Bahagia seakan sulit untuk diraih.
Cinta kita hanya sebatas cinta.
Sulit untuk mengecap bahagia asmara.
Cinta tak pernah memandang status, dan usia.
Dia akan datang dimana dia berkehendak.
Dan akan pergi ketika dia merasa tak lagi nyaman bersemayam selama ini.
Cinta antara dua kekasih ibarat sebuah teka – teki.
Hatimu selembut salju. Tutur katamu bagaikan syair yang sarat makna, mengalir perlahan, mengajarkan tentang arti kehidupan. Ada keteduhan yang tak bisa dijelaskan dengan kata, membuatmu menjadi dambaan setiap insan bernama Adam. Kelembutan dan kasih sayangmu menjulang, hingga siapa pun yang singgah pasti ingin memiliki hatimu.
Namun cinta bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki. Banyak yang berusaha mendekap cintamu, bagaikan kumbang yang setia memuja bunga. Dan kisah itu, bermula dari sebuah pertemuan sederhana di media sosial.
Arumi. Seorang gadis sederhana yang kesehariannya hanya berkisar di rumah, merawat kedua orang tua yang telah renta. Ia memiliki empat saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Pada usia 35 tahun, saat aku mengenalnya untuk pertama kali lewat layar ponsel, ia masih tetap setia dalam dunianya yang tenang.
Perbedaan usia di antara kami cukup jauh. Namun bukankah cinta tak pernah mengenal hitungan tahun? Ia tumbuh sesuka hati, seperti bunga liar yang mekar di tempat paling tak terduga.
“Cinta tak mengenal batasan usia,” begitu bunyi pepatah. Bila cinta suci telah menemukan tempat bersemayam, maka di sanalah ia akan bertahan, hidup, dan berakar.
Awalnya, Arumi hanya sekadar bercerita di ruang inbox. Namun dari satu obrolan ke obrolan lain, ia mulai membuka lembaran kisah hidupnya. Tentang Indra—teman semasa kecil yang hadir kembali membawa kenangan. Hubungan itu sempat direstui oleh saudara-saudaranya, hingga akhirnya terbongkar kenyataan pahit: Indra telah beristri.
Arumi bukanlah gadis yang mudah terbawa arus. Ia mulai menjaga jarak, bahkan mendorong Indra untuk memperbaiki rumah tangganya demi kedua anaknya yang masih kecil. Namun lelaki itu terlanjur menjadikan Arumi sebagai pelarian. Ia tahu Arumi begitu lugu, polos, dan penuh kasih sayang. Bagaimana tidak? Di usia 35 tahun, baru kali itulah Arumi mengenal rasa cinta. Sayangnya, ia belajar dari seseorang yang salah—laki-laki yang sudah terikat janji suci dengan wanita lain.
Meski ayahnya menentang, Indra tetap datang. Saudara-saudaranya justru memberi ruang. Dan Arumi, dengan segala kelembutannya, tak sanggup bersikap kasar pada tamu yang datang. Ia tetap menyambut, tetap melayani, meski hatinya tergores. Hingga titik jenuh itu tiba, dan dengan sisa keberanian, ia memutuskan segalanya. Indra pun tak lagi menampakkan diri.
Dari kisah itu, aku semakin mengenalnya. Arumi adalah gadis yang jujur, polos, dan penuh kasih. Kejujuran yang membuat hatiku tersentuh.
Sementara aku, hanyalah seorang duda dengan dua anak yang masih duduk di sekolah dasar. Istriku telah pergi sejak 2010, dibawa penyakit bronkitis akut yang tak bisa lagi disembuhkan. Sejak itu, duniaku terasa hampa. Dan kini, lewat media sosial, aku bertemu dengan seorang gadis yang membuka kembali pintu hatiku.
Kami semakin sering berbincang. Dari inbox berlanjut ke SMS, sebab kala itu WhatsApp belum hadir. Arumi selalu menolak saat kuajak bertemu. Alasannya selalu sama: ia sulit meninggalkan rumah karena harus mengurus orang tua. Tapi ia juga tak menutup diri. Dalam setiap percakapan, ia jujur mengakui bahwa aku berbeda. Aku membuatnya nyaman. Aku memberinya semangat yang tak ia temukan dari orang lain.
Hingga suatu hari, ia menetapkan syarat: jika benar aku menyayanginya, maka aku harus berani mengucapkan cinta. Sebuah syarat yang bagiku bagaikan jebakan indah. Karena sejak awal, hatiku memang sudah terpaut padanya. Maka dengan segala keberanian, aku menyatakan cintaku. Dan ia menerimanya—tanpa peduli bahwa aku seorang duda beranak dua.
Hari itu pun tiba. Aku menjemputnya di jalan besar dekat rumahnya di bilangan Ratulangi, Makassar. “Jangan sampai ada tetangga atau saudara yang melihat,” begitu pesannya. Aku mengangguk, mengerti betul kegelisahannya. Setelah ia duduk di boncengan motor, kami melaju menuju Pantai Losari.
Di tepi pantai itu, di bawah langit senja yang berwarna jingga, cinta kami tumbuh dan bersemi. Kata-kata yang selama ini terucap lewat layar ponsel, kini nyata di hadapanku.
Arumi tampak sederhana, wajahnya ayu, sorot matanya tulus. Ia polos, bagaikan mutiara yang selama ini tersembunyi jauh di dasar lautan. Di pantai itulah kami berjanji: untuk saling menjaga, untuk saling merawat cinta yang baru lahir. Baginya, akulah lelaki pertama yang benar-benar menembus hatinya. Sedangkan Indra? Ia hanyalah bayangan masa lalu yang tak berarti apa-apa lagi.
Jeritan kalbu menjamah selaksa kepingan Rana
Mengapa, dama yang tercipta telah sirna
Lelah daksa dalam penantian membelenggu pusara atma
Tak jua semi, sekuntum dama yang kutanam dengan tulus
Andam karam bersama harsa yang telah pupus
Menemani pekatnya rindu kian mengiris Sukma.
Bak rananta duka yang tiada reda