After 30 Years of Age

Chapter 1

Bahagia seakan sulit untuk diraih. 

Cinta kita hanya sebatas cinta. 

Sulit untuk mengecap bahagia asmara.

Cinta tak pernah memandang status, dan usia. 

Dia akan datang dimana dia berkehendak. 

Dan akan pergi ketika dia merasa tak lagi nyaman bersemayam selama ini.

Cinta antara dua kekasih ibarat sebuah teka – teki. 

Hatimu selembut salju. Tutur katamu bagaikan syair yang sarat makna, mengalir perlahan, mengajarkan tentang arti kehidupan. Ada keteduhan yang tak bisa dijelaskan dengan kata, membuatmu menjadi dambaan setiap insan bernama Adam. Kelembutan dan kasih sayangmu menjulang, hingga siapa pun yang singgah pasti ingin memiliki hatimu.

Namun cinta bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki. Banyak yang berusaha mendekap cintamu, bagaikan kumbang yang setia memuja bunga. Dan kisah itu, bermula dari sebuah pertemuan sederhana di media sosial.

Arumi. Seorang gadis sederhana yang kesehariannya hanya berkisar di rumah, merawat kedua orang tua yang telah renta. Ia memiliki empat saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Pada usia 35 tahun, saat aku mengenalnya untuk pertama kali lewat layar ponsel, ia masih tetap setia dalam dunianya yang tenang.

Perbedaan usia di antara kami cukup jauh. Namun bukankah cinta tak pernah mengenal hitungan tahun? Ia tumbuh sesuka hati, seperti bunga liar yang mekar di tempat paling tak terduga.

“Cinta tak mengenal batasan usia,” begitu bunyi pepatah. Bila cinta suci telah menemukan tempat bersemayam, maka di sanalah ia akan bertahan, hidup, dan berakar.

Awalnya, Arumi hanya sekadar bercerita di ruang inbox. Namun dari satu obrolan ke obrolan lain, ia mulai membuka lembaran kisah hidupnya. Tentang Indra—teman semasa kecil yang hadir kembali membawa kenangan. Hubungan itu sempat direstui oleh saudara-saudaranya, hingga akhirnya terbongkar kenyataan pahit: Indra telah beristri.

Arumi bukanlah gadis yang mudah terbawa arus. Ia mulai menjaga jarak, bahkan mendorong Indra untuk memperbaiki rumah tangganya demi kedua anaknya yang masih kecil. Namun lelaki itu terlanjur menjadikan Arumi sebagai pelarian. Ia tahu Arumi begitu lugu, polos, dan penuh kasih sayang. Bagaimana tidak? Di usia 35 tahun, baru kali itulah Arumi mengenal rasa cinta. Sayangnya, ia belajar dari seseorang yang salah—laki-laki yang sudah terikat janji suci dengan wanita lain.

Meski ayahnya menentang, Indra tetap datang. Saudara-saudaranya justru memberi ruang. Dan Arumi, dengan segala kelembutannya, tak sanggup bersikap kasar pada tamu yang datang. Ia tetap menyambut, tetap melayani, meski hatinya tergores. Hingga titik jenuh itu tiba, dan dengan sisa keberanian, ia memutuskan segalanya. Indra pun tak lagi menampakkan diri.

Dari kisah itu, aku semakin mengenalnya. Arumi adalah gadis yang jujur, polos, dan penuh kasih. Kejujuran yang membuat hatiku tersentuh.

Sementara aku, hanyalah seorang duda dengan dua anak yang masih duduk di sekolah dasar. Istriku telah pergi sejak 2010, dibawa penyakit bronkitis akut yang tak bisa lagi disembuhkan. Sejak itu, duniaku terasa hampa. Dan kini, lewat media sosial, aku bertemu dengan seorang gadis yang membuka kembali pintu hatiku.

Kami semakin sering berbincang. Dari inbox berlanjut ke SMS, sebab kala itu WhatsApp belum hadir. Arumi selalu menolak saat kuajak bertemu. Alasannya selalu sama: ia sulit meninggalkan rumah karena harus mengurus orang tua. Tapi ia juga tak menutup diri. Dalam setiap percakapan, ia jujur mengakui bahwa aku berbeda. Aku membuatnya nyaman. Aku memberinya semangat yang tak ia temukan dari orang lain.

Hingga suatu hari, ia menetapkan syarat: jika benar aku menyayanginya, maka aku harus berani mengucapkan cinta. Sebuah syarat yang bagiku bagaikan jebakan indah. Karena sejak awal, hatiku memang sudah terpaut padanya. Maka dengan segala keberanian, aku menyatakan cintaku. Dan ia menerimanya—tanpa peduli bahwa aku seorang duda beranak dua.

Hari itu pun tiba. Aku menjemputnya di jalan besar dekat rumahnya di bilangan Ratulangi, Makassar. “Jangan sampai ada tetangga atau saudara yang melihat,” begitu pesannya. Aku mengangguk, mengerti betul kegelisahannya. Setelah ia duduk di boncengan motor, kami melaju menuju Pantai Losari.

Di tepi pantai itu, di bawah langit senja yang berwarna jingga, cinta kami tumbuh dan bersemi. Kata-kata yang selama ini terucap lewat layar ponsel, kini nyata di hadapanku.

Arumi tampak sederhana, wajahnya ayu, sorot matanya tulus. Ia polos, bagaikan mutiara yang selama ini tersembunyi jauh di dasar lautan. Di pantai itulah kami berjanji: untuk saling menjaga, untuk saling merawat cinta yang baru lahir. Baginya, akulah lelaki pertama yang benar-benar menembus hatinya. Sedangkan Indra? Ia hanyalah bayangan masa lalu yang tak berarti apa-apa lagi. 

Jeritan kalbu menjamah selaksa kepingan Rana

Mengapa, dama yang tercipta telah sirna

Lelah daksa dalam penantian membelenggu pusara atma

 

Tak jua semi, sekuntum dama yang kutanam dengan tulus 

Andam karam bersama harsa yang telah pupus

Menemani pekatnya rindu kian mengiris Sukma.

Bak rananta duka yang tiada reda 

Lates Chapters

Chapter 26

Jika rumah Vira adalah mahkota yang menjanjikan masa depan cerah, maka rumahku, sebuah bangunan sederhana yang menaungi kenangan dan ketenangan, adalah akar yang harus disirami…

Chapter 25

Kepulangan dari kampung halaman terasa seperti perjalanan melintasi kabut tebal menuju daratan yang dijanjikan. Bekas-bekas luka di punggungku masih terasa perih, namun tatapan mataku kini…

Chapter 24

Bis malam yang membawaku melaju membelah malam, meninggalkan gemerlap kota yang baru saja menjadi saksi atas janji yang kuucapkan pada Vira. Setiap denting roda di…

Chapter 23

Vira tersenyum. Senyum itu, sebuah lengkungan takdir di wajahnya, selalu menjadi sumbu yang memantik bara dalam kekosongan hatiku. Namun, kali ini, ada kilau yang berbeda,…

Chapter 22

Keesokan harinya aku memutuskan menemui Vira di depan rumahnya. Kebetulan juga aku ingin bertemu dengan Rahim, adik Vira yang satu tempat kerja di kantor Pak…

Chapter 21

Setelah pernikahanku berakhir, Aku merasa seperti kehilangan jejak diri. Hidupku yang dulu penuh dengan harapan dan impian bersama, kini hanya menyisakan kenangan yang membekas di…

Chapter 20

Sepi rasanya ditinggal sang istri. Aku hanya mampu berharap akan ada pertemuan. Untuk kekampung halamannya butuh banyak ongkos, sementara kerjaku belum menentu. Kadang juga masih…

Chapter 19

Usia Devi kini 4 bulan. Dan putri lucuku itu harus aku tinggalkan untuk kembali ke kota. Karena ibu sakit. Ibu selalu menyebut namaku jika demamnya…

Chapter 18

Aku tahu betul apa yang bergolak di dada istriku. Namun, hanya kesabaran dan ketabahan yang bisa kami genggam saat itu. Tiga bulan lamanya kami menempati…

Chapter 17

Aku berjanji pada diriku sendiri:Aku tak akan pernah menyia-nyiakan kehadiranmu dalam hidupku.Aku akan menjaga kehormatanmu sebagai istriku, menjadikanmu dewi pada istana cinta yang kita bangun…

Chapter 16

Cinta, pada hakikatnya, selalu mengajarkan arti sebuah pengorbanan.Bukan keterpaksaan.Karena cinta yang sejati tak pernah ingin dipaksakan. Begitulah cintaku padamu, Rianti.Ia bukan kepura-puraan, bukan pula keterpaksaan.Aku…

Chapter 15

Di balik tembok sumur umum yang remang, aku mendengar suara air beradu dengan perabot. Aku tahu, itu Rianti. Gadis itu masih setia mencuci peralatan bakso…

Chapter 14

Rianti menunduk, suaranya lirih ketika membalas perkataan kakaknya.“ Iya, aku tahu, Kak. Selama ini aku selalu menyelesaikan tugasku. Membantu kakak di sekolah setelah mengurus adik-adik…

Chapter 13

Pantai Losari, Malam Minggu Malam itu, pantai Losari seperti permata hitam yang dihiasi taburan bintang di langit. Riuh rendah pengunjung memenuhi udara, gelak tawa muda-mudi…

Chapter 12

Dan akhirnya, semua gugur terbawa angin. Begitulah harapanku padamu—berkecai, hancur menjadi serpihan mimpi yang tak lagi bisa kurangkai.Impian untuk terus bersamamu kini sirna,cintamu telah kau…

Chapter 11

Seminggu berlalu sejak terakhir aku bertemu Arumi. Pagi itu, tiba-tiba ponselku berdering. Nama Ratih muncul di layar. “Assalamualaikum, Kak Randy. Arumi mencarimu… cepatlah datang ke…

Chapter 10

Mentari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan jejak cahaya jingga di permukaan bumi. Langit memerah, laut berkilau, dan angin sore membawa bisikan tentang kefanaan. Malam…

Chapter 9

Suara ponsel itu memecah keheningan pagi. Getarannya membuat dadaku ikut berdegup. Di layar, tertera nama yang selalu membuatku hangat: Arumi. “Assalamualaikum… Randi… cepatlah ke rumah.…

Chapter 8

Langit Makassar pagi itu seperti lukisan.Pelangi yang semula tegap di langit mulai meredup warnanya, menguning di atas genangan air hujan yang memantulkan cahaya jingga. Aku…

Chapter 7

Hari-hari di rumah sakit menjelma menjadi buku harian penuh air mata. Setiap lembar waktunya menyimpan kisah getir: infus yang tak kunjung lepas, hasil pemeriksaan yang…
error: Content is protected !!