidak bermaksud berbicara seperti tadi” Helen semakin…

Chapter 4

“Astaga. Kepalaku sakit mendengarkan omelannya, ” gerutu Helen sesaat setelah pelajaran Pak Amar berakhir.   “Kepalaku sakit karna mengerjakan soal yang tak kumengerti itu,”sahut Mina…

Chapter 3

*Flashback*   Keisya menghentikan langkahnya ketika ia telah sampai dibarisan paling belakang. Membungkukkan badannya dengan kedua tangan yang ia letakkan diatas lututnya.   Keisya mengatur…

Chapter 2

@In the class   Suasana kelas yang awalnya ribut menjadi senyap saat pak Amar masuk, guru yang terkenal dengan kedisiplinannya itu.   Bukan hanya itu…
error: Content is protected !!